My Boyfriend Is A CEO

My Boyfriend Is A CEO
Bertemu Calon Mertua



"Ayah, Ibu, ini Amelia," ucap Dirga pada kedua orangtuanya.


"Eh, Om dan Tante, selamat malam." Amelia menyapa kedua orangtua Dirga.


Pak Harsa dan Bu Ninta berdiri menyambut kedatangan Amelia.


"Selamat malam, Nak Amelia. Apa kabar?" Bu Ninta balik menyapa Amelia dengan tak lupa mencium pipi kanan kiri gadis itu.


"Kabar saya baik, Tante."


"Hallo Om, apa kabar?" tanya Amelia gantian menjabat tangan Pak Harsa--ayah Dirga.


"Alhamdulillah, Om baik, Nak."


Saat ini, jantung Amelia berpacu sangat cepat. Ia luar biasa grogi bertemu kembali dengan orangtua Dirga, namun kali ini dalam kondisi yang sudah berbeda.


"Ayo, sini duduk dekat Tante," ajak Bu Ninta pada kekasih anaknya itu.


"Oh iya, terimaksih, Tante."


"Tak perlu sungkan seperti itu." Bu Ninta terseyum hangat menatap gadis di sampingnya.


Dirga menatap penuh arti pada kekasihnya yang saat ini duduk bersebelahan dengan ibundanya. Ia berharap sekali, bahwa keluarganya akan menerima Amelia dengan baik.


Acara pertunangan itu terus berlangsung, hingga ke inti acara, yaitu pemasangan cincin pada kedua insan yang akan mengikat janji pernikahannya di tahun ini, tahun yang sama dengan acara pertunangan keduanya.


Meja yang ditempati oleh Dirga dan juga keluarganya, nampak terlihat akrab. Amelia yang walaupun sebelumnya baru bertemu sekali dengan kedua orang tua Dirga, merasa senang karena orang tua kekasihnya itu bisa menghidupkan suasana yang awalnya berpikir akan canggung namun ternyata meleset jauh dari bayangan.


Bu Ninta dan Pak Harsa, dapat membuat suasana menjadi hidup. Mereka berdua bisa membuat Amelia merasa nyaman dalam duduknya dan bebas untuk mengobrol.


"Mengapa Mba Nancy tidak ikut hadir, Tante?" tanya Amelia di sela-sela acara.


"Nancy masih banyak tugas katanya, ia di rumah masih berjibaku dengan tugas-tugas kuliahnya," ucap Bu Ninta tersenyum.


"Oh, seperti itu."


"Nak Amelia, ke sini dengan siapa?" tanya Bu Ninta.


"Saya datang dengan teman saya, Boby."


"Oh, terus temanmu ke mana? kenapa tidak diajak ke mari?" tanya Bu Ninta sambil menengok kanan kiri.


"Boby ada di meja sebelah sana bersama dengan Anya dan teman saya lainnya, Tante," ucap Amelia sembari menunjuk meja dengan Anya, Boby dan Oka di sana.


"Oh. Tidak apa-apakah mereka di sana?"


"Tidak apa-apa, Tante. Nanti Amelia bisa susul ke sana bila acara intinya telah selesai."


"Oh, baiklah."


Rentetan acara pertunangan kakak Anya, berjalan satu demi satu, hingga akhirnya usai sekitar dua jam kemudian.


Amelia menghampiri teman-temannya, yang masih setia menunggu.


"Hai, Mel. Udah selesai ngobrol sama calon mertua?" ledek Anya, yang seolah antusias.


"Apa sih, Nya." Amelia nampak malu.


"Wah, aku nggak nyangka bener deh, Mel. Baru juga kita ketemu belum ada seminggu, tahu-tahu sekarang udah pacaran aja kalian berdua," tutur Anya dengan hebohnya.


Dirga tidak ada di sana. Ia masih bersama dengan orang tuanya menemani keduanya berbincang dengan para kolega bisnis yang mereka kenal.


"Kamu hutang cerita sama aku, Mel." Anya masih saja terus menggoda Amelia.


"Emang Boby belum cerita sama kamu?"


"Udah sih, tapi Boby pelit banget. Nggak kasih tahu awal kalian bertemu dan kenalan."


"Nggak penting itu, Nya," sahut Boby, yang tahu bagaimana harus bersikap dan menutupi hal yang akan membuat temannya itu malu nanti, bila kisah pertemuannya dengan Dirga diketahui banyak orang.


"Emang kenapa sih, Mel. Emang segitu nggak pentingnya yah pertemuan kalian?" tanya Anya pada Amelia.


