My Boyfriend Is A CEO

My Boyfriend Is A CEO
Kecurigaan Anya



Amelia nampak melamun di kursi depan penumpang. Sedangkan temannya, Anya, duduk di sebelah, fokus menyetir.


Acara nonton dibatalkan karena Anya tak enak melihat Amelia yang terlihat pucat setelah makan siang tadi.


"Kamu bener gak apa-apa, Mel? Apa mau aku antar ke dokter?" Tanya Anya memastikan.


"Aku beneran gak kenapa-napa kok, Anya. Beneran. Gak usah berlebihan gitu." Jawab gadis Amelia.


"Aku gak berlebihan, tapi muka kamu tadi emang pucat kok." Tutur Anya.


Amelia tidak ingin menjawab. Ia sadar akan kekhawatiran temannya itu disebabkan oleh apa.


Pikirannya kembali melayang.


Apa maksud laki-laki tadi? Kenapa seenaknya dia bisa berkata seperti itu. Memangnya siapa yang mau jadi pacarnya. Amelia.


Emang kamu gak mau, Mel. Sok jual mahal. Author.


Eh, Thor. Kok kamu ngebela lelaki itu daripada aku sih. Amelia.


Ya iya dong, gimana aku gak ngebela, orang dia tampan, kaya, plus baik lagi. Emang kamu sendiri gak sadar sama perasaan kamu. Setiap kamu bertemu dia, apa coba yang kamu rasakan? Aku tebak, dada kamu yang tiba-tiba dag dig dug, jantung kamu yang berdetak lebih cepat, dan tubuh kamu yang selalu meleleh manakala lelaki itu melakukan kontak fisik sama kamu. Iya kan? Author.


Tidak... Tidak... Tidak... Itu semua gak bener. Amelia


Tanpa sadar gadis itu menggelengkan kepalanya setelah mendengar suara hatinya yang tiba-tiba muncul.


"Kamu kenapa, Mel?" Tanya Anya terheran melihat temannya bertingkah aneh.


"Ah, eh, aku gak apa-apa, hehehe." Jawab Amelia sambil nyengir.


"Oh iya Mel, aku boleh tanya sesuatu sama kamu?"


"Apa?"


"Waktu kita pesta di kafe lalu, kamu kemana saat Boby, Oka dan yang lain berkelahi sama Aron dan kawan kawannya? Sebelumnya aku lihat kamu dibawa sama Aron, hal yang membuat Boby marah, yang menyebabkan perkelahian terjadi. Tapi pas aku cari sama temen-temen yang lain kamu gak ada."


Amelia sedikit terkaget mendengar pertanyaan Anya. Ia berpikir, bahwa peristiwa itu telah berlalu, dan tidak banyak orang yang mengetahui kejadian sebenarnya.


"Oh.. Itu." Amelia menggantungkan kalimatnya.


"Saat perkelahian itu berlangsung, aku langsung pulang, Nya. Tiba-tiba kepala aku pusing. Aku pulang naik taksi. Maaf yah udah buat kalian khawatir." Ujarnya berbohong.


"Oh gitu. Ya, gak apa-apa kok, Mel. Cuma waktu itu Boby khawatirin kamu banget. Ditelepon kamu gak angkat. Di cari di sekitaran kafe gak ketemu."


"Iya. Sampe rumah aku langsung tidur, gak merhatiin HP, taunya mati abis baterai. Tapi besoknya Boby datang ke rumah, aku udah jelasin."


Anya hanya menganggukan kepalanya tanda mengerti. Dan ia pun tidak menanyakan masalah itu lagi.


"Mel, feeling aku Mas Dirga ada rasa deh sama kamu." Seru Anya tiba-tiba dengan wajah menggoda.


"Uhuk... Uhuk..." Amelia terkaget.


"Eh, Mel, are you okay?" Terlihat Anya khawatir.


"Ya...I'm ok." Jawab Amelia.


"Kamu hari ini bener-bener aneh deh, Mel."


"Apanya yang aneh?" Tanya Amelia heran.


"Gak tahu, aku ngerasa aneh aja semenjak kita ketemu sama keluarga Tante Ninta tadi. Atau mungkin sejak kita ketemu Mas Dirga." Ujar Anya kembali masih berusaha menggoda temannya itu.


"Ah, masa sih. Aku biasa aja deh." Ucap Amelia berbohong.


"Tapi yang aku lihat, tingkah laku kamu itu gak biasa." Keukeuh Anya dengan pendapatnya.


"Udah ah, gak usah dibahas. Gak penting, Nya."


"Bener nih gak penting?" Seru Anya lagi.


"Anya. Udah ah."


"Hahaha, ok. Tapi aku setuju kok, Mel, kalo kamu sama Mas Dirga."


"Ih... Anya apaan sih, udah deh." Amelia terlihat malu dengan omongan Anya.


"Tuh kan, kamu jadi merah gitu mukanya." Anya makin senang menjahili Amelia.


"Tau ah." Seru gadis itu menyerah, enggan menyudahi keusilan temannya itu.


Pria itu bener-bener udah bikin aku malu. Kayanya aku harus mengubah sikapku padanya. Ia bisa berbuat seenaknya begitu karena aku diam saja selama ini. Baiklah, kita lihat sejauh apa pria itu akan melakukan hal aneh lainnya. Amelia.


"Mel, bangun. Udah nyampe rumah kamu nih."


"Ih, siapa yang tidur sih, Nya?"


"Lagian kamu diam aja dari tadi. Lagi mikirin Mas Dirga yah?" Goda Anya lagi.


"Anya, stop it."


