My Boyfriend Is A CEO

My Boyfriend Is A CEO
Ojek Langganan



"Treet... Treet... Treet..."


"Hallo." Sapa Amelia pada suara di seberang telepon.


....


"Iya, Mas Bima. Ada apa yah?"


....


"Ini mau berangkat. Kenapa?"


....


"Nggak usah repot, aku bisa pesan ojek kok."


....


"Oh, Ok deh. Aku tunggu sekarang yah kalo gitu."


Dimatikannya sambungan telepon dengan seseorang, yang ternyata adalah Bima, si ojek online.


Setelah melihat penampilannya dengan seksama di depan cermin besar di dalam kamar, segera Amelia mengambil tas kerjanya, dan melangkahkan kaki ke depan teras.


Baru saja mengunci pintu rumah kontrakannya, terdengar bunyi klakson motor.


"Mas Bima! Cepet banget." Seru Amelia.


"Iya, Mba. Kebeneran tadi waktu telepon Mba Amel, aku lagi di sekitaran sini."


"Oh...gitu."


"Ya, Mba. Kita berangkat sekarang?"


"Iya dong, udah siang nih."


"Siap."


***


"Siapa lelaki itu? Kenapa ia terlihat akrab dengan Amelia?" Tanya Dirga pada Juna saat baru tiba di kantor, tepat di belakang motor yang di kendarai oleh Bima.


"Itu tukang ojek online, Pak Dirga." Jawab Juna.


"Kenapa gadis itu bisa akrab dengan tukang ojek?" Tanyanya seperti pada diri sendiri.


"Saya kurang tahu, Pak. Tapi, bukankah Mba Amelia memang orangnya ramah." Ujar Dirga.


Dirga terlihat menarik nafas. Selain dari pandangan pertama yang membuatnya jatuh hati, Ia mengakui bahwa sifat ramah yang dimiliki oleh Amelia juga yang membuat Dirga semakin menyukai gadis itu.


"Apa Doni masih mengawal kemana pun perginya Amelia?"


"Masih, Pak."


"Bagus, teruskan saja sebelum saya perintahkan untuk berhenti."


"Baik, Pak."


Setelah dilihatnya gadis itu masuk ke dalam gedung, Juna baru keluar dan membuka pintu mobil belakang.


"Selamat pagi, Pak." Sapa Satpam yang bertugas pagi.


"Selamat pagi." Jawab Dirga dengan ramah.


Mereka berdua berjalan ke arah lift khusus direksi, untuk menuju ruangan CEO di lantai atas.


"Bagaimana dengan jadwal saya hari ini?" Tanya Dirga, ketika mereka telah tiba di ruangan.


"Hari ini Bapak lebih banyak tugas di luar."


"Dari pukul berapa kita sibuk?"


"Jam sembilan, satu jam lagi kita sudah harus kembali ke luar, Pak." Jawab Juna.


"Baik. Kamu persiapkan saja semuanya. Konfirmasikan pada Rena, apakah semua berkas dokumen untuk hari ini telah siap."


"Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi."


"Ya."


Juna meninggalkan Dirga sendiri di ruangan. Beberapa dokumen yang belum ia periksa dan ditandatangani, masih menumpuk di atas mejanya.


Kemarin sebetulnya bisa ia selesaikan, namun entah mengapa tiba-tiba konsentrasinya seolah hilang, manakala teringat dengan momen romantis yang terjadi antara dirinya dengan Amelia.


"Treet... Treet.. Treet..."


Ponselnya berbunyi,


"Cintya's calling"


Enggan bagi Dirga untuk mengangkat telepon dari wanita itu. Baginya urusan perusahaan serta kerjasama, telah ia serahkan kepada asistennya, Juna.


Hingga nada dering itu berhenti, Dirga benar-benar tidak mengangkatnya. Ia malah mengutak-atik ponselnya untuk menge-chat gadis pujaan hatinya, Amelia.


"Selamat pagi." Isi chat pertama Dirga.


Agak lama Dirga menunggu.


"Tring." Suara notifikasi pesan.


"Selamat pagi juga." Balasan dari Amelia.


Gemas hanya mengirim pesan saja, Dirga lantas mengambil inisiatif untuk menelepon.


Lama nada sambungan telepon itu berbunyi. Membuat pria itu sedikit kesal karena Amelia tidak kunjung mengangkat telepon darinya. Saat hendak mematikan sambungan telepon, terdengar suara dari seberang.


"Hallo."


"Hallo, Amelia. Apakah kamu sedang sibuk?"


"Belum."


"Lantas kenapa lama sekali kamu mengangkat telepon dariku?"


"Kenapa kamu bicara pelan sekali? Aku hampir tidak dengar." Dirga berkata seolah kesal, padahal nyatanya ia sangat suka.


"Ya Tuhan, Dirga. Apa kata teman-teman di sini nanti, bila mereka mendengar bahwa saya sedang berbicara dengan bos mereka."


