
"Siapa yang kangen sama saya?"
Seluruh karyawan terkaget, dan otomatis menengok ke arah sumber suara. Ternyata suara Susi, sang manajer keuangan.
"Dika kangen sama Ibu katanya." Sahut Mirna, sang sekertaris, sembari mengulas senyum.
Mirna baru masuk hari ini setelah dua hari kemarin dirawat di rumah sakit karena kelelahan.
"Eh Ibu, apa kabar?" Seru Dika.
"Alhamdulillah, saya baik. Kamu yang kangen sama saya, Dika?" Tanya Susi.
"Eh! Hehehe.. Iya nih Bu, hampir seminggu kan kita nggak ketemu." Ujar Dika terkekeh.
"Saya kan cuti." Jawab Susi.
"Iya saya tahu. Makanya saya ke sini, tahu kalo hari ini ibu sudah masuk." Kata Dika, masih dengan gaya becandanya.
"Kamu ini Dika, bisa saja. Jangan menggoda saya, udah nggak pantes. Kasih aja tuh kepastian, mau pilih Mesi atau Mirna? Jangan PHP, kasian anak buah saya" Perkataan dari manajer keuangan itu, sontak membuat susana ruangan semakin riuh.
Wajah dari dua orang wanita yang disebut, berubah merah merona menahan malu.
"Iya nih, Dika!" Seru seseorang dari sudut ruangan.
"Kalo gak mau, kasih saya aja." Teriak yang lain menimpali.
"Aduh, Bu Susi ini, malah jadi rame kan." Sahut Dika.
"Lah, kamu duluan kan tadi yang menggoda saya." Seru Susi tidak mau kalah.
"Udah ah, nanti malah jadi paaanjang dan laaaaama lagi." Ucap Dika mengikuti gaya iklan di televisi.
"Saya di suruh Pak Rudi, antar karyawan baru untuk menghadap Ibu." Ucap Dika mengatakan maksud tujuannya
"Oh... Ya sudah, ayo masuk ke ruangan saya." Perintah Susi.
"Eh, Bu, saya balik ke tempat kerja saya aja, nggak ikut masuk ke ruangan." Ujar Dika.
"Memang siapa yang nyuruh kamu masuk?"
"Tadi Ibu bilang..."
"Saya itu nyuruh karyawan baru yang kamu antar ini." Katanya sembari menunjuk Amelia dan Sofi, yang keduanya tak lepas tersenyum.
"Hehehe... Maaf Bu, ke-GR-an yah saya? Ya sudah kalo gitu, saya permisi dulu. Maaf kalo sudah membuat kebisingan di sini." Ujar Dika, kemudian undur diri untuk kembali bekerja.
"Kalian berdua, ayo masuk! Dan yang lain, kembali bekerja." Seru Susi kepada anak buahnya.
"Baik Bu." Kompak semua menjawab.
"Oh iya, lepas kalian istirahat siang nanti, saya mau adakan rapat dadakan di ruangan saya. Jangan sampai telat. Istirahat sesuai dengan waktunya." Setelah memberi info tambahan kepada para stafnya, Susi mengajak Amelia dan Sofi untuk masuk.
Perkataan Susi, seketika membuat isi ruangan gaduh kembali. Apalagi setelah tadi pagi, secara tiba-tiba tanpa ada info sebelumnya, dua orang teman mereka di pindahkan ke Divisi Humas.
***
"Kita langsung kembali ke kantor, Pak?" Tanya Juna kepada Dirga, setelah pertemuan dengan PT Buana selesai.
"Iya."
Sepanjang perjalanan pulang ke kantor, tak ada percakapan dari mereka.
"Treet... Treet..."
Terdengar suara getaran ponsel milik Dirga.
Ternyata sebuah pesan masuk.
"Selamat siang, Pak Dirga. Ini nomor saya, Cintya. Bila berkenan, Pak Dirga bisa menyimpan nomor saya."
Begitu isi pesan dari Cintya.
Rupanya gadis itu mulai melancarkan aksinya. Dirga.
"Juna, bila tidak ada keperluan yang penting selain hubungan kerjasama antara PT GeHa dengan PT Buana, jangan mengijinkan siapapun dari PT Buana untuk membuat janji dengan saya." Perintah Dirga pada asistennya
"Baik, Pak." Meski sedikit heran, Juna meng-iya-kan perintah Dirga.
Ada apa dengan si bos yah? Apa dia udah feeling kalau Ibu Cintya seperti ada rasa padanya? Juna.
Perjalanan yang tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya membuat mobil yang mereka naiki, tiba di kantor sesaat sebelum waktu istirahat berlangsung.
