My Boyfriend Is A CEO

My Boyfriend Is A CEO
Bertemu



Mobil berhenti tepat di depan gerbang sebuah rumah besar nan megah.


Amelia terlihat terpukau manakala melihat keadaan rumah yang bergaya arsitektur Eropa tersebut.


"Mba Amelia dan Mas Boby, silakan turun. Sepertinya acaranya sudah akan dimulai," ucap Mang Sasta pada kedua sahabat yang masih terdiam di tempat duduknya.


"Mel, ayo! Kok kamu malah jadi bengong gitu sih." Boby menyenggol bahu sahabatnya itu.


"Eh, euh, iya. Ayo!"


"Mang Sasta, terimakasih yah untuk tumpangannya," ucap Boby.


"Iya, Mas Boby."


"Makasih loh, Mang Sasta, untuk ceritanya."


"Sama-sama, Mba. Saya do'akan juga, semoga Mba Amelia dan Den Dirga bisa awet juga langgeng sampai nikah nanti."


"Eh, euh ... iya, Mang Sasta." Amelia nampak tergagap mendengar perkataan dari supir pribadi kekasihnya itu.


"Mel, yuk, kita masuk. Acaranya udah dimulai kayanya. Di luar udah nggak ada banyak orang."


"Iya."


Saat mereka hendak masuk, dua petugas mendekati keduanya dan menanyakan perihal undangan yang diberikan kepada para tamu.


"Maaf, Mba dan Mas-nya, apa bisa menunjukkan kartu undangannya?" tanya salah satu petugas.


"Hah? Wah, kita nggak punya kartu undangannya, Pak," jawab Boby.


"Maaf, Mas. Kalau kalian tidak memiliki kartu undangannya, kami tidak bisa mengijinkan kalian untuk masuk."


"Tapi kita diundang sama Anya kok, Pak." Gadis itu mencoba membantu.


"Iya, tapi kami juga mendapatkan tugasnya seperti itu. Bagi tamu yang tidak memiliki undangan, dilarang untuk masuk."


"Mel, ini gimana. Si Anya kan nggak ngasih kita undangan, dia cuma chat dan telepon doang," sahut Boby pelan.


"Iya, sama. Ke aku juga, Anya cuma ngomong doang. Nggak ada tuh dia kasih undangan-undangan segala," ujar Amelia.


"Coba deh, kamu telepon si Anya, Mel."


"Ok."


Amelia merogoh tas kecilnya untuk mencari ponsel dan menghubungi Anya, temannya yang mengundang ke acara malam ini.


"Nggak di angkat, Bob," ucap Amelia menjauhkan ponsel dari telinganya.


"Coba lagi, Mel. Mungkin dia nggak denger."


Gadis itu kemudian mencoba kembali menghubungi temannya.


"Sama, Bob. Nggak diangkat." Amelia terlihat mulai kesal.


"Terus gimana dong? Masa kita balik lagi." Boby juga terlihat mulai sedikit kesal.


"Ya mau gimana lagi. Orang kita nggak di ijinin untuk masuk."


Boby mencoba untuk bernegosiasi dengan petugas kembali.


"Pak, beneran apa kita berdua nggak di ijinin masuk."


"Maaf banget, Mas. Kami hanya menjalankan tugas saja. Kalau kami nggak patuh, yang ada kita nanti malah dipecat.


" Bob, udah deh. Kasian tau si Bapaknya. Udah lah, kita balik aja, yah?" ajak Amelia pada Boby.


"Hem ... ya udah deh, mau gimana lagi."


Akhirnya Amelia dan Boby memutuskan untuk kembali pulang, meski hati sedikit dongkol dan kesal.


Baru beberapa langkah hendak meninggalkan rumah megah itu, terdengar suara seorang perempuan memanggil.


"Boby!"


"Amelia!'


Keduanya berbalik dan mencari si empunya suara.


" Anya!"


Anya yang nampak cantik juga elegan dengan balutan gaun biru toska, berjalan tergopoh-gopoh ke arah Amelia dan Boby.


"Anya! jangan cepet-cepet, nanti kamu jatuh," seru Amelia.


