My Boyfriend Is A CEO

My Boyfriend Is A CEO
Kenapa Kamu Ada Dimana-mana?



Anya memang termasuk anak orang kaya. Orang tuanya memiliki perusahan furniture yang sedang berkembang. Gadis keturunan yang meski terlahir dari keluarga berada, tapi tidak membuatnya menjadi pribadi yang sombong.


Sejak kuliah semester akhir, memang mulai terlihat kedekatan antara Anya dan Oka. Namun keduanya tidak ada yang menyatakan perasaan mereka yang sebenarnya. Entahlah karena apa.


Hingga kini mereka telah menyelesaikan kuliahnya. Hubungan itu masih betah di posisi pertemanan.


"Menurut kamu Bob, si Oka kenapa yah gak pernah nyatain perasaannya sama si Anya?" tanyaku pada Boby, saat bersiap hendak meninggalkan cafe.


Kami masih berdiri di area parkiran. Baru saja melepas kepulangan Oka yang membonceng Anya dengan motor sport nya.


"Ehm.... Mungkin.. Ini sih pemikiran aku aja yah, Mel."


Tampak berpikir sejenak.


Amelia terlihat mengangguk.


"Gini, Oka emang pernah cerita sama aku kalo dia ada rasa sama si Anya. Tapi alasan kenapa sampai sekarang dia gak ngungkapin, dia emang gak cerita."


"Cuma menurut pandanganku, Oka minder sama Anya, Mel," lanjut Boby kemudian.


"Minder? Minder kenapa?" tanya Amelia tak mengerti.


"Ya ampun Mel, kamu tuh emang polos apa b**** sih."


"Boby...!"


"Iya iya sorry...! Abis kamu ngegemesin sih," katanya sambil mencubit pipi kiri gadis itu.


Boby tak menyadari ada sosok lelaki lain yang sedang berdiri tidak jauh dari sana sedang mengamati keakraban mereka dengan hati yang sudah mulai bergejolak.


"Aduh Boby, sakit tahu," kata Amelia cemberut.


"Hehehhe... Sorry," katanya malah tertawa.


"Jadi si Oka itu minder kenapa, Bob?" tanya gadis itu masih penasaran.


"Amelia... Kamu kan tahu kalo si Anya itu anak orang kaya."


"Iya, aku tahu. Trus apa hubungannya?"


Aduh ini bocah yah. Harus ekstra sabar nih jelasinnya. Boby.


Pelan-pelan, Bob. Author.


"Aku rasa si Oka itu minder sama si Anya yang anak orang kaya itu. Dia ngerasa gak pantes kalo nyatain perasaan cinta sama Anya. Pikirnya apa yang bisa Ia banggakan buat ngedeketin si Anya. Oka bukan berasal dari orang kaya, dia sama kaya kita, kalangan orang biasa aja. Ditambah sekarang juga seorang pengangguran. Jadi dia gak mau terburu-buru ikutin hawa nafsu nya demi bisa dapetin si Anya."


"Aku rasa, Oka ingin menjadi seseorang yang bisa di banggakan. Kalaupun silsilah keluarganya tidak bisa ia banggakan, tapi minimal ia memiliki usaha atau pekerjaan yang mapan. Sehingga ia tidak malu jika harus mendekati Anya apalagi sampe bertemu dengan keluarganya," jelasnya panjang lebar.


Amelia terlihat berpikir sejenak.


"Tapi kayanya gak masalah buat Anya. Aku lihat sepertinya dia punya perasaan yang sama ke Oka."


"Amelia... Buat Anya mungkin gak masalah, tapi buat seorang pria kaya Oka dan aku juga, ini adalah suatu masalah."


"Kenapa gitu?"


"Ya iya lah... Usia kita ini udah gak ada lagi pikiran untuk main-main dengan perasaan. Kita udah harus mikir jauh ke depan."


"Gak ada lagi yang namanya cinta monyet atau cinta ABG. Kita udah dewasa. Perasaan yang kita punya juga udah seharusnya kita barengi dengan keadaan kehidupan kita."


Gadis itu terlihat mengangguk pelan. Mencerna kalimat-kalimat dari sahabat nya itu.


"Segitu peliknya kah pemikiran seorang pria?" Tanya nya pada diri sendiri.


"Gak pria aja kok, Mel. Perempuan juga."


"Maksudnya?"


"Gini deh Mel, pertanyaan aku mudah banget, mirip kaya situasi Oka sama Anya sekarang."


Gadis itu masih mengamati dengan seksama.


"Apa yang akan kamu lakukan kalau ada seorang pria dari kalangan keluarga kaya raya yang jatuh cinta sama kamu?" tanya Boby dan langsung mendapat tatapan penuh arti dari gadis itu.


