My Boyfriend Is A CEO

My Boyfriend Is A CEO
Ekstra Bab 1



Sekitar satu jam yang lalu, pesta telah usai digelar. Para tamu undangan telah meninggalkan acara pesta resepsi pernikahan Dirga dan Amelia. Seluruh keluarga pun telah kembali ke kediamannya masing-masing, hanya beberapa beberapa keluarga jauh saja, baik dari pihak keluarga Dirga atau pun keluarga Amelia yang masih tinggal dan disediakan fasilitas menginap di hotel yang sama dengan tempat pengantin menginap.


Sebetulnya rencana Dirga, ia ingin setelah acara pesta selesai, keduanya melakukan perjalanan untuk melakukan honey moon. Namun, atas pertimbangan beberapa hal, rencana itu diurungkan dan mereka akan melakukannya esok pagi.


Tiket dan fasilitas lainnya termasuk akomodasi penginapan telah siap. Yang dibutuhkan keduanya saat ini adalah istirahat yang cukup setelah rangkaian pesta yang melelahkan, untuk memenuhi tenaga selama perjalanan nanti. Namun, apakah itu akan benar-benar terjadi? Pasalnya bukan sesuatu yang aneh jika akan ada terjadi peperangan antara dua insan manusia yang telah dinyatakan sah sebagai sepasang suami istri oleh agama dan negara.


Seperti yang terjadi saat ini di salah satu kamar president suite di sebuah hotel berbintang, sepasang pengantin baru tengah merasakan bulir-bulir kebahagiaan di dalam diri keduanya.


Dirga baru saja selesai dengan acara mandinya. Dengan menggunakan handuk kimono ia keluar dari dalam kamar mandi sambil menggosokkan rambutnya yang basah. Dilihatnya sang mantan kekasih --Amelia-- yang saat ini telah sah menjadi istrinya, sedang duduk di pinggir tempat tidur yang nampak luas karena memang ukurannya yang besar, tengah mengeringkan rambut panjangnya sambil memainkan ponsel di tangannya yang terbebas.


"Apakah rambutmu masih belum kering juga?" Dirga menghampiri Amelia yang terkaget saat tiba-tiba sang suami berkata padanya.


"E-ehm, ya. Kamu tahu rambutku 'kan panjang, tanpa bantuan hair dryer, tentu saja akan membutuhkan waktu sedikit lebih lama." Gadis itu berkata sambil menaruh ponselnya di atas meja samping tempat tidur.


Dirga mengambil handuk kecil yang tengah dipegang sang istri. Ia membantu mengeringkan rambut panjang Amelia, yang sebetulnya sudah tidak terlalu basah.


"Kamu mau apa? Aku bisa sendiri!" Berusaha mempertahankan handuk di tangannya.


"Aku tahu. Aku hanya ingin melakukannya." Dirga berhasil merebut handuk itu secara halus.


"T-terimakasih!"


"Untuk apa? Aku senang melakukannya."


"Tetap saja, aku merasa menjadi perempuan istimewa atas perlakuanmu padaku."


"Hei, tentu saja ini semua tidak gratis!" Ada senyum jahil dari wajah Dirga.


"Apa? Jadi kamu tidak ikhlas melakukan ini? Padahal bukan aku yang memintanya."


"Aku ikhlas, siapa yang bilang aku tidak ikhlas!"


"Ya, kamu. Dengan kamu meminta imbalan atas sesuatu hal yang kamu kerjakan, itu namanya tidak ikhlas."


"Benarkah?" tanya Dirga menatap wajah Amelia yang sengaja ia dekatkan.


"I-iya!" ucap Amelia terbata. "Kenapa kamu harus bicara sedekat ini!" tanya Amelia dengan sedikit mendorong bahu suaminya, namun tidak berhasil.


"Kenapa?" tanya Dirga balik. "Apakah ada peraturan tertentu untuk batas atau jarak kita berbicara?"


"E-ehm, tidak, hanya saja ... !"


"Kenapa kamu terlihat gugup? Apakah aku membuatmu tidak nyaman?" Dirga semakin senang menjahili sang istri.


"A-aku tidak gugup! Siapa bilang?" Amelia balik menatap kedua mata Dirga yang sejak awal membantunya mengeringkan rambut, terus saja memandangi dirinya tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun.


"Benarkah? Tapi aku melihat hal yang berbeda." Dirga kembali mendekatkan wajahnya dengan wajah sang istri. Sangat dekat sehingga nafas keduanya pun bisa saling mereka rasakan.


