
Dirga disambut dengan penuh kehangatan oleh keluarga Amelia yang sederhana. Ia dijamu dengan sangat baik di keluarga kekasihnya. Tak berbeda jauh ketika Amelia sendiri berkunjung ke rumah Dirga kala itu.
Arga --adik Amelia-- nampak senang memiliki teman ngobrol laki-laki. Meski usia keduanya terpaut cukup jauh, namun Arga enjoy berbicara dengan kekasih kakaknya itu.
"Kamu tahun ini lulus SMA 'kan?" tanya Dirga pada Arga di sela-sela mereka mengobrol berdua di ruang keluarga sambil menonton TV dengan ayah juga di sana. Sedangkan Amelia dan bunda nampak sibuk di dapur.
"Iya, Mas," jawab Arga sembari mengunyah snack di tangannya.
"Mau lanjut kuliah kemana?"
"Kemana aja yang penting jurusannya IT."
"Kamu senang dengan sesuatu yang berhubungan dengan komputer?"
"Ya ....gitu deh, Mas. Penasaran. Selama ini aku belajar otodidak aja. Makanya pingin tambah bisa. Biar jadi ahli IT nantinya."
"Bagus 'tuh kalo kamu udah tahu passion kamu kemana, tinggal dikembangkan aja," ucap Dirga tersenyum.
"Iya, Mas."
"Ngomong-ngomong Nak Dirga tidak sedang sibuk dengan urusan pekerjaan? Kok sempet-sempetnya datang ke mari?" tanya ayah Amelia yang sedari tadi hanya menyimak obrolan Dirga dan putra bungsunya.
"Tidak kok, Om," jawab Dirga, "lagipula urusan pekerjaan 'kan tidak bisa digabungkan dengan urusan pribadi, Om," lanjutnya.
"Bagi saya urusan pekerjaan cukup di hari senin sampai jum'at saja. Sabty minggu khusus untuk urusan pribadi. Kecuali memang pekerjaan sedang menumpuk dan membutuhkan perhatian lebih. Hari sabtu dan minggu juga tidak ada bedanya, Om."
"Ya, ya, ya, tentu saja, bagi seorang pemimpin pekerjaan kamu pasti lebih padat dan lebih membutuhkan perhatian yang tidak sedikit. Semoga saja hubungan kamu dengan anak Om --Amelia-- tidak mengganggu pekerjaan kamu, Nak Dirga."
"Tidak kok, Om. Amelia sama sekali tidak mengganggu saya di kantor. Karena orang-orang kantor tidak ada yang tahu tentang hubungan saya dengan Amelia."
"Benarkah? kenapa begitu?" tanya ayah Amelia terheran.
"Mas Dirga malu yah pacaran sama kakak saya?"
"Eh, kata siapa?"
"Itu tadi Mas Dirga bilang, katanya di kantor nggak ada yang tahu kalo kalian itu pacaran."
"Memang benar. Tapi bukan karena saya malu punya pacar kakak kamu, Arga."
"Terus?" tanya Arga sama penasarannya seperti Sang ayah.
"Kakak yang nggak mau," sahut Amelia dari arah dapur. Ia datang bersama Sang bunda dengan nampan di tangan.
"Kenapa?" tanya Arga dan ayahnya terheran.
"Aku belum siap kalau orang-orang tahu bahwa aku berpacaran dengan pemimpin tertinggi perusahaan di mana mereka bekerja. Sedangkan aku hanya anak baru di sana." Amelia berbicara sembari menaruh nampan yang berisi aneka potongan buah untuk makanan penutup mereka.
"Dan yang kalian semua harus tahu, kekasihku ini, di kantor punya fanbase yang khusus mengidolakan dirinya," ucap Amelia sembari menaikkan dagunya mengarah kekasihnya.
Seluruh anggota Amelia semua tertegun. Seolah menyerap kalimat yang keluar dari mulut gadis itu. Sedangkan Dirga sendiri hanya tersenyum sembari menikmati potongan buah yang tadi disajikan oleh Amelia.
"Makanya bisa kalian bayangkan, bagaiman reaksi mereka, para anggota fanbase jika mengetahui bahwa idolanya berpacaran dengan karyawan baru," tutur Amelia.
"Benarkah itu, Nak Dirga? benarkah kamu punya fanbase kaya boy band atau girl band Korea yang suka bunda lihat di TV itu?" tanya bunda Amelia tak percaya.
Dirga hanya tersenyum. Ia sebetulnya enggan menanggapi rumor yang ia sendiri sudah tahu kebenarannya.
"Menurut info yang saya tahu, katanya seperti itu, Tante. Tapi saya sendiri tidak pernah terlibat dalam grup itu sama sekali," jawab Dirga.
"Betul kata Arga. Persis sekali," samber Dirga.
"Nggak segelintir Arga, tapi hampir seluruh karyawan wanita di kantor, dari yang senior sampe junior, mereka semua menjadi anggota." Amelia semakin menyahut.
"Kamu cemburu, Kak?"
"Apa, aku cemburu? sorry yah, nggak tuh."
"Masa sih?" tanya Arga memaksa.
"Iya!" seru Amelia cemberut.
Mendengar kata terakhir yang gadis itu ucapkan, sontak membuat semua orang yang di sana tertawa.
Gadis itu menjadi sasaran empuk bagi Dirga dan Arga yang saat itu kompak menjahilinya. Ayah dan bunda Amelia hanya sesekali menanggapi dan ikut menyahut membuat suasana semakin riuh sepanjang hari minggu itu.
***
"Udah malam. Yuk kita pulang?" ucap Dirga pada Amelia setelah melihat jam di tangannya menunjukkan pukul delapan.
Mereka sedang duduk di teras setelah seharian mengobrol seru dengan seluruh anggota keluarga. Setelah maghrib tadi, keduanya memilih mengobrol di luar berdua.
"Oh iya. Ayo," jawab Amelia.
Keduanya bangkit berdiri dan pergi menuju ruang tengah, untuk menemui ayah dan bunda Amelia yang nampak asik menikmati acara televisi.
"Ayah, Bunda? Amelia dan Dirga pamit pulang yah, udah malam. Besok Amelia udah mulai beraktifitas lagi dan Dirga juga harus berangkat pagi-pagi."
"Memang Nak Dirga mau ke mana?" tanya ibu Amelia.
"Saya harus pergi ke luar kota, Tante. Ada urusan pekerjaan penting."
"Oh gitu, baiklah. Kalian berdua hati-hati di jalan yah."
"Iya, Tante."
"Ayah, Amelia pamit yah," ucap Amelia seraya mencium tangan ayah dan bundanya.
"Om, Tante, Dirga pamit. Terimakasih untuk jamuannya hari ini. Hari ini saya senang bisa berkenalan dengan keluarga Amelia."
"Sama-sama, Nak Dirga. Jangan kapok untuk main ke mari lagi lain waktu," ucap ayah Amelia.
"Siap, Om," sahut Dirga. "Kalau begitu kami berdua pamit."
"Arga, Mas pamit pulang yah," seru Dirga saat melihat Arga keluar dari kamarnya.
"Ah ita, Mas Dirga. Hati-hati yah. Titip Kak Amelia yah."
"Hei, sok dewasa kamu," sahut Amelia terkekeh.
"Biarin."
Keduanya lantas pergi meninggalkan kediaman Amelia dengan menyisakan kenangan manis di hati mereka masing-masing.
***