"Kalian mau pada kemana? Kok nggak pada masuk? aku sama Oka udah nunggu dari tadi." Anya nampak terengah-engah.


Tentu saja nafasnya ngos-ngosan, dengan gaun yang sedikit terbuka ditambah sendal high heels-nya, dia berusaha mengejar kedua temannya yang hampir pergi.


"Kita nggak boleh masuk, Nya," ucap Boby.


"Loh, kok gitu. Siapa yang larang?" Anya terlihat sedikit emosi, ketika mengetahui temannya tidak dibolehkan masuk.


"Petugas yang jaga," jawab Amelia. "Eh tapi mereka nggak salah kok, Nya."


"Nggak salah gimana sih, Mel," sahut Anya. "Yang mana orangnya?"


"Nya, yang salah itu kamu lagi?" ucap Boby.


"Kok aku, Bob?"


"Kalau peraturan buat masuk ke acara ini mesti pake undangan, harusnya kamu pas ngundang kita, kasih juga dong kartu undangannya," gerutu Boby.


"Oh iya, ya ampun!" Anya terlihat menepuk jidatnya.


"Sorry Bob, Mel. Aku lupa." Anya nampak merasa bersalah.


"Iya, iya. Sekali lagi sorry yah?" ucap Anya tulus.


"Iya, Nya. Udah ah," sahut Amelia. "Jadi kita mau ngapain nih di sini? Udah boleh masuk belum?" tanya Amelia iseng dan tersenyum.


"Ya iya dong. Ayo!"


"Bapak kenapa nggak konfirmasi dulu sama saya tadi. Main usir aja." Anya nampak sedikit emosi ketika melewati kedua petugas yang sedang berjaga.


"Maaf, Non Anya. Tadi juga kedua temennya 'Non coba telepon. Tapi sama 'Non nggak diangkat."


"Ya suara ponsel mana kedengaran dong, Pak. 'Kan kalian tugas berdua, bisa kan salah satu dari kalian masuk, dan laporan sama saya."


"Udah lah, Nya. Mereka mungkin lupa dan spontan aja berbuat itu. Nggak usah dibesar-besarkan."


"Tapi Mel .... Ya udah. Ok kali ini kalian aku maafkan. Tapi kalian minta maaf sama kedua teman saya."


"Maaf Mba dan Mas, sungguh kami berdua tidak ada maksud untuk mengusir kalian. Itu kami lakukan, semata-mata karena tugas saja. Sekali lagi, maaf."


"Iya, Pak. Nggak apa-apa kok."


"Makasih Mba dan Mas-nya."


"Ya udah, yuk masuk Mel, Bob. Acaranya udah dimulai dari tadi."


Ketiganya lantas masuk ke tempat berlangsungnya acara. Acara pertunangan Kakak Anya, dilakukan disekitar ruangan keluarga yang disulap menjadi sebuah ruangan kosong dan menyatu dengan area kolam renang.


Acara memang sudah dimulai saat ketiganya masuk. Saat itu tengah berlangsung acara sambutan yang dilakukan oleh Papa-nya Anya, Pak Sapta.


Ketika Amelia dan Boby masuk, pemandangan yang jarang mereka jumpai nampak terlihat.


Para tamu undangan yang terlihat cantik-cantik dan juga tampan, menggunakan pakaian-pakaian berkelas. Tampang dan penampilan yang memperlihatkan status sosial yang mereka miliki.


Spontan sebuah pemandangan itu membuat Amelia dan Boby saling berpandangan. Sejurus kemudian tercipta senyum yang terlihat tidak lepas, hanya sebuah senyum basa-basi yang terjadi.


"Hei, Mel, Bob! kok jadi pada ngelamun? Itu si Oka dari tadi manggil."


"Ah, euh. Mana?" tanya Boby. Keduanya berusaha mencari Oka, menyisir para tamu undangan yang ada di depan mereka.


"Itu, arah jam tiga," ucap Anya.


Oka dengan pakaian kemeja batik dan celana hitam formalnya, terlihat melambai ke arah mereka. Ketiganya lantas menghampirinya.


Ketika sampai di tempat Oka duduk, betapa terkejutnya Amelia saat tiba-tiba sesosok pria tampan menghalangi jalannya.


