
"Sebenarnya niat kamu ini apa sih, kok bukan antar aku pulang malah membawa aku ke rumah kamu?" Amelia masih mengoceh karena kesal dengan tingkah Dirga, yang seenaknya membawa dia ke rumah keluarga Narendra.
"Tahu gitu kan, aku pulang bareng sama Boby aja."
"Shut! Kamu ini kenapa bawel banget sih?" ucap Dirga dengan jari telunjuk persis di depan bibir Amelia.
Amelia seketika melotot. Ia kaget atas tindakan spontan Dirga kepadanya.
"Jangan sampai aku memakanmu di sini, Amelia," ucap Dirga lagi, lembut di telinga gadis itu.
Saat itu keduanya masih berjalan mengekori Pak Harsa dan Bu Ninta, menuju ke arah dalam rumah.
Setelah mendengar kalimat terakhir Dirga, gadis itu akhirnya lebih memilih untuk diam dan tak bertanya lagi.
"Nak Amelia, Tante dan Om ke kamar dulu yah. Kamu bisa numpang ke kamar Dirga untuk bersih-bersih dan istirahat sejenak." Bu Ninta pamit kepada Amelia dan melangkahkan kakinya menuju tangga.
"Ah ... euh, terimakasih, Tante." Amelia berkata sembari tersenyum.
Aku ini berterimakasih untuk apa? Amelia.
"Mas, jangan lupa temani Amelia. Nanti ayah dan ibu kembali turun," seru Bu Ninta dari tengah-tengah tangga.
"Iya, Bu."
Dirga dan Amelia kini hanya berdua saja, berdiri tepat di bawah tangga.
"Ayo!" ajak Dirga. Kemudian berjalan menaiki tangga yang sama dengan kedua orang tuanya lewati tadi.
"Eh ... kemana?" tanya Amelia bingung.
"Ke kamar aku lah," jawab Dirga sambil berbalik menengok Amelia yang masih diam bergeming.
"Eh ... ngapain?" Amelia semakin bingung.
Dirga melihat raut panik dan ketakutan di wajah kekasihnya itu. Seketika itu juga ia tertawa.
"Amelia, apa yang kamu pikirkan? Apa kamu sedang berpikiran kotor saat ini?"
"Apa? Apa maksudmu?"
Dirga semakin tertawa demi melihat gadis itu yang makin terlihat gugup.
"Sudahlah, ayo naik!" Sisa tawa masih saja terdengar dari mulut Dirga.
Akhirnya dengan langkah berat, Amelia mengikuti Dirga menaiki tangga.
Sebuah pintu hitam yang terlihat mewah kini tepat berada di depan Amelia. Gadis itu tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Dirga, kekasihnya, masih senyum-senyum saja melihat tingkah konyol dirinya, yang ketara sekali luar biasa gugup.
"Ayo, masuk. Kalau kamu tidak masuk sekarang, aku yakin sekali kedua orang tua atau adikku, Nancy, akan melihat adegan dewasa di sini," sahut Dirga masih iseng menggoda.
"Dirga, kamu jangan macam-macam."
"Siapa yang mau macam-macam. Kamu saja yang sudah berpikiran kotor terus dari tadi," ujar Dirga, yang akhirnya menarik lengan Amelia agar ikut masuk ke dalam kamarnya.
Namun baru saja pintu itu tertutup, tangan Dirga telah mendorong tubuh kekasihnya itu agar menempel pada dinding di samping pintu.
Dengan remote yang berada di dinding tepat di atas kepala Amelia, Dirga menekan sebuah tombol yang berfungsi untuk mengunci pintu.
Kini semakin nyata lah di depan Dirga raut panik, gugup dan juga takut, terlihat di wajah kekasihnya itu.
"Kamu gugup?" tanya Dirga pada Amelia.
Dengan kedua tangan yang menempel di dada bidang milik Dirga, Amelia masih tertunduk malu ketika kekasihnya itu menanyakan hal yang tidak penting untuknya jawab.
Namun dijawabnya juga pertanyaan itu dengan sebuah anggukan.
"Sama, aku juga gugup," sahut Dirga.
"Ibuku ingin kamu bersih-bersih dan istirahat, Amelia. Tapi sepertinya kamu tidak akan bisa istirahat sekarang."
