
"Jadi?" tanya Dirga lagi.
"Apa?" Amelia balik bertanya.
"Ayolah, Amelia! Apa kamu masih pura-pura tidak mengerti?"
"Aku..."
Gadis itu bingung apa lagi yang harus ia katakan.
"Apa kamu ingin aku melakukan keduanya?" tanya Dirga.
"Melakukan apa?"
"Baiklah, sepertinya kamu memang harus aku ingatkan dengan perbuatan."
"Euh.." Amelia terkesiap, saat Dirga mengelus bibirnya.
"Dengarkan aku baik-baik!" pinta Dirga dengan nada lembut namun tegas.
Pandangan matanya tajam menatap manik mata kecoklatan milik Amelia.
"Amelia Sarawijaya, aku Dirga Narendra ingin mengatakan bahwa aku telah jatuh cinta padamu, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu."
Amelia terlihat syok. Pria di depannya sungguh-sungguh melakukannya.
"Amelia, terserah kamu akan percaya atau tidak, tapi aku tidak pernah merasakan perasaan yang berdebar seperti ini pada setiap wanita, baik itu pada teman wanitaku atau pada kekasihku dahulu."
"Kamu sungguh membuatku menjadi orang lain sejak aku mengenalmu beberapa minggu lalu."
"Kamu juga membuatku gila manakala aku tidak bertemu denganmu sehari saja."
"Amelia, maukah kamu menjadi kekasihku?" pinta Dirga dengan nada seolah memohon.
Suasana menjadi hening.
"Dirga... Aku..."
"Amelia apa kamu meragukan perasaanku?"
"Dirga, aku tidak tahu."
Amelia masih syok, tiba-tiba tubuhnya melemah. Dirga menyadari itu. Ia bawa tubuh Amelia agar duduk di sofa.
"Duduklah di sini." Lantas Dirga mengambilkan air minum untuk gadis itu.
"Minumlah," ucapnya.
Dirga lalu berjongkok di depan Amelia, menyuruh gadis itu minum dan membiarkannya menenangkan diri.
"Apa kamu tak siap dengan situasi ini?" ujarnya sambil mengambil gelas dari tangan Amelia.
Gadis itu menggeleng.
"Lalu?"
"Aku hanya tidak tahu apakah harus senang atau tidak dengan pernyataan cintamu padaku."
"Kenapa?"
"Dirga, kamu dan aku berbeda. Pertemuan pertama di antara kita saja, bukan di awali oleh hal yang baik."
"Dirga, aku harus tahu diri dengan posisiku saat ini. Aku hanya pegawai biasa dengan latar belakang keluarga yang biasa juga."
"Sedangkan kamu? Kamu adalah seorang CEO. Pimpinan sebuah perusahaan besar, dan jangan lupakan juga bahwa kamu berasal dari keluarga yang tidak biasa."
"Aku tidak perlu menyebutkan mengenai kekayaan, tentu saja itu terlalu ekstrim menurutku. Aku tidak berpikir serendah itu untuk membandingkan jurang perbedaan yang ada di antara kita."
"Namun, tanpa aku membandingkan hal itu pun, orang-orang tetap melihat kita jauh berbeda."
"Amelia," ucap Dirga lembut.
"Aku tidak pernah mengatur perasaanku agar aku menyukai perempuan yang seperti apa. Tuhan lah yang telah mengatur hati hamba Nya."
"Sejak pertama aku melihatmu di cafe, entah mengapa aku langsung jatuh hati padamu, Amelia."
Keheningan tercipta di antara mereka. Dirga dan Amelia saling menyelami hati masing-masing.
Apa yang harus aku lakukan? Amelia.
"Amelia?"
"Euh, ya!"
"Jujur saja aku tidak peduli dengan jawabanmu. Kalaupun kamu menolakku, kamu akan tetap aku kejar hinga aku bisa mendapatkanmu."
"Bahkan bukan sesuatu hal yang tidak mungkin, jika suatu saat nanti aku akan mendapatkanmu untuk aku jadikan sebagai permaisuri di istanaku."
"Aku akan menjadikanmu istri dan juga ibu untuk anak-anakku kelak."
"Dirga, mengapa kamu berpikir sejauh itu?"
"Aku seorang pebisnis, sudah ada dalam jiwaku untuk berpikir jauh ke depan. Bahkan untuk urusan perempuan sekali pun. Aku tidak akan melepaskan sesuatu yang aku sukai jika itu akan membuat masa depanku menjadi indah."
"Lantas apa gunanya kamu menanyakan persetujuan dariku bila kamu sesungguhnya tidak peduli dengan jawaban yang akan aku berikan."
"Kamu sungguh pintar," puji Dirga.
"Aku memang tidak peduli dengan jawaban darimu, Amelia. Tapi aku peduli dengan pendapat dan argumenmu. Aku ingin tahu sejauh apa kamu memahami perasaanku padamu."
"Dirga, bolehkah aku bertanya?"
"Ehm, ya tentu saja."
"Pertanyaan pertama, tidak. Kamu adalah wanita satu-satunya di hatiku saat ini. Dan untuk pertanyaan kedua, iya. Pernah ada wanita lain di kehidupanku dulu. Namun kami sudah berpisah satu tahun yang lalu."
"Mengapa aku menjelaskan ini padamu? Karena aku tak ingin ada kesalahpahaman yang akan timbul nantinya, bila aku tidak menceritakan semuanya padamu."
"Apa yang membuat kalian putus?"
"Amelia, apakah kamu cemburu?"
