My Boyfriend Is A CEO

My Boyfriend Is A CEO
Kamu mau apa?



Bugh!


Bugh!


Berkali-kali Aron mendapatkan pukulan di wajah dan juga tubuhnya. Ia tak sempat mengelak, karena seseorang dengan membabi buta terus saja menghajarnya tanpa henti.


Amelia terduduk lemas di sudut kamar dengan derain air mata yang terus mengalir. Ia bersyukur ada seseorang yang menolongnya di saat ia sudah mulai kelelahan dan pasrah akan peristiwa buruk yang mungkin akan terjadi.


Di detik-detik do'anya kepada Tuhan, ia masih berharap ada orang atau ada kejadian apapun yang membuat peristiwa hina itu urung terjadi. Dan rupanya Tuhan mendengar do'anya. Meski ia tidak tahu, siapa sosok yang menolongnya itu.


Aron terjatuh dengan wajah yang sudah tidak dapat dikenali lagi. Sekujur tubuhnya telah berlumuran darah. Meski tadi ia sempat melawan, namun kekuatan dan keterampilan bela dirinya kalah jauh dibanding sosok yang kini berdiri di depannya dengan tatapan mematikan.


"Ya ampun, Mel, ada apa ini?" Tiba-tiba terdengar suara Boby dari arah pintu kamar.


Boby dan bersama Ninda --kekasihnya-- datang dan terkejut melihat keadaan rumah yang nampak berantakan. Keduanya semakin terkejut saat melihat Amelia dengan penampilan acak-acakan duduk menangis di sudut kamar.


"Boby!" Amelia menghambur ke dalam pelukan sahabatnya itu. Ninda terlihat biasa saja. Ia tidak merasa cemburu ketika kekasihnya itu memeluk perempuan lain di depannya meski kondisi gadis itu nampak menyedihkan dengan penampilannya yang belum sempat ia rapikan sama sekali.


Ya, Amelia masih shock dengan peristiwa yang baru saja terjadi padanya, sampai-sampai ia tidak memperhatikan pakaian yang ia gunakan, yang sudah terlepas kancing bajunya itu, masih terbuka dan belum ia rapikan.


"Tenang, Mel. Aku ada di sini!" ucap Boby menenangkan.


"Aron?" Boby semakin kaget ketika melihat teman kuliahnya dulu yang sempat juga berbuat hal yang tidak baik pada Amelia ada di sana.


"Kamu jaga Mba Amelia sampai Pak Dirga datang. Aku akan membawa ******** ini ke kantor polisi." Pria itu, yang tak lain adalah Doni --anak buah Dirga-- meminta tolong kepada Boby untuk menjaga Amelia. Ia sendiri akan segera pergi membawa Aron ke kantor polisi dan agar diproses hukum atas tindakannya yang akan memperkosa Amelia.


"Baik. Tapi kamu siapa?" tanya Boby penasaran.


"Kamu tidak perlu tahu siapa saya!" Doni menjawab dan segera pergi menyeret Aron untuk ikut bersamanya.


Aron tak bisa berkutik ketika Doni menyeret tubuhnya. Ia pasrah akan dirinya saat ini.


***


"Kamu sudah lebih baik, Mel?" tanya Boby setelah tidak terdengar lagi suara isakan dari mulut Amelia.


Amelia mengangguk.


"Nin, tolong bantu Amelia mengganti pakaiannya. Aku akan tunggu di luar," ucap Boby pada kekasihnya.


"Iya, Bob," sahut Ninda."Yuk, Mel! Aku bantu kamu ganti pakaian."


Amelia bangkit berdiri. Boby sendiri sudah meninggalkan keduanya dan berjalan menuju ruang depan.


Dilihatnya suasana rumah yang nampak berantakan. Boby tidak tahu apa yang baru saja terjadi dan menimpa sahabatnya itu, namun ia yakin bahwa akan ada niat buruk yang hendak Aron lakukan pada Amelia. Dan itu membuat Boby tiba-tiba emosi kembali.


Ia yang memang akan datang menemui sahabatnya itu, terkaget ketika melihat pintu rumah Amelia yang rusak seperti dijebol oleh seseorang. Apalagi sebelumnya juga ia melihat sebuah mobil dan motor terparkir di depan pagar rumah Amelia.


"Boby!" Suara seseorang mengagetkannya.


Saat Boby melihat ke asal suara, ia kaget kembali. "Pak Dirga?"


Dirga datang bersama dengan Juna. Meski terlihat santai, tapi Boby tahu jika saat ini Dirga sedang menahan emosi dan amarah yang luar biasa. Entah Dirga tahu dari siapa, tapi yang pasti pria itu cukup menakutkan saat ini.


"Amelia ada di kamar bersama pacar saya, Pak Dirga. Dia sedang ganti pakaian." Boby bicara sedikit takut.


"Aku permisi ke dalam kalau begitu." Dirga melenggang melewati Boby.


Ketika pintu kamar hendak Dirga ketuk, seorang perempuan keluar dari dalam.


"Kamu ...? Mana Amelia?" tanya Dirga seolah tidