My Boyfriend Is A CEO

My Boyfriend Is A CEO
Hari Pertama Pengawalan



"Selamat pagi Pak Harsa, Bu Ninta," sapa Juna ketika tiba di kediaman Dirga.


Rutinitas Juna setiap pagi adalah menjemput atasannya.


Dari rumah ia menaiki mobil sendiri, yang nantinya ia parkir di garasi keluarga Narendra. Dari rumah bosnya itulah, Juna berangkat ke kantor bersama Dirga dengan di antar sopir.


Seperti pagi ini, Juna sudah tiba di rumah Dirga di saat seluruh penghuni rumah sedang sarapan pagi.


"Pagi Juna," jawab Harsa.


"Juna, ikut sarapan sini!" ajak Ninta.


"Terimakasih Bu," sembari duduk di sebelah Nancy.


"Pagi calon dokter!" sapa Juna pada Nancy, membuat gadis itu terkejut. Tak menyangka akan disapa oleh Juna.


"Pagi."


"Ih, Mas Juna bisa aja nih," sahut Nancy tersenyum malu.


Sungguh sekarang ini gadis itu sedang merasakan debaran-debaran aneh di hatinya, manakala anak buah kakaknya itu datang ke rumah.


Dulu awal-awal kenal, perasaan itu tidak ada. Karena Ia baru duduk di bangku SMA saat itu.


Tapi seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia, entah mengapa perasaan itu hadir tanpa di minta. Selayaknya gadis yang baru mengenal cinta, seperti itu pula lah yang Nancy rasakan sekarang.


"Eh, selamat pagi Pak Dirga," Juna bangun berdiri, ketika melihat bosnya dari lantai atas menuruni tangga, berjalan menuju arah ruang makan.


"Selamat pagi," ucap Dirga menjawab salam dari asistennya. Kemudian duduk di sebelah Ibundanya.


"Oh iya, rencananya nanti siang Ayah mau mampir ke kantor, Mas," kata Ninta di sela-sela mereka sarapan pagi.


"Bener yah?" tanya Dirga memastikan.


"Hem.."Harsa hanya mendehem dan mengangguk.


"Ibumu minta Ayah buat mengantarnya mengunjungi butik yang di Mall Metro. Kebetulan dekat dengan kantor, sekalian nanti Ayah mampir sehabis antar Ibu," jelas Harsa.


"Nanti kamu siapin semuanya, Juna," perintahnya pada sang asisten.


"Baik Pak," ucapnya pada Dirga.


"Memangnya kalian mau nyiapin apa?" tanya Harsa.


"Ya, persiapkan yang harus disiapkan saat bos besar datang berkunjung lah," samber Nancy, menjawab pertanyaan sang Ayah, sedikit meledek.


"Kamu tidak perlu menyiapkan apa-apa Juna. Saya hanya akan mampir menemui putra saya. Bukan mau menyidak karyawan atau perusahaan," ujar Harsa.


"Baik Pak," jawab Juna mengangguk.


"Sudah-sudah, dimakan dulu sarapannya," ujar Bu Ninta.


"Mba Nancy sudah mau berangkat ke kampus?" tanya Juna saat melihat gadis di sampingnya itu tiba-tiba berdiri.


"Iya Mas. Ada ujian pagi ini. Mesti berangkat buru-buru," jawab Nancy sambil menggamit tas kuliahnya.


"Nggak bareng kita nih?" tanya Dirga menawari adiknya.


"Eh.. Gak ah, nunggu kalian masih lama. Takut telat. Aku bawa mobil sendiri aja," jawab Nancy, sembari menghampiri Ayah, ibu dan kakaknya untuk pamitan.


"Aku pergi duluan yah, Mas Juna," seru Nancy sembari menoleh pada pria tampan yang saat ini sedang memperhatikannya dari sejak Ia berdiri.


"Ah iya, Mba. Hati-hati di jalan," ucapnya.


Tak ada yang tahu, bahwa dua insan itu sebetulnya telah memiliki rasa yang sama, dan sama-sama terpendam.


Juna ternyata juga, sudah memiliki ketertarikan pada adik bos nya itu sejak ia pertama kali di tunjuk menjadi asisten pribadi Dirga.


Tapi Juna tahu diri akan posisinya saat ini. Ia menyadari bahwa ia hanyalah seorang pegawai biasa. Sungguh levelnya berbeda jauh dengan si gadis calon dokter.


"Pak Dirga, saya tunggu di depan," ucap Juna sembari berdiri perlahan.


Dirga mengangguk, masih menikmati makanannya.


"Bu Ninta, terimakasih untuk sarapan paginya. Saya permisi."


"Ah iya.. Juna," sahut Ninta serta anggukan dari Pak Harsa.


Juna berjalan ke arah ruang depan. Ternyata di sana masih ada Nancy yang duduk di sofa ruang tamu.


