
"Apa yang kamu ingin aku lakukan pada pria brengsek itu?" Dirga bertanya kepada kekasihnya berharap agar gadis itu bisa meluapkan amarah dan emosinya.
"Tidak!" Amelia menggeleng.
"Lantas, apa yang kamu mau aku lakukan agar kamu tidak menangis dan bersedih lagi?"
Lama mereka terdiam, tak ada jawaban dari mulut Amelia. Hingga,
"Maukah kamu mencumbuku?" lirih terdengar dari mulut Amelia, namun Dirga masih bisa mendengar dengan jelas.
"Apa kamu yakin?" tanya Dirga.
Amelia hanya mengangguk.
"Apakah itu bisa membantumu?"
"Aku tidak tahu, tapi aku hanya berharap tidak ada orang lain yang menyentuh tubuhku selain dirimu." Tangisan itu kembali terdengar, hingga tubuh gadis itu bergetar karena beban di hatinya.
Dirga membalik tubuh gadis itu agar menghadapnya. Amelia masih belum menyadari jika tubuhnya saat ini dalam kondisi setengah polos. Sepertinya perbuatan Aron padanya membuat ia benar-benar shock dan sedikit depresi.
Dirga berinisiatif mengambil selimut yang ada di atas ranjang, dan menutupi gadis itu dengan selimit itu.
"Kamu tunggulah di sini. Aku akan keluar sebentar dan akan segera kembali menemuimu."
Amelia mengangguk. Kemudian Dirga menduduki gadis itu di atas ranjang.
Dirga keluar untuk menemui Boby yang sedang duduk di teras bersama Ninda --kekasihnya.
"Pak Dirga!" seru Boby sambil berdiri dari duduknya.
"Boby, bolehkah aku meminta tolong padamu?"
"Iya, Pak Dirga. Ada apa? Jika aku bisa bantu, aku akan bantu."
"Ngomong-ngomong kemana Juna?"
"Oh iya, Mas Juna pergi ke kantor polisi menemani pria yang tadi ada di sini. Aku lupa namanya, maaf."
"Doni?"
"Iya, Pak Dirga. Mas Juna menemani Doni di kantor polisi."
Dirga menghela nafasnya pelan, ia berusaha tenang menghadapi apa yang telah terjadi pada kekasihnya itu.
"Boby, jika aku membutuhkan kamu untuk aku jadikan saksi saat pemeriksaan nanti, apakah kamu bersedia?"
"Siap, Pak Dirga. Aku pasti bersedia bantu." Boby mantap menjawab.
"Terimakasih. Kalau begitu Boby, aku minta kamu untuk pulang dulu saja, biar Amelia aku yang urus." Dirga menatap Boby dan berharap pria itu memaklumi kondisi yang saat ini terjadi.
"Baik, Pak Dirga. Aku titip Amelia pada Pak Dirga sekarang. Tolong hibur dia agar tidak bersedih. Aku sungguh merasa gagal menjadi sahabatnya karena tidak bisa menolongnya ketika ia ...?" Boby tidak sanggup meneruskan kalimatnya.
"Kamu tenang saja, Boby. Aku akan menjaga Amelia dengan baik dan berusaha membuat dia aman sekarang."
"Terimakasih, Pak Dirga. Kalau begitu aku pamit pulang sekarang."
"Ya. Aku ucapkan terimakasih banyak padamu, Boby, karena kamu ada untuk Amelia di saat ia tadi membutuhkan seseorang di dekatnya."
"Sama-sama, Pak Dirga," ucap Boby. "Ayo Nin, kita pulang sekarang. Amelia akan jauh lebih aman bersama Pak Dirga saat ini." Boby mengajak kekasihnya, kemudian menjabat tangan Dirga dan pergi dari hadapannya.
Dirga hanya menutup pintu itu seadanya. Perlu tukang untuk membuat pintu kembali normal seperti sedia kala. Kondisi ini persis sama ketika Dirga mendobrak pintu itu beberapa waktu lalu, saat hujan dan petir ditambah mati listrik menimpa kawasan perumahan Amelia.
Meski pintu tidak tertutup dengan rapat, tapi lumayan untuk menghindari kecurigaan terhadap orang-orang yang ada di sekitar perumahan.
Dirga memasuki kamar kekasihnya. Gadis itu menoleh ketika Dirga datang dan menutup pintu di belakangnya.
