
Mobil berhenti tepat di depan rumah kontrakan Amelia yang tidak berpagar.
"Terimakasih untuk tumpangannya," ucap Amelia yang hanya di jawab anggukan dari Dirga.
"Berhubung sudah malam, maaf kalo saya tidak bisa menawari anda dan juga Mas Juna untuk mampir."
"Tidak masalah Amelia. Saya mengerti," jawab Dirga sambil tersenyum menatap gadis di sampingnya.
"Kalau begitu saya permisi. Selamat malam."
Baru saja ia hendak membuka pintu, ternyata Juna telah lebih dulu membukanya dari luar.
"Terimakasih Mas Juna."
"Sama-sama Mba."
"Oh iya, maaf.. Bisa kah anda tunggu sebentar? Ada barang anda yang tertinggal di rumah," ucapnya menoleh ke arah Dirga, dan tanpa menunggu jawaban, ia langsung memasuki rumah.
Tak lama kemudian, Amelia keluar sembari menenteng sebuah papper bag di tangannya.
Gadis itu bicara dari luar kaca, dan menongolkan kepalanya ke arah Dirga yang ada di dalam mobil.
"Ini pakaian yang anda pinjamkan pada saya 'waktu itu'."
Amelia memberi penekanan pada kata 'waktu itu', berharap Dirga paham apa yang ia maksudkan tanpa harus menjelaskan lebih detail.
Dirga tersenyum. Dengan santai Ia membuka pintu mobil sebelahnya. Keluar. Amelia heran dengan tingkah Dirga.
Di hampirinya gadis itu. Dengan gaya cool tapi tidak hilang sikap hangatnya, Dirga berdiri dengan tangan yang ia masukkan ke dalam saku celananya, kanan dan kiri.
"Kamu tidak perlu mengembalikannya. Anggap saja itu hadiah dari saya sebagai tanda perkenalan kita yang unik," ujar Dirga, yang malah membuat Amelia tersipu malu, demi mengingat kejadian itu.
"Tapi...."
"Tidak ada tapi-tapi. Toh, saya juga tidak mungkin memakainya bukan," lanjutnya lagi masih dengan senyum di wajahnya.
Tiba-tiba Dirga mendekatkan kepalanya kembali ke arah Amelia.
"Itu hanya hadiah kecil yang saya berikan untukmu Amelia. Karena aku akan terus memberikan hadiah-hadiah yang lain kepada gadis yang aku sukai," katanya berbisik di telinga gadis itu.
Ada desiran halus yang kemudian muncul di dalam hati Amelia. Gelenyar-gelenyar aneh yang tiba-tiba hadir di dalam tubuhnya, membuat ia mematung seketika.
Ia tak sanggup membalas kata-kata dari Dirga.
Hingga akhirnya pria itu menutup pintu mobil di sampingnya, gadis itu baru setengah tersadar.
"Selamat malam, Amelia."
Tersenyum dari posisi duduknya, memandang gadis pujaan hatinya itu yang nampak masih menahan malu.
"Eh, selamat malam," ucapnya tergagap.
Mobil melaju meninggalkan Amelia yang masih belum tersadar seratus persen dari situasi tadi. Ia masih memikirkan kata-kata Dirga, baik saat pamit barusan atau ketika mereka masih berbicara di dalam mobil saat dalam perjalanan tadi.
Ya Tuhan... Jika ini hanyalah mimpi semata, tolong bangunkan hamba. Hamba tidak ingin larut dalam mimpi dan malah enggan terbangun dari tidur.
Tapi jika ini adalah kenyataan, tolong beri hamba petunjuk dalam bersikap dan bertahan. Hamba tahu, ini bukanlah kenyataan atau takdir yang indah dan akan mulus begitu saja. Karena hamba sendiri belum tahu tentang perasaan hamba yang sebenarnya. Guman Amelia di dalam hati.
***
Aku sungguh tidak dapat menahan gejolak di dalam hati ini lagi.
Kau sungguh membuatku makin terbuai akan pesona yang tidak sengaja kau pamerkan.
Amelia, maafkan aku bila mulai hari ini aku akan selalu menjadi bayang-bayangmu dimanapun kamu berada. Aku tidak akan pernah berhenti, hingga aku mendapatkan hatimu seutuhnya.
Aku berjanji, aku tidak akan melepaskanmu sampai kapan pun. Karena hatimu akan menjadi milikku, hanya milikku. Dirga
"Juna, kamu cari orang untuk jadi pengawal. Mulai besok tugaskan orang itu untuk mengawal kegiatan Amelia dari keluar rumah hingga ia kembali ke rumah," perintah Dirga pada asistennya.
