My Boyfriend Is A CEO

My Boyfriend Is A CEO
Ada Apa Dengan Juna Dan Nancy?



"Mau ngapain kamu ke kantor?" Tanya Dirga pada Nancy, yang nongol dari ruang depan.


"Loh, tumben jam segini udah pulang, Mas. Tepat waktu banget. Biasanya kalau belum gelap belum sampe rumah." Tanya Nancy balik, enggan menjawab pertanyaan dari Dirga.


"Kamu ini, pulang cepat salah. Pulang telat apalagi." Sahut Dirga sambil menjewer telinga adiknya.


"Adu..duh. Maaaas...!" Seru Nancy kesal.


"Berlebihan kamu." Timpal Dirga sambil tersenyum.


"Apanya yang berlebihan, memang sakit tahu nggak." Ujar Nancy dengan bibir manyun.


"Yah, Bu..." Ucap Dirga sembari mencium tangan kedua orangtuanya. Kemudian duduk di sebelah Nancy.


"Bener kata adikmu, tumben sekali jam segini sudah pulang." Ujar Ninta.


"Lagi longgar saja, Bu, kerjaannya." Jawab Dirga.


"Mas Juna nya mana, Mas?" Tanya Nancy sambil menoleh ke arah ruang depan.


"Masih di depan. Kenapa?" Tanya Dirga.


"Eh, nggak kenapa-kenapa. Biasanya suka ikut masuk." Jawab Nancy mengalihkan perhatian kakaknya dengan berpura-pura bermain ponsel.


"Yang bener nih?" Bisiknya pada sang adik, dengan nada menggoda.


"Ish, Mas Dirga apaan sih." Sahut Nancy terlihat salah tingkah.


"Selamat sore Pak Harsa, Bu Ninta." Suara Juna memecah kejahilan Dirga pada Nancy.


"Selamat sore, Nak Juna." Jawab Ninta.


"Selamat sore, Mba Nancy." Tak luput Juna menyapa Nancy yang masih terlihat malu akibat kejahilan kakaknya.


"Eh, selamat sore juga, Mas Juna." Nancy balik menyapa.


"Mba Nancy nggak ngampus?" Basa basi Juna pada gadis pujaan hatinya.


"Baru pulang. Baru beberapa menit yang lalu." Jawab Nancy dengan senyum manisnya.


Juna sudah dianggap seperti keluarga sendiri di keluarga Narendra. Selain tuntutannya sebagai seorang asisten pribadi yang mengharuskannya datang setiap hari ke kediaman bosnya. Juga karena rasa rindu yang selalu hadir di relung hatinya itu yang membuatnya dengan senang hati datang setiap hari, di waktu yang masih terbilang pagi bagi ukuran pegawai kantoran.


Tak segan ia akan berbicara dengan santai dengan keluarga atasannya itu. Ia merasa sudah tidak ada jarak di antara dirinya dengan seluruh anggota keluarga, bahkan dengan para pegawai rumah tangga sekalipun.


Meski Harsa adalah mantan pimpinannya dulu, tapi Ia masih sangat menghormatinya hingga kini. Baginya, Harsa sudah seperti ayahnya sendiri, menggantikan posisi ayah kandungnya yang telah lama tiada semenjak ia baru saja menamatkan sekolah SMA nya dulu.


Pun sama dengan sikap yang ditunjukkan oleh Ninta padanya. Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik di usianya yang sudah tidak lagi muda itu, adalah sosok wanita dewasa yang betul-betul tidak memandang orang itu dari segi luarnya saja.


Itulah mengapa, Juna menganggap keluarga itu seperti keluarganya sendiri. Keluarga kedua yang ia sayangi setelah keluarganya sendiri tentunya. Keluarga sesungguhnya yang ia miliki saat ini hanyalah seorang Ibu dan satu orang adik perempuannya yang masih duduk di bangku kelas dua Sekolah Menengah Atas.


"Kamu bisa istirahat dulu sebentar. Kamu bisa pakai kamar tamu yang biasa kamu pakai. Kita bahas masalah kontrak kerjasama dengan PT Buana, nanti setelah makan malam saja." Perintah Dirga pada asistennya.


"Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi semuanya." Ujar Juna.


"Ya, silakan Nak Juna." Seru Ninta.


"Iya, Mas Juna." Nancy ikut bersuara.


Mata itu saling melirik manakala Juna hendak berbalik menuju ruang tamu. Sekian detik, mereka saling berpandangan. Namun keromantisan itu terhenti, saat Dirga dengan jahil menyenggol tangan adiknya.


"Matanya bisa dikondisikan nggak?" Sahutnya berbisik.


