
"Dirga, aku mohon kamu lepaskan tanganku."
"Kenapa? Kenapa kamu melarangku memegang tanganmu?"
"Bukan begitu, aku hanya tidak ingin jadi topik pembicaraan para karyawan di perusahaan."
"Apa yang kamu khawatirkan, jika aku adalah atasan mereka."
"Dirga, kamu sudah berjanji padaku akan menghargai juga menghormatiku selama kita berada di kantor bukan, apa kamu sudah lupa?"
"Aku tidak lupa, Amelia. Tapi itu saat kamu belum menjadi kekasihku. Tapi sekarang? Sudah lain lagi ceritanya."
"Dirga, semua sama saja bagiku. Bila kamu masih ingin aku menjadi kekasihmu, aku mohon kamu turuti keinginanku itu."
Perdebatan itu berlangsung dari saat mereka keluar ruangan Dirga, sampai mereka berada di dalam lift untuk membawa mereka ke lobby.
"Apa kamu mengancamku, Amelia?"
"Aku tidak mengancam kamu, Dirga. Aku hanya ingin kamu menghormati keinginanku selama di kantor saja. Tapi bila kamu menganggap itu sebuah ancaman, ya terserah padamu."
"Baiklah. Lalu apa kompensasi yang akan kamu berikan, jika aku mengikuti kemauanmu?"
"Apa? Kenapa kamu selalu begitu, membalas kemauanku dengan kemauanmu yang lain."
Amelia terlihat kesal dengan ucapan Dirga. Ia tak menyangka bahwa pria itu menginginkan balasan dari permintaannya.
"Aku tidak mau memberikanmu kompensasi apapun."
"Baiklah. Kalau begitu, akupun tidak mau menuruti keinginanmu itu."
"Oh Tuhan! Dirga, please..."
"Apa?"
"Alasan apalagi yang harus aku ungkapkan padamu. Bahwa aku tidak ingin seluruh karyawan di perusahaan tahu bahwa kita, ehm..."
"Bahwa kita apa? Kenapa kamu tidak meneruskan kalimatmu?"
"Ah, kamu tahu maksud dari perkataanku, Dirga."
"Tidak."
"Kamu memang pandai memancing keadaan."
"Kalau aku tidak pandai, tidak mungkin ayahku menyerahkan tampuk pimpinan kepadaku."
"Oh, apa saat ini kamu ingin pamer padaku?"
"Tidak. Siapa yang pamer. Tanpa aku pamer pun, kamu sudah tahu semuanya, iya kan?"
"Tahu apa?"
"Tahu bahwa siapa aku sebenarnya."
"Ya tentu saja aku tahu. Makanya aku meminta padamu untuk menghormati keinginanku agar aku tidak menjadi bahan bullyian para karyawan yang mengidolakanmu."
"Ah, apa saat ini kamu cemburu?"
"Ya ampun, Dirga. Apa kamu tidak tahu konteks pembahasan kita saat ini."
"Aku tahu."
"Kalau kamu tahu, kenapa pembahasanmu jadi melenceng, cemburu segala lah dibawa-bawa," ujar Amelia yang nampak semakin kesal.
"Amelia, kamu sungguh menggemaskan."
"Jangan merayuku. Tidak akan mempan sekarang."
"Oh, apakah kekasihku sedang merajuk?"
"Ting"
Lift berhenti di lantai satu. Dirga masih setia menggenggam tangan Amelia. Untungnya sepanjang perjalanan turun mereka dari lantai atas hingga ke lantai bawah, tempat mereka berdiri saat ini, sudah tidak ada karyawan yang bekerja ataupun wara wiri di lorong atau koridor kantor.
"Dirga, aku mohon padamu sekali lagi. Tolong lepaskan tanganku." Gadis itu masih berusaha memohon dengan wajah memelasnya.
"Aku sudah katakan, aku tidak akan mengikuti keinginanmu kalau tidak kamu berikan kompensasi atas kemauanmu yang aku turuti."
"Oh, baiklah. Aku menyerah. Katakan saja apa kompensasi yang kamu inginkan. Aku akan menurutinya."
"Apapun?"
"Ya, apapun yang kamu mau, aku akan berusaha mengikutinya."
"Baiklah. Kita sepakat."
"Ya sudah, sekarang lepaskan tanganmu. Sebentar lagi kita akan sampai lobby. Di sana pasti masih ada beberapa karyawan yang belum pulang. Kalau kamu masih tidak melepaskan genggaman ini, tamatlah riwayatku."
Dirga tergelak. Ia merasa terhibur dengan ketakutan yang Amelia rasakan. Baginya, pemandangannya kali ini membuatnya senang dan bahagia.
Nampak Juna yang berdiri tak jauh dari pintu masuk kantor.
Saat mereka melewati meja depan, benar saja, masih ada dua petugas resepsionis yang masih bertugas.
