My Boyfriend Is A CEO

My Boyfriend Is A CEO
Biarkan aku pingsan saja!



Di dalam lift khusus petinggi perusahaan, yang sudah pernah juga Amelia masuk di dalamnya, gadis itu nampak membisu. Tak ada percakapan diantara ketiganya, hanya genggaman tangan Dirga yang masih setia, berusaha menyalurkan rasa tenang dan damai. Meski tak berguna sama sekali bagi kekasihnya, yang sejak sebelum masuk ke dalam lift tadi, sudah kehilangan konsentrasi akibat tatapan karyawan yang sinis melihatnya.


Amelia hanya tersenyum saat Dirga mengecup tangannya sesekali. "Tak perlu takut atau khawatir, aku akan selalu melindungi kamu dimana pun kamu berada." Begitu yang Dirga katakan.


"Hem," jawab Amelia. Kalimat yang sejak semalam Dirga ucapkan, tak membuat dirinya tenang sama sekali.


Ting!


Lift berhenti di lantai empat dimana ruangan divisi keuangan berada. Dirga melangkah lebih dulu keluar dari lift, diikuti oleh Amelia dari belakang yang mau tidak mau mengikuti Dirga, karena tangan kanannya ditarik oleh sang kekasih.


Juna sendiri masih setia mendampingi bos-nya dari jarak dua meter di belakang. Gadis itu tahu, wajah yang ditunjukkan oleh Juna adalah ekspresi menahan tawa, akibat dirinya yang masih merasakan panik sebab kekasihnya yang memaksa ingin mengantar ke meja kerjanya.


"Aku mohon sampai sini saja!" pinta Amelia tiba-tiba berhenti, membuat kekasihnya itu ikut menghentikan langkahnya.


"Ruanganmu hanya tinggal dua meter lagi, apa bedanya aku mengantar kamu di sini atau di sana?" Dirga masih dengan keputusannya.


"Dirga, please ... !"


"No! Sudah, ayo jalan! Kamu akan terlambat nanti. Kinerja kerjamu akan menjadi buruk jika datang tidak tepat waktu."


Lemas sudah Amelia mengharapkan hal yang tak akan mungkin ia dapatkan. Tanpa ia ketahui, kekasihnya itu tersenyum. Dirga nampak senang bisa menjahili gadisnya.


Saat tiba di depan pintu ruangan yang terbuka, nampak beberapa karyawan yang telah hadir menengok tepat saat mereka datang dan berdiri di ambang pintu.


"Eh, selamat pagi Pak Dirga," sapa Mirna sekertaris manajer keuangan --Bu Susi. Posisi Mirna yang memang paling dekat dengan pintu, mau tidak mau berdiri menyapa sang atasan.


"Selamat pagi!" balas Dirga. Semua nampak tegang akan kedatangan pimpinan tertinggi perusahaan di ruangan mereka pagi-pagi sekali. "Ada apa ini?" Begitu pertanyaan di dalam masing-masing pikiran mereka.


"A-apa ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Mirna berinisiatif. Namun, tiba-tiba sang sekertaris terdiam demi melihat tangan bos-nya itu tengah menggenggam tangan seorang wanita yang berdiri di belakangnya.


Betapa kagetnya Mirna saat mengetahui jika wanita yang tangannya berada dalam genggaman Dirga, adalah Amelia, teman satu ruangannya.


"Eh, kamu Mirna sekertaris Bu Susi 'kan?"


"Eh, iya, Pak Dirga. Saya Mirna." Gadis itu masih belum bisa mengkondisikan dirinya. Ia terlampau terkejut atas pemandangan yang terpampang di depannya. "Apa Bapak membutuhkan bantuan?" tanya Mirna lagi karena masih tak kunjung mendapatkan jawaban.


"Tidak, ada, Mirna. Terimakasih. Aku tidak membutuhkan apa-apa di sini." Dirga berkata dengan senyuman manis di wajah.


"Lantas, apakah anda mau bertemu dengan Bu Susi?" tanya Mirna menggantung. Namun ia tersadar, jika ia terlalu ingin tahu mengenai urusan pimpinannya itu.


"Tidak, Mirna. Aku hanya mau mengantar kekasihku saja ke ruangannya." Seketika Mirna dan beberapa karyawan yang sudah berada di dalam ruangan itu menampakkan mimik muka terkejut.


Jangan ditanya bagaimana kabar gadis di belakang Dirga, ia serasa ingin pingsan saja saat Dirga membicarakan hal yang membuat orang terkena serangan jantung mendadak.