Namun ketika Amelia melihat siapa pria di depannya itu, dia berubah tersenyum. Kekasihnya kini sedang memandanginya dengan pandangan yang tak ia mengerti. Kekasihnya yang sedari awal ia masuk ruangan ini, sudah ia cari-cari keberadaanya.


"Hai Pak Dirga. Selamat malam," sapa Boby.


"Hai, Bob. Selamat malam. Kalian kok lama sekali?"


"Eh, maaf Mas tadi ada gangguan tekhnis di depan," jawab Boby.


Anya yang sedikit terheran dengan keakraban yang terjalin antara Boby dan Dirga, lantas iseng bertanya.


"Kalian berdua, kenal?" tanya Anya pada keduanya.


Dirga dan Boby hanya mengangguk. Sedangkan Amelia nampak tertunduk karena malu dan bingung.


Dirga lantas memandang Amelia kembali.


"Ayo, ke meja sana! Ketemu dengan Ayah dan Ibu," ajak Dirga pada Amelia dan Boby, menunjuk meja yang ditempati oleh kedua orang tua Dirga.


"Eh, tapi kita udah ada teman kita di meja sana, Mas," jawab Boby dengan menunjuk salah satu meja, dengan bangku yang masih kosong hanya ada Oka di sana yang menatap mereka dengan bingung.


"Apa boleh Amelia-nya saja yang ikut saya?" tanya Dirga pada Boby dan Anya.


"Oh, boleh banget, Mas," jawab Boby tersenyum. Berbeda dengan Anya yang nampak bingung dan tak mengerti.


"Mba Anya, saya pinjam dulu Amelia-nya yah?" ucap Dirga pada Anya.


"Ah, euh, silakan Mas Dirga." Hanya itu jawaban yang diberikan pada pria tampan di depannya, yang sedari tadi menatap temannya--Amelia--yang berdiri di sampingnya dengan wajah yang selalu tertunduk.


"Ya udah, ayo!" ajak Dirga kemudian mengulurkan tangannya memegang tangan Amelia.


Amelia terkaget dan sebetulnya malu pada Anya. Ia belum pernah memberitahu Anya. Pikirnya pasti temannya itu bertanya-tanya sekarang.


Ah, biar saja Boby yang bercerita nanti. Amelia.


Amelia dan Dirga berjalan menuju tempat orang tua Dirga berada. Tangan Dirga masih setia memegang tangan kekasihnya itu.


"Kamu cantik sekali malam ini," puji Dirga masih dengan tatapan mesranya pada siang kekasih.


Amelia tidak berkomentar, dia malu dan memilih diam.


"Apa kamu sengaja berpenampilan seperti ini untuk menggodaku?"


"Eh, apa maksud kamu?" jawab Amelia tidak mengerti.


"Pakaian dan wajahmu sangat seksi malam ini. Aku seperti ingin 'memakanmu' saja sekarang." Dirga berkata dengan senyuman yang tak pernah luntur.


"Apa, seksi? Dari mana seksinya?" tanya Amelia yang nampak bingung dengan ucapan Dirga.


Ya, tentu saja gadis itu bingung. Ia merasa tidak memakai pakaian yang terbuka. Saat ini ia hanya memakai baju kebaya modern tangan pendek dipadu rok berbahan batik berukuran tujuh per delapan di bawah lutut. Dan satu buah sendal ber-hak sedikit tinggi, menunjang penampilan tubuhnya yang memang tidak pendek.


"Bagiku kamu akan selalu seksi, Sayang," ucap Dirga di dekat telinga kekasihnya itu.


Amelia menundukkan wajahnya lagi saat ini. Kekasihnya itu selalu berhasil membuatnya malu dan juga berbunga-bunga.


"Itu mereka!" seru Dirga ketika sudah hampir sampai di meja kedua orang tuanya.


Amelia melihat kedua sosok yang Dirga maksud. Hatinya saat ini langsung berdebar tidak karuan. Meski ia pernah bertemu dengan orang tua Dirga, tapi saat ini dengan situasi yang sudah berbeda, membuatnya dah dig dug dan bingung bagimana harus bersikap.


***