My Boyfriend Is A CEO

My Boyfriend Is A CEO
Mengunjungi Butik



"Oh.. Aku kirain kenapa," katanya tersenyum.


Amelia terlihat balas tersenyum, namun terlihat kaku.


"Makasih, Mba," ucap Anya, pada waitress yang membawakan pesanannya.


"Mel, aku yakin kamu pasti bisa kok. Lagian kamu juga kan belum tahu pekerjaan kamu kaya gimana. Jadi tekanan atau pressure yang kamu takutkan itu jangan kamu pikirin dulu. Bisa jadi kan kamu di tempatkan di posisi yang enak dan nyaman. Pekerjaan yang kamu kuasai dengan mudah tentunya," tutur Anya, mencoba memberi gambaran kepada temannya.


"Iya sih, kamu bener juga, Nya. Kenapa aku harus takut yah. Toh, kalo niat kita untuk bekerja dengan baik dan sungguh-sungguh pasti kita akan melakukannya dengan mudah."


"Nah, itu kamu tahu. Semangat lah," seru Anya memberi semangat pada Amelia.


"Iya, semangat!" balas Amelia.


Mereka pun tertawa bersama.


***


"Bu, udah mau jam makan siang nih. Masih belum selesai juga tugasnya?" sahut Harsa, yang saat ini sedang duduk di sofa di dalam butik milik istrinya.


"Sedikit lagi, Yah. Sebentar. Sabar yaaah," jawabnya tersenyum, sembari memberi perintah kepada pegawainya tentang apa-apa yang harus dilakukan.


"Nanti kalau kamu sudah selesai cek pakaian yang sudah saya beri tanda ceklis tadi, kamu rapikan. Kemudian, kamu atur pakaian-pakaian yang baru datang kemarin," katanya pada Dewi pegawai senior yang sudah lama bekerja dengan Ninta.


"Baik Bu," jawab Dewi, lalu pergi meninggalkan bosnya. Kembali ke dalam ruangan yang lain.


Bu Ninta lalu menghampiri suaminya yang masih setia menemaninya mengecek pekerjaan yang sudah lama ia serahkan pada orang kepercayaannya.


"Mau ke kantor sekarang, Yah?" tanya Ninta pada Harsa, suaminya.


"Yuk! Kita sekalian makan siang bareng Dirga di sana," jawabnya sambil bangkit berdiri.


"Ronald, saya pamit dulu yah. Nanti kamu kabari saya kalau pekerjaan yang saya kasih hari ini sudah selesai," ujar Bu Ninta pada Ronald, manajer butik.


"Baik Ibu. Siap," katanya dengan gaya memberi hormat.


Tak ada rasa canggung di antara para pegawai butik dengan bos nya itu. Mereka terlihat akrab layaknya keluarga.


Baru saja mereka hendak melangkahkan kakinya keluar, dua wanita cantik datang memasuki butik.


"Selamat siang," sapa Ronald pada kedua wanita itu.


"Selamat siang," jawab salah satu wanita itu, yang ternyata Anya.


Anya memang meminta Amelia untuk mengantarnya mencari baju di butik langganannya.


Ternyata butik langganannya Anya adalah milik Bu Ninta, ibunya Dirga.


"Anya! Kamu Anya kan, putrinya Gladis?"


Anya nampak bingung, ia berusaha mengingat wajah wanita cantik di depannya.


Amelia lebih kebingungan. Ia lebih tidak mengenal wanita cantik yang sudah berumur itu, manakala Anya memandangnya seolah memintanya membantu mengingatkan dirinya.


"Ah... Tante Ninta, yah?" tiba-tiba Anya teringat.


"Iya."


"Apa kabar, Tante?" tanya Anya, sambil mengulurkan tangannya.


"Kabar Tante baik. Bagaimana kabar mama kamu?"


"Baik juga kok, Tante."


"Ini Yah, Anya anaknya Gladis, teman Ibu. Putrinya Pak Sapta,' ujar Ninta memberitahu Harsa, suaminya.


"Ah.. Ya." serunya seperti mengingat.


"Hallo Om. Apa kabar?" kata Anya mengulurkan tangannya kembali.


"Baik. Kabarmu dan keluarga?"


"Baik juga, Om," balas Anya.


"Oh iya, Om Tante, ini kenalkan teman aku, Amelia namanya," sahut Anya, yang hampir saja lupa dengan keberadaan Amelia di sampingnya.


"Amelia."


.Sambil menjabat tangan kedua orang dewasa yang berdiri di depannya.


"Hai Nak. Salam kenal. Panggil saja Tante Ninta dan Om Harsa, sama seperti Anya memanggil kami," ucap Ninta dengan suara yang sangat lembut.


"Oh iya, Om Harsa dan Tante Ninta, salam kenal juga," jawab Amelia dengan sopan.


"Tante sama Om mau kemana? Udah belanjanya?" tanya Anya.


"Kita mau pulang. Kita nggak belanja kok. Abis liat-liat aja tadi," jawab Ninta sambil tersenyum, tanpa memberitahu bahwa butik itu adalah miliknya.


"Oh gitu.. Kita nggak bisa ngobrol banyak dong," sahut Anya lagi.


"Iya.. Maaf yah, Anya. Lain waktu kita bisa ngobrol lagi. Ajaklah mamamu main ke rumah, sudah lama kita nggak ketemu."


"Baik Tante. Nanti Anya bilang deh sama Mama."