"Selamat pagi!" seru Mesi dan Sofi bebarengan saat hendak memasuki ruangan. Namun, langkah mereka terhenti saat mendapati pimpinan mereka berada di sana bersama seorang gadis yang mereka tahu adalah Amelia.


"E-eh, Pak Dirga, maaf. Selamat pagi!" sapa Mesi terbata.


"Selamat pagi. Kalian baru datang?" tanya Dirga dengan senyumannya yang tak pernah hilang.


"I-iya, Pak Dirga. Maaf, apakah kami datang terlambat?" tanya Mesi balik.


Mesi dan Sofi terbengong, wajah keduanya nampak seperti orang bodoh, manakala dapat bertatap muka langsung dengan bos mereka, bahkan bisa bercakap-cakap seperti itu.


"Baiklah, aku akan ke ruanganku. Nanti istirahat, aku tunggu kamu di sana!" Dirga berpamitan pada Amelia, yang sejak kedatangannya di ruangan keuangan, terus bersembunyi di balik punggung Dirga.


Amelia hanya sanggup mengangguk, tanpa berani mengucapkan satu kalimat pun. Juna yang memperhatikan sedari tadi, terus berusaha menahan senyuman demi melihat kekasih atasannya itu terkena serangan panik. Sedangkan si bos sendiri nampak terlihat menjadi sosok yang bucin karena gadis itu.


Kehebohan dan wajah-wajah bodoh para karyawan divisi keuangan belum mereda, karena adegan selanjutnya yang dapat mereka saksikan secara langsung adalah, kecupan yang diberikan oleh Dirga pada Amelia di keningnya.


"Oh Tuhan, sungguh aku ingin pingsan saja kali ini!" batin Amelia dalam hati.


Setelah melakukan aksi hebohnya, Dirga pergi meninggalkan ruangan tempat kekasihnya itu bekerja, untuk menuju ruangannya sendiri. Tentu saja, tak lupa ia meninggalkan sejuta pertanyaan bagi para karyawan yang sudah gatal ingin menginterogasi teman mereka --Amelia.


***


"Anda sungguh luar biasa pagi ini, Pak Dirga?" tanya Juna di tengah langkah kaki mereka menuju lantai sepuluh.


"Luar biasa bagaimana?" Dirga bertanya balik, seolah tak tahu apa yang dimaksud oleh sang asisten.


"Anda sudah membuat kehebohan pagi-pagi seperti tadi, aku yakin Mba Amelia bisa terkena serangan jantung kalau begini," ujar Juna dengan kekehan kecilnya.


"Sembarangan saja kamu bicara, Juna!" sahut Dirga pura-pura marah.


Namun Juna tak ada niat sama sekali untuk meminta maaf pada atasannya itu, yang ada ia malah seperti ingin tertawa lebar.


"Aku sengaja melakukannya sedari awal seperti tadi, agar tidak ada lagi beban di hati Amelia nantinya, selama ia masih bekerja di sini." Dirga berkata penuh ketegasan.


"Menurut saya tindakan Anda sangat tepat, Pak. Jika hubungan ini terlalu lama disembunyikan, mungkin belum tentu berakhir baik bagi Mba Amelia dan juga Anda sendiri, Pak Dirga."


"Ya, itulah yang saya pikirkan sejak kemarin, Juna." Keduanya telah sampai di dalam ruangan Dirga.


"Peristiwa kemarin, telah membuatku berpikir, jika aku harus menikahi Amelia secepatnya." Dirga menatap Juna di depan mejanya.


"Saya sangat mendukung Anda, Pak!"


***


Di ruangan divisi keuangan, saat ini tengah terjadi sebuah situasi yang cukup menegangkan bagi seorang gadis yang terduduk dengan wajah menunduk menatap lantai.


Bukannya memulai rutinitas bekerjanya, para karyawan yang didominasi oleh para wanita itu sedang fokus menatap teman kerjanya, yaitu Amelia.


"Apa yang saat ini ingin kalian tahu?" tanya gadis itu masih dengan wajah yang enggan menatap beberapa pasang mata yang tajam menatapnya. Ia sudah pasrah apapun yang akan terjadi.


Tak ada yang memulai untuk bersuara, hanya keheningan yang tercipta di dalam ruangan yang terbilang luas tersebut. Hingga beberapa menit, masih juga tak ada orang yang berbicara, sampai akhirnya,


"Ada apa ini?" tanya seseorang di depan pintu.


***