
"Terimakasih, Amelia. Kamu bisa kembali ke meja kamu."
"Sama-sama, Bu Susi. Kalau gitu saya permisi."
"Ya, silakan."
Amelia bangun dan melangkahkan kakinya dengan sedikit gontai.
"Amelia?" Bu Susi memanggilnya kembali.
Gadis itu berbalik.
"Eh, iya, Bu. Ada apa?'
" Apa kamu sakit?"
"Tidak, Bu. Memang ada apa yah?"
"Tidak. Hanya saja saya perhatikan kamu terlihat lesu. Apa sedang ada masalah?"
"Eh, tidak kok, Bu." Amelia berusaha menutupi kegalauan hatinya.
"Benarkah? Kalau kamu sedang ada masalah, kamu bisa cerita sama saya, Mel. Seperti yang pernah saya katakan sama kamu waktu itu. Saya tidak ingin jika staf saya memiliki masalah yang akan membuat kinerja kerjanya terganggu."
"Iya, Bu. Saya mengerti. Tapi memang saya sedang tidak ada masalah kok, mungkin saya sedikit kaget saja dengan ritme kerja di kantor. Maklum, pengalaman pertama, Bu."
Bu Susi terlihat tersenyum mendengar perkataan dari Amelia.
"Ya sudah kalau begitu. Ibu harap kamu bisa mengkondisikan tubuh kamu dengan sistem kerja di sini."
"Baik, Bu."
"Tok ... Tok ... Tok ... "
"Masuk!"
"Maaf Ibu, ada tamu yang ingin bertemu dengan ibu."
"Siapa? Apa sudah ada janji?"
"Katanya sih belum, Bu."
Bu Susi terlihat mengerutkan keningnya. Siapa, pikirnya?
"Laki-laki atau perempuan?"
"Perempuan."
"Dia menyebutkan nama?"
"Tidak, Bu."
"Bilang saja, kalau belum ada janji, saya tidak bisa menemuinya."
"Benarkah, aku harus punya janji dulu dengan ibu, bila ingin bertemu?" Sesosok gadis cantik telah berdiri di depan pintu dengan senyumnya yang mengembang.
"Oh, Tuhan. Mba Nancy!"
"Mirna, kamu ini bagaimana bisa tidak tahu, kalau Mba Nancy yang ingin bertemu dengan saya."
"Mba Nancy, silakan masuk. Maafkan sekertaris saya," ujar Bu Susi sambil bangkit berdiri dan menghampiri Nancy.
"Hah! Eh, maaf, Bu. Maaf kan saya juga Mba." Mirna meminta maaf atas sesuatu hal yang murni bukan kesalahannya.
Nancy tidak marah, ia malah tersenyum dan malah merasa kasihan atas permintaan maaf yang diucapkan oleh Mirna.
"Nggak apa-apa. Saya yang salah karena tidak menyebutkan nama saya sebelumnya. Maafkan saya yah, Mba Mirna," ujar Nancy tersenyum.
Amelia yang bertemu dengan Nancy lagi, semakin menampakkan wajah keheranannya.
Mengapa gadis ini juga mengenal Bu Susi, manajernya. Begitu yang ada di dalam pikiran Amelia.
"Hai, Mba Amelia. Kita berjumpa lagi," sapa Nancy pada Amelia, yang sejak awal ia berdiri di depan pintu itu, dirinya sudah melihat sosok gadis kekasih kakaknya itu.
"Hai, Mba Nancy."
"Kalian sudah saling kenal?" tanya Bu Susi heran.
"Iya, Bu Susi. Tadi kami sempat bertemu dan kenalan di pantry," jawab Nancy.
"Oh, begitu."
"Eh, maaf Bu Susi dan Mba Nancy, sepertinya saya harus kembali ke meja kerja saya," sahut Amelia, memilih meninggalkan ruangan manajernya itu dan pergi menghindari Nancy.
"Eh, saya juga," sahut Mirna.
"Ehm, iya."
Amelia dan Mirna melangkahkan kaki ke luar ruangan manajer keuangan. Dan kembali ke mejanya masing-masing.
Amelia kembali duduk di bangku kerjanya. Wajahnya makin terlihat kusut.
Jam istirahat masih sisa setengah jam lagi. Iseng gadis itu memeriksa ponselnya.
Ada sebuah pesan dan juga beberapa panggilan dari Dirga.
[Kamu sudah mau istirahat, sayang?]
Huh! Masih bisa dia panggil aku dengan kata itu.
Sayang? Siapa yang mau kamu panggil sayang.
Apa tadi kata gadis itu, tempat makan yang romantis.
Pergi saja kamu makan siang dengannya. Amelia.
Gadis itu rupanya sedang merasakan cemburu pada Nancy, setelah gadis itu mengatakan sesuatu yang membuat hatinya sedikit kesal.
***
"Jadi apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari saya, Juna?"
