My Boyfriend Is A CEO

My Boyfriend Is A CEO
Obrolan Hangat



Dirga dan Amelia turun ke lantai bawah menuju ruang keluarga. Di sana kedua orang tua Dirga dan Sang adik kesayangannya--Nancy---sudah duduk dan sedang mengobrol penuh kehangatan.


Digenggamnya tangan Amelia menuju sofa. Nampak sekali wajah malu dari wajah gadis itu. Seluruh anggota keluarga tak luput mengamati pemandangan indah di depan mata mereka.


Mereka yang sudah lama tidak melihat raut kebahagiaan di wajah Dirga, teramat senang dengan situasi saat ini.


Dirga terlihat sangat bahagia. Meski ia belum mengenalkan Amelia sebagai kekasihnya kepada kedua orang tua dan juga adiknya itu, tapi ia dengan penuh percaya dirinya membawa Amelia dengan penuh kehati-hatian seolah gadis itu adalah barang mewah yang berharga.


"Ayah, Ibu dan .... Nancy, adikku yang manis. Aku di sini ingin memperkenalkan gadis cantik yang berdiri di sampingku ini."


"Kita udah kenal kok, Mas," potong Nancy. Yang langsung mendapat tatapan tidak suka dari Dirga. Bu Ninta dan Pak Harsa hanya tersenyum.


"Iya kalian emang udah saling kenal, malah kamu iseng waktu itu," ucap Dirga, mengingatkan kejahilan adiknya tempo hari lalu.


"Sorry, Mas," jawabnya terkekeh.


Amelia saat ini merasakan kegugupan yang luar biasa. Meski tadi ia sudah bisa mengobrol biasa dengan orang tua Dirga, tapi di situasi ini, entah mengapa aura yang ditampilkan sungguh berbeda.


"Jadi, Ayah, Ibu dan Nancy, aku ingin memperkenalkan pada kalian bahwa Amelia adalah kekasihku."


Semua mata memandangi kedua insan yang saat ini sedang kasmaran tersebut. Meski tidak dipungkiri kalau gadis itu terlihat sangat menahan perasaan gugupnya.


"Amelia? sini, Nak!" ucap Bu Ninta meminta Amelia untuk mendekat padanya.


Dilepasnya genggaman Sang kekasih agar ia bisa menghampiri wanita yang terlihat cantik meski usianya sudah tidak lagi muda itu.


Tangan Bu Ninta terjulur menyambut kekasih putranya itu. Amelia menerima tangan itu. Kemudian Bu Ninta menarik gadis itu agar duduk tepat di tengah-tengah, antara dirinya dan Nancy, putrinya.


"Apakah kamu menerima putra Tante dengan kelebihan dan kekurangan yang dia miliki, Amelia?"


"Mengapa Tante bertanya seperti itu?"


"Bukan apa-apa, Nak. Tante hanya ingin memastikan bahwa kamu tidak menyesal menerima putra Tante ini dikemudian hari."


"Bu ... kenapa ibu bertanya begitu?" sahut Dirga tak terima, "lagipula aku memiliki kekurangan apa coba."


"Hei, jangan ke-PD-an yah, Mas. Dulu juga Mas ditinggalin itu karena kekurangan kamu, Mas," seru Nancy.


"Shut, Nancy. Kamu ini bicara apa. Jangan bicara macam-macam di depan kekasih Mas-mu sekarang," ucap Pak Harsa.


"Nggak apa-apa kok, Om. Amelia sudah tahu semuanya."


"Ups, maaf, Yah. Maaf yah Mba Amel, aku manggilnya Mba Amel aja yah?" ujar Nancy tersemyum.


"Senyamannya Mba Nancy saja," jawab Amelia.


"Nggak usah pake 'mba', Nancy aja. Benarkah Mba Amel sudah tahu semua tentang Mas Dirga?" tanya Nancy.


"Aku memang belum mengetahui sifat dan sikap Dirga semuanya. Tapi sejauh yang aku tahu, beliau adalah seorang pemimpin yang baik."


"Itu 'kan kalo ngomongin kantor, kalo ngomongin pribadinya, gimana, Mba?"


"Bukankah dengan tanggung jawab yang besar saja beliau sudah membuktikan sebagai seorang pemimpin yang baik, apalagi dengan pribadinya sendiri? Aku yakin Dirga adalah sosok pria yang sangat baik."


Semuanya tersenyum tak terkecuali Dirga. Ia sungguh merasa beruntung mencintai sosok perempuan yang saat ini duduk di depannya itu.


"Bolehkah aku yang bertanya saat ini, Tante?"


Seluruh anggota merasa terheran dengan kalimat yang diucapkan oleh Amelia.


"Bertanya apa, Nak?"


"Tante, aku ini bukan putri dari keluarga kaya raya. Aku bukan putri dari seorang ayah yang memiliki perusahaan, bukan juga seorang putri dari wanita sosialita kelas atas."


