
"Jika itu sudah menjadi jadi keputusan kalian berdua, kami sebagai orang tua dari Amelia, hanya bisa memberikan doa dan restu untuk kebahagiaan kalian." Ayah Amelia yang saat ini tengah duduk berdampingan dengan sang istri, dengan wajah ibunda Amelia mulai nampak berkaca-kaca, memberikan reaksi atas kalimat yang diucapkan oleh Dirga, kekasih putrinya.
Amelia akhirnya datang ke kediaman orang tuanya, sesuai dengan ucapan Dirga semalam saat lamaran terjadi. Saat ini seluruh anggotanya berkumpul, termasuk Arga --adik satu-satunya.
"Terimakasih, Om. Terimakasih karena Om dan Tante mau menerimaku sebagai calon suami dari putri kalian."
"Mulai saat ini, jangan panggil Om dan Tante lagi, panggil saja Ayah dan Bunda, seperti Amelia memanggil kami!" Bunda Amelia bersuara. Mata yang masih berkaca-kaca menandakan betapa ia tengah bahagia atas apa yang saat ini terjadi.
"Baik, Bunda!" jawab Dirga.
"Lantas, kapan kalian akan melangsungkan acara pernikahan ini?" tanya Ayah Amelia.
"Saya sudah menyiapkan semuanya, Yah. Dua minggu lagi, jika Ayah siap dan bersedia, tolong jadilah wali nikah Amelia dan memberikan doa dan restunya kepada kami."
"Apa!" Ketiganya kompak terpekik. Ayah dan Bunda Amelia, menatap putrinya kemudian. "Kenapa kamu kaget, Nak?" tanya Bunda. Hanya Arga yang terlihat biasa saja, ia hanya tersenyum memandang orang-orang dihadapannya.
"Secepat itukah, Nak?" tanya Ayah Amelia.
"Kamu belum mengatakan padaku kapan kita akan menikah. Benarkah kamu sudah menyiapkan ini semua dalam waktu dua minggu ke depan?" tanya Amelia kini. Gadis itu berubah gugup. Ia tidak menyangka jika secepat itu niat sang kekasih untuk mengajaknya menikah.
"Maafkan aku, Ayah, Bunda dan juga Amelia, karena berita yang aku sampaikan," ucapnya tersenyum.
"Ayah, sejak aku mengenal Amelia, aku memang berniat agar bisa menikahinya, mau bagaimana pun cara dan ujian yang harus aku hadapi. Hingga, pada akhirnya ia mau untuk menikah denganku, tentu saja aku sangat bahagia. Semua sudah aku persiapkan sejak jauh-jauh hari meski belum ada pembahasan tentang pernikahan diantara kami berdua."
Ayah dan Bunda Amelia hanya bisa terdiam, jujur saja mereka senang dan bahagia. Namun mereka tidak menyangka, jika calon menantunya itu bergerak sangat cepat. Bukan karena latar belakang yang dimiliki oleh Dirga yang membuat keduanya merasakan kebahagiaan, tapi karena rasa khawatir yang sama seperti yang dirasakan oleh Dirga, yang membuat mereka menyetujui rencana pernikahan putri dan kekasihnya itu.
"Akhir pekan depan, aku akan membawa keluargaku untuk berkunjung kemari dan melamar Amelia serta meminta ijin Ayah dan Bunda untuk menerimaku sebagai calon menantu kalian." Ayah dan Bunda hanya mengangguk, mereka menyerahkan segala sesuatunya kepada Dirga yang sepertinya sudah menyiapkan semuanya dengan baik dan matang.
Bagaimana reaksi Amelia? Gadis itu tak banyak bicara dan bereaksi, ia kini tengah merasakan debaran hatinya yang tiba-tiba tak menentu akibat keputusan sang kekasih yang akan menikahinya dalam waktu yang terlampau cepat.
***
Sikap diam dan membisunya gadis itu, terus berlanjut hingga mereka berada di dalam mobil arah pulang.
"Aku perhatikan, sejak tadi kamu terus terdiam dan tak bersuara. Ada apa?" tanya Dirga yang sebetulnya sejak berada di kediaman orang tua Amelia, sudah mengetahui bahwa gadisnya itu berubah menjadi sosok yang pendiam.
"Tidak ada apa-apa, aku hanya terkejut saja."
"Terkejut karena kabar pernikahan kita?" tanya Dirga, dan mendapat anggukan lemah dari sang kekasih.
"Apakah kamu belum siap jika kita menikah dua minggu ke depan?" tanya Dirga sambil menggenggam tangan Amelia di tengah-tengah fokusnya menyetir.
"Aku tidak tahu, Dirga. Aku hanya merasa, apakah ini tidak terlalu cepat?" ucapnya sambil memandang wajah Dirga. "Aku hanya takut kamu akan menyesali keputusanmu untuk menikahiku dalam waktu yang secepat ini."
"Apa yang akan aku sesali?" tanya Dirga balik.
"Entahlah, aku hanya takut kamu belum bisa menerima sifat dan sikapku yang mungkin saja belum kamu ketahui seutuhnya." Pernyataan Amelia dijawab oleh senyuman Dirga.
"Sifat dan sikap yang bagaimana lagi yang aku belum tahu darimu, Sayang?" tanya Dirga, dan disambut oleh gadis itu dengan menaikkan bahunya. "Seandainya pun ada sifat dan sikap dari dirimu yang belum aku ketahui, dan ternyata muncul disaat kita berdua telah menikah, aku akan tetap menerimamu mau bagaimana pun itu." Dirga mengecup tangan kekasihnya dan meletakkannya di depan dada.
"Apakah kita akan cocok?" Amelia seolah masih meragukan keputusan Dirga.