Nancy mendelik. Ia nampak kesal dengan keisengan Dirga. Yang bisa dilakukan Nancy hanya merengut.


Juna yang tahu bahwa sang bos memperhatikannya, nampak tergugup dan segera berpaling ke arah ruang depan.


Tak ada yang menyadari, momen apa yang terjadi di antara ketiga anak muda itu. Harsa masih setia dengan tabletnya. Sedangkan sang ibu sendiri, masih setia dengan acara televisi yang masih fokus ia pandangi.


Beberapa waktu ini, Dirga seolah mengetahui bahwa ada sesuatu antara asistennya, Juna, dengan sang adik, Nancy.


Tapi Dirga lebih memilih diam, ia harus memastikan terlebih dahulu sebelum bertindak. Walaupun Juna sudah Dirga kenal dengan baik, tapi ia ingin lebih mengenal lebih dalam sosok dari pria yang sepertinya telah mengisi hati sang calon dokter.


"Ibu, Ayah, Nancy masuk kamar dulu yah." Sahut Nancy sambil bangun berdiri.


Hanya anggukan kepala serta lirikan yang diberikan oleh Harsa dan juga Ninta.


Gadis itu melangkahkan kakinya ke arah tangga, saat hendak melewati sang kakak, dengan sengaja ia menginjak kaki Dirga yang masih terbalut sepatu pantofel.


"Aw..!" Teriak Dirga. Sambil mata melotot ke arah Nancy.


"Hehehe... Maaf sengaja." Seru Nancy sambil berlari. Takut terkena amukan dari sang kakak.


"Awas kamu yah, Nancy." Sahut Dirga.


"Bu, aku juga ke kamar dulu yah."


"Hem." Balasan suara dari Harsa. Ninta? Diam saja masih asik dengan acara drama televisinya.


***


Di dalam sebuah kamar, seorang gadis yang saat ini sedang merebahkan badannya di atas ranjang berukuran sedang, nampak melamun dengan mata tertuju ke arah atap rumah.


Apa yang harus aku lakukan?


Apakah benar pria itu menyukaiku?


Ah, tapi mana mungkin. Dia kan orang kaya, sedangkan aku cuma pegawai biasa dan juga bukan dari keluarga berada.


Tapi, pria itu selalu mengatakan kalau dia menyukaiku walau tidak secara langsung.


Ya Tuhan.


Apakah aku terlalu ke-GR-an?


Tapi dia memperlakukan aku dengan sangat gentle.


Hei! Kenapa aku mau saja saat pria itu menciumku. Malahan aku membalasnya.


Seketika gadis itu menyentuh bibir yang tadi siang beradu dengan milik seorang pria bernama Dirga. Ya, gadis itu adalah Amelia, yang sedari pulang kerja langsung masuk kamar dan menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur, sedang mengingat dan juga membayangkan momen-momen indah bersama Dirga di ruangan kantor tadi siang.


"Bibir itu mengapa masih terasa di sini." Gumamnya sembari jari jemari yang masih menyentuh bibir.


"Rasanya sangat manis. Pria itu sungguh membuatku terbuai, sampai-sampai aku ikut terhanyut dalam permainan indahnya tadi." Lanjutnya.


Lantas, bagaimana aku harus bersikap di kantor setelah kejadian itu?


Ah, Dirga. Kamu membuatku bingung. Perasaan apa yang sebenarnya aku rasakan padamu saat ini.


Sejujurnya aku sangat menyukai perlakuanmu padaku.


Kata-kata indah yang selalu kamu bisikkan di telingaku.


Juga sentuhan-sentuhan dari tanganmu yang sangat halus menjelajah bagian-bagian tubuhku.


Dan juga bibirmu, oh, sungguh aku terlena olehmu.


Aku tidak memungkiri bahwa akupun menikmati itu semua.


Tapi, apakah ini bisa dikatakan bahwa akupun menyukaimu?


Atau hanya kekaguman semata?


"Treet... Treet... Treet..." Sebuah dering telepon menghentikan lamunannya.


"Bobby?!" Serunya.


Lantas ia geser warna hijau di layar ponsel itu ke arah atas.


"Hallo?" Sapa Amelia.


....


"Aku di rumah. Baru balik gawe."


....


"Kapan?"


....


"Besok aja yah, Bob. Hari pertama aku kerja, lumayan menguras tenaga nih."


....


"Ho'oh. Besok di tempat biasa. Nanti aku kabari kalau udah balik."


....


"Yaaa. Ok. Bye."


Ditutupnya sambungan telepon antara dirinya dengan Bobby, sahabatnya.


"Lebih baik aku mandi, biar fresh nih otak." Gumam gadis itu pada dirinya sendiri.


***