My Boyfriend Is A CEO

My Boyfriend Is A CEO
Makan di kantin



"Undangan apa itu?" tanya Amelia melihat sebuah kartu indah berwarna merah maroon di atas meja, setelah menu pembuka makan siang keduanya telah selesai, meski sang pria sepertinya masih kurang puas menikmati hidangan yang selalu lezat di matanya itu.


"Undangan seorang klien, sebuah pesta perayaan anniversary pernikahan," jawab Dirga masih dengan posisi Amelia di atas pangkuannya.


"Oh, apakah seorang wanita yang keluar dari ruanganmu tadi yang mengirimkan surat undangan ini?"


"Ya. Kamu melihatnya?"


"Hem, tadi aku baru saja sampai meja Rena, tak lama kemudian wanita itu keluar dari ruanganmu," ucap Amelia. "Apakah ia salah satu klienmu?"


"Ya. Sebetulnya ayahnya yang menjadi klienku, tapi pada saat itu ayahnya tengah sakit, dan ia diserahkan oleh sang ayah untuk mewakilinya."


"Oh, lantas siapa yang merayakan anniversary-nya? Apakah wanita itu atau ... ?"


"Kedua orangtuanya."


"Oh!" seru Amelia.


"Kenapa?" tanya Dirga, dengan bibir yang masih menyapu wajah kekasihnya.


"Tidak apa-apa. Tapi yang kulihat, wanita itu sangat cantik dengan penampilan elegannya."


"Ya, dia memang cantik." Dirga sengaja memuji wanita lain di depan Amelia.


"Kamu tidak menyukainya?"


"Tentu saja aku suka. Dia wanita yang baik dan dari keluarga baik-baik." Dirga semakin memanas-manasi Amelia.


Amelia melengos menghindari Dirga yang hendak mengecup bibirnya. Pria itu tersenyum, ia sepertinya berhasil membuat sang gadis cemburu. Ketika hendak mengecup leher kekasihnya, tiba-tiba Amelia berdiri, bangun dari pangkuannya.


"Bukankah kita akan makan siang? Waktu istirahatku akan cepat habis jika terlalu lama di sini." Amelia nampak berkata sedikit kesal. Namun berbeda dengan Dirga, pria ia tengah menahan tawanya agar tidak diketahui oleh sang kekasih.


"Sepertinya aku belum terlalu lapar, Sayang." Amelia semakin tidak suka saat Dirga mengatakan 'sayang' padanya.


"Bisa-bisanya ia memanggilku seperti itu padahal baru saja ia memuji wanita lain di depanku." Batin Amelia.


"Ya sudah kalau kamu belum lapar, aku akan pergi ke kantin saja," ucap Amelia sambil berbalik arah.


Namun, belum juga kedua kakinya melangkah, tangan Dirga telah menariknya hingga ia terduduk kembali dalam pangkuan Dirga.


"Argh!"


"Apakah aku boleh senang saat ini?" tanya Dirga dengan wajah yang sangat dekat dengan wajah sang gadis.


"S-senang untuk apa?" tanya Amelia terbata. Ia masih cukup terkejut atas aksi Dirga yang menariknya hingga terjatuh duduk.


"Senang karena sepertinya kekasihku ini tengah cemburu kepadaku karena wanita lain."


"S-siapa yang cemburu ke siapa?" Amelia masih tergagap. Sepertinya ia sudah ketahuan.


"Tidak ada wanita lain yang menurutku cantik selain kekasihku, tentu saja. Meskipun aku memuji wanita lain, aku hanya berkata jujur karena memang ia cantik, apakah aku harus berbohong?"


"Setidaknya untuk membuat kekasihmu tidak cemburu."


"Aku tidak buta, Sayang. Dan aku tidak bisa berbohong. Cintya memang memiliki wajah cantik, tapi itu tidak membuatku tertarik. Hanya kamu gadis yang membuatku jatuh cinta sejak pandangan pertama." Amelia nampak tersipu, tapi ia tak langsung mudah percaya begitu saja.


"Bohong. Aku tidak percaya."


"Apa yang membuatmu tidak percaya?" sahut Dirga. "Kalau aku tidak jatuh cinta padamu sejak aku menolongmu dan membawa ke hotel dulu, aku akan jatuh cinta juga pada Cintya yang bertemu denganku setelah aku bertemu denganmu terlebih dahulu."


"Kamu mengingatkanku pada peristiwa memalukan dan menjijikan itu!"


"Peristiwa itu yang membuat aku akhirnya bisa memilikimu, Sayang."


"Oh, hentikan panggilanmu itu, Dirga!"


"Panggilan yang mana?"


"Panggilan 'sayang'!"


"Apakah kamu masih cemburu? Apakah kamu masih belum percaya padaku?" Dirga sudah menempelkan bibirnya di atas hidung Amelia.


