
"Bagaimana Mba Amelia, apakah Mba Amelia bersedia bila kami taruh di sana?" tanya manajer personalia.
"Baik Pak. Saya bersedia ditempatkan di mana saja. Justru saya berterimakasih karena Bapak memberikan saya kesempatan untuk bekerja di perusahaan ini," Amelia berterus terang.
"Baiklah Mba Amelia, karena anda sudah bersedia, maka besok anda bisa mulai bekerja di sana. Mba Amelia bisa langsung menemui manajer personalia PT GeHa, nanti pihak disana akan memberikan kontrak kerja dan job desk nya kepada anda," jelas Rendy.
"Baik Pak. Terimakasih untuk penjelasannya. Apa ada hal lainnya yang harus di sampaikan sama bapak?"
"Sepertinya tidak ada lagi. Saya hanya menyampaikan hal itu saja. Pihak di disana nanti yang akan menjelaskan lebih detail."
"Baik Pak. Kalau begitu saya permisi," ucap Amelia, kemudian bangkit berdiri.
"Sekali lagi saya ucapkan banyak terimakasih atas kepercayaan bapak dalam memilih saya menjadi salah satu karyawan."
"Sama-sama Mba Amelia. Semoga anda betah di sana. Dan bisa berkontribusi lebih dengan perusahaan."
"Iya Pak Rendy. Saya akan berusaha bekerja dengan baik."
"Kalau begitu saya permisi."
"Iya, silakan."
"Selamat siang Pak Rendy."
"Selamat siang, Mba Amelia."
***
"Permisi Mas Juna, ini beberapa dokumen yang belum Pak Dirga tanda tangan. Beberapa dokumen itu adalah proposal dari perusahaan-perusahaan yang mengajukan kerjasama dengan PT GeHa."
Rena si sekertaris masuk ke ruangan Juna untuk memberikan laporan.
Ruangan Juna adalah ruangan yang sama dengan ruangan Dirga, ruangan itu hanya di halangi oleh sekat kayu, yang dirancang sangat baik sehingga menimbulkan kesan mewah dan elegan.
Meski hanya terhalang sebuah sekat, tapi suara pantulan dari dalam atau dari luar ruangan Dirga, tidak akan terdengar.
Sebelum masuk ke ruangan sang CEO itu, maka orang-orang yang akan bertemu dengan Dirga harus melewati meja kerja si asisten.
Seperti sekarang, saat Rena hendak memberikan dokumen pada Dirga, tugasnya secara langsung akan di ambil alih oleh Juna.
"Oh iya. Makasih Rena," ucap Juna.
"Sama-sama, Mas," jawab Rena.
Namun sekertaris itu tidak langsung pergi setelah tugas nya selesai. Ia masih berdiri di depan Juna.
"Ada apa lagi yah, Ren?" tanya Juna menatap si sekertaris.
"Ah.. Euh.. Gak ada apa-apa, Mas. Cuma mau tanya, Mas Juna nanti makan siang di mana? Hari ini kan sepertinya Pak Dirga tidak ada acara keluar," ujar Rena, tersenyum malu-malu.
"Kenapa kamu ingin tahu? Apa kamu mau traktir saya makan siang?" tanya Juna balik.
"Boleh aja kalo Mas Juna mau," berkata senang seolah mendapat lampu hijau.
"Ditraktir siapa yang mau nolak. Hehee.."
"Tapi nanti saya kabari lagi yah, tau sendiri lah si Bos," katanya sambil menunjuk ruangan Dirga dengan ibu jarinya.
"Iya siap," jawab Rena antusias.
Semoga ini adalah awal yang baik untukku. Rena
Juna menyadari bahwa Rena sudah menaruh hati padanya sejak Ia menjadi sekertaris Dirga setahun yang lalu. Tapi ia pura-pura tidak tahu, dan bersikap biasa saja.
Rena memang tidak gencar untuk PDKT, selain karena jadwal atasannya, Dirga yang padat, otomati membuat Juna sang idaman hati itu juga tidak selalu berada di kantor. Juga karena Rena tidak memiliki keberanian seperti karyawati senior yang lain, yang juga memiliki perasaan yang sama dengannya.
Selain Dirga yang banyak di gilai oleh para pegawai perempuan di kantor, pria lain yang turut jadi bahan pembicaraan para kaum hawa bila sedang berada di dalam toilet atau kantin, adalah Juna sang asisten.
Bila Dirga hanya menjadi khayalan semata, karena status dan level kehidupan yang sulit dijangkau, beda dengan Juna. Para karyawati senior yang memiliki perasaan suka padanya, akan terang-terangan menunjukkan perhatian juga kepedulian pada pria itu, walau terkadang menunjukkannya secara berlebihan.
Juna bukan tidak tahu itu. Ia pasti tahu apa-apa saja yang terjadi di perusahaan tempat ia bekerja. Selain ia diberi wewenang lebih dalam mengamati situasi dan kondisi para pegawai, juga karena ia memiliki tuntutan bekerja lebih tinggi sehingga menjadikannya pribadi yang cermat, cekatan dan juga pemerhati lingkungan yang sangat baik.
