My Boyfriend Is A CEO

My Boyfriend Is A CEO
Dingin Atau Malah Panas?



Hujan masih turun dengan derasnya. Petir masih menggelegar. Suasana perumahan yang tadi gelap gulita kini terlihat terang.


Sepasang muda-mudi yang sedang dimabuk cinta, masih berpagut mesra di sebuah kamar di salah satu rumah mungil.


Kamar yang hanya bercahaya lampu tidur di atas nakas, membuat suasana kamar terlihat romantis karena lampu yang remang.


Aksi mesra di antara mereka telah berlangsung selama beberapa menit. Tak ada yang mendahului untuk berhenti. Anehnya, nafas keduanya seolah telah terbiasa dengan kegiatan tersebut. Mereka adalah Dirga dan Amelia.


Tangan Dirga sudah menelusup ke dalam pakaian Amelia. Tentu saja hasrat kelelakiannya kini sering muncul bila sudah berduaan dengan kekasihnya itu.


Pakaian yang digunakan gadis itu membuatnya tergoda. Bagaimana tidak, pakaian tidur yang sedari habis mandi Amelia gunakan, adalah pakaian tidur berbahan tipis jenis baby doll berwarna merah maroon dengan tambahan kimono di luarnya.


Tali kimono itu telah lepas oleh ulah tangan nakal Dirga. Bahkan Amelia masih pasrah ketika kimono itu terlepas melewati bahunya.


"Dirga ..." Akhirnya pagutan itu terlepas secara paksa. Amelia yang memaksa agar Dirga melepaskan bibirnya itu.


"Hem ...? Ada apa, Sayang?"


Seketika rona merah muncul di wajah putih mulus gadis itu, ketika Dirga memanggilnya 'sayang'.


"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Amelia ketika melihat Dirga yang hendak melakukan aksi seperti saat di dalam kantor kemarin.


"Tidak ada," ucap Dirga dengan nafas yang masih memburu menahan gejolak hasrat di tubuhnya.


"Kamu jangan bohong. Bagaimana bisa kamu bilang tidak ada, tapi pakaianku ini terlepas oleh tangan kamu."


Dirga tersenyum menanggapi ucapan Amelia.


"Apa kamu tidak menyadarinya, Amelia?"


"Menyadari apa?"


"Menyadari bahwa hasratku selalu bergejolak bila dekat denganmu," bisik Dirga dengan mulut menempel di telinga gadis itu.


"Ah, Dirga." Amelia menjerit, saat Dirga menggigit kecil telinganya.


"Apakah hasratmu tidak bergejolak bila dekat denganku, Sayang?" tanya Dirga kini.


"Ti ... tidak," jawab Amelia.


"Benarkah?" Kali ini Dirga semakin intens menggoda kekasihnya dengan sapuan-sapuan lembut yang ia berikan terhadap tubuh Amelia.


Gadis itu melenguh. Dan tanpa sadar, tubuhnya telah terbaring kembali ke atas ranjang.


"Dirga ..." Amelia mendesah ketika tangan itu telah masuk ke dalam pakaian tidurnya.


Tangan nakal milik Dirga telah sampai di dua buah anggota tubuh Amelia yang sensitif. Ia semakin bernafsu manakala sang kekasih tidak berdaya dan hanya mengeluarkan suara-suara yang membangkitkan birahinya.


Ketika pakaian tidur itu tersingkap, tampak di depan mata Dirga pemandangan indah yang kemarin ia lihat dan ia nikmati.


Wajah gadis di bawah kungkungannya semakin merah merona, kabut gelora ikut terpampang nyata di hadapan Dirga.


Dengan melepas kain penutup anggota tubuh nan menggoda gadis itu, Dirga semakin tidak terkendali. Sedangkan Amelia selalu kewalahan menghadapi aksi dari kekasihnya itu.


Di saat suara-suara dari mulut Amelia masih mengeluarkan simfoni yang indah di telinga Dirga, juga di saat sibuk-sibuknya Dirga menikmati malam yang dingin, bergumul dengan tubuh kekasihnya itu, tiba-tiba ...


"Jeddddeeeer ..."


Suara petir menyambar bumi, seolah berada tepat di atas kedua insan yang sedang hangat-hangatnya menghabiskan malam.


"Kyaaaa ..." Amelia menjerit.


Seketika nada indah dengan irama yang sukses membuat Dirga lupa diri, berubah menjadi sebuah teriakan yang memekakkan telinga.


Amelia dengan pakaiannya yang sudah berantakan akibat ulah Dirga, tanpa sadar memeluk Dirga yang saat itu masih menikmati bagian tubuh sensitifnya.


Dirga yang terkejut dengan suara petir menyambar, semakin terkejut dengan aksi spontan yang dilakukan oleh Amelia.


"Kamu sedang berusaha bertingkah agresif kah?" tanya Dirga pada Amelia, yang tidak sadar akan perbuatannya itu.


"Apa maksudmu?" tanya gadis itu masih memeluk Dirga.


