My Boyfriend Is A CEO

My Boyfriend Is A CEO
Sejujurnya Aku Rindu Kamu



"Saya rindu kamu, Amelia."


Kalimat itulah yang sebetulnya ingin Dirga katakan kepada gadis cantik di depannya.


Namun bibirnya tiba-tiba kelu. Dan...


"Saya hanya ingin bertemu kamu saja. Tidak ada hal lain."


Malah kata-kata yang tidak jelas meluncur dari mulutnya.


Amelia terlihat mengernyitkan dahinya.


Orang ini kenapa sih.


"Tapi bagaimana anda bisa tahu rumah saya?"


"Apa penting untukmu darimana saya tahu rumahmu?"


"Ehm, saya hanya merasa anda seperti seorang penguntit?"


"Apa? Ah, selain cantik ternyata kamu juga lucu sekali Amelia," terdengar sedikit gelak tawa dari mulutnya.


"Maaf apanya yang lucu?" Amelia terlihat heran, kenapa Dirga tertawa. Sekaligus ia pun malu, karena pria itu terang-terangan memuji dengan mengatakan dirinya cantik.


"Bagaimana kamu berfikir kalau saya seorang penguntit?" sahut Dirga tak percaya.


"Zaman sekarang seseorang dengan tampang dan penampilan seperti anda ini, tidak bisa menjanjikan bahwa ia adalah seseorang yang baik bukan?"


"Apa maksudmu tampang dan penampilan seperti saya?" tanya Dirga mulai tersenyum.


"Yaa... Tampang seperti ini," berkata sambil menggerakan tangan nya ke arah pria di depannya.


Dirga masih menunggu..


"Kenapa anda senyum-senyum seperti itu?" Amelia mulai merasa tak karuan karena pria itu terus menatapnya.


"Apakah kamu mau bilang kalau saya memiliki wajah tampan."


"Hah?! An..anda percaya diri sekali," kata Amelia tergagap.


"Lalu apakah aku jelek?"


Bagaimana mungkin. Kalau tampang kamu ini disebut jelek, lantas yang tampan itu seperti apa. Amelia.


"Ah.. Ehm.. Kenapa kita harus membahas hal yang tidak penting," seru gadis itu.


"Bukannya kamu yang pertama kali membahas nya?"


"Oh.. Baiklah.. Maafkan saya," Amelia menyerah.


Dirga merasa menang, ia tersenyum penuh arti memandang gadis di hadapannya itu.


Hatinya berbunga demi untuk melihat gadis yang membuatnya tidur tak nyenyak selama ini, akhirnya tersampaikan.


Senyap di antara mereka setelah perdebatan kecil itu terjadi.


Amelia merasa canggung. Lelaki itu diam saja dan hanya menatapnya dengan wajah yang membuat gadis itu terpesona. Dadanya tiba-tiba bergemuruh.


Ya Tuhan, mengapa pria tampan ini terus memandangiku begini. Amelia


Jantungnya berdetak semakin kencang. Ia sudah tidak bisa membayangkan bagaimana rona wajahnya sekarang. Di senderkan tubuhnya ke dinding pintu di belakangnya. Ia takut bila pria itu terus memandangnya, ia tak bisa mengontrol dirinya.


"Apa kamu tidak mempersilakan tamumu untuk duduk?" perkataan Dirga menyadarkan Amelia dari lamunannya.


"Euh, maaf. Silakan duduk. Tapi maaf saya tidak bisa..ehm..maksud saya, saya hanya bisa memperbolehkan anda duduk di sini saja," tuturnya sambil menunjuk satu set bangku yang ada di teras.


"Tidak masalah," balas Dirga.


"Anda datang di waktu yang kurang tepat, tidak baik rasanya bila malam-malam begini saya dan anda duduk bicara di dalam satu ruangan. Saya harap anda paham," Amelia menjelaskan dengan nada yang sedikit tak enak.


"Saya bilang tidak masalah, saya mengerti tanpa kamu harus menjelaskan, Amelia," sembari menjatuhkan tubuhnya di salah satu bangku.


Gadis itu turut pula duduk di bangku satu nya yang terhalang oleh meja kecil di tengahnya.


"Ehm.. Belum ada jawaban," jawab Amelia.


"Kamu melamar di bagian apa?"


"Staf keuangan."


"Sesuai jurusan kuliah kamu?"


"Heem..."


Pertanyaan-pertanyaan yang merupakan pancingan obrolan dari Dirga hanya dijawab singkat oleh gadis itu.


Amelia tiba-tiba sadar akan sesuatu hal yang hampir saja terlupakan.


"Oh iya maaf, apakah anda ingin minum sesuatu?"


"Oh.. Tidak perlu. Saya tidak lama."


"Tidak apa-apa, minimal anda mengijinkan saya untuk menjamu tamu walau cuma hanya segelas air putih saja," sahut Amelia sedikit memaksa.


Pria itu tersenyum. Ia tidak menduga gadis di depannya itu sungguh memiliki etika yang sangat baik.


"Yaa... Baiklah. Terserah kamu saja."


"Sebentar kalo begitu. Saya ambil dulu ke dalam," pamitnya.


Tak berapa lama gadis itu datang dengan membawa nampan berisi dua gelas air putih dan sepiring cemilan.


"Maaf saya tidak tahu selera anda, jadi saya hanya menyiapkan air putih saja."


"Nggak apa-apa. Ini cukup dan maaf sudah merepotkan."


"Silakan," katanya sambil meletakkan segelas air putih di sebelah Dirga.


Dirga mengambil gelas yang berisi air putih tadi, dan menenggaknya.


Amelia hanya mengamati saja.


"Apa wajahku ini sudah menghipnotismu, Amelia?" goda Dirga sembari menaruh kembali gelas di meja.


"Ah... Ya Tuhan.. Anda sungguh pria yang PD sekali," ucap Amelia tak percaya namun mulai nampak rona merah di wajahnya karena malu.


Kedua matanya yang sedari tadi terus menerus memperhatikan Dirga minum, ternyata disadari oleh pria itu.


"Baiklah Amelia, sepertinya saya harus pamit. Ini sudah malam. Saya tidak enak bila terlalu malam terus mengobrol di rumahmu seperti ini," pamit Dirga sembari bangun dari duduknya.


"Ah iya," Amelia bingung harus menjawab apa.


"Kalau begitu saya permisi. Lain kali bolehkah saya bertandang ke rumahmu, Amelia?"


"Anda tidak perlu meminta ijin. Bukankah malam ini Anda datang tanpa memberi kabar dulu sebelumnya," kata Amelia dengan gaya yang pura-pura kesal.


Dirga tersenyum. Gadis di depannya itu sungguh menggemaskan, baginya.


Dirga melangkahkan kedua kakinya menuju mobil mewah yang terparkir di depan rumah kontrakan Amelia.


"Terimakasih Amelia untuk waktunya. Maaf malam-malam mengejutkanmu dengan kedatanganku yang tiba-tiba."


"Tidak apa-apa. Asal jangan sering-sering saja bikin orang jantungan," sahut Amelia.


"Baiklah. Selamat malam. Jangan lupa kunci pintunya, takut ada orang yang tidak diharapkan datang," kata nya sedikit bergurau.


"Selamat malam. Terimakasih sudah nengingatkan," jawabnya sambil menyunggingkan senyuman.


Mobil melaju membelah jalanan komplek perumahan.


Langit terlihat cerah. Bulan bersinar sangat terang, mengiringi kepulangan Dirga yang masih dipandangi oleh gadis itu hingga menghilang tak terlihat lagi.


***