
Di dalam ruang tamu sudah ada ayah dan bunda Amelia. Arga --adik Amelia-- memilih diam di kamar, mengerjakan tugas sekolah.
"Saya seperti pernah melihat kamu sebelumnya, Nak," ucap ayah Amelia, ketika Dirga dan Amelia telah duduk.
"Masa sih, Yah?" sahut bunda.
Dirga hanya tersenyum. Tak ingin lebih jauh membuat orang tua kekasihnya penasaran, ia segera menceritakan siapa dirinya.
"Perkenalkan Om dan Tante, saya Dirga Narendra. Saya bekerja di perusahaan bidang makanan, PT. GeHa, tempat yang sama dimana Amelia bekerja." Dirga memperkenalkan dirinya.
"Tunggu, kamu bukan bekerja di sana. Tapi kamu adalah pemilik PT GeHa, benar bukan?" Ayah Amelia bertanya setelah sebelumnya ia nampak terkejut saat Dirga menyebutkan nama keluarganya.
Dirga tersenyum. "Benar, Om. Saya adalah pemilik dari PT GeHa."
"Oh Tuhan," seru bunda dengan telapak tangan menutup mulut.
"Bunda kenapa?" tanya Amelia sedikit khawatir.
Bunda menggeleng. Ia merasa takjub dengan kenyataan di depannya itu.
"Lantas kamu ini datang berkunjung ke kediaman Amelia yang sederhana ini, sebagai apa, Nak Dirga?" tanya ayah dengan suara yang lembut.
"Maaf, Om dan Tante," ucap Dirga dengan berdiri dan sedikit membungkukkan tubuhnya.
"Saya datang ke mari dan bertemu dengan kalian berdua, adalah semata-mata ingin memperkenalkan diri saya yaitu sebagai kekasih dari putri Om dan Tante yang cantik ini." Lugas dan tegas Dirga berkata sembari sedikit memuji gadis cantik yang duduk di sampingnya.
"Jadi anak ayah sekarang sudah memiliki kekasih?" tanya ayah Amelia pada putrinya yang saat ini nampak tersenyum malu.
"Benarkah kamu kekasih Amelia? apakah ini bukan kehalu-an dari putri bunda?"
"Ih, bunda apa sih?" sahut Amelia cemberut.
Dirga yang melihat raut wajah kekasihnya itu hanya tersenyum. Bunda dan ayah yang melihat itu pun tak luput menertawakan sikap Amelia.
"Bukan kesalahan Amelia sehingga kami menjalin hubungan ini, tapi saya yang sedikit memaksa. Saya yang halu karena terpesona oleh kecantikan putri kalian."
Amelia yang mendengar penuturan dari Dirga, tak ayal langsung menutup wajahnya yang entah mengapa tiba-tiba memanas.
"Wah, benarkah? kamu melihat dari mana, Nak Dirga, kalau putri ayah ini cantik?"
"Ayah?" seru Amelia merajuk.
Semua yang ada di ruang tamu tertawa karena asik menggoda Amelia.
Amelia bahagia karena kekasihnya itu bisa diterima dengan sangat baik oleh ayah dan bunda.
"Hai, apa aku ketinggalan obrolan?" suara Arga tiba-tiba mengagetkan semua orang yang ada di sana.
"Ah, Arga, sini. Kenalkan ini Mas Dirga, teman spesial kakakmu." Bunda memperkenalkan Arga pada Dirga.
"Hai, saya Dirga."
"Arga." Keduanya saling berjabat tangan.
"Nak Dirga, Arga ini adik satu-satunya Amelia." Ayah memberitahu Dirga siapa Arga.
"Iya, Om. Saya sudah tahu. Amelia sudah menceritakan semua anggota keluarganya kepada saya."
"Begitukah?" sahut bunda.
"Kalian sepertinya sudah sangat dekat sekali." Kini ayah yang berbicara.
"Tidak kok, Yah. Kami berdua belum kenal lama." Amelia menjelaskan.
"Benarkah, Nak Dirga?" tanya ayah.
"Iya, Om. Kami baru kenal sekitar dua atau tiga bulan yang lalu."
"Lalu, apa yang bikin Mas Dirga mau sama Kak Amelia? Mas Dirga 'kan tampan, tajir lagi. Bisa dapetin perempuan yang lebih cantik dari Kak Amelia." Arga tak mau kalah. Ia cukup penasaran mengapa Sang kakak bisa memiliki kekasih seorang pemimpin perusahaan.
"Hei, Arga. Apa maksud kamu kakak ini jelek?" Amelia mulai lagi.
"Aku tidak bilang begitu. Aku cuma bilang kalo Mas Dirga bisa dapet perempuan yang lebih cantik dari kakak, begitu. Mana ada aku bilang kakak jelek."
"Sama aja," sungut Amelia nampak kesal.
Dirga hanya tersenyum saja melihat pemandangan di depanya itu.
"Saya sudah jatuh cinta pada pandangan pertama sama kakakmu ini, Arga."
"So sweet," sahut Arga.
***