"Tubuh kita saling bersentuhan seperti ini, apakah bukan agresif namanya?"


"Ah, eh ... maaf." Amelia segera melepaskan pelukannya serta merapikan pakaian yang sudah tidak beraturan.


"Kenapa?" tanya Dirga menunjuk pakaian tidur Amelia yang telah rapi.


"Kenapa begitu?"


"Apakah kamu tidak menyadarinya? Kemarin pun kita hampir melakukan hal yang lebih jauh dari ini, tapi tiba-tiba ada panggilan telepon dari Boby, yang akhirnya menghentikan kegiatan kita saat itu."


"Dan sekarang? Bukankah hasrat yang kamu miliki pun sama dengan kemarin? Dan semua itu harus terhenti dengan suara petir yang tiba-tiba datang."


Amelia berusaha menjelaskan dengan baik tanpa menyinggung sang kekasih. Bagaimana pun juga, aksi yang ia dan Dirga lakukan bukanlah sesuatu hal yang pantas.


Dirga tidak marah, ia malah tersenyum mendengar kalimat yang terucap dari mulut gadis itu.


"Sepertinya, aku ingin cepat-cepat saja menikahimu, Sayang."


Amelia balas tersenyum malu.


"Kita belum saling mengenal dengan baik. Aku belum tahu dirimu seperti apa dan kamu juga belum tahu aku ini bagaimana orangnya."


"Aku tidak ingin kita menyesal di kemudian hari karena hal itu, Dirga."


Digenggamnya tangan Amelia oleh Dirga.


"Apa yang kamu katakan memang benar, Sayang. Tapi entah mengapa, aku merasa telah mengenal dirimu dengan baik. Aku tak peduli dengan sifat burukmu, seandainya ada, yang aku tahu, aku mencintaimu. Hanya kamu yang ingin aku miliki."


Amelia terdiam. Benarkah pria di depannya itu mencintai dirinya?


"Dirga, bolehkah aku mengatakan sesuatu padamu?"


"Tentu saja. Apa yang ingin kamu katakan?"


"Dirga?"


Dirga masih setia memandang gadis itu.


"Aku ... aku juga mencintaimu."


Dirga yang tak menyangka jika perasaan cintanya kini telah tersambut, tanpa mempedulikan omongan gadisnya itu, langsung saja kembali memagut bibir sang kekasih.


Tempo yang ia berikan saat ini memang tidak se-ekstrim sebelumnya. Ia memberi irama lembut pada aksinya kali ini.


Kedua tangannya menyentuh punggung dan pinggang gadis itu. Sengaja ia menempelkan dada bidangnya pada dada kekasihnya yang terasa indah bila dijabarkan dalam sebuah bait-bait puisi.


Posisi seperti itu memang membuat keduanya terbuai, lupa akan sekitar. Amelia sendiri menikmati posisi itu. Jiwa dan raganya seolah terlindungi oleh tubuh atletis sang kekasih.


***


"Apakah kamu tidak ingin mencari tempat tinggal yang lain, Sayang?" tanya Dirga, dengan memeluk tubuh kekasihnya dari belakang.


Saat ini mereka telah duduk di sofa ruang tamu. Pintu depan yang tadi Dirga dobrak, dengan mudah diperbaiki oleh tukang, pastinya.


Setelah hujan mulai sedikit reda, Dirga menelepon Juna untuk membantunya mencari seseorang yang bisa memperbaiki pintu. Dan tanpa menunggu lama, seorang tukang yang dicari akhirnya datang dan lekas menjalankan tugasnya. Tak ada setengah jam, pintu dapat terpasang dengan baik.


Kini hujan telah reda, hanya menyisakan hawa dingin di ruangan yang ditempati oleh Dirga dan Amelia, sehingga membuat Dirga berinisiatif untuk memeluk sang kekasih agar tidak kedinginan karena pakaian yang dikenakannya.


"Aku sudah betah tinggal di sini. Sudah banyak kenal warga juga. Bukan satu atau dua hari aku tinggal di sini, Dirga. Tapi hampir lima tahun. Sehingga untuk pindah mencari rumah lain, sepertinya hal yang sulit."


"Tapi aku khawatir, jika ada hal yang terjadi padamu tanpa aku ketahui. Seperti malam ini contohnya," ucap Dirga, sembari mengeratkan pelukannya. Tak lupa menciumi kepala gadis itu dengan menghirup wangi sampo dari rambutnya.


"Ya aku mengerti. Tapi sungguh, aku belum ingin pindah dari sini."


"Ehm ... Bagaimana jika kamu tinggal di apartemen punyaku saja? Di apartemenku ada dua buah kamar, jadi aku bisa menginap sewaktu-waktu sambil menemani kamu."


"Apa? Enak saja."


Dirga hanya tertawa mendengar reaksi dari Amelia.


***


Hai! Bagaimana bab cerita kali ini? Sudah greget kah? Sudah cukup puas atau belum?


Please, ditunggu like, komen dan juga vote-nya yah setelah membaca bab ini.


Happy reading :)


***