
Dirga menurunkan Amelia di sofa ruang tamu. Tautan itu ia lepaskan, saat menyadari pasokan nafas keduanya sudah tidak sanggup lagi menahan gejolak hasrat diantara mereka sendiri.
Amelia menatap mata Dirga yang berada di atasnya. Meski gadis itu merasakan gejolak yang sama, tapi rasa deg-degan di dalam hatinya masih saja terus terasa bila melihat sang kekasih itu seperti hendak memakannya.
"Kamu gugup?" tanya Dirga dengan tangannya yang setia membelai wajah Amelia.
"Aku selalu gugup, kamu tahu itu," jawab Amelia. Dirga tersenyum, kemudian mengecup kening gadisnya.
"Aku tidak pernah bisa tahan jika kamu selalu berada dekat denganku." Dirga terus menatap wajah Amelia yang memerah.
"Apa kita akan meneruskan yang sudah dimulai?" tanya Dirga, yang sama sekali tidak ingin Amelia jawab.
Gadis itu memalingkan wajahnya, ia tidak mau jika wajah malunya dilihat oleh Dirga. Malu karena sama-sama merasakan hasrat yang menggebu seperti pria di atasnya.
"Aku akan menahan semua yang aku rasakan sekarang sampai waktunya tiba." Dirga mengeluarkan kalimat yang membuat Amelia kembali menatapnya.
Setelah mengucapkan kalimat itu, Dirga bangun dari posisinya yang menutupi tubuh Amelia. Gadis itu pun ikut bangun dari tubuhnya semula yang terlentang.
"Sudah malam, ayo kita tidur!" ucap Dirga. Amelia mengangguk.
"Aku akan masuk ke kamar duluan. Kamu bisa memakai kamar yang satu. Aku tidak perlu membersihkannya, karena kamar itu selalu bersih dan rapi." Amelia berdiri dan hendak meninggalkan Dirga.
"Hei, mengapa kamu meninggalkan aku? Siapa yang bilang kita akan tidur terpisah!" Dirga tersenyum penuh arti.
Ditariknya tangan Amelia dan menuntunnya menuju kamar utama yang ditempati oleh Amelia sejak beberapa waktu lalu. Gadis itu hanya bisa terbengong, saat Dirga menariknya.
"E-eh, tapi Dirga ... ?" Amelia merasakan debaran di hatinya kembali, manakala mengetahui jika malam ini mereka akan tidur bersama.
Saat tiba di depan pintu kamar, Dirga berhenti. "Aku tidak akan berbuat macam-macam, kamu tenang saja, Sayang!" ucapnya tersenyum.
Dirga kemudian membuka pintu kamar, dan masuk bersama Amelia yang berdiri di sebelahnya. Kamar yang masih gelap karena listrik yang dipadamkan, memaksa Amelia membuat matanya bekerja ekstra. Pria di sampingnya itu, meraba dinding hendak menyalakan lampu kamar. Ketika lampu menyala, Amelia sungguh kaget melihat pemandangan indah di depannya.
Hiasan lampu warna-warni di seluruh ruangan, ditambah rangkaian bunga yang dihias di beberapa sudut kamar, membuat Amelia merasakan sesuatu yang lain. Ia sungguh terpesona akan pemandangan yang entah siapa yang membuatnya.
Kedua matanya menatap sebuah tulisan yang terpasang di dinding, berada tepat di atas tempat tidur.
"WILL YOU MARRY ME?"
Sebuah kalimat berupa pertanyaan, yang gadis itu yakini dibuat oleh sang kekasih, Dirga.
Saat Amelia hendak menatap Dirga, pria itu tiba-tiba bersimpuh di bawah tubuhnya.
Amelia tak menyangka jika Dirga yang melakukan ini semua. Apakah sang kekasih tengah melamar dirinya.
"Aku tahu kamu masih belum siap untuk melanjutkan hubungan kita berdua ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu pernikahan. Tapi aku tidak bisa, tidak peduli ketika mengetahui kekasihku yang cantik ini selalu dibayang-bayangi oleh siapa saja yang hendak berbuat kejahatan pada dirimu. Oleh sebab itu, aku memutuskan untuk segera melamarmu, agar aku tidak perlu khawatir akan keselamatan dirimu dimanapun kamu berada." Dirga menjeda kalimatnya. Amelia sudah mulai berkaca-kaca, air mata sudah mulai tergenang di pelupuk matanya.
