My Boyfriend Is A CEO

My Boyfriend Is A CEO
Pindah tempat tinggal



"Bagaimana laporan kepada pihak berwajib?" tanya Dirga pada Juna. Keduanya kini berada di dalam ruang tamu kediaman Amelia. Juna membawa pakaian yang sudah diminta oleh Dirga. Pakaian yang selalu tersedia di dalam mobil, sebagai pakaian ganti jika dibutuhkan.


"Pihak kepolisian langsung bertindak atas laporan yang Doni berikan. Mereka akan memanggil Mba Amelia untuk keperluan penyidikan."


"Hem. Pantau dan ikuti terus, jangan sampai lelaki brengsek itu bebas." Dirga berkata dengan penuh emosi.


Juna mengangguk, "Pak Dirga, tenang saja. Aku akan terus mengawal kasus ini."


"Di mana Doni sekarang?"


"Saya suruh pulang, Pak. Besok saya suruh ia datang ke kantor dan melapor."


"Baiklah." Dirga mengangguk. "Kamu bisa tunggu sebentar, sambil menunggu perbaikan pintu itu selesai? Ada hal yang harus aku bicarakan pada Amelia," ucapnya sembari menunjuk tukang yang sedang memperbaiki pintu rumah Amelia.


"Baik, Pak Dirga. Silakan!"


Dirga beranjak menuju kamar Amelia. Dirga harus segera memakai baju jika tidak mau kedinginan. Dilihatnya gadis itu tengah terduduk dan sedang memainkan ponselnya.


"Eh, benarkah Mas Juna yang datang?" tanya Amelia.


"Kenapa kamu seantusias itu?" ucap Dirga.


"Hah! Siapa yang antusias? Kayanya aku biasa aja." Amelia menatap Dirga yang terlihat cemburu.


"Tapi yang aku lihat tidak seperti itu."


"Kamu ini kenapa? apakah kamu sedang cemburu pada Juna?" tanya Amelia penuh selidik.


"Iya!" sahut Dirga sambil menghampiri Amelia.


"Oh Tuhan, Dirga. Kenapa kamu berpikir terlalu jauh seperti itu." Amelia berdiri dan menyentuh pipi pria di hadapannya.


"Untuk apa kamu cemburu pada Juna. Hatiku hanya untuk kamu."


"Lalu mengapa kamu nampak antusias seperti tadi?" sahutnya dengan menikmati sentuhan jemari gadis itu di wajahnya.


"Oh, maafkan aku jika pertanyaan aku membuatmu cemburu." Amelia merasa tak enak hati.


"Tidak apa-apa. Itu bukan sesuatu hal yang harus kita bahas." Dirga tersenyum. "Bolehkah aku memakai bajuku dulu?" tanya Dirga, bermaksud agar Amelia menghentikan sentuhan jemari di wajah miliknya, karena tubuh bagian bawahnya sudah mulai bereaksi.


"Oh, iya. Tentu saja kamu harus memakai baju." Amelia menjauhi tangannya dari wajah Dirga. Namun pria itu menahannya. Kemudian ia kecup telapak tangan kekasihnya itu.


Dengan segera Dirga memakai pakaiannya. Pakaian basah miliknya, masih tergeletak di lantai kamar mandi.


"Duduklah! Ada hal yang harus aku katakan!"


Dirga menarik lengan Amelia agar duduk di sebelahnya.


"Ada apa?" tanya Amelia.


"Sayang, aku mau mulai malam ini kamu pindah dari rumah ini."


"T-tapi ...!"


"Shuut!" potong Dirga. "Kali ini tidak ada lagi penolakan."


"Lantas aku harus tinggal di mana? Aku belum mencari rumah yang lain," ucapnya tertunduk.


"Kamu akan tinggal di apartemenku."


Amelia mendongak. "Bagaiamana bisa aku tinggal di sana? Itu tidak mungkin."


"Apa yang tidak mungkin?" tanya Dirga.


"Dirga, kita belum menikah, mana mungkin kita tinggal ...!" Amelia tidak meneruskan kata-katanya.


"Kita tidak tinggal bersama. Aku tetap tinggal di kediaman orang tuaku. Kamu tinggal sendiri di sana. Namun aku merasa kamu lebih aman tinggal di apartemen dibanding kamu harus tinggal di sini."


Amelia nampak berpikir.


"Aku akan meminta ijin kedua orangtuamu. Kamu tidak perlu khawatir, aku yakin mereka setuju." Amelia masih belum berkomentar.


