
Suasana restoran nampak ramai pengunjung. Tentu saja, karena saat itu bertepatan dengan jam makan siang.
Baik para karyawan perusahaan dengan jabatan tinggi di sebuah perusahaan, ataupun beberapa keluarga yang sengaja datang untuk makan siang di restoran, terlihat memenuhi area.
"Nya, kenapa kita makan siang di sini sih?" Tanya Amelia pada Anya, ketika langkah kaki mereka sudah memasuki restoran.
Banyak meja yang sudah terisi, hampir tidak ada meja yang tersisa.
Dua gadis itu berkeliling dan mengitari tempat untuk duduk. Salah satu pelayan menghampiri mereka.
"Apa ada yang bisa dibantu, Mba?" Tanya pelayan sopan.
"Masih ada tempat yang kosong gak, Mba?" Jawab Anya.
"Oh iya, masih ada. Mari sebelah sini." Tutur si pelayan.
"Aku lagi pingin makan siang menu favorit aku, Mel. Udah gitu, rasa makanan di sini tuh juara." Kata Anya sambil mengangkat kedua jempolnya, di tengah langkah kaki mereka mengikuti Mba pelayan.
"Lo gak akan rugi pokoknya deh." Lanjutnya.
"Sesuai sama harganya lah, Nya." Sahut Amelia.
"Ada harga ya ada kualitas dong, Mel." Balas Anya.
"Padahal kan kita bisa makan di foodcourt dalam mall tadi. Makanan di sana juga kan gak kalah enak." Ujar Amelia.
"Ini kita mesti keluar mall dulu buat nyari makan doang. Abis makan balik lagi nanti ke mall, nonton. Hadeuh. Anya... Anya." Amelia masih saja bicara karena tak mengerti dengan jalan pikiran temannya.
"Udah ah. Pokoknya kita makan. Jangan banyak protes, Nona Amelia. Aku udah laper." Ucapnya menyudahi sembari melihat-lihat menu setelah mendapatkan tempat duduk.
"Mba, kita mau pesen..." Ucap Anya pada Mba pelayan, terdengar masih memikirkan menu yang akan di pesan.
"Treet... Treet.. Treet..."
Terasa getar ponsel dari saku Amelia. Dilihatnya nama kontak yang tertera di layar.
'Dirga?'
Mau apa laki-laki itu menelponku. Batinnya dalam hati.
"Kenapa gak di angkat, Mel?" Tanya Anya yang telah selesai memesan beberapa hidangan, makanan dan minuman.
"Ah, euh, nomornya gak ada di kontak, Nya. Males angkatnya." Jawab Amelia sambil mengangkat bahunya.
"Oh..."
Amelia bersyukur lantaran Anya tidak meneruskan pertanyaannya.
"Mel, ehm...Menurut kamu, Oka itu orangnya gimana sih?" Ucap Anya, nampak menunduk setelah meminta pendapat pada teman di hadapannya itu.
"Gimana apanya, Nya?" Tanya Amelia balik.
"Ya...sejauh kamu mengenal Oka, dia itu laki-laki yang seperti apa?
" Seperti apa yah?" Sahutnya dengan gaya berfikir, bertanya pada diri sendiri.
Anya masih menunggu sedikit antusias.
"Menurutku, selama aku mengenal Oka dari awal kuliah dan satu jurusan dengannya, ehm...kulihat dia laki-laki yang baik. Dan yang kutahu juga dari Boby, karena Oka kawan baiknya, dia seorang teman yang bisa dipercaya, care, ramah juga punya rasa solidaritas yang cukup tinggi."
Anya sudah menampilkan wajah serius dan tertarik.
"Memang aku tidak terlalu akrab dengan Oka. Karena aku agak menjaga jarak dalam berteman, baik dengan laki-laki ataupun dengan sesama perempuan kaya kamu, Nya. Maaf, tapi kamu tahu aku dari dulu memang seperti itu."
Terlihat Anya sedikit mengangguk,
"Ya, aku tahu." Sahutnya.
"Jadi aku lebih banyak menyimpulkan dan berpendapat dari interaksi kita di dalam kelas saat jam kuliah berlangsung, juga dari cerita-cerita Bobi selama ini ke aku, Nya." Tutur Amelia.
"Oh...Gitu yah." Anya nampak terlihat senang.
"Hem."
Entah ada apa dengan gadis itu. Hanya membicarakan laki-laki bernama Oka saja, Ia akan tiba-tiba tersipu.
"Treet.. Treet.. Treet.."
Nada dering terdengar kembali dari ponsel Amelia. Dan nama Dirga masih terpampang di layar.
"Nak Anya!" Sebuah suara wanita dewasa terdengar agak kencang dari arah samping kedua gadis yang sedang asik mengobrol itu.
Mereka berdua pun sama-sama menoleh ke arah asal suara.
Deg!
Amelia nampak terkejut, saat sosok pria yang sedang meletakkan ponsel di samping telinga kanannya berjalan ke arah mereka berdua.
Dia bersama Juna asistennya. Dan juga ada dua sosok lain yang baru beberapa waktu lalu gadis itu kenal. Harsa dan Ninta, kedua orang tua Dirga.
