
Sekitar pukul sepuluh malam, keduanya sampai rumah kontrakan Amelia. Suasana komplek perumahan sudah terlihat sepi karena para penghuni rumah yang baru pulang weekend telah berada di dalam rumah masing-masing. Beristirahat, menabung tenaga untuk kembali beraktifitas esok hari.
Dirga mengantar Amelia hingga ke dalam rumah.
"Kamu hati-hati yah, selama aku lagi di luar kota," ucap Dirga ketika mereka sudah duduk di sofa ruang tamu.
Amelia yang duduk di pangkuan Dirga hanya mengangguk. Mereka berdua benar-benar terlihat seperti pasangan muda yang sedang dilanda cinta. Awalnya gadis itu duduk berdampingan, namun Sang kekasih menariknya agar duduk di atas pangkuannya.
"Jangan macem-macem yah kalo aku nggak ada? biar nanti aku suruh Bobby untuk temenin kamu," ucap pria itu lagi sembari menggenggam tangan gadisnya dengan sesekali menciumnya.
"Kamu jangan berlebihan, Dirga. Kamu ini 'kan cuma pergi dua hari aja," jawab Amelia.
Dirga kemudian memutar tubuh kekasihnya agar menghadap padanya.
"Aku selalu khawatir jika tidak ada di dekat kamu, Sayang."
"Dirga ... selama ini juga 'kan kita nggak tiap hari ketemu. Anggap aja seperti itu," sahut Amelia.
"Ya .... Kamu memang benar, tapi posisi aku itu masih di dekat kamu. Kalo ini 'kan aku nggak di sini," tuturnya dengan tangan yang terangkat membelai wajah Sang kekasih.
Amelia terbuai saat tangan Dirga, mulai menjelajah wajahnya. Dari rambut, mata hingga pipinya, tak luput terjamah oleh tangan Sang kekasih.
Lama kelamaan tangan itu semakin intens mengusap bibir pink milik Amelia.
"Apa kamu ikut saja bersamaku?"
Amelia menggeleng. "Aku nggak mau."
"Kenapa?"
"Aku kerja. Dan kamu harus tahu, aku ini karyawan baru, masa baru kerja udah bolos."
"Kamu itu pergi bersamaku, Amelia. Kamu itu langsung mendapat ijin dariku."
"Tapi orang tidak tahu kalo aku itu pergi denganmu."
"Ah! Kamu itu menyebalkan, Sayang. Sudahlah kita akhiri saja hubungan kucing-kucingan kita ini."
"No!"
"Kenapa, hem?" tanya Dirga dengan mencubit gemas pipi Amelia.
"Aw, sakit."
"Benarkah?" ucap Dirga sedikit khawatir.
"Nggak kok, becanda," ucap Amelia terkekeh.
"Kamu 'tuh." Dirga kembali mencubit pipi Amelia.
"Dirga, kita 'kan udah sepakat untuk menutupi hubungan kita ini sampai aku benar-benar siap."
"Iya aku tahu, cuma sampai kapan? Toh, aku tidak masalah jika hubungan kita ini diketahui oleh para karyawanku."
"Aku yang masih bermasalah."
"Ah! selalu seperti itu." Dirga sudah tidak semangat untuk berdebat ataupun membujuk kekasihnya itu.
"Hei, kamu mau apa?" seru Amelia yang melihat Dirga yang sudah menangkupkan tangannya di pipi kanan dan kiri.
"Bicara denganmu itu tidak ada habisnya, selalu omongan dariku itu kamu balas."
Amelia tersipu.
"Tapi ada yang bisa membuatmu terdiam."
"Apa?" tanya Amelia tergugup karena wajah Dirga sudah semakin dengan dengannya.
Amelia mengangguk.
"Kamu yakin?" bisik Dirga di dekat telinga Amelia.
"Ya," jawab Amelia perlahan memejamkan matanya.
Mata yang terpejam dengan bibir tipis berwarna pink yang sedikit terbuka, ditambah pipi yang nampak terlihat merona akibat menahan malu adalah sebuah pemandangan indah yang Dirga lihat di wajah kekasihnya.
Dengan hasrat kelelakiannya yang mulai menggebu, ditempelkan bibir miliknya dengan bibir menggoda milik Amelia.
Dengan gerakan pelan, sangat pelan, Dirga menciptakan irama intim diantara keduanya. Tubuh yang semakin menempel satu sama lain akibat tekanan yang Dirga lakukan pada Amelia, membuat kekasihnya semakin jatuh terperosok ke dalam buaian yang Dirga lakukan.
Ditekannya tengkuk Amelia agar tautan bibir itu terasa semakin nikmat bagi keduanya. Dirga yang benar-benar tidak berpengalaman, bisa berubah liar seratus delapan puluh derajat semenjak menyentuh Amelia pertama kali.
Amelia semakin meleleh ketika menyadari hasrat Dirga yang semakin tak terbendung.
Tautan yang dilakukan oleh keduanya berlangsung lama. Pasokan oksigen yang seolah tidak habis dari keduanya, membuat hasrat Dirga dan Amelia semakin membumbung tinggi.
"Ah, Dirga," lirih Amelia ketika akhirnya tautan itu terlepas.
Dirga masih menyatukan keningnya dengan kening Amelia. Kedua nafas dari keduanya masih memburu.
"Kamu selalu membuatku ingin melakukan lebih daripada ini, Sayang."
Amelia terdiam dan hanya tersenyum. Dirga kembali mengecup bibir Amelia singkat.
"Sudah malam, aku pulang yah?" ucap Dirga.
"Hem."
Dirga merengkuh Amelia ke dalam pelukannya kembali. Gadis itu menurut. Bahasa tubuhnya hanya mengikuti apa yang kekasihnya itu lakukan kepadanya. Diusapnya punggung Amelia dengan gerakan yang sangat lembut.
"Aku pasti akan kangen kamu." Dirga berkata masih dengan posisi memeluk.
"Aku juga," jawab Amelia.
"Benarkah?" tanya Dirga memastikan dengan menarik tubuh Amelia dan memandanginya.
"Iya, apa kamu tidak percaya sama aku?"
"Bukan tidak percaya, aku hanya meragukan ucapanmu saja. Karena selama ini kamu tidak pernah menyatakan perasaan kamu padaku."
"Iya, itu nggak percaya namanya. Lagian kata siapa aku nggak pernah nyatain perasan aku sama kamu? pernah kok."
"Kapan?"
"Waktu mati listrik di rumah aku tempo hari lalu."
"Memang kamu bilang apa?"
"Aku 'kan bilang sama kamu, kalo aku mencintai kamu, sangat mencintai kamu," ucap Amelia tanpa sadar, bahwa sebetulnya ia sedang dikerjai oleh Dirga.
Dirha hanya tersenyum bahkan terlihat akan tertawa.
"Ah ... kamu iseng yah?" ucap Amelia sembari memukul-mukul dada bidang milik Dirga.
"Hahaha ... Kamu lucu banget deh." Dirga sukses mengerjai Amelia.
"Ih ... jahat!" Masih memukuli kekasihnya itu.
"Iya, iya. Ok, maaf." Tawa di bibir Dirga masih nampak nyata terlihat.
Tangan Amelia yang masih memukuli dadanya, segera ia tangkap kemudian tanpa meminta ijin ataupun aba-aba sebelumnya, kembali Dirga melayangkan aksi yang membuat Amelia terkaget.
***