"Aku hanya seorang karyawan staf keuangan biasa di perusahaan yang putra Tante pimpin, putri dari seorang pria yang bekerja sebagai manajer di salah satu perusahaan kecil, putri dari seorang ibu rumah tangga biasa. Tidak ada kelebihan yang aku miliki yang bisa aku banggakan."


"Lantas apakah kalian bisa menerima seluruh kekuranganku itu?" tanya Amelia dengan panjang kali lebar menjabarkan jati dirinya.


Bu Ninta dan Pak Harsa tersenyum menanggapi pertanyaan yang diajukan oleh kekasih putranya itu. Begitu pun dengan Dirga dan Nancy.


"Nak Amelia, jikalau pun kami boleh sombong, semua yang kamu sebutkan itu sudah ada dalam diri kami. Jadi kami tidak memerlukan semua itu."


Semua mengangguk mendengar perkataan dari pemimpin rumah di kediaman Narendra itu.


"Kami hanya membutuhkan seseorang yang bisa membuat putra putri kami bahagia bagaimanapun kondisinya."


"Kami tidak pernah memandang seseorang itu dari harta atau statusnya. Bagi kami, Om dan Tante, sifat dan karakter seseoranglah yang kami lihat."


"Betul, Nak Amelia. Kami melihat ada perubahan dari diri putra kami--Dirga--yang saat ini lebih menampakkan aura bahagia, dan kami sadari, Dirga berubah setelah dia mengenal kamu," timpal Bu Ninta.


"Ayah dan Ibu benar, Mba. Aku lihat Mas Dirga hidupnya lebih berwarna sekarang, nggak kaya dulu lagi," samber Nancy tak mau kalah.


"Eh, udah dong. Nggak usah berlebihan gitu juga. Aku nggak seperti yang kalian bilang tadi kok," ucap Dirga yang tidak terima jadi obyek pembahasan.


Semua tertawa mendengar perkataan dari mulut Dirga. Amelia yang mendengarnya pun ikut tertawa.


"Jadi, kapan kalian mau melanjutkan hubungan kalian ke yang lebih tinggi?" tanya Nancy.


Pak Harsa dan Bu Ninta memandang ke arah mereka berdua. Ikut antusias.


"Aku sih pinginnya secepatnya, Yah, Bu. Tapi Amelia-nya yang belum mau."


"Kenapa, Nak?" tanya Bu Ninta.


"Eh ... ehm, aku hanya merasa hubungan kita masih terlalu dini untuk melangkah lebih jauh. Aku belum mengenal seutuhnya tentang Dirga."


"Ehm ... ya semua keputusan ada di tangan kalian, kami akan mendukung apapun keputusan kalian, jika itu memang untuk sesuatu yang lebih baik." Pak Harsa berkata bijak.


"Nak, Amelia jadi kami minta, tak perlu lagi kamu malu dengan dirimu sendiri. Apa yang ada dalam diri kamu dan apa yang ada dalam diri Dirga, kalian harus menerimanya sebagai kekurangan dan kelebihan masing-masing."


"Iya, Tante. Terimakasih untuk semuanya. Aku merasa senang bisa diterima di keluarga ini, meskipun kalian belum mengenal aku lebih jauh."


"Tak kenal maka tak sayang, jika kita sudah saling mengenal maka perasaan sayang itu akan tumbuh dengan sendirinya."


"Nah, makanya kamu jangan malu lagi kalau aku menggandeng tangan kamu di kantor."


"Benarkah begitu?" tanya Bu Ninta menatap Amelia.


"Benar, Bu."


Amelia mendelik pada kekasihnya itu. Yang dilihatnya hanya tersenyum saja.


"Apakah kamu malu, Nak, memiliki kekasih seorang CEO?"


"Iya, Tante. Tapi bukan karena aku malu. Aku hanya harus tahu diri saja. Sebagai seorang karyawan baru dan seorang staf biasa, aku merasa harus tahu posisiku di perusahaan, Tante."


"Itu terus yang selalu dia katakan, Bu."


"Mungkin kamu belum terbiasa saja."


"Gimana mau terbiasa kalau dia terus menghindar," sahut Dirga.


"Yee ... lagian. Mungkin Mas Dirga-nya yang terlalu agresif, jadi Mba Amelia-nya malu," seru Nancy.


"Sok tahu kamu," sahut Dirga sembari melempar bantal sofa pada adiknya.


"Mas!" seru Nancy yang tak terima diisengi oleh Dirga.


"Bu ...!"


"Mas, udah dong. Kamu ini, usia sudah mau tiga puluh tapi kenapa kelakuannya jadi kaya anak kecil."


"Lagi kasmaran pasti begitu, Bu."


Amelia tersenyum saja melihat tingkah laku kedua kakak beradik itu. Gadis itu sangat senang bisa mengenal keluarga Dirga. Mereka orang-orang yang baik dan tidak sombong.


***