"Tante, Om." Sapa Anya sambil berdiri. Amelia pun ikut berdiri dan terburu-buru meletakkan ponselnya yang masih bergetar ke atas meja.
"Anya dan Amelia, kita ketemu lagi. Kalian sedang makan siang?"
"Iya. Kita baru datang, tapi dilihat mejanya sudah penuh. Kita mau makan di dalam ruang VIP tadinya." Tutur Ninta.
"Oh gitu. Gabung sama kita aja, Tante."
"Nanti kita minta pelayan tambahin bangkunya aja." Tawar Anya kepada mereka.
Amelia nampak tak berbicara, ia terlalu kaget manakala sosok yang sedari tadi menelponnya, saat ini berdiri di hadapannya dan terus memandanginya tanpa berkedip.
"Boleh juga tuh. Bagaimana, Mas?" Tanya Ninta pada putranya.
Dirga tidak mendengar pertanyaan dari sang bunda. Ia masih fokus menatap Amelia.
"Mas?" Ninta masih memanggil. Tapi Dirga tak bergeming.
Hingga sebuah tepukan di bahu, menyadarkannya.
Juna yang telah melakukannya. Sang asisten tahu bahwa bosnya saat ini terlalu terpesona bahkan kelewat bahagia demi melihat gadis idamannya saat ini berdiri di hadapan mereka.
**
Sekitar satu setengah jam yang lalu,
"Mba Amelia saat ini sedang berada di butik Ibu, Pak."
"Kok bisa?"
"Seseorang yang ditemui oleh Mba Amelia, ternyata seorang teman wanita satu kuliahnya, bernama Anya."
"Setelah mereka bertemu di salah satu foodcourt di dalam Mall, mereka menuju ke sebuah butik, ternyata itu butik milik Ibu. Dan tanpa di duga, mereka bertemu Bapak dan Ibu di sana. Terlihat oleh Doni, mereka sempat mengobrol akrab saat Ibu dan Bapak akan keluar."
Dirga nampak terkejut.
"Saat ini Bapak dan Ibu sedang menuju kemari. Sedangkan Mba Amelia dan temannya masih berada di butik."
"Terus awasi mereka. Terutama Amelia. Ada hubungan apa antara Ibu atau Ayah dengan dua gadis itu."
"Siap, Pak."
"Kalau begitu saya permisi. Saya akan pergi mengecek bagian resepsionis. Barangkali Bapak dan Ibu sudah datang."
"Ah iya, kamu boleh pergi."
**
"Pak." Suara Juna.
"Ah iya, Bu?" Mengalihkan tatapannya dari gadis itu.
"Gimana kalau kita gabung aja sama mereka?" Tanya Ninta mengulangi.
"Ya, bukan ide yang buruk." Jawabnya sembari menatap Amelia kembali dengan wajah tersenyum smirk.
Amelia yang sedari tadi di tatap, semakin tidak bisa berkata atau bertingkah normal.
Gadis itu sedang berusaha mengendalikan suasana hatinya yang mendadak tak menentu.
Bukan Juna saja yang menyadari perubahan sikap Dirga, tapi semua yang berdiri di sana, nampak terheran dengan tingkah laku Dirga yang sedikit aneh. Terutama Ninta dan Harsa. Kedua orangtuanya saling berpandangan tatkala melihat putranya itu seperti kehilangan fokus ketika berhadapan dengan Amelia.
"Baguslah. Kalau begitu kita tinggal minta tambah kursinya saja." Seru Ninta menetralisir keadaan yang sempat hening.
"Ah, untuk saya tidak perlu, Bu. Saya harus kembali ke perusahaan sekarang. Ada sedikit masalah." Sahut Juna.
"Masalah besar kah, Juna?" Tanya Harsa.
"Tidak, Yah. Tapi kalau terlalu larut dibiarkan, bukankah masalah kecil bisa menjadi besar?" Tutur sang putra menimpali.
"Ya sudah kalau begitu. Kalau kamu telah selesai dengan urusannya, segera kemari." Perintah Harsa pada Juna.
"Baik, Pak Harsa." Katanya mengangguk.
"Mba, minta tambah meja dan kursinya, apa bisa?" Pinta Juna pada pelayan yang sedari tadi ada di dekat mereka.
"Bisa Pak, sebentar akan kami urus." Jawabnya lantas pergi mencari bantuan.
"Kalau begitu saya permisi dulu. Pak Harsa dan Bu Ninta selamat menikmati makan siangnya."
"Pak Dirga." Pamitnya.
Kemudian mengangguk dan sedikit membungkukkan sedikit badannya saat menatap Amelia dan juga Anya.
Kedua gadis itu membalas dengan senyum dan juga anggukan kepala.
Pelayan tadi di bantu dua orang temannya nampak langsung menggabung sebuah meja dan menambah kursi bagi rombongan Dirga yang baru datang.
"Tante dan Om silakan pesan. Dan juga...?" Tanya Anya menggantungkan kalimatnya kemudian menatap Dirga.
"Dirga." Ucap pria itu.
"Ah iya, Mas Dirga. Silakan mau pesan apa? Kami berdua sudah memesan makanan tadi sebelum kalian datang." Lanjutnya.
Pelayan mencatat semua hidangan yang dipesan oleh Dirga dan orangtuanya.