Hening sejenak. Sampai suara seseorang memanggil salah satu dari mereka.


"Amelia.....!"


Seketika kedua manusia berbeda jenis kelamin itu menoleh ke arah sumber suara.


"Pak Dirga!"


"Dirga!"


Amelia dan Boby saling melirik.


Kok orang itu bisa ada di sini? Boby.


Aku gak tahu. Amelia.


Amelia terpaku saat sosok itu berjalan menghampirinya dengan langkah yang penuh karisma.


Ya Tuhan, ini orang gak pernah kelihatan jelek apa yah. Kayanya setiap aku ketemu dia, wajahnya gak pernah berubah, selalu tampan. Ups!


Dan ini juga, kenapa jantungku selalu terkoneksi kalau ada dia di dekat aku kaya gini.


Amelia seolah terhipnotis dengan penampilan Dirga saat ini. Padahal ia sudah pernah melihat pria itu dengan penampilan yang sama.


Entahlah mengapa bisa demikian.


Ataukah mungkin karena pria itu berjalan dengan mata yang terus menatap ke arahnya, walau ada Boby di sebelahnya saat ini.


Gadis itu tidak menyadari, Boby berkali-kali menatapnya dengan wajah tersenyum.


Aku rasa sahabatku ini lagi jatuh cinta nih. Boby.


"Hai Amelia. Kita berjumpa lagi," sapanya setelah berdiri tepat di depan gadis itu.


"Hai!" balas Amelia.


"Hallo, saya Dirga," kata pria itu menoleh Boby, serta mengulurkan tangan kanannya.


"Hallo, Pak Dirga. Saya Boby. Temennya Amelia," jawab Boby serta menyambut uluran tangan Dirga padanya.


Dirga datang bersama Juna asistennya.


"Hai, Mas Juna," sapa Boby pada Juna.


"Hai!" jawab pria itu sambil mengangkat telapak tangannya.


"Anda sedang apa di sini?" tanya Amelia setelah sadar dari lamunannya.


"Saya baru pulang dari kantor, asisten saya tiba-tiba minta berhenti karena ingin membeli sesuatu di mini market sebelah. Pas aku lihat dari kaca mobil, ternyata saya lihat kamu keluar dari dalam cafe."


Apa? Wah, anda sungguh pandai sekali berbohong Bos kalau berurusan dengan gadis ini. Juna


Diam kamu, Juna. Dirga


Menatap asistennya dengan tatapan penuh arti, seolah ia mengerti kalau anak buahnya itu baru saja membicarakannya.


Juna tersenyum menatap Amelia, saat gadis itu melirik nya.


"Apa kamu sudah mau pulang?" tanya pria itu.


"Ah. Euh.. Iya. Kami sudah mau pulang," gadis itu terbata.


"Apa boleh saya mengantarmu pulang?" Dirga bertanya pada gadis itu, namun tatapannya malah ke arah Boby.


Yang di tatap terkejut namun seolah mengerti apa maksud dari tatapan pria di hadapannya ini.


"Ah, tidak perlu. Saya akan pulang dengan teman saya saja. Terimakasih atas tawarannya."


Amelia mencoba menolak.


"Benarkah begitu Mas Boby?" katanya lagi menatap Boby.


"Ah... Euh.. Tadinya begitu."


"Bob, apa maksud kamu tadinya?" Amelia menatap tak percaya dengan kata-kata dari sahabatnya itu.


"Mel, aku lupa. Aku harus ketemu sama senior aku dulu buat ambil sesuatu."


"Senior kamu yang mana? Dan ambil sesuatu apa?"


"Senior aku di tempat kerja aku lah, Mel. Aku mesti ambil laporan yang harus aku pelajari buat besok."


"Kok tadi kamu gak bilang, kenapa ngedadak gini," sahut Amelia sedikit sewot.


"Sory lupa, aku keasikan ngobrol tadi. Lagian senior aku juga baru ngabarin pas kamu pamit ke toilet tadi," jawab Boby sambil terkekeh.


Amelia masih menampilkan wajah kesalnya. Ia tak terima dengan jawaban sahabatnya itu.


"Bagaimana Amelia?" tanya Dirga lagi.


"Euh.. Maaf sekali lagi. Anda tidak perlu repot. Saya bisa naik taksi online."


"Saya tidak merasa di repotkan."


"Udah Mel, kamu bareng sama Pak Dirga aja. Lebih safety juga. Udah malam soalnya."


Boby berusaha merayu.


Dirga nampak tersenyum tipis.


Sialan kamu Bob. Aku tahu kamu bohong. Awas aja nanti. Amelia.


Sorry, Mel. Maafkan sahabatmu ini yah, hehehe... Boby.


***