
"Pak Ujang, semalam Amelia pulang jam berapa?" tanya Dirga pada supir pribadinya.
"Jam sembilan, Mba Amelia keluar dari cafe, Den," jawab Pak Ujang pada tuannya.
"Oh...ya sudah, Pak Ujang boleh pergi. Sekali lagi makasih yah, Pak."
"Sama-sama, Den."
Pak Ujang keluar dari kamar Dirga, setelah tuannya itu menanyakan perihal kekasihnya yang semalam ia jemput di cafe.
"Tok.. Tok.. Tok.."
Bukan suara pintu yang terdengar tapi suara dari mulut Nancy, yang datang ke kamar Dirga.
"Mas!"
"Hem."
"Kok belum turun? Ditungguin ayah sama ibu tuh."
"Iya, ini udah mau turun. Ada urusan dulu sebentar."
"Urusan apa sama Pak Ujang?"
"Mau tau aja urusan orang dewasa," ucap Bari sambil mencubit hidung adiknya.
"Ish! Pelit banget, nggak mau bagi-bagi cerita."
"Cerita apaan?"
"Cerita cinta lah, apalagi?"
"Dih! Sok tahu kamu. Udah gede yah, bisa ngomongin cinta segala."
"Mas, aku ini bukan anak kecil lagi tahu," ucap Nancy dengan nada sedikit kesal.
"Iya, iya, Bu Dokter," goda Bari yang sedang memasang dasi di kemejanya.
"Mas Dirga ini sama aja kaya ibu, sukanya meledek terus."
"Heheh.. Maaf deh. Kalau bukan kamu yang Mas ledek, siapa lagi dong. Masa ayah atau ibu, bisa kualat nanti Mas-mu ini," kekeh Dirga.
"Mas, ayo dong cerita."
"Cerita apaaan?" Dirga masih bersikukuh pura-pura tidak tahu.
"Mas Dirga jangan pura-pura deh, ya cerita perempuan yang Mas Dirga suka itu loh, yang sekarang katanya kerja di perusahaan Mas Dirga juga."
"Nggak mau ah, mulut Bu Dokter ini suka nyampe sih ke Ibu."
"Ih, Mas Dirga jangan nuduh gitu dong. Nancy nggak pernah yah cerita-cerita sama ayah atau ibu kalau ada rahasia di antara kita."
"Nggak pernah gimana? Emang kamu nggak inget, waktu dulu Mas cerita masalah Sisy yang selingkuh. Kamu kan bilang-bilang sama ibu."
"Itu sih karena aku gemes aja sama Mba Sisy. Kayanya pingin aku tonjok aja mukanya waktu itu. Habis Mas Dirga diam aja nggak bertindak, jadi aku bilang aja sama ibu, biar disampaikan ke ayah."
"Iya, gara-gara kamu, akhirnya kita putus."
"Lah, emang Mas Dirga nggak mau putus sama Mba Sisy sesudah tahu kejadian itu?" tanya Nancy terheran.
"Ya, mau lah! enak aja dia selingkuh-selingkuh. Emang Mas lelaki apaan, diam aja gitu diselingkuhin sama pacarnya."
"Ya, berarti Nancy nggak bikin gara-gara dong Mas."
"Nggak sih, cuma beritanya jadi heboh aja. Ayah sama ibu jadi tahu. Kan nggak harus bilang-bilang juga sama mereka kalau Sisy selingkuh."
"Terus aku harus bilang apa, nggak ada kecocokan gitu diantara kalian? Ih, basi banget sih, Mas. Alasan yang klise menurut aku."
"Duh, duh, duh...! adik Mas ini emang udah gede yah, pinter ngomong sekarang," ucap Dirga yang malah mencubit pipi kanan kiri Nancy.
"Maaaasss!"
Dirga tertawa melihat ekspresi kesal Nancy. Dirga memang senang menggoda adiknya, dari sejak mereka masih kecil. Jarak usia yang cukup jauh, yaitu delapan tahun, membuat Dirga seenaknya saja menggoda adiknya itu, meski kini mereka sudah sama-sama tumbuh dewasa.
"Ok, Mas akan cerita. Tapi Mas mau, kamu duluan yang cerita."
"Aku? cerita? cerita apaan?" ucap Nancy tak mengerti omongan Dirga.
"Ada apa antara kamu sama Juna?" tembak Dirga to the point.
"Uhuk.. Uhuk..!" Tiba-tiba saja Nancy terbatuk.
"Aku sama Mas Juna?"
"Hem."
"A..a..aku nggak ada apa-apa."
"Jangan bohong."
"Aku nggak bohong!" teriak Nancy. Ia takut jika Dirga tahu perasaan yang dimilikinya terhadap Juna.