"Mba Nancy, kok belum berangkat. Katanya tadi buru-buru," basa-basi Juna, yang mengambil tempat duduk tepat di seberang gadis itu.


"Eh, Mas Juna. Ini...temen aku ngajak bareng ke kampus. Minta di jemput katanya. Kendaraan dia tiba-tiba mogok di jalan," katanya sambil mengutak-atik ponsel di tangan nya.


"Oh.. Temen perempuan?" tanya Juna sedikit menyelidik.


"Iya, perempuan. Kenapa emang Mas?" Nancy balik bertanya.


"Gak kenapa-kenapa," ucap Juna berbohong.


Sejujurnya ia sedikit cemburu bila gadis itu sampai jalan dengan teman prianya. Tapi Juna tidak bisa berbuat banyak.


Selama ini Juna tahu siapa saja teman-teman Nancy, baik di kampus atau di luar. Pria itu sudah mengamatinya sejak lama.


Ya... Selama ini ia hanya mampu mengamati saja, tidak lebih.


"Mas Juna aku jalan dulu yah," pamit Nancy, berdiri lalu tersenyum.


"Ah, iya. Hati-hati," Juna memandang Nancy, hingga tak terlihat tubuhnya atau tak terdengar lagi deru suara mobilnya.


"Kamu sedang memandangi apa?" tiba-tiba terdengar suara dari Dirga.


"Euh, gak ada, Pak," ucap Juna, malu dengan tingkahnya yang tertangkap basah oleh Dirga.


"Apa Bapak sudah siap untuk berangkat?" tanya Juna memastikan.


"Tunggu sebentar. Bagaimana dengan pekerjaan Doni di hari pertama?" Dirga berkata sembari mendudukkan tubuhnya di sofa yang tadi diduduki oleh Nancy, adiknya.


"Oh iya Pak, tadi Doni melapor, kalau Mba Amelia saat ini sudah berada di PT. EsKa. Dia berangkat menggunakan ojek online. Jam delapan kurang, Mba Amelia sudah sampe di sana," tutur Juna pada bosnya, yang kini terlihat diam seolah pikiran nya sedang tidak ada di tempat.


"Pak Dirga!" panggil Juna.


"Hah, ada apa?" tanya Dirga balik.


"Apa Bapak baik-baik saja?"


"Ya, saya baik-baik saja."


"Kalau begitu kita berangkat sekarang," sahut Dirga sambil berdiri. Berjalan mendahului asisten nya yang mengikuti langkah-langkah panjang kakinya.


***


"Amelia Sarawijaya."


"Iya saya Pak." Ucap gadis itu, yang saat ini sedang duduk menghadap seorang manajer personalia, terlihat dari papan nama yang terletak di mejanya.


"Perkenalkan nama saya Rendy, manajer personalia di perusahaan ini. Hari ini anda dipanggil kemari apa sudah tahu maksud dan tujuannya?" Tanya sang manajer menanyakan kedatangan gadis di hadapannya itu sembari memperkenalkan diri.


"Saya tidak tahu, Pak. Saya hanya di beri informasi untuk datang kesini menemui bapak hari ini." Jawabnya lugas.


"Ehm, baiklah. Saya akan menyampaikannya kepada Anda."


"Jadi, dari sekian banyak pelamar yang mencoba melamar ke perusahaan ini, anda salah satu pelamar yang lolos dengan beberapa yang lainnya." Ada jeda sebentar.


"Tapi ada informasi lain yang harus saya sampaikan kepada Anda. Meskipun Anda diterima di perusahaan ini, tapi Anda dan dua orang lainnya harus kami kirim ke pusat yaitu PT. GeHa, untuk memulai bekerja di sana terhitung mulai esok hari." Tutur Rendy, menjelaskan perihal pemanggilan Amelia hari itu.


"Apa Pak, ke pusat? PT GeHa?" Ucap Amelia tak percaya.


"Iya betul."


"Jadi begini, Mba Amelia. PT EsKa ini merupakan anak perusahaan dari PT GeHa. Memang perusahaan ini tidak bergerak di bidang yang sama dengan pusat. Makanya banyak orang yang tidak tahu, bahwa perusahaan ini dibawah naungan PT GeHa."


"Jadi apakah owner atau pemilik PT EsKa ini juga adalah Bapak Dirga?" Tanya Amelia penasaran.


Namun sedetik kemudian, ia menutup mulutnya dan meminta maaf kepada sang manajer. Tak sepantasnya ia menanyakan hal macam-macam yang bukan koridornya.


"Eh, maaf Pak, saya sudah lancang. Tak baik sepertinya bila saya menanyakan hal yang bukan urusan saya. Sekali lagi saya minta maaf."


Manajer itu hanya tersenyum melihat raut wajah calon pegawai di depannya itu.