"Aku tidak peduli." Seru Dirga.


"Tapi saya peduli." Amelia menjawab tak kalah seru.


"Baik, apa yang harus aku lakukan agar tidak membuatmu khawatir?"


"Saya mohon jangan menelepon atau berbicara di saat jam kerja."


"Aku tidak bisa."


"Saya mohon pada anda, Dirga." Ucap Amelia dengan nada memohon.


Dirga suka mendengar suara itu. Baginya suara Amelia saat sedang berbisik apalagi memohon, terdengar seksi di telinganya.


"Bagaimana kalau jam istirahat?"


"Baiklah, anda bisa menghubungi saya saat jam makan siang."


"Tapi makan siang hari ini aku tidak bisa meneleponmu. Seharian ini aku akan sibuk di luar."


"Ehm.. Ya, tidak masalah."


"Tentu saja kamu tidak masalah, sedangkan bagiku itu sebuah masalah."


"Masalah apa untuk anda, Dirga?"


"Masalah karena akku pasti akan merindukanmu, Amelia Sarawijaya."


Tak ada suara terdengar dari seberang.


"Baiklah. Hari ini sepertinya kamu bisa bebas. Aku tidak akan mengganggu waktu kerja dan santaimu."


"Ya."


"Apakah kamu sudah sarapan pagi?"


"Ehm, aku sudah sarapan tadi di rumah."


Mel...


Terdengar suara dari tempat Amelia berada.


"Maaf, sepertinya aku sudah mulai sibuk. Aku akan menutup teleponnya."


"Ya. Selamat bekerja."


Dirga kemudian mengakhiri komunikasinya dengan Amelia.


Dirga sangat menyukai momen dimana gadis itu berani menolaknya. Bahkan ia juga menyukai bila mereka sudah mulai berdebat.


"Permisi Pak, semua berkas sudah siap. Kita tinggal berangkat sekarang." Ujar Juna melapor, otomatis menghentikan lamunan Dirga dari gadis bernama Amelia.


"Baik. Ayo, kita berangkat." Ujarnya seraya berdiri.


***


Apa yang dikatakannya tadi, dia akan merindukanku?


"Mel." Suara seorang memangilnya.


Amelia tersadar dari lamunannya.


"Eh, iya?" Jawabnya terbata.


"Laporan ini nanti kamu pelajari. Kalau ada yang tidak mengerti, baru kamu tanyakan ke aku yah." Ujar Wati, teman satu bagiannya.


"Eh, iya. Terima kasih, Wati." Ucapnya tulus.


"Sama-sama."


Amelia memulai fokus dan konsentrasinya untuk bekerja. Dia tidak ingin terganggu dengan urusan di luar pekerjaan.


Meski Dirga mengatakan bahwa hari ini dia akan sibuk dan tidak akan bebicara dengannya, namun entah mengapa Amelia masih mengharapkan bahwa Dirga mengatakan sebuah kebohongan.


Sejujurnya saat tadi Dirga mengatakan akan sibuk hari ini, Amelia tiba-tiba merasa hampa, ia terasa akan kehilangan sesuatu.


"Dreeet..." Sebuah notifikasi pesan masuk.


Iseng ia buka, sambil tangan dan matanya yang masih sibuk menatap lembaran-lembaran kertas contoh laporan keuangan.


"Aku sedang menuju ke agenda rapat pertama. Maaf, ternyata kamu tidak sepenuhnya bebas, Nona."


Amelia reflek tersenyum setelah membaca pesan dari Dirga.


"Anda ternyata berbohong." Iseng Ia membalas.


Tak lama sebuah pesan masuk kembali.


"Maafkan aku, karena aku tidak akan sanggup untuk menahan rinduku padamu, Amelia."


Ingin sekali Ia membalas pesan itu lagi, tapi gadis itu menahan diri. Ia tidak ingin terlalu terlihat bahwa ternyata ia menyukai pesan-pesan yang dikirim oleh Dirga.


Segera ditaruhnya kembali ponsel di atas meja kerjanya. Ia akan kembali fokus bekerja. Tanpa sadar, ternyata pesan masuk dari Dirga membuatnya bersemangat.


"Mel, abis ada yang nyatain cinta yah?" Tiba-tiba suara Mesi mengagetkannya.


Kepala Mesi nongol di atas papan kubikel mereka.


"Hah! Kata siapa? Kok kamu bisa punya pendapat begitu?" Tanya Amelia penasaran.


"Dari muka kamu yang merona saja bisa tertebak. Kalau bukan karena ada lelaki yang menyatakan perasaannya ke kamu, berarti hal lain yang bikin kamu seperti ini, adalah karena kamu abis dapat undian berhadiah." Ujar Mesi.


Amelia nampak menyentuh kedua pipi kiri dan kanannya.


Benarkah menurut Mesi, kalau saat ini wajahku terlihat seperti muka orang yang sedang jatuh cinta? Gumamnya pelan.


***