Tapi semua yang para karyawati itu lakukan tidak ada yang membuatnya terpengaruh. Karena apa..? Ya tentu saja karena Ia sudah memiliki tambatan hati wanita lain, yang membuatnya selalu terbayang-bayang sosok itu di setiap tidurnya. Siapa lagi kalau bukan Nancy, adik bosnya.
***
"Kring.. Kring..."
Terdengar nada dering dari ponsel Amelia, ketika gadis itu baru saja keluar dari pelataran gedung PT EsKa.
"Ya Hallo, ada apa Nya..?"
.....
"Iya nih, aku baru beres. Baru aja mau balik."
.....
"Kapan?"
.....
.....
"Di mana?"
.....
"Oh.. Ok.. Aku meluncur sekarang."
....
"Daaah..."
Ditutup sambungan telepon dengan temannya, Anya. Lalu gadis itu mengutak-atik ponselnya untuk memesan ojek online, yang akan mengantarkan dirinya ke tempat ia bertemu janji dengan Anya.
Lima menit kemudian, ojek itu datang. Setelah memakai helm, motor melaju membelah jalan raya ibukota yang nampak masih padat meski waktu pagi hari sudah lewat.
***
"Bagaimana perkembangan dari pengawalan Doni?" tanya Dirga pada Juna, saat asistennya itu masuk menyerahkan dokumen-dokumen yang harus diperiksa olehnya.
"Mba Amelia tadi keluar dari kantor tepat pukul sepuluh. Sekarang ia sedang berada di Mall Metro untuk bertemu dengan seseorang. Sejauh ini baru itu laporannya Pak, karena Doni belum tahu siapa orang yang akan bertemu dengan Mba Amelia," jelas Juna.
"Seseorang?" tanya Juna terdengar tidak suka.
"Doni tadi melihat, saat Mba Amelia keluar dari gedung, dia menerima telepon dari seseorang. Lalu tidak lama pergi dengan menaiki ojek online. Saat Doni mengikuti motor itu, ternyata Mba Amelia berhenti di Mall Metro. Sampai saya melaporkan pada bapak, seseorang yang akan Mba Amelia temui itu belum ada infonya."
"Kabari saya secepatnya, siapa seseorang yang di temui oleh Amelia di sana."
"Baik Pak, secepatnya saya akan kabari bila Doni sudah memberikan informasinya."
"Ya sudah kamu boleh pergi."
"Permisi Pak."
***
Suasana Mall Metro saat ini nampak mulai ramai. Beberapa butik, gerai, toko atau stand sudah mulai memajang dagangannya.
Mall Metro dibangun khusus orang-orang kalangan berduit. Karena barang-barang serta produk yang di jual di sini, merupakan barang-barang branded buatan dalam bahkan luar negeri.
Amelia jarang datang ke sini. Ia merasa Mall itu tidak cocok dengan kantungnya, tentu saja. Karena Ia adalah gadis dari keluarga sederhana. Bukan dari kalangan berada seperti temannya Anya, yang saat ini sedang ia tunggu di salah satu sudut food court di lantai atas.
"Mel.."
Tepukan di bahu mengejutkan gadis itu.
"Anya."
"Kamu udah dari tadi?" tanya Anya sambil mendudukan tubuhnya di bangku, berhadapan dengan Amelia.
"Nggak, baru lima menit yang lalu. Minuman pesenan aku juga belum datang."
"Oh kamu udah pesen minum?" tanya Anya.
"Hem.. Udah. Kamu mau pesen minuman?" katanya sambil memberikan menu pada Anya.
"Jus alpukat satu yah, Mba," sahut Anya pada Mba waitress yang tadi datang membawa pesanan Amelia.
"Kamu mau pesen makanan, Mel?" tanya Anya, sebelum waitress itu pergi.
"Nggak ah. Belum laper. Tar aja siang, Nya."
"Oh.. Ok deh. Itu aja yah, Mba," ucapnya menyudahi.
"Trus, gimana panggilan ke perusahaan tadi, Mel?" Anya kepo dengan urusan temannya itu.
"Aku di terima, Nya. Tapi ternyata aku dan dua pelamar lainnya itu, di tempatkan di kantor pusat."
"Oh yah?! Enak dong, gaji dan tunjangan-tunjangannya lebih gede, biasanya," katanya sambil nyengir.
"Iya sih. Aku juga bersyukur banget. Tapi..." ujar Amelia tak jadi meneruskan ucapannya.
"Tapi kenapa, Mel...?" tanya Anya penasaran.
"Ehm... Gak apa-apa sih," jawab Amelia tak jadi.
"Mel...?" sahut Anya masih penasaran.
"Tapi aku kira-kira sanggup gak yah di tempatin di pusat kaya gitu. Aku merasa tekanan pekerjaannya lebih berat dan tinggi, Nya," jelas Amelia berbohong.
Padahal bukan pekerjaan yang ia pikirkan. Tapi hal lain yang sejak tadi membuat pikirannya sedikit terganggu. Ia memikirkan, bahwa esok hari itu, Ia akan memulai bekerja di perusahaan Dirga. Pria yang beberapa waktu ini membuat jantung dan hatinya harus ia periksakan ke dokter spesialis.
***