My Boyfriend Is A CEO

My Boyfriend Is A CEO
Wejangan Ibu Susi



Dia itu sosok pemimpin yang baik.


Untuk apa menggilai sosok yang sulit dijangkau.


Hingga saat Amelia sudah mulai bekerja kembali di mejanya, kalimat itu masih terngiang di kepala.


Begitu banyak pegawai-pegawai yang lebih cantik, lebih senior pula. Dan tak mungkin pula tidak ada wanita-wanita di luar sana yang selevel dengannya, yang tidak membuatnya jatuh hati. Begitu pikirnya.


Lantas aku ini apa? Aku hanya butiran debu yang sebetulnya tidak nampak dan terasa sama sekali.


Terdiam dan termenung, sulit melupakan kalimat yang Dika katakan.


"Tring"


Notifikasi pesan masuk mengagetkannya.


"Nanti sore jadi kan, Mel?" dari Bobby.


"Jadi. Tunggu tempat biasa." Kirim.


"Jam berapa kamu balik?"


"Jam lima aku baru balik, lewat-lewat dikit lah."


"Ok."


Ayo fokus bekerja, gumamnya, sambil meletakkan HP nya di atas meja.


Saat semangatnya mulai kembali, tiba-tiba,


"Amelia!" seru Bu Susi dari dalam kantornya, hanya kepalanya saja yang terjulur ke luar.


"Euh, iya Bu," sahutnya.


Lantas berdiri menghampiri.


"Ke ruangan saya! Saya ada perlu sebentar."


"Baik, Bu."


"Duduk, Mel," perintah Bu Susi kepada Amelia.


"Terimakasih, Bu."


"Begini, Amelia. Apakah berkas yang kemarin saya suruh Mesi berikan, sudah kamu pelajari?" tanya Bu Susi mengawali.


"Maaf, saya baru pelajari sebagian, Bu. Saya belum sempat pelajari semua, karena isinya lumayan banyak dan juga banyak poin-poin yang harus saya baca secara mendetail," jelas Amelia.


"Ehm, begitu. Ya sudah tidak apa-apa. Tapi usahakan kamu pelajari semuanya dengan baik dan benar. Saya juga sudah memberi tugas yang sama pada Sofi."


"Kamu tahu bukan, alasan dibalik penempatan kamu di sini?" tanya Bu Susi kembali.


"Eh, maaf Ibu, saya tidak tahu. Karena dari awal saya memang ditempatkan di divisi keuangan bersama Sofi."


"Jadi begini, Mel. Pelaporan bulan lalu terjadi kesalahan yang dibuat oleh staf keuangan saya. Sebetulnya Pak Dirga akan memaklumi kesalahan yang dilakukan oleh pegawainya itu bila hanya terjadi sekali-kali saja. Tapi sayangnya, hal itu terjadi berulang dalam kurun waktu dua bulan berturut-turut. Walaupun itu murni kesalahan yang dilakukan oleh anak buah saya, tapi tetap saja saya yang bertanggung jawab penuh akan hal itu."


"Saya tahu bahwa Pak Dirga tidak marah. Ia hanya menegur saya atas kesalahan yang dilakukan oleh staf saya. Saat itu saya merasa kinerja serta performa saya sedang dipertaruhkan."


"Maaf Ibu bila saya potong. Tapi kenapa Ibu menceritakan hal itu semua kepada saya?" potong Amelia.


Ibu Susi tersenyum manis.


"Amelia, sebetulnya tidak semua orang bisa dengan mudahnya masuk tim divisi saya. Banyak persyaratan yang saya minta kepada manajer kepegawaian. Termasuk mengambil pegawai baru seperti kamu dan Sofi."


"Saat itu hanya ada satu pilihan yang diberikan kepada saya oleh Bapak Dirga. Yaitu mengambil pegawai baru dengan basic pendidikan yang sesuai tentunya, dengan menukar staf saya ke bagian divisi lain."


"Apa maksud Ibu sebetulnya saya tidak seharusnya berasa di divisi keuangan?" tanya Amelia kurang paham.


"Oh bukan, bukan itu. Melihat pendidikan kamu serta nilai-nilai yang kamu miliki, saya tidak masalah."


"Atau, Ibu mau bilang kalau saya masuk ke divisi ini karena hasil perekrutan dari Bapak Dirga?"