"Hahhaha."


"Au ah, aku turun. Makasih yah tumpangannya." Ucap gadis itu sambil turun dari mobil.


"Jangan marah-marah mulu. Tar cantiknya ilang." Anya tak hentinya menggoda.


"Tau ah. Aku masuk dulu. Kamu mau mampir gak?" Tawar Amelia.


"Gak ah, makasih. Aku langsung balik aja." Jawab Anya.


"Ok. Aku pulang yah. Dah."


Amelia mengangguk dan melambaikan tangan.


Baru saja satu langkah kakinya berjalan, terasa getaran HP di saku Amelia.


"Kamu sudah sampai rumah?" Sebuah pesan dari Dirga.


Ini orang pingin tau banget urusan aku kayanya. Amelia.


Tak dibalasnya pesan dari Dirga. Dimasukkan kembali ponselnya. Melangkahkan kaki memasuki rumah, bercita-cita memilih beristirahat di sisa hari ini. Mempersiapkan tubuh dan energinya untuk aktifitas barunya esok hari.


Sebuah aktifitas yang akan merubah takdir manis hidupnya. Sekaligus aktifitas baru yang akan merubah sikapnya menjadi pribadi yang lebih mandiri dan dewasa dengan tanggung jawab yang lebih tinggi.


***


"Mba Amelia sudah di rumah kontrakannya, Pak." Lapor Juna, setelah Ia menerima telepon dari Doni, pengawal yang ditugaskan untuk mengawasi Amelia.


Rombongan itu baru saja sampai rumah. Orang tua Dirga, Harsa dan Ninta langsung masuk kamar pribadi mereka. Berbeda dengan Dirga dan Juna yang berjalan memasuki ruang kerja. Ada beberapa hal menyangkut pekerjaan yang harus Ia diskusikan dengan asistennya itu.


"Hem.." Jawab Dirga.


Sejenak Ia terdiam.


"Doni menanyakan, sampai kapan Ia harus mengawasi Mba Amelia, Pak?"


"Tunggu sampai sore hari. Jaga-jaga gadis itu keluar rumah." Titah Dirga.


"Baik, Pak."


"Beritahu Doni juga, mungkin lain kali dia harus mengawasi sampai malam. Nanti kamu carikan pengawal seorang lagi untuk menemani Doni bila mulai berjaga hingga malam hari."


"Siap, Pak."


Juna kemudian memainkan jemarinya di atas layar HP. Begitu pun Dirga, ia seperti mengetikkan sesuatu di ponselnya.


Setelah selesai mengirim pesan kepada seseorang, Dirga mulai sibuk dengan laporan-laporan yang belum ia selesaikan.


"Bapak mau minum apa, biar saya ambilkan." Selesai dengan gawainya.


"Tolong bilang sama Bi Tinah buatkan saya jus jeruk." Pintanya.


"Baik, Pak."


Ia langkahkan kakinya ke luar ruang kerja untuk menuju dapur. Baru saja berbalik setelah menutup pintu, terdengar suara deru mobil dari garasi.


"Bi Tinah, Pak Dirga minta tolong dibuatkan jus jeruk. Sekalian saya minta es kopi pake krim yah." Ujarnya pada sosok wanita tua di depannya.


"Baik, Mas. Sebentar Bibi buatkan."


"Mas Juna!" Seru Nancy yang tiba-tiba ada di dapur.


"Mba Nancy. Baru pulang dari kampus?" Tanya Juna.


"Iya, Mas. Mas Juna lagi ngapain?"


"Lagi ngobrol sama Mba Nancy." Godanya.


"Ih, Mas Juna bisa aja." Gadis itu tersipu malu.


"Maksud Nancy, Mas Juna mau ngapain di dapur?


"Itu, lagi minta bikinin minum ke Bi Tinah?"


"Oh...Kok masih siang udah ada di rumah, Mas? Emang gak ngantor." Tanya gadis itu lagi.


"Nggak. Tadi abis makan siang sama Bapak dan Ibu, Pak Dirga langsung ngajak pulang."


"Kenapa? Tumben."


"Saya enggak tahu, Mba. Pak Dirga nggak bilang apa-apa soalnya."


"Oh gitu. Ya udah deh, Nancy masuk kamar dulu yah, Mas. Mau istirahat, cape."


"Oh iya, Mba. Selamat istirahat."


Juna tidak tahu bahwa gadis itu sedang berusaha menahan gejolak di dadanya, gejolak rasa yang selalu muncul di saat ia bertemu dengan Juna.


Nancy malu bila terus dipandangi oleh asisten kakaknya itu. Pandangan orang yang mengagumi sebetulnya, namun tak disadari olehnya.


"Minumannya mau bibi bawakan, Mas?"


Suara Bi Tinah memecahkan lamunan Juna.


"Eh, gak usah Bi. Biar saya saja. Sini." Kata Juna sembari tangannya terulur, mengambil nampan dengan dua gelas berisi minuman dari tangan Bi Tinah.


"Makasih yah, Bi."


"Sama-sama, Mas."


Juna kembali ke ruang kerja Dirga. Saat masuk, atasannya itu masih sibuk dengan lembaran-lembaran kertas yang berserakan di atas meja.


"Juna kamu tolong periksa laporan bulanan dari divisi keuangan. Saya merasa ada laporan yang kurang rapi dan acak-acakan. Malah menimbulkan hasil pendapatan dan pengeluaran yang tidak sesuai."


Juna sudah siap duduk di sofa dan sebuah laptop di meja. Jari jemarinya mulai menari indah dengan tatapan mata yang fokus ke layar.