My Boyfriend Is A CEO

My Boyfriend Is A CEO
Perputaran Staf Divisi



"Mba Amelia!"


"Eh, Mas siapa yah, maaf aku lupa."


"Saya Bima, Mba."


"Eh iya, Mas Bima. Padahal tadi di aplikasi ada namanya." Katanya terkekeh.


Amelia baru saja memesan ojek online untuk mengantarnya menuju PT GeHa. Hari ini adalah hari pertama Amelia berstatus sebagai karyawan kantoran.


Sedari pagi, ia sudah mulai beraktifitas seperti biasa sebelum berangkat keluar rumah. Dari merapikan rumah, yang sebetulnya tidak ada yang perlu dirapikan, karena memang kondisi rumah itu memang selalu rapi dan bersih. Mencuci baju, hingga memasak untuk sarapan dan juga bekal makan siangnya nanti di kantor.


Di saat semuanya rapi menurut penglihatan gadis itu. Barulah ia menyegerakan dirinya berganti pakaian, dari pakaian daster rumahan berganti pakaian kerja ala-ala wanita karir pada umumnya.


Satu set pakaian kerja, blouse hitam tanpa lengan, di padu dengan blazer dan rok selutut berwana abu-abu terang di tambah aksesoris kalung dari batu-batu permata palsu yang cantik. Tak ketinggalan sepatu scelito berwarna hitam menambah plus penampilannya hari ini.


"Ada interview di mana lagi kali ini, Mba Amel?" Tanya Bimo saat motor mulai membelah jalan raya ibukota.


"Bukan interview kok, Mas Bima. Tapi hari ini adalah hari pertama saya bekerja." Jawab Amelia.


"Oh gitu. Wah, selamat yah, Mba. Semoga betah yah kerjanya. Kalo nanti ada info lowongan di tempat kerja Mba Amel, kasih tahu saya yah?" Sahut Bima antusias.


"Ok deh. Nanti saya kabari. Tapi saya nggak janji yah, Mas Bima."


"Iya, Mba. Nyantai aja.


Tidak sampai satu jam, mereka sudah sampai tujuan.


Amelia menyodorkan ongkos tarif ojek.


" Kembaliannya, Mba."


"Nggak usah, buat Mas Bima aja."


"Eh nggak usah, Mba Amel. Yang tempo lalu kembaliannya sudah nggak diambil, masa sekarang nggak diambil lagi."


"Nggak apa-apa, Mas. Anggap saja itu uang tip dari saya. Kaya pelanggan lain kalo ada yang kasih tip, Mas Bima pasti terima kan?" Ujar Amelia.


"Iya sih, Mba. Tapi..."


"Udah, nggak usah ada tapi-tapi. Ambil aja yah." Paksa gadis itu.


"Ya udah. Makasih yah, Mba Amelia."


"Iya, sama-sama. Saya masuk dulu yah, Mas Bima."


"Oh iya, Mba. Semoga sukses dengan pekerjaannya."


"Makasih loh."


"Oh iya, maaf. Boleh save nomor saya, Mba. Seperti tadi saya bilang, barangkali nanti ada lowongan, Mba Amelia bisa hubungi saya."


"Oh iya. Ini, Mas Bima simpan nomornya di kontak HP saya." Katanya sembari memberikan HP nya pada Bima.


Pria itu mengutak-atik layar ponsel milik Amelia.


"Ini, Mba Amelia. Sudah saya save nomornya. Sudah saya missed call juga. Biar saya bisa save nomor Mba Amelia juga di HP saya." Katanya sembari menyerahkan kembali HP Amelia.


"Oh gitu. Ok deh. Sekali lagi, makasih yah, Mas Bima. Maaf, saya sudah harus masuk." Katanya sembari melangkahkan kaki ke dalam lobi kantor setelah mendapat anggukan dari Bima.


Langkah kaki itu terhenti saat berpapasan dengan satpam yang dengan sigap memberi sapaan kepada setiap karyawan yang baru datang.


Amelia melangkah menuju bagian resepsionis. Ia hendak bertanya perihal penerimaan dirinya di perusahaan itu.


"Selamat pagi, Mba. Ada yang bisa kami bantu?" Sapa salah satu dari dua karyawan bagian meja depan.


"Selamat pagi juga, Mba. Maaf, hari ini saya ada panggilan bekerja di PT GeHa. Dan saya disuruh menemui manajer personalianya."


"Oh iya. Pelamar dari PT EsKa yah?" Tanya Mba-nya, yang bernama Danur.


"Betul, Mba. Saya pelamar dari PT EsKa."


"Maaf dengan Mba siapa?"


"Amelia Sarawijaya, Mba.


"Oh iya, silakan Mba Amelia tunggu dulu di sofa lobi, bersama dengan dua pelamar lainnya yang sudah ada di sana."


"Baik, terimakasih." Jawab Amelia.


Amelia melangkahkan kakinya ke arah yang ditunjuk oleh pegawai resepsionis. Sudah ada dua orang wanita yang duduk di sebuah sofa besar di tengah lobi.


"Hai, selamat pagi." Sapa Amelia sopan dengan senyum menghiasi wajahnya.


"Pagi...!" Sahut kedua wanita itu bebarengan.


"Salam kenal, aku Amelia."


"Dira."


"Sofi."