"Ah, euh..tidak, aku hanya ingin tahu saja."
"Benarkah?" tanya Dirga lagi dengan memicingkan matanya.
"Ya..seperti yang kamu bilang tadi, hanya menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terjadi."
"Apa itu tandanya kamu menerimaku?"
"Tidak seperti itu juga. Ah...bagaimana aku menjelaskannya padamu?" ujar Amelia yang nampak malu.
Dirga hanya tersenyum melihat sikap Amelia yang terlihat bingung dan juga malu.
"Wanita itu bernama Sisy. Kami menjalin hubungan kurang lebih dua tahun. Hubungan kami baik-baik saja, aku pikir. Tapi ternyata aku salah. Sisy berselingkuh di belakangku."
"Kenapa?"
"Kamu penasaran sekali sepertinya."
"Ah, bila kamu tidak mau cerita ya sudah, aku tidak memaksa," rajuk Amelia.
"Sisy berselingkuh karena ia tidak pernah aku sentuh?"
"Hah! Apa? Kamu becanda?"
"Tidak. Memang itu alasannya."
"Hahha, lucu sekali. Kamu pandai sekali berbohong," sinis gadis itu.
"Kamu bilang aku berbohong?" seru Dirga tidak percaya.
"Ya. Kamu berbohong."
"Apa alasan kamu mengatakan kalau aku berbohong?"
"Tentu saja itu mudah. Ada banyak alasan kenapa aku mengatakan bahwa kamu berbohong."
"Katakan, satu atau dua alasan terkuatmu."
"Baik. Pertama, mana ada perempuan berselingkuh hanya karena tidak pernah di sentuh oleh kekasihnya. Bukan kah itu suatu keajaiban dan keberuntungan, menurutku tentu saja."
"Kedua, ini yang sungguh terlihat bahwa kau berbohong padaku. Bagaimana bisa kamu mengatakan, bahwa ia tidak pernah kamu sentuh. Sedangkan aku yang bukan kekasihmu saja, sudah sering kamu sentuh, bahkan tidak segan-segan kamu sudah berani menciumku," beber Amelia.
Tanpa sadar ia berkoar-koar, namun setelahnya ia segera menutup mulutnya.
"Maaf Dirga, aku bodoh. Bagaimana bisa aku mengatakan hal yang kurang ajar seperti itu padamu. Sekali lagi maafkan aku. Aku tidak memiliki hak untuk memberikan pendapat demikian."
"Tidak apa-apa, Amelia. Aku senang jika kamu penuh emosi seperti tadi. Hubungan kita terasa berwarna menurutku."
"Kamu jangan gila, hubungan apa yang kamu maksud."
"Amelia, sudahlah. Janganlah kamu mengelak terus menerus. Aku tahu jika kamu memiliki perasaan yang sama sepertiku."
"Jangan sembarangan," tolak gadis itu.
"Baiklah, sepertinya aku harus mengungkapkan perasaanku dengan perbuatan."
"Ap.. Apa yang akan kamu lakukan?"
Gadis itu langsung waspada, karena Dirga mulai terlihat melakukan aksinya.
Di genggamnya tangan Amelia dengan lembut. Ditatapnya kedua mata itu.
"Amelia, aku tidak pernah berbohong padamu, mengenai apapun yang telah aku katakan padamu tadi."
"Tidak pernah ada kontak fisik antara aku dengan mantan-mantanku yang dulu. Kamu bisa menanyakan hal itu pada Juna asisten ku, bila kamu tidak percaya."
"Tapi...?" Amelia menggantungkan kalimatnya.
"Tapi mengapa aku melakukan hal itu padamu? Begitu kan yang ingin kamu tanyakan?"
Amelia mengangguk.
"Jawabannya, aku tidak tahu. Seperti yang aku lakukan padamu di sini kemarin, itu aku lakukan secara spontan, semua di luar kendaliku. Perasaan dan hasrat dariku yang tak terbendung manakala aku berada dekat denganmu."
Amelia, terlena dengan kata-kata yang diucapkan oleh Dirga.
"Dan kamu mau tahu, Amelia?" Dirga meneruskan.
"Apa?"
"Kamu adalah satu-satunya wanita yang pertama, dan aku harap yang terakhir bagiku yang aku sentuh."
Fix, Amelia tak mampu berkata-kata. Ia mematung. Hanya pandangan matanya yang berbicara, menatap kedua mata milik Dirga yang mulai nampak sayu dan berkabut.
Perlahan wajah Dirga mendekat. Dengan fisiknya yang tinggi, meski tubuhnya berada di lantai dengan bertumpu pada kedua kakinya yang terlipat sedangkan Amelia duduk di sofa, namun wajah Dirga bisa setara dengan wajah cantik Amelia.
"Amelia, seandainya kamu marah atas apa yang telah aku lakukan padamu, aku tidak peduli. Karena aku tidak ingin waktu berdua kita hilang begitu saja tanpa tercipta momen yang indah."
Amelia terkesima dengan kata-kata yang meluncur dari mulut Dirga. Segera saja, tanpa ada yang memberi komando, bibir keduanya saling menyatu. Dirga berusaha memperlakukan gadis itu selembut mungkin, ia tidak ingin terburu-buru. Karena ia tidak mau gadis itu terlepas akibat ulahnya.
Keduanya saling mereguk kenikmatan. Amelia yang tadinya tidak ingin terbuai, harus mengkhianati tekadnya. Ia malah semakin terhanyut akan permainan yang Dirga ciptakan.
***