"Ok deh. Kalo gitu, Tante pamit duluan yah. Salam untuk mama kamu."


"Amelia, Tante sama Om pamit duluan yah," ucapnya sembari menengok pada gadis itu, yang sedari tadi diam saja tidak berbicara.


"Ah, euh.. Iya Tante, Om. Hati-hati," jawabnya terbata. Tak menyangka bahwa wanita itu akan menyapanya kembali.


"Dah..."


"Dah Tante..."


"Yuk, Ronald," katanya pada sosok pria yang masih setia berdiri membukakan pintu butik.


"Iya Bu," jawab Ronald. Lalu menutup pintu itu, tatkala sang majikan sudah keluar.


"Mas Ronald, emang Bu Ninta member butik ini juga yah?" tanya Anya pada Ronald, si manajer.


Anya adalah member di butik milik Ninta. Maka tak heran bila ia kenal dan akrab dengan para karyawan butik, terutama Ronald.


"Bukan, Mba Anya," jawabnya.


"Oohhh.. Kirain member juga."


"Sering beliau kesini?" tanya nya lagi, kepo.


"Nggak juga, sewaktu-waktu aja," kata Ronald lagi menjawab rasa penasaran Anya.


"Oh... Gitu. Tapi kayanya akrab yah sama karyawan butik," sahut Anya sambil melihat-lihat baju yang berjejer rapi di depannya.


"Ya jelas dong, Mba. Bu Ninta kan pemilik butik ini."


"Apa? Ih... Kok Mas Ronald gak bilang sih dari tadi. Aku udah muter-muter juga nanyanya," gerutunya sedikit kesal.


"Lah... Kan Mba Anya gak nanya ke situ," sahutnya sambil terkekeh.


"Tau ah, Mas."


Masih terus menampilkan wajah kesalnya.


"Maaf deh," akhirnya meminta maaf, karena sebetulnya Ronald pun memang sengaja mengerjai Anya.


"Hei Nona manis. Namanya siapa?" tanya Ronald pada Amelia, yang sedari tadi ia perhatikan tidak mengeluarkan suara.


"Amelia, Mas," jawab Amelia.


"Eh jangan ganggu temen aku yah, Mas. Dia mah anaknya masih polos. Kamu berani deket-deket awas aja," sahut Anya.


"Wah, bagus dong. Aku seneng sama yang polos-polos gitu," jawab Ronald sekenanya.


"Sembarangan aja. Aku laporin sama Mba Dewi nanti," tutur Anya, menakuti Ronald dengan berkata akan melaporkan perbuatannya pada kekasihnya, yaitu Dewi. Karyawan senior butik.


"Mau laporin ke aku apa, Mba Anya?" tiba-tiba Dewi keluar dari ruangan lain dan langsung ikut nimbrung dengan mereka.


Ronald langsung berwajah pucat. Ia tak menyangka becandaannya terdengar oleh kekasihnya.


"Itu Mba, Mas Ronald genit," kata Anya yang sepertinya mendapat suasana seru.


"Bohong, Wi," Ronald mencoba berkilah.


"Apanya yang bohong?" Anya makin menambah keseruan susana yang semakin memanas.


"Anya, apaan sih. Jangan berlebihan," sahut Amelia yang tidak tega melihat Ronald mendapat tatapan membunuh dari Dewi, kekasihnya.


"Nggak kok Mba, Mas Ronald cuma pingin kenalan sama teman aku aja," kata Anya sambil nyengir.


"Bener gitu?" tanya Dewi pada Ronald kekasihnya, yang malah ikut-ikutan masuk dalam permainan yang tadi dimulai oleh Anya.


"Iya bener Mba. Mas Ronald cuma pingin tahu nama aku aja," Amelia yang menjawab.


Mencoba menyelamatkan pria yang saat ini tidak berkutik sama sekali.


"Nggak apa-apa kok, nyantai aja. Kamu gak usah ngerasa gak enak gitu. Kita cuma mau ngerjain Ronald aja," kata Dewi sambil tertawa. Di sambut oleh tawa yang lebih kencang dari Anya.


"Kalian ini... Kasian tau Nya, Mas Ronald sampe pucet gitu," kata Amelia tersenyum.


"Maaf yah Amelia, aku gak ada maksud sama apa yang di omongin sama Mba Anya tadi kok," ujar Ronald mengklarifikasi guyonannya, takut menimbulkan salah paham.


"Iya Mas aku tahu kok. Tenang aja."


"Ya udah, aku tinggal ke dalam dulu yah. Kamu kalo mau beli baju, tanya-tanya Dewi aja yah. Ada koleksi baru tuh."


Setelah berkata demikian pada Anya, Ronald pergi meninggalkan mereka bertiga.


"Yuk, Nya. Aku kasih liat koleksi butik yang baru," ajak Dewi pada Anya.


"Nya, aku tunggu kamu di sofa aja yah," sahut Amelia.


"Euh, kamu gak mau liat-liat juga? Gampang, Mel. Tar aku yang bayar," sahut Anya.


"Gak ah, Nya. Aku lagi gak pingin beli baju baru. Kamu aja sana. Aku tunggu di sini," ujar Amelia sambil duduk di sofa.


"Ya udah kalo gitu. Kamu tunggu sebentar yah, aku gak akan lama kok."


Dijawabnya oleh Amelia dengan menautkan jari telunjuk dengan ibu jarinya, membentuk lingkaran.


***