"Oh iya, mulai besok tidak ada lagi hubungan rahasia. Mau seluruh karyawan atau pun orang lain sekalipun, aku tidak mau menyembunyikan hubungan kita lagi, aku mau mereka tahu mengenai hubungan kita."


"Tentu saja tidak apa-apa, memangnya kenapa?"


"Apakah kamu tidak malu?" tanya Amelia.


"Bukankah dari awal kamu yang malu jika hubungan kita diketahui semua orang? Kalau aku tidak pernah merasa malu, justru aku ingin semua orang tahu."


"Tapi Dirga, aku takut kalau orang-orang membicarakan aku di belakang."


"Kamu tenang saja, tidak akan ada yang akan mengganggumu. Bahkan jika perlu kamu akan aku pindahkan ke bagian sekertaris agar tidak bertemu banyak karyawan!"


"E-eh, itu tidak perlu. Aku rasa kamu berlebihan."


"Ya sudah, kalau kamu tidak mau aku berlebihan. Kali ini ikuti semua kata-kataku."


"Ya, baiklah. Sepertinya aku tidak memiliki pilihan bukan?"


"Tentu saja, tidak. Untuk kali ini kamu hanya harus menurut saja, tak boleh melawan." Amelia memperlihatkan tampang memelasnya.


"Hei, mengapa mukamu seperti itu? Apakah kamu merasa keberatan dengan keputusanku?"


"Tidak, hanya saja aku merasa berat meninggalkan tempat ini. Sudah terlalu banyak momen indah yang terjadi di sini."


"Ya, aku tahu. Kamu tenang saja, aku akan membuat momen yang lebih manis lagi nanti saat kamu tinggal di apartemen."


"Momen manis yang seperti apa?" tanya Amelia heran.


"Nanti juga kamu akan tahu." Dirga seolah memberi teka-teki.


"Kamu selalu seperti itu."


Dirga tertawa saat melihat Amelia merajuk, "sudah tidak perlu dibahas, kita akan membahas momen indah itu nanti jika kamu sudah di apartemen," sahut Dirga, "sekarang kamu siapkan pakaian dan keperluan pribadi milikmu seperlunya. Tidak perlu banyak-banyak, cukup untuk satu atau dua hari saja."


"Untuk hari selanjutnya?"


"Kita bisa membelinya, Sayang! Untuk apa aku memiliki banyak uang jika aku tidak bisa memberi hadiah beberapa buah pakaian untuk kekasihku."


"Dirga, aku bukan perempuan matre." Amelia nampak kesal.


"Siapa yang bilang kamu perempuan matre? Apakah aku sebagai kekasihmu salah jika ingin memberikanmu hadiah?" tanya Dirga.


"Ehm, tidak. Hanya saja aku tidak suka jika kamu menggunakan uangmu untuk aku."


"Tentu saja tidak. Jika pun ia, aku ikhlas dan rela."


"Dirga!"


"Ya, ok. Kamu tenang saja. Kalau kamu mengkhawatirkan pakaianmu, nanti kita bisa mengambilnya lain waktu. Sekalian kamu pamit pada pemilik rumah."


Amelia mengangguk. "Tapi Dirga, aku masih takut jika orang-orang tahu kita pacaran."


"Amelia, aku sudah bilang, tidak akan ada yang mengganggumu. Jika pun ada yang membicarakanmu di belakang, kamu cuek saja. Tak perlu kamu pikirkan."


"Ya, baiklah, aku ikut kamu saja." Amelia nampak tidak terlalu bersemangat. Ia masih memikirkan bagaimana reaksi teman-temannya esok hari.


"Apa kamu membutuhkan bantuanku untuk mengemas pakaianmu?"


"A-eh, tidak perlu. Aku bisa sendiri. Kamu tunggu saja di depan menemani Mas Juna."


"Ya sudah, aku akan menunggumu di depan." Dirga beranjak meninggalkan Amelia sendiri di kamar.


"Kita pulang sekarang, Pak Dirga?" tanya Juna yang melihat Dirga ke luar dari kamar.


"Tunggu Amelia sebentar." Dirga mendudukkan tubuhnya di atas sofa ruang tamu. Dan Juna hanya mengangguk. "Apalagi yang harus ditunggu oleh mereka. Apakah bos belum selesai juga dengan urusannya tadi?" begitu batin Juna sambil berusaha bersikap biasa.


"Sudah beres?" tanya Dirga dengan wajah mengarah ke pintu.


"Sudah, Pak. Hanya pasang engsel yang lepas saja." Giliran Dirga kini yang mengangguk.


"Aku sudah siap!" suara Amelia yang tiba-tiba sudah berdiri di ruang tamu dengan koper yang juga berdiri di sampingnya.


***