Dirga duduk di tepi ranjang persis di depan kekasihnya yang terduduk dengan kaki lurus ke depan.
"Kamu mau minum?" tanya Dirga.
"Tidak, terimakasih. Ninda sudah memberi air minum tadi." Sepertinya Amelia sudah bisa mengkondisikan dirinya.
"Apakah kamu sudah lebih baik sekarang?" Dirga ingin memastikan kondisi Amelia.
"Ya, aku sudah lebih baik," sahut Amelia. "Di mana Boby?" lanjutnya.
"Boby sudah aku suruh pulang."
"Oh!"
Dirga menatap intens kekasihnya, di sentuh pipi Amelia kemudian dibelainya lembut.
"Maafkan aku, Sayang!" ucap Dirga.
"Tidak apa-apa! Kamu tidak salah, Dirga, jadi tidak ada yang mesti dimaafkan," lirih Amelia pelan.
Dirga mengusap lembut bibir Amelia, kemudian ia mengecup bibir tipis itu. Meski bibir kekasihnya masih menyisakan rasa asin karena terkena air mata, Dirga berusaha agar bibir itu kembali manis seperti yang pernah ia rasakan sebelumnya.
Amelia memejamkan matanya ketika kecupan itu berubah menjadi sebuah ciuman lembut. Ciuman yang ia rasakan membuatnya terlindungi. Ciuman yang terasa tidak menuntut namun membuat ia bisa sekejap melupakan peristiwa menakutkan tadi.
Ciuman itu telah berubah posisi, sedikit demi sedikit sapuan lembut bibir Dirga turun menelusuri leher jenjang kekasihnya. Amelia masih terpejam dan menikmati. Kedua tangannya masih erat memegang selimut yang membelit tubuhnya agar tidak terlepas.
Dirga mengecup seluruh permukaan kulit Amelia, dari wajah hingga ke leher. Sedikit desahan keluar dari mulut Amelia. Ia mulai terbuai atas perlakuan Dirga padanya. Dirga sungguh lembut memperlakukannya. Tanpa sadar, kedua tangannya terlepas dari genggaman kain tebal itu, dan berpindah melingkar di leher pria itu.
Dirga tidak terburu-buru, ia tahu, yang dibutuhkan oleh kekasihnya saat ini adalah rasa nyaman dan aman serta perasaan dilindungi, dari sentuhan-sentuhan yang entah seperti apa lelaki brengsek tadi melakukannya kepada gadis yang kini ada di dalam dekapannya itu.
Kini kecupan itu semakin turun ke atas dadanya. Kecupan-kecupan kecil dan lembut masih konsisten Dirga lakukan, sedikit improvisasi dengan mengecup sedikit lebih kuat, sehingga nampak tanda merah kebiruan di beberapa titik di sekitar dadanya.
Kini permukaan kulit itu sudah tidak lagi semulus biasanya, Dirga sengaja menghapus jejak-jejak di tubuh Amelia, dari sentuhan kurang ajar yang Aron lakukan, meskipun ia belum tahu apakah pria itu berhasil menyentuh tubuh Amelia atau tidak.
"A-ah ... " Desahan lembut kembali terdengar dari mulut gadis itu, ketika Dirga yang entah sejak kapan telah berhasil melepas kaitan kain penutup buah ****nya dan kini tengah mengecup puncaknya. Posisi Amelia telah berubah terlentang dengan Dirga di atas tubuhnya.
Dirga mengamati ekspresi yang gadis itu tampakan. Sepertinya ia telah berhasil membuat gadis itu melupakan semua kejadian yang menimpanya.
"Ah ... Dirga ... !" Amelia semakin terbuai. Ia semakin jatuh ke dalam aksi yang kekasihnya lakukan. Tangan Dirga mere*** buah ****nya yang satu dan satu lagi tak luput ia sentuh dengan luma*** bibir dan gigitan-gigitan kecil.
***
Hai readers, masih setiakah dengan ceritaku ini?
Sedikit pengumuman untuk kalian, sepertinya cerita ini akan segera aku tamatkan saja, karena view-nya yang tidak ada peningkatan. Sedih? Tidak. Karena masih ada kalian, beberapa pembaca yang masih setia memberikan like dan komen-nya terhadap episode-episode yang aku update.
Jadi nikmatilah episode-episode terakhir dari cerita ini...!
Happy Reading!
***