"Eh, maaf, Pak Dirga. Maksud bapak apa yah? Saya kurang paham," jawab Juna.
"Ah, sudahlah," sahut Dirga.
Flashback on
"Darimana kamu tahu, kalau Mba Amelia adalah kekasih Pak Dirga?"
"Apa? Kekasih?" seru Nancy terkejut.
"Mengapa kamu terlihat terkejut? Apa kamu tidak tahu kalau Mba Amelia sudah resmi menjadi kekasih Pak Dirga?"
"Benarkah?" Terlihat binar bahagia dari mata Nancy.
"Ya."
"Wah, kebetulan sekali. Bagaimana kalau kita mengerjai mereka berdua, Mas?"
"Maksud kamu?"
"Begini, Mas Juna jangan beritahu Mas Dirga perihal ucapan Nancy pada Amelia tadi, yang bilang minta makan siang di tempat yang romantis."
"Nancy rasa, Amelia cemburu pada Nancy setelah mendengar kalimat itu."
"Kamu benar-benar jahil, Nancy."
"Eh, sekali-kali, Mas."
"Lalu, apa hadiah untuk Mas jika mau mengikuti kemauan kamu?"
Juna terlihat berjalan mendekat ke arah Nancy. Gadis itu tiba-tiba mulai panik, saat tubuh milik Juna sudah berdiri tepat di hadapannya.
"Ah, euh ... hadiah apa yang Mas Juna inginkan dari Nancy?" gadis itu tergagap.
Sikap ceria yang ia tunjukkan sedari tadi, tiba-tiba saja hilang entah ke mana saat aura aneh yang timbul dari dalam diri Juna mulai merasukinya.
Nancy mulai merasakan debaran pada dadanya. Dan jantungnya pun seperti berlari begitu cepat, saat secara perlahan tangan lelaki di depannya itu terulur dan menyentuh pipinya.
'Cup'
Juna mencium pipi Nancy yang terlihat merona hanya karena disentuh olehnya.
Entah setan mana yang merasuki Juna, sehingga ia berani bersikap seperti itu terhadap adik bosnya.
Untung saja ruangan pantry tertutup dan tak ada siapa-siapa di sana.
Mungkin rasa yang selama ini tersembunyi dalam diri Juna mulai muncul mencari pelampiasannya.
Dan reaksi gadis itu ternyata sungguh di luar dugaan Juna. Ia pikir Nancy akan marah atau menamparnya.
Padahal ia sudah siap dengan konsekuensi atas sikap lancang yang sudah ia lakukan.
Tapi yang Juna lihat, Nancy seolah menikmati sentuhan bibir pria itu di pipinya. Karena saat Juna menjauhi wajah Nancy, kedua mata gadis itu masih setia terpejam.
"Mari kita kerjai mereka berdua," bisik Juna lirih.
Nancy terlihat menganggukkan kepalanya.
Flashback off
Dirga nampak kesal. Belum pernah ia merasakan perasaan ini sebelumnya.
Bagaimana bisa ia lebih mementingkan pekerjaannya dibandingkan denganku? Dirga.
Juna berusaha menahan tawanya. Sungguh ada rasa kasihan namun juga ada rasa yang menyenangkan saat ia bisa mengerjai bosnya itu.
Dirga terlihat sedang mencoba untuk mengirim pesan pada Amelia. Namun harapannya mendapatkan balasan, ternyata tidak kesampaian.
Akhirnya dia mencoba menghubungi gadis itu.
"Apa? Dia reject!" teriak Dirga.
Dirga letakkan ponselnya secara kasar ke atas meja.
"Juna, di mana adik saya, Nancy?"
"Maaf, Pak Dirga. Terakhir saya bertemu, Mba Nancy ada di pantry."
"Coba kamu telepon pantry!"
"Baik, Pak."
"Hallo, Pak Amar. Apakah Mba Nancy masih ada di sana?"
[Ah iya, Mas Juna. Maaf, Mba Nancy sudah tidak ada di sini.]
"Baik, Pak Amar. Terimakasih."
Juna memutuskan teleponnya dengan Pak Amar.
"Mba Nancy, sudah tidak ada di pantry, Pak."
"Apa perlu saya hubungi ponselnya, Pak?"
"Biar aku saja."
Dirga mengambil ponselnya kembali yang tadi ia letakkan di atas meja.
"Hallo, Nancy! kamu di mana?"
[Mas Dirga, aku lagi di ruangan Bu Susi.]
"Hah, ngapain?"
[Nggak ngapa-ngapain. Kangen aja, udah lama nggak ketemu.]
"Kamu tunggu, Mas susul ke sana."
[Ok]
"Kita ke ruangan Bu Susi. Sekalian jalan keluar makan siang," ucap Dirga kepada Juna.
"Baik, Pak."
Kita lihat, apa yang sedang kamu lakukan sebenarnya? Mengapa kamu tidak membalas pesan dan malah me-reject telepon dariku. Dirga.
***