"Amelia Sarawijaya, apakah kamu bersedia menikah denganku, Dirga Narendra, untuk menghadapi pahit dan manisnya kehidupan berumah tangga bersamaku?" ucap Dirga dengan tangan terulur bersama sebuah kotak beludru berwarna merah maroon, dengan cincin bertahtakan berlian di dalamnya.
Amelia spontan menutup mulutnya, air mata telah mengalir di pipi demi melihat dan mendengar kalimat yang kekasihnya ucapkan.
Amelia tak sanggup berkata, yang bisa ia lakukan hanya mengangguk dengan deraian air mata yang terus terjatuh. Reaksi yang gadis itu perlihatkan membuat Dirga tersenyum, ada genangan air yang sama di kedua matanya.
"Terimakasih, Sayang!" ucap Dirga.
"Bangunlah, aku mohon jangan lagi kamu melakukan hal ini." Amelia berusaha mengangkat kedua tangan Dirga.
"Mengapa?" tanya Dirga setelah berdiri.
"Aku tidak mau kamu merendahkan dirimu di bawahku."
"Ya ampun, Sayang. Aku melakukan ini karena aku ingin melakukannya. Apakah menurutmu hal yang aku lakukan tidak romantis? Apakah kamu tidak menyukainya?" tanya Dirga kepada sang kekasih.
"E-eh, aku suka, kok. Sangat suka. Romantis." Amelia tersipu malu saat mengatakan kalimat itu.
"Aku akan menikahimu secepatnya." Dirga membelai wajah Amelia dan menghapus jejak air mata yang tadi mengaliri pipi mulus itu.
"Aku sudah mengatakan niatku menikahimu kepada ayah dan ibuku. Besok kita akan pergi ke kediaman orang tuamu. Aku akan meminta mereka agar mengijinkan aku untuk menikahi putri cantiknya ini."
"Apakah secepat ini?"
"Aku sudah ingin menikahimu sejak awal kita berpacaran, bahkan sejak awal aku melihatmu pertama kali, aku sudah ingin menculik kamu saja ke penghulu," ujar Dirga.
"Jangan berlebihan!" Amelia memukul pelan bahu Dirga.
"Sungguh, aku tidak berlebihan. Aku sudah mengatakan padamu, aku sudah jatuh hati padamu sejak pertama kali aku melihatmu. Seandainya saja, tak harus ada proses pengenalan dan lain sebagainya, tentu aku ingin langsung saja membawamu ke penghulu saat malam itu juga." Amelia semakin tersipu, "benarkah perasaan kekasihnya itu begitu amat besar?" mungkin itu suara hatinya saat ini.
"Dengan kita menikah dan hidup bersama, aku tidak merasakan lagi rasa khawatir karena tidak bisa bersamamu setiap saat."
"T-tapi bagaimana dengan pandangan orang-orang terhadapku, yang sampai saat ini masih saja memandang sinis jika bertemu denganku?"
"Bukankah kamu sudah tidak mempedulikan mereka?"
"Ya, memang. Namun, tetap saja sebagai seorang perempuan terkadang aku merasa lelah dengan reaksi seperti itu yang tak kunjung mereda."
"Kamu tenang saja, aku selalu berada di dekatmu saat kamu merasa lelah. Lagipula, bukankah sejak awal aku sudah menawarkan diri untuk selalu membela disaat orang-orang itu sinis menatapmu? namun, kamu selalu menolaknya."
"Ya, karena menurutku itu terlalu berlebihan."
"Jadi, apa yang harus aku lakukan saat kamu masih merasakan lelah akibat orang-orang yang iri melihat kebahagiaan kita berdua?"
"Tidak ada! Dengan kamu selalu berada di dekatku, itu semua sudah cukup." Setelah mengucapkan kalimat itu, secara tiba-tiba sang kekasih memeluknya dengan erat.
"Sampai kapan pun, aku akan selalu berada di dekatmu hingga maut memisahkan kita berdua." Pelukan erat penuh rasa emosional yang tinggi diantara keduanya, menciptakan suasana yang mulai berbeda.
Perlahan Dirga melonggarkan rangkulannya. Dipandangi wajah gadis cantik di hadapannya, dengan hasrat yang mulai menggebu. Jarak yang terlampau dekat membuat pertahanan itu tak berlangsung lama. Meneruskan aksi yang terjadi saat di dalam lift sebelumnya, pagutan yang kini sudah siap Amelia terima, terjadi dengan penuh penghayatan dan juga hasrat yang semakin menggelora.
Irama yang keduanya ciptakan mampu merubah suasana semakin memanas, meski udara malam yang sebenarnya terjadi terasa dingin.
***