"Kamu perintahkan Amelia, untuk datang ke ruangan saya pada saat jam istirahat nanti." Perintahnya, saat sudah mendudukan seluruh tubuh di kursi singgasananya.
"Baik, Pak." Jawab Juna.
"Apa masih ada yang bapak butuhkan?" Juna berinisiatif.
"Untuk sementara tidak ada. Kamu boleh pergi."
"Permisi, Pak."
***
"Amelia, istirahat bareng yuk!" Ajak Sofi berbisik.
"Aduh, maaf banget, Sofi. Kerjaan aku belum kelar. Kamu istirahat duluan aja." Jawab Amelia, sembari menunjukan tumpukan dokumen di mejanya.
"Yaaa, Amel. Aku istirahat sama siapa dong, aku kan belum kenal akrab sama yang lain. Masa mereka nggak ngajak, aku yang nawarin, malu kali. Lagian juga, kerjaan segitu banyak, masih bisa dilanjut abis istirahat juga." Ujar Sofi.
Mereka masih baru, jadi masih butuh sedikit waktu untuk beradaptasi, terutama sekali masalah pergaulan dengan karyawan lainnya.
Sofi terlihat sebagai sosok yang pemalu. Ia tidak pernah berani untuk tampil atau sekedar mengajak bicara orang lain terlebih dahulu. Begitulah sedikit sifat dari Sofi, teman barunya, yang bisa Amelia simpulkan.
"Amelia, Sofi, yuk kita ke kantin." Ajak Mirna si sekertaris.
"Eh, makasih Mba, tapi kerjaan aku belum kelar. Mba Mirna bisa ke kantin sama Sofi saja." Sahut Amelia.
"Duh, jangan panggil Mba dong, Mirna aja. Aku belum tua-tua banget kok." Ujarnya.
Amelia dan Sofi tersenyum.
"Mirna, yuk!" Ajak Wati, staf keuangan yang lain.
"Ini..." Katanya sambil menunjuk Amelia dan Sofi.
"Ajak aja." Seru Mesi, yang berdiri di sebelah Wati.
"Yuk!" Ajak Mirna.
"Kamu duluan aja, Sof. Bareng sama yang lain. Aku nanti nyusul." Ujar Amelia.
"Ya udah deh kalo gitu. Tapi bener yah nanti kamu nyusul?" Rajuk Sofi
"Iya, iya. Tenang aja." Sahut Amelia.
"Mel, duluan yah." Seru Mesi dan Wati sambil melambaikan tangan menuju ke luar ruangan.
Amelia hanya membalas dengan anggukan.
"Amelia." Suara Susi sang manajer, mengagetkannya.
"I.. Iya, Bu." Jawab Amelia terbata.
"Mas Juna tadi telepon, kamu di suruh menghadap Bapak Dirga di ruangannya sekarang." Ujar Susi.
"Eh, saya, Bu? Saya sendiri? Tidak dengan Sofi?" Tanya gadis itu.
"Tidak, kamu sendiri." Jawab Susi.
Amelia heran kenapa dia disuruh menemui Dirga. Kalau ini berkenaan dengan statusnya sebagai karyawan baru, lantas kenapa Sofi atau Dira juga tidak dipanggil.
"Amelia!" Seru Susi.
"Eh iya, Bu."
"Kok kamu malah melamun. Pak Dirga sudah menunggu kamu. Beliau itu tidak suka menunggu loh."
"Eh, Baik, Bu. Saya segera ke sana."
Gadis itupun segera menuju lantai atas, tempat ruangan Dirga berada. Berjalan agak setengah berlari, takut bila ia terlambat akan membuat masalah baginya.
Susi tersenyum melihat tingkah Amelia. Senyum penuh arti, yang dipahami oleh dirinya sendiri.
Susi curiga, bahwa ada sesuatu antara atasannya, Dirga, dengan Amelia karyawan baru. Ia sudah memiliki feeling sejak bosnya itu meminta untuk menukar posisi staf keuangan yang memiliki kinerja kurang baik dengan karyawan baru. Bagaimana mungkin seorang karyawan yang belum memiliki pengalaman, di tempatkan di posisi sulit.
Awalnya ia tidak terlalu curiga, namun saat Juna tadi meneleponnya untuk memerintahkan Amelia agar menghadap Dirga, sendirian, dan di jam istirahat pula, feelingnya sebagai seorang wanita dewasa dan berpengalaman semakin kuat.
Susi merasa yakin, bahwa Bosnya itu menyukai gadis cantik yang baru saja mulai bekerja di perusahaan ini. Tapi yang Susi lihat juga, gadis itu tidak menyadarinya.
Ah, romansa indah namun rumit. Serasa ingin kembali ke masa-masa muda. Susi