"Tidak Amelia, bukan itu juga. Maaf kalau kalimat yang saya utarakan malah membuat kamu tersinggung dan mengambil kesimpulan demikian."


"Tidak Bu Susi, saya tidak tersinggung sama sekali. Saya hanya ingin tahu saja maksud dari pembicaraan ini."


"Begini, Pak Dirga itu tidak merekrut siapa pun di sini. Yang dia tahu hanya masalah pelaporan yang keliru. Dan secara kebetulan di PT EsKa sedang ada penerimaan pegawai yang di tarik kemari untuk penempatan divisi yang kosong. Dan PT GeHa tidak sedang ada penerimaan karyawan."


"Yang saya ingin katakan di sini adalah, saya meminta kepada kamu dan Sofi untuk betul-betul melaksanakan tugas di divisi ini dengan sebaik-baiknya. Sebab kredibilitas saya sebagai manajer keuangan sedang di pertaruhkan saat ini."


Ibu Susi mengakhiri penjelasan dari maksud dan tujuan pembicaraannya dengan Amelia.


"Saya sebelumnya ingin mengucapkan banyak terimakasih kepada siapa pun, terutama orang-orang dibelakang penerimaan saya, sehingga saya bisa bekerja di sini."


"Sungguh kehormatan bagi saya, dapat masuk ke dalam tim divisi keuangan yang merupakan salah satu posisi penting dalam suatu perusahaan."


"Dengan kepercayaan yang Ibu dan perusahaan ini berikan, saya akan membalasnya dengan kerja keras serta loyalitas yang saya miliki secara penuh."


"Saya tidak berani berjanji, tapi saya akan berusaha sebaik mungkin dalam menjalankan tugas yang Ibu berikan selama saya bekerja di sini."


"Terimakasih, Amelia. Saya sungguh senang mendengarnya. Semoga kamu akan betah dan nyaman bekerja di sini."


"Kalau ada hal yang kamu tidak mengerti, kamu bisa bertanya pada staf yang lain. Atau bila mereka tidak bisa membantu, kamu jangan sungkan untuk bertanya pada saya."


"Kita ini satu tim, jadi jangan sampai ada pekerjaan yang tidak bisa kamu kerjakan hanya karena kamu tidak tahu."


"Baik, Ibu Susi. Terimakasih untuk semua wejangannya. Itu semua sangat membantu sekali bagi saya."


"Sama-sama, Amelia. Kita harus bekerja sama agar bisa menjadi tim yang solid."


"Iya, Bu."


"Oh iya, apakah saya boleh tanya sesuatu, Amelia?"


"Maaf, jika ini agak melenceng dari pembahasan mengenai pekerjaan kita."


"Iya Ibu, tidak apa-apa. Jika saya bisa jawab, saya akan jawab semampu saya."


"Ehm...maaf sebelumnya, apakah kamu memiliki hubungan spesial dengan Bapak Dirga?"


***


"Tanya Doni, apakah Amelia sudah pulang?" ucap Dirga pada Juna.


Juna memainkan ponsel di tangannya. Dicarinya daftar panggilan terakhirnya dengan Doni.


"Hallo! Di mana posisi kamu?"


....


"Jadi Mba Amelia belum pulang kantor?"


....


"Ya, sudah. Lanjutkan pemantauan."


....


Ditutupnya sambungan teleponnya dengan pengawal yang ditugaskan untuk mengawasi Amelia.


"Mba Amelia masih di kantor, Pak," lapor Juna.


"Ya sudah, kita mampir ke kantor terlebih dahulu," perintah Dirga pada Juna.


"Baik, Pak."


Mobil melaju dengan kecepatan agak tinggi, karena Dirga memerintahkan sopir demikian.


Setengah jam kemudian, mereka sudah tiba di kantor.


"Kalau gadis itu masih ada di ruangannya, suruh ia datang ke kantor saya setelah jam kerjanya selesai," titah Dirga pada Juna, yang saat itu sudah memasuki lift khusus direksi, untuk membawa mereka ke lantai atas.


"Baik, Pak."


"Treet... Treet... Treet..."


Suara nada dering HP Dirga.


"Masih dari gadis itu," lirihnya ketika melihat profil si penelepon.


Dirga mencoba menerima panggilan itu.


"Hallo, Cintya."


....


***