"Dirga ... Eh-mmm ... " Tanpa memberikan kesempatan untuk gadis itu bicara, Dirga sudah meraup bibir mungil berwarna pink Amelia dengan sangat bernafsu.


Perlakuan yang pria itu berikan sangat lembut, tak disangka sama sekali oleh Amelia. Bila melihat kabut gairah yang sudah menjalar di kedua mata suaminya itu, Amelia sudah berpikir hal-hal yang liar. Namun itu semua sama sekali tidak terjadi.


Satu tangan Dirga memegang pinggang Amelia, sedangkan tangan yang lain menekan tengkuk istrinya itu agar pagutan diantara keduanya tercipta ritme panas nan menggairahkan. Aksi Dirga terbukti berhasil membangkitkan hasrat sang istri.


Handuk kecil yang berada di bahu keduanya telah berpindah turun ke lantai yang berkarpet tebal. Dirga menyelesaikan sementara aksinya, karena melihat sang istri mulai kehabisan pasokan nafas.


"Ah ... !" Belum juga selesai menghirup nafas sebanyak-banyaknya, sang suami telah kembali membuat hasratnya kembali bergelora dengan mengecup lehernya. Bahkan dengan sengaja, Dirga menghisap kuat leher mulus itu dengan meninggalkan tanda kemerahan yang luar biasa banyak. Bisa dipastikan, Amelia akan malu bertemu orang jika ia tidak menutupi lehernya dengan pakaian yang tertutup.


Dengan perlahan Dirga merebahkan tubuh Amelia sehingga terlentang. Dipandanginya wajah sang istri yang terlihat kemerahan dengan mata yang nampak berkabut, sama seperti dirinya.


Mata yang saling menatap diantara keduanya, menimbulkan energi listrik yang entah darimana datangnya. Dirga membelai wajah Amelia, kemudian mengecup kening itu dengan sangat lembut seolah ingin menyalurkan rasa ingin memiliki sang istri seutuhnya.


Tali kimono handuk yang dipakai Amelia, perlahan Dirga tarik dan dengan gerakan lambat, jari jemarinya menyibak kain itu agar terbuka. Kini, terpampang lah pemandangan indah yang terpahat sempurna dari tubuh gadis itu, yang pernah Dirga lihat sebelumnya.


Keduanya, meski pernah berada dalam kondisi yang sama, tidak memungkiri jika malam ini suasananya terasa berbeda. Perlahan Dirga kembali menarik handuk kimono itu dan melepaskannya. Pria itu melempar sembarangan.


Amelia yang masih belum berani menatap wajah sang suami, menutup wajahnya yang semakin merah padam akibat menahan malu yang tak terkira. Tangan yang ia gunakan untuk menutup wajah itu, ditarik oleh tangan Dirga dan diletakkannya di atas kepala. Posisi yang sangat menggugah selera bagi suaminya itu, mau tidak mau memaksa Amelia menatap Dirga.


"Apakah kamu gugup?" tanya Dirga tepat di depan wajah sang istri.


Amelia mengangguk. "Sangat!" ucapnya lirih. Dirga tersenyum, kemudian kembali ia memagut bibir sang istri yang terlihat menggiurkan baginya.


Amelia telah siap dengan serangan yang akan dilakukan sang suami. Ia menerima ciuman liar dan panas dari suaminya itu, dan sesekali membalasnya meski terasa amatir menurut Dirga. Namun, pria itu menyukainya. Ia menikmati balasan yang diberikan oleh sang istri dan membuatnya melakukan aksi yang lebih.


Ciuman itu telah berpindah ke leher sang istri, perlahan tapi pasti, meski leher itu telah terlihat sudah tidak seputih awalnya, tapi masih saja Dirga menghisap lagi dan lagi kulit leher itu.


Setelah puas dengan bagian itu, lambat laun, bibir Dirga menuruni tubuh bagian atas sang istri.


"Arkh ... Dirga!" Amelia tidak kuasa menahan serangan Dirga yang masih dalam tahap pemanasan, namun sudah membuat gadis itu menggila. Pria itu memainkan ujung bukitnya yang tetiba muncul, meski masih terhalang kain. Pemandangan itu sangat menggoda Dirga untuk menyentuhnya.