Ketika Dirga melewati mereka, dengan sigap, keduanya membungkuk hormat pada sang CEO. Namun saat melihat Amelia, sedikit rasa penasaran dalam diri mereka. Mengapa Dirga berjalan bersama karyawan baru di perusahaan tempat mereka bekerja?
Keduanya saling berpandangan satu sama lain. Tapi tak ada yang berani bersuara.
Dua orang satpam masih stand by di depan pintu.
"Selamat malam, Pak," salah satu satpam menyapa Dirga.
"Selamat malam."
Satu yang lainnya sudah berdiri membukakan pintu mobil untuk Dirga. Sedangkan Juna sudah membukakan pintu untuk Amelia.
Setelah keduanya masuk, Juna ikut masuk duduk di bangku depan samping supir.
"Kita langsung pulang atau bagaimana, Pak."
"Kita ke cafe Delta dulu."
"Baik, Pak."
Mobil berjalan membelah jalanan yang terlihat padat, dikarenakan masa jam bubar kantor baru saja dimulai beberapa jam yang lalu.
***
"Pah, Dirga sudah setuju untuk bertemu kita besok," Cintya memberitahu sang ayah, Pak Dimas, perihal Dirga yang menyetujui untuk bertemu dengan mereka.
Saat itu Cintya sedang berbicara dengan Pak Dimas di ruang keluarga. Hanya ada mereka berdua. Tidak nampak sang mama, yang sepertinya masih sibuk di meja makan, mempersiapkan makan malam keluarga.
"Oh yah? Dimana tempatnya?" tanya Pak Dimas pada sang putri.
"Berhubung jadwal Dirga yang cukup padat, ia hanya memiliki waktu sebentar untuk bertemu dengan kita di kantornya."
"Tidak masalah bagi papa. Jam berapa Dirga bisa menemui kita?"
"Dia menunggu kita di kantornya sekitar pukul sebelas, satu jam sebelum masuk waktu makan siang."
"Sepertinya kita bisa ajak Dirga untuk makan siang bersama."
"Cintya baru saja akan memberikan ide seperti itu pada papa," ucapnya seraya tersenyum.
"Ah, apa jangan-jangan putri papa ini, memiliki rasa ketertarikan pada pemimpin PT GeHa?"
Cintya tidak menjawab. Ia hanya tersipu malu, manakala sang ayah mengetahui perasaannya.
"Putri mama sudah move on rupanya." Tiba-tiba Bu Siska datang dari ruangan lain.
"Ah, mama bisa saja." Cintya nampak malu mendapat godaan dari kedua orang tuanya.
"Apa kamu ingin papa melamarkannya juga untukmu?"
"Papa, itu tidak perlu. Aku mau jika Dirga menerimaku karena aku sendiri, bukan karena campur tangan orang lain, apalagi ada campur tangan papa di dalamnya."
"Baiklah. Papa akan menjadi penonton saja kali ini. Papa tidak akan ikut campur dengan masalah percintaanmu."
Pembahasan mengenai Dirga, membuat Cintya senang. Ia seolah mendapatkan restu dari kedua orang tuanya.
"Tapi sayang, apa Dirga belum memiliki kekasih?"
Pertanyaan dari sang mama, seketika membuat Cintya terdiam.
Ya, iya memang belum mengetahui, apakah Dirga seorang yang masih single atau memang sudah memiliki kekasih di hatinya.
"Sejauh yang Cintya tahu, dia masih sendiri, Ma."
"Ya, mudah-mudahan saja seperti itu. Mama dan papa tidak mau jika kejadian yang kamu alami dengan Marcel, kembali terulang," tutur sang mama pada putrinya.
"Iya, Mah," lirih suara Cintya.
Cintya pernah menjalin sebuah hubungan dengan seorang pria bernama Marcel, yang dikenalkan oleh papanya dengan anak rekan bisnisnya waktu itu.
Tanpa mengecek seluk beluk Marcel lebih jauh, Cintya menjalani hubungan percintaannya dengan pria itu selama hampir dua tahun.
Tapi saat hubungan itu akan melangkah ke arah yang lebih jauh, tiba-tiba keluarga Cintya mendapatkan kabar bahwa Marcel telah berselingkuh dengan wanita lain di belakangnya dan mengakibatkan sang wanita hamil lima bulan.
Semenjak itu, Cintya menutup pintu hatinya untuk para pria yang berusaha mendekatinya.
Karena rasa cintanya yang begitu dalam pada Marcel, ia hampir tak bisa move on dari lelaki itu.
Kini, setelah hampir satu tahun ia berpisah dengan Marcel, sedikit demi sedikit pintu hatinya yang terkunci, mulai terbuka.
"Bolehkah saat ini aku berharap, meski aku belum tahu kenyataannya?" Cintya.
***