"Meski pun kita tidak cocok, aku akan membuat kita berdua tetap bersama bagaimana pun caranya." Jawaban Dirga perlahan membuat Amelia tersenyum. Sedikit demi sedikit perasaan lega, menelusup ke dalam relung hatinya.
Treet! Treet! Treet!
"HP-mu berbunyi!" ucap Dirga.
Amelia merogoh isi tasnya, dan mengambil benda pipih berwarna hitam tersebut.
"Boby yang menelepon!" ucapnya.
"Angkatlah!" sahut Dirga.
Amelia menyentuh ikon berwarna hijau di layar ponselnya dan menggesernya ke atas.
"Hallo, Bob!"
[Hei, Mel. Kamu ada di mana?]
"Aku lagi di jalan. Aku baru mengunjungi Ayah dan Bunda. Ini sudah arah pulang."
"Ah, tidak. Ini sudah dekat. Memang ada apa, Bob?"
[Sekarang aku lagi ada di parkiran apartemen Pak Dirga.]
"Oh, begitu. Ya sudah, tunggu sebentar lagi, kami segera sampai."
[Baiklah. Aku akan tunggu!]
Amelia memutuskan sambungan teleponnya dengan Boby. Kemudian menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas.
"Boby ada di apartemen, dia menunggu kita."
"Oh, begitu! Dengan siapa dia?"
"Boby tidak bilang, dan aku lupa tanya." Amelia tersenyum dan dibalas senyuman yang sama dari Dirga.
Dirga menambah kecepatan mobilnya agar lekas sampai apartemen. Jarak yang sebetulnya memang sudah sangat dekat menuju apartemen miliknya.
***
"Aku kira kamu sendirian datang kemari?" ujar Amelia kepada Boby.
Saat ini mereka tengah berbincang di ruang tamu apartemen Dirga. Suasana yang sangat ramai, karena ternyata Boby tidak datang sendiri. Ia datang bersama kekasihnya, Ninda. Ada juga Anya yang saat ini tengah menjalin hubungan dengan Oka, datang bersamaan.
"Memang kenapa kalau kami datang semua, Mel?" tanya Anya.
"Setidaknya kami bisa mempersiapkan makanan dan juga minuman yang lezat untuk kalian." Amelia menjawab.
Ting! Tong!
Terdengar suara bel. Amelia hendak bangun untuk membuka pintu.
"Sebentar yah!" ucap Amelia kepada teman-temannya. Dijawab anggukan oleh semua.
"Biar aku saja!" seru Dirga. Berjalan mendahului sang kekasih yang terdiam di posisinya.
Beberapa saat kemudian, Dirga kembali bersama kehadiran Juna dan juga Nancy. Dan diikuti oleh beberapa orang pria yang berpakaian seragam.
Amelia dan teman-temannya terkejut dengan kedatangan beberapa orang di tengah-tengah mereka. Terutama Amelia yang menatap sang kekasih dengan senyum yang terus mengembang di wajahnya.
"Letakkan di meja sana saja, Mas!" perintah Dirga kepada orang-orang yang sepertinya membawa makanan dan minuman di tangan masing-masing.
Semua orang yang ada di dalam ruangan, tak ada yang bersuara, mereka kompak terdiam hanya mengawasi dan memandang adegan di depan mata mereka.
"Terimakasih!" ucap Dirga kepada para pria berseragam dan memberikan beberapa lembar uang kepada salah satu pria tersebut.
"Baiklah. Kepada teman-teman Amelia, aku perkenalkan, gadis cantik yang saat ini berdiri di sampingku dia adalah adik kesayanganku --Nancy."
"Hai, aku Nancy. Salam kenal untuk kalian semua." Nancy menjabat satu persatu tangan teman-teman Amelia.
"Dan pria ini, untuk Boby kamu sudah kenal, dia adalah asistenku, Juna." Pria itu pun melakukan hal yang sama, ia menjabat tangan Anya dan juga Oka.
"Setelah mengetahui Boby akan datang, aku memang meminta Nancy dan Juna, yang saat ini dengan beraninya menjalin cinta dengan adikkku, untuk datang kemari," ada tatapan yang pura-pura mematikan dari Dirga untuk Juna, dan dibalas dengan cengengesan dari sang asisten.
Amelia menatap Dirga, yang terkejut saat kekasihnya itu mengatakan sesuatu hal yang sebetulnya ia ingin tahu dari kemarin. Dirga tersenyum membalas tatapan sang kekasih.
"Ada hal yang ingin aku sampaikan kepada kalian saat ini. Bagi Nancy dan Juna yang sudah tahu, tidak apa-apa jika aku mengulang informasi ini yah, kalian cukup diam saja mendengarkan." Nancy dan Juna tersenyum saat nama keduanya disebut.
Teman-teman Amelia menatap Dirga dengan nafas yang tertahan. Entah berita apa yang hendak pria itu sampaikan, namun sepertinya adalah berita yang akan membuat mereka terkejut setelah apa yang pria itu lakukan dengan mendatangkan orang-orang berseragam dan membawa makanan, seolah akan ada pesta di tengah-tengah mereka saat ini.
"Aku dan Amelia memutuskan untuk membawa hubungan kami ke jenjang yang lebih tinggi." Benar saja, pikiran semua teman Amelia akhirnya terjawab kan. Informasi yang membuat mereka terkejut baru saja Dirga sampaikan. Namun, baru saja mereka menghembuskan nafas, berita selanjutnya membuat mereka kembali tercengang.
"Dua minggu lagi, kami mengharapkan doa, restu dan juga kedatangan kalian semua."
"Apa!" pekik ketiganya. Amelia yang mendengar semua temannya terkejut, hanya bisa tersenyum canggung.
***