"Kenapa?" jawab Amelia malu.
"Karena aku ingin memakanmu saat ini juga di sini di dalam kamarku."
Tanpa ba bi bu lagi, sebuah adegan yang sudah pernah mereka lakukan berkali-kali, baik ketika di dalam ruangan kantor atau pun pernah juga dilakukan di dalam kamar Amelia itu, kini terjadi kembali.
Pagutan mesra yang saat ini mereka lakukan, sungguh menciptakan melodi yang sangat indah dari keduanya. Terutama suara merdu yang diciptakan oleh gadis itu, sungguh membuat Dirga semakin terhanyut dalam aksi permainan bibir dan juga lidahnya.
Keduanya semakin tidak sadar, saat tubuh itu telah berpindah di atas ranjang, yang bagi penglihatan mereka adalah sebuah hamparan rumput yang luas. Dan akhirnya tubuh itu pun terjatuh di sana.
Amelia dan Dirga sudah diselimuti oleh kabut gairah. Situasi kamar dengan penerangan yang sengaja pria itu buat temaram, menambah kesan romantis diantara keduanya.
"Kamu masih gugup?" tanya Dirga di sela-sela pagutan yang sengaja ia lepaskan.
"Semakin," jawab Amelia dengan suara seraknya.
Tangan Dirga sudah liar hendak membuka gaun yang masih menempel di tubuh kekasihnya. Namun urung ia lakukan.
Amelia yang merasa jantungnya serasa ingin loncat, saking gugup dan entah apalah namanya, hanya diam memperhatikan ketika lambat laun kain pelindung tubuh di diri Dirga telah turun perlahan menuruni lekukan-lekukan tubuh atletis-nya secara perlahan.
Pakaian bagian atas itu telah terlepas akibat perbuatan si Empunya sendiri. Kini nampaklah sebuah pemandangan luar biasa yang selama ini belum pernah Amelia lihat.
Dada bidang dengan lekukan sempurna milik Dirga, membuat Amelia terpesona dan secara spontan tangan yang ia gunakan untuk melindungi dirinya dari serangan pria di atasnya itu, kini beralih menyentuh tubuh gagah nan atletis Dirga.
Amelia tidak menyangka sama sekali, bahwa dibalik kehangatan dan keramahan yang dimiliki kekasihnya itu, Dirga memiliki bentuk tubuh yang amat sempurna bagi seorang pria.
"Sudah puas kamu memandang dan juga menyentuhnya, Sayang?" seru Dirga tiba-tiba, yang membuat Amelia malu.
"Kamu suka ini?" tanya Dirga dengan memegang tangan Amelia yang sengaja ia tempelkan di dadanya sendiri.
Amelia semakin malu, kabut gairah itu telah berubah menjadi wajah merona yang semakin membuat Dirga gemas.
Tanpa ingin berlama-lama, aksi menegangkan yang tadi sempat terjeda, Dirga mulai kembali dengan irama yang ia buat seindah mungkin.
Sang lawan, mengimbangi aksi kekasihnya dengan menikmati semua perbuatan yang pria itu berikan.
Melodi-melodi indah itu kembali keluar dari mulut Amelia, seiring dengan semakin nakalnya tangan si pria yang tak pernah bisa dikondisikan bila sudah bersama dengan wanitanya tersebut.
Amelia sudah mulai merasa terangsang saat bagian-bagian tubuhnya dijamah dengan liar oleh kekasihnya, Dirga.
Di tengah-tengah aktifitas yang mereka lakukan, tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu kamar.
"Mas, ibu tunggu kalian di bawah yah bila kalian sudah selesai." Suara Bu Ninta menyadarkan mereka berdua.
"Iya, Bu," jawab Dirga yang sejenak melepaskan kenikmatan yang ia ciptakan.
Amelia kini tersenyum di bawahnya.
"Ada apa? Apa ada hal yang lucu?" tanya Dirga sedikit heran.
Gadis itu menggeleng.
"Benarkah?"
Kini ia mengangguk.
"Aku tahu maksud senyummu, Sayang."
"Apa?"
"Jangan kamu bilang, bahwa aku harus segera menikahimu karena aksi panas kita berdua yang selalu terganggu."
***