"H-hentikan, kamu mau apa lagi, kita sudah membuang waktu istirahatku jika kamu melakukannya lagi."


"E-eh, tidak. Kamu jangan ngaco!" Dirga tersenyum ketika menyadari sang kekasih nampak gugup.


"Mengapa kamu masih selalu gugup jika membicarakan hal-hal romantis?"


"T-tidak!" sahut Amelia.


"Benarkah? Jadi saat ini kamu tidak akan gugup jika aku melakukan aksi yang akan membuatmu org**** kembali seperti waktu itu?"


"Tidak!"


"Tidak?"


"Maksudku, aku minta kamu tidak melakukannya, Dirga. Ingat kita ini sedang apa dan berada di mana!" Dirga menjauhkan wajahnya. Dilihat sang kekasih sedang memejamkan mata, sepertinya gadis itu takut akan serangan yang selalu prianya lakukan secara tiba-tiba.


"Baiklah, kali ini aku melepaskanmu, karena waktu istirahat kita yang semakin sedikit." Dirga membelai rambut Amelia dan menaruhnya ke belakang telinga. "Namun, tidak untuk nanti, ketika kita memiliki waktu senggang yang panjang." Membisikkan di telinga sang gadis.


"As you wish, Sir!" ucap Amelia tersenyum.


"Kita hanya memiliki waktu setengah jam lagi, jika kita makan di restoran terdekat pun, kamu akan telat beberapa menit saat kembali."


"Ya sudah, aku makan di kantin saja kalau begitu!"


"Kamu?"


"Ya, aku. Memang siapa menurutmu?"


"Tentu saja 'kita'!" seru Dirga sambil bangkit berdiri dan menarik tangan Amelia, membawanya ke luar ruangan.


"Kamu jangan becanda, Dirga. Bagaimana bisa kamu makan di kantin?" Amelia menghentikan langkah Dirga.


"Loh! memang kenapa kalau aku makan di kantin? Apakah menurutmu aku hanya makan di restoran mewah saja?"


"Tidak, bukan itu maksudku. Tapi kita makan di kantin, bukankah nanti kamu akan membuat kehebohan kembali."


"Bukankah semua karyawan perusahaan ini sudah tahu, kalau kita ini sedang menjalin kasih. Jadi apalagi yang kamu khawatirkan?"


"Bagaimana kamu bisa tahu?"


"Amelia, meskipun aku tidak masuk grup yang mengidolakanku, tapi aku tahu semua berita tentang apapun yang terjadi di dalam perusahaanku ini." Dirga menatap Amelia dan mengusap pipi gadis itu.


"Kamu tenang saja, aku tidak akan membuat kehebohan di sana," ujarnya tersenyum. Kemudian menarik tangan itu dan melanjutkan langkah kakinya.


"Dengan kamu makan bersamaku di kantin saja, itu sudah merupakan kehebohan." Amelia berkata pelan, berharap Dirga tidak mendengarnya.


"Jangan ngomel-ngomel terus, nanti yang ada aku akan menahanmu di ruanganku sampai sore dan membatalkan makan siangnya." Amelia seketika terdiam. Bukannya ia tidak suka jika Dirga menyentuhnya, tapi untuk saat ini, tentu saja ia tidak mau kalau waktu bekerjanya hanya dihabiskan untuk melakukan adegan romantis di kantor.


***


Ruang kantin nampak penuh oleh para karyawan yang sedang melakukan makan siang dan menghabiskan waktu istirahatnya.


Ketika keduanya berada di ambang pintu kantin, dengan Dirga yang menggenggam jemari tangan Amelia. Suasana yang riuh tiba-tiba hening setelah beberapa orang melihat keduanya berdiri.


Nampak seorang pria yang menghampiri Dirga dan Amelia, ia adalah Juna.


"Pak Dirga mengapa tidak mengabari jika ingin makan di kantor, tentu saya akan pesankan untuk anda," tanya Juna.


"Tidak apa-apa, Juna."


"Saya pikir anda dan Mba Amelia akan makan di luar."


"Waktu kami saat ini terbatas, jadi kami hanya sempat makan di sini."


"Baiklah, anda bisa ikut saya, Pak Dirga." Juna berjalan memimpin kedua insan yang tengah jatuh cinta itu, untuk mencari tempat yang nyaman untuk mereka makan.


Tak perlu ditebak bagaimana pandangan juga tatapan para karyawan yang ada di dalam kantin. Ada yang tersenyum bahkan ada juga yang memandang sinis pada Amelia.


Genggaman di tangan Amelia semakin kencang dirasakannya. Gadis itu tahu, jika sang kekasih tengah memberikan kenyamanan di sana.


"Terimakasih!"


***