"Baik Pak," jawabnya.
Tak lama kemudian, Juna larut dengan ponselnya. Jarinya menari-nari dengan lincah di atas layar ponsel.
"Selesai Pak. Besok Doni sudah siap untuk di tugaskan mengawal Mba Amelia."
"Bagus. Pastikan gadis itu tidak mengetahui kalau kegiatannya di ikuti."
"Siap Pak. Saya sudah menyampaikan pada Doni, rincian tugas dan juga alamat Mba Amelia."
Maafkan aku Amelia, karena privasimu sudah tidak akan sebebas dulu. Semua aku lakukan, karena aku tak ingin kehilanganmu. Dirga
Sepertinya si bos benar-benar udah jatuh cinta sama gadis itu. Sebelumnya ia tidak pernah melakukan hal sejauh ini pada gadis-gadis yang ia sukai. Tapi kali ini sungguh berbeda. Semoga saja keinginan si bos akan terkabul. Nona, kamu sungguh beruntung. Juna
***
Pagi-pagi sekali Amelia telah siap dengan penampilannya. Wajahnya terlihat senang.
Tentu saja.
Karena hari ini ia ada panggilan untuk menemui manajer personalia di PT. EsKa. Feelingnya, ia akan menandatangani kontrak kerja dengan perusahaan tersebut.
Pukul 07.20, ia sudah memesan ojek online untuk mengantarnya menuju PT. EsKa. Sebelum jam delapan, ia sudah harus berada di sana. Ia tidak mau telat mengawali hari baik ini.
Amelia sudah menunggu di bangku teras. Lima menit kemudian mas ojol datang. Gadis itu menghampirinya.
"Mba Amelia?" tanya mas ojol.
"Iya. Dengan Mas Bima?" tanya Amelia balik.
"Iya Mba, saya Bima," kemudian Bima memberikan helm khusus penumpang kepada Amelia. Gadis itupun memakainya.
"Ikutin Map aja atau gimana Mba?" tanya Bima sebelum berangkat.
"Ikutin map aja, Mas. Soalnya saya gak tahu jalan lainnya," ujar Amelia pada Bima.
"Siap."
Motor melaju dengan kecepatan sedang cenderung agak cepat, sesuai permintaan Amelia. Ia takut telat. Maka dari itu, Amelia meminta Bima untuk melakukan kendaraannya sedikit mengebut.
"Mba, ada panggilan kerja yah?" kata Bima di sela-sela perjalanan mereka. Ia bertanya demikian setelah Amelia memintanya agar sedikit mengebut.
"Ah, iya." jawabnya sedikit teriak, karena suaranya bersaing dengan suara deru kendaraan lain di jalan raya.
"Apa masih ada lowongan di sana Mba?" tanya Bima lagi.
"Wah, saya kurang tahu tuh, Mas."
Hening sesaat.
"Memang kenapa? Mas Bima mau ngelamar juga?"
"Kalo masih ada, yaa gak apa-apa mencoba peruntungan."
"Mas Bima lulusan apa?"
"Sarjana Tekhnik, Mba."
"Wah, S1 ternyata," seru Amelia tak percaya.
"Kok bisa jadi ojol? Eh, maaf saya gak bermaksud merendahkan Mas Bima kok," sahut gadis itu tak enak hati.
"Gak apa-apa Mba. Nyantai aja."
Amelia tersenyum, meskipun ia tahu Bima tidak melihatnya.
"Saya ngojek udah dari saya kuliah Mba. Tambah-tambah uang saku, lumayan buat saya yang perantauan, jadi gak melulu ngandelin uang kiriman ortu terus," jelasnya.
"Kita sama dong. Waktu saya kuliah juga, saya kerja part time gitu deh."
"Anak perantauan juga?" tanya Bima.
"Gak juga sih. Saya masih tinggal di sini juga, cuma agak pinggiran."
"Oh..."
Obrolan berhenti, hingga mereka tiba di tujuan.
"Makasih yah Mas Bima. Ini ongkosnya. Kembaliannya ambil aja," ucap gadis itu sembari menyodorkan sejumlah uang.
"Oh iya, sama-sama, Mba."
Setelah Bima pergi. Gadis itu kemudian melangkahkan kakinya ke dalam gedung perkantoran yang ada di hadapan nya sekarang, berharap dengan tekad dan pikiran positif yang ia pancarkan, akan mendapatkan hasil yang baik tatkala ia keluar dari bangunan ini nanti.
***