"Udah datang dari tadi yah?" Tanya Amelia.


"Nggak kok, kita juga baru nyampe." Jawab salah satu perempuan bernama Dira.


"Iya." Jawab mereka kompak.


"Kamu juga?" Sofi bertanya.


"Iya." Seru Amelia.


"Eh, tapi kok selama panggilan tes kita belum pernah ketemu yah?" Tanya gadis itu terheran.


"Mungkin kita beda waktu."


"Oh iya, bisa juga."


"Permisi, kalian bertiga bisa ikut saya?" Sahut pegawai resepsionis bernama Tita.


Amelia dan kedua perempuan lainnya, mengikuti Tita menuju sebuah ruangan cukup besar yang berada di lantai tiga.


"Mba Tanti, mereka calon karyawan, yang tadi saya bilang ada jadwal bertemu dengan Pak Rudi hari ini."


"Oh iya. Makasih yah, Tita."


"Sama-sama, Mba."


"Mari ikuti saya! Saya Tanti, sekertaris dari Pak Rudi, manajer personalia PT GeHa." Ujar wanita berusia sekitar tiga puluh tahu bernama Tanti, dengan penampilan yang terlihat dewasa.


Setelah mendapat jawaban dari sang empu ruangan, yang sebelumnya sudah meminta ijin, Tanti melangkahkan kakinya memasuki ruangan dengan sebuah papan bertuliskan HRD Manager di daun pintunya.


"Permisi Pak, mereka calon karyawan yang hari ini dijadwalkan untuk bertemu bapak."


"Oh iya, terimakasih Tanti."


"Sama-sama, Pak. Kalau begitu saya permisi."


"Iya, silakan."


"Kalian bertiga bisa duduk dulu di sana?" Sambil menunjuk sofa panjang dan sebuah meja di depannya.


Ketiganya pun duduk sesuai perintah sang manajer.


"Tunggu sebentar yah, saya selesaikan pekerjaan saya dulu." Ujarnya ramah.


"Baik, Pak." Ketiganya kompak.


***


Di ruangan terpisah, nampak dua orang pria sedang membahas urusan perusahaan.


"Hari ini jam sepuluh meeting dengan PT Buana, mereka meminta ganti lokasi pertemuan, Pak." Ucap Juna.


"Di mana?" Tanya Dirga.


"Restoran LeFrance." Sahut Juna.


"Baiklah. Kita masih punya waktu beberapa menit." Ucap Dirga.


"Lantas bagaimana dengan penempatan Amelia?"


"Tok.. Tok.. Tok.."


Belum terjawab pertanyaan Dirga oleh Juna, terdengar ketukan di pintu. Sang asisten berjalan ke arah asal suara.


"Pak Dirga, Ibu Susi menghadap."


"Selamat pagi, Pak Dirga. Apa ada hal yang bapak butuhkan dari saya?" Sapa Susi dan menanyakan maksud dari pemanggilannya.


"Silakan duduk, Bu Susi."


"Juna, tolong kamu jelaskan perihal laporan dari divisi keuangan kemarin."


Juna mengangguk.


"Begini Bu Susi, menurut hasil laporan bulanan dari divisi keuangan yang sudah kami periksa, laporan yang telah dibuat oleh staf keuangan, anak buah Ibu, terdapat banyak kesalahan di beberapa laporan."


"Banyak laporan perusahaan tidak sesuai antara pendapatan dan pembelanjaan." Tutur Juna menjelaskan.


"Apa Ibu Susi tidak periksa dahulu, sebelum memberikan laporan itu kepada saya?" Kali ini Dirga bertanya.


"Saya minta maaf sebelumnya, Pak. Apapun alasan yang akan saya berikan sekarang tetaplah salah, karena saya adalah manajernya dan yang bertanggung jawab atas kesalahan para staf saya."


"Memang benar saya belum memeriksanya, Pak Dirga. Karena satu minggu kemarin saya sedang cuti, dan semua pekerjaan telah saya serahkan kepada sekertaris saya Mirna. Namun takdir Tuhan juga, Mirna tiba-tiba jatuh sakit, tubuhnya ngedrop saat sedang bekerja akibat kelelahan. Sehingga, pada waktunya laporan harus dikumpulkan segera, Mirna, terutama saya belum sempat memeriksanya kembali."


"Oleh karena itu, saya meminta maaf sama Bapak atas kelalaian para staf saya dalam bekerja." Ujarnya lugas, sedikit ada nada penyesalan di dalamnya, manakala kredibilitasnya sebagai seorang manajer keuangan, sedang dipertaruhkan saat ini.


"Sayangnya, kesalahan pembuatan laporan kemarin bukanlah yang pertama kalinya, Bu Susi. Ini sudah terhitung dua kali berturut-turut sejak dua bulan yang lalu." Lanjut Dirga lagi.


Susi nampak semakin menundukkan wajahnya, tamatlah riwayat karirnya saat ini, begitu pikiran yang ada di dalam otaknya.


"Begini Bu Susi." Sahut Juna.


"Pak Dirga meminta pergantian staf keuangan yang sudah sering melakukan kesalahan dalam bekerja di divisi keuangan dengan pegawai lain."


Susi nampak menengadahkan wajahnya, menatap Juna. "Apakah karirku masih bisa selamat?" Susi.


***