"Iya. Udah lah, Nya. Nggak usah dibahas hal kaya gitu," tutur Amelia berusaha menghindar.


"Ok deh, kalau memang begitu. Aku nggak akan tanya-tanya lagi. Yang paling penting, congrats yah, Mel. Aku betul-betul nggak nyangka pokoknya." Anya masih terlihat tidak percaya dengan kisah temannya itu.


"Nak Anya, Nak Amelia?" Suara seorang wanita, memanggil kedua gadis yang masih nampak asik mengobrol.


"Tante pamit pulang duluan yah, Nak Anya."


"Iya, Tante. Apa Tante dan Om sudah pamit dengan papa dan mama saya?"


"Oh, sudah. Barusan sebelum ke sini, kita abis pamit dulu sama orang tua kamu."


"Oh iya, Tante."


"Oh iya, ini teman-teman kalian berdua?" sahut Ninta berbicara pada Anya dan Amelia, menunjuk Boby dan Oka.


"Iya, Tante. Ini Boby dan ini Oka," ucap Amelia sembari menunjuk satu per satu temannya."


Boby dan Oka lantas membalas uluran tangan Bu Ninta dan Pak Harsa.


"Amelia, ayo kita pulang sekarang?" ajak Dirga yang baru saja nongol.


"Eh, aku pulang bareng Boby tadi," sahut Amelia.


Gadis itu tidak enak pada Boby jika ia tidak pulang dengan temannya itu.


"Boby biar bareng sama Oka aja, Mel. Nanti supir aku yang akan anter," ucap Anya.


"Eh, tapi, Nya."


"Udah nggak usah mikirin aku, Mel. Bener kata Anya, aku nanti bareng sama Oka aja. Lagian juga 'kan arah tujuan rumah aku sama Oka sama."


"Tapi 'kan, Bob ... "


"Udah sana kamu pulang bareng sama Tante Ninta dan Om Harsa aja."


Amelia nampak berpikir, bagaimana nanti ia pulang bersama dengan orang tua Dirga. Meskipun orang tua Dirga sangat asik untuk diajak bicara, namun tetap saja ia masih merasa sungkan.


"Ya sudah, yuk, Nak Amelia. Kita pulang bareng," ucap Bu Ninta lagi.


"Ayo!" Kali ini Dirga yang mengajak.


"Ehm, baiklah." Pada akhirnya, Amelia pasrah mengikuti ajakan kekasihnya itu.


"Ya sudah, kami semua pamit duluan yah," pamit Bu Ninta dan juga Pak Harsa pada ketiga teman Amelia.


"Iya, Tante dan Om," jawab ketiganya kompak.


"Pak Dirga, titip teman saya yah," sahut Boby pada Dirga.


"Kamu tenang saja, saya akan anter teman kamu sampai tujuan dengan aman."


"Terimakasih, Pak Dirga. Terimakasih juga atas tumpangannya tadi."


"Iya, sama-sama."


Akhirnya Amelia ikut pulang bersama keluarga Dirga. Dia berusaha mengendalikan emosinya setenang mungkin.


Di mobil juga, tak banyak obrolan yang mereka bicarakan. Sepertinya semua merasakan kelelahan.


Mobil terus berjalan menuju sebuah komplek kawasan perumahan elite. Amelia bingung, mengapa ia dibawa ke sana, mengapa bukan ke arah rumahnya.


Sejurus kemudian, mobil berhenti tepat di depan sebuah gerbang dengan pagar tinggi menjulang. Salah seorang petugas keamanan terlihat membuka pintu gerbang.


Ketika pintu gerbang terbuka, mobil masuk dan melaju menuju rumah utama yang membuat Amelia semakin tercengang.


Kanan kiri jalan, terlihat sebuah halaman yang sangat luas dengan hamparan rumput segar dan beberapa jenis pohon buah.


Amelia dibuat takjub dengan pemandangan yang ia lihat sekarang. Ia sudah tak bisa berkata-kata, lebih-lebih ketika mobil berhenti telat di sebuah teras luas dengan pilar-pilar tinggi menjulang.


"Ayo, kita turun!" Perintah Dirga.


"Kamu mau bawa aku ke mana, kenapa aku tidak kamu antar pulang?" tanya Amelia berbisik di kuping Dirga, yang sedari tadi duduk di sebelahnya.


"Turunlah dulu. Kamu mampir dulu ke rumah kami Amelia," ucap Ibu Ninta.


"Eh, iya Tante. Terimakasih," ucap Amelia tulus.


Amelia masih berjalan menuju rumah besar milik Dirga, dengan berjuta pertanyaan di dalam kepalanya.


***