Masih mengecup bagian itu, tangan Dirga yang lainnya, membuka kaitan kain penutup bukitnya. Kini, Dirga semakin menggila demi melihat sesuatu yang menurutnya merupakan santapan yang sangat lezat. Gadis itu tak banyak bereaksi, akibat kedua tangannya yang ditahan oleh sang suami, membuat ia tidak leluasa menyalurkan hasratnya. Sehingga, mau tidak mau, reaksi spontan atas naluri tubuhnya adalah, membusungkan dadanya saat Dirga mengecup basah sambil memainkan lidahnya di puncak bukit miliknya.


"Malam ini, aku akan meminta hak ku padamu sebagai seorang suami." Kalimat yang Dirga ucapkan, membuat Amelia menahan nafas.


Ya, itu memang hak Dirga. Dan itu sudah menjadi kewajibannya untuk melayani sang suami.


Setelah mengucapkan kalimat itu, Dirga melepaskan tangan yang menahan tangan sang istri. Kini, ia melepaskan handuk kimono yang masih melekat di tubuhnya. Menyisakan sebuah celana boxer pendek, dengan sesuatu yang nampak timbul di sana. Amelia tahu, sang suami telah siap untuk meminta haknya, dan kini mau tidak mau gadis itu pun harus siap juga.


"Permainan baru saja akan dimulai, Sayang!" ucapnya lirih di telinga sang istri dan menggigit kecil di sana, mengakibatkan sebuah jengkitan dari tubuh sang istri.


Ya, permainan keduanya memang baru saja dimulai. Malam pun masih sangat panjang bagi keduanya untuk menuntaskan hasrat yang selama ini tertahan.


Desahan dan lenguhan yang terucap lirih dan terkadang keras terdengar, keluar dari mulut keduanya. Terlebih bagi seorang perempuan seperti Amelia, yang selalu memakai perasaan di setiap perbuatannya, tak akan bisa menahan setiap rasa yang mengular dan menjalar dari setiap aksi yang dilakukan oleh sang suami pada tubuhnya.


Dirga yang melakukan aksinya dari lembut hingga liar dan menggila, membuat malam yang bersuhu dingin di dalam kamar president suite tersebut, berubah menjadi panas menggelora.


Hingga pada akhirnya, keduanya bisa menuntaskan hasrat hingga mencapai klimaks penyatuan. Pertama kalinya bagi Dirga sebagai seorang pria dan kedua kalinya bagi Amelia, yang pernah sebelumnya dibuat melayang hingga mencapai puncak orga*** oleh sang suami saat masih berstatus sebagai sepasang kekasih.


Malam semakin larut hingga menjelang pagi hari. Meski rasa lelah akibat pesta resepsi yang selesai mereka lakukan, namun keduanya seolah lupa dengan kondisi itu semua. Mereka terlampau menikmati penyatuan diantara keduanya.


Entah sudah berapa banyak benih milik Dirga yang masuk ke dalam rahim sang istri, yang pasti malam indah itu tidak menyurutkan hasrat sang pria untuk melakukan lagi dan lagi. Semuanya terhenti, sementara --ya sementara untuk malam itu-- ketika dilihatnya sang istri sudah tidak sanggup lagi menerima gempuran yang dilakukan olehnya.


"Bisakah kita sudahi sampai di sini dulu, Dirga? Aku lelah." Amelia sudah memejamkan kedua matanya.


"Ya, tentu saja." Dirga mengecup bibir sang istri. Ditariknya selimut untuk menutupi tubuh keduanya yang polos, kemudian menarik tubuh istrinya itu untuk berada di dalam dekapannya.


"Terimakasih, Sayang!"


"Terimakasih untuk semuanya!"


Dirga tahu, kalimat-kalimat yang ia ucapkan sudah tidak dapat didengar oleh sang istri. Karena tidak lama kemudian, terdengar dengkuran halus yang keluar dari hidung dan mulut istrinya. Aksi terakhir yang ia lakukan adalah mengecup kening Amelia dengan sangat lembut dan sedikit lebih lama. Hingga akhirnya, ia pun ikut terlelap menyusul sang istri.


****


Hai, jumpa lagi dengan author receh yang akhirnya mengikuti kemauan kalian untuk menulis bab ekstra dari cerita Dirga dan Amelia.


Aku tahu ekstra bab apa yang kalian mau, nah, ini lah tulisan yang kalian tunggu. Maaf, aku hanya bisa menulis ceritanya seperti ini tapi aku harap kalian puas.


Shut!! Kalo mau cerita yang lebih panas dan bikin 'hareudang' nantikan cerita aku yang lainnya yah!


See U!


****