"Biasa aja kali, nggak usah teriak gitu juga." Dirga terlihat tertawa demi melihat sang adik yang panik setelah mendapat pertanyaan darinya.
Bi Tinah muncul di depan kamar Dirga yang memang tidak tertutup sejak Nancy masuk tadi.
"Oh iya, Bi Tinah. Ini kita udah mau turun kok."
"Baik, Den. Kalau gitu Bibi permisi."
"Iya, Bi. Makasih yah."
"Sama-sama, Den."
Bi Tinah pergi meninggalkan Dirga dan juga Nancy. Nancy yang masih termenung setelah mendengar kata-kata dari kakaknya, sudah tak ada keinginan untuk bertanya macam-macam lagi.
"Udah, yuk turun! Nanti lagi aja kita sharing ceritanya," ujar Dirga yang masih saja tersenyum jahil pada adiknya.
***
Suasana kantor sudah terlihat ramai. Para karyawan mulai berdatangan. Waktu yang belum menunjukkan jam masuk kantor, membuat para karyawan yang datang, berjalan dengan santai dan tidak terburu-buru.
"Makasih yah, Mas Bima," kata Amelia yang pagi itu berangkat bersama Bima, si ojek online.
Amelia memberikan beberapa lembar uang sebagai ongkos ojek.
"Nggak usah deh, Mba. Anggap aja itu sebagai tanda pertemanan kita."
"Eh, nggak bisa gitu. Aku naik motornya Mas Bima kan karena mau berangkat kerja. Sama kaya Mas Bima bawa saya, karena bekerja juga."
"Iya, tapi sekali-kali nggak apa-apa kok, Mba Amel."
"Aku bilang, aku nggak mau. Sebagai tanda pertemanan kan bisa cara yang lain, traktir makan mungkin atau apa lah, dan bukan kaya gini."
"Jadi Mba Amelia mau kalau suatu saat nanti aku traktir?"
"Ya mau aja. Siapa juga yang mau nolak makanan gratis," ujar gadis itu tersenyum.
"Ok deh, kalau gitu. Lain kali, kalau aku ada rejeki berlebih, aku akan hubungi Mba Amelia."
"Sip. Gitu dong. Nih, terima uangnya."
Akhirnya Bima menerima ongkos ojek yang diberikan oleh Amelia.
Setelahnya, Bima kembali ke arah jalan untuk mencari penumpang lainnya. Sedangkan Amelia, menyegerakan langkahnya menuju kantor.
"Hei, kamu!" Amelia terkejut saat salah satu petugas meja depan, memanggil dan melambaikan tangan padanya, ketika ia baru saja menginjakkan kaki di area lobby.
Amelia menghampiri karyawan yang bernama Tita. Nampak terlihat di name tag yang terpasang di blazer-nya.
"Kamu karyawan baru kan?"
"Iya, Mba."
"Siapa nama kamu, saya lupa."
"Amelia, Mba."
"Oh iya, Amelia. Pelamar dari PT EsKa itu yah?"
"Betul, Mba."
"Oh, iya, iya. Saya inget sekarang."
"Ngomong-ngomong ada apa yah, Mba Tita memanggil saya ke sini?"
"Oh iya, itu saya mau nanya. Semalam kamu kan yang berjalan dengan Pak Dirga dari lantai atas?"
Amelia terkejut, bahwa pemanggilan dirinya itu hanya untuk menanyakan keberadaannya semalam yang bersama dengan Dirga di kantor.
Ternyata kekhawatiran aku menjadi kenyataan, anggota grup fanbase sudah mulai beraksi. Amelia.
"Iya, Mba Tita. Emang kenapa yah?"
"Kamu habis ngapain? Kok bisa karyawan baru jalan bareng sama bos?" tanyanya sedikit ketus.
Ternyata kesan yang Amelia dapatkan kini dari wanita di depannya itu, tidaklah sesuai dengan kesan pertama kali saat Amelia berjumpa dengannya.
"Kemarin itu ada tugas dari manajer yang belum saya selesaikan sampai jam kantor habis. Aku kan di sini baru, Mba, jadi belum terlalu ngerti. Alhasil, saya pulang sampai malam."
"Terus, saya ketemu sama Pak Dirga itu di lantai bawah. Saat Pak Dirga keluar dari lift-nya, saya juga keluar dari lift karyawan. Gitu deh. Terkesannya saja saya pulang bareng beliau."
Pandai sekali aku mengarang cerita. Sepertinya aku bisa mendapatkan penghargaan sebagai aktris terbaik. Amelia.
"Oh...gtu. Ya sudah, kamu boleh pergi."
"Ok deh, Mba Tita. Kalau gitu saya permisi."
"Ya."
Heuh! Tenang, Mel, ini baru permulaan. Entah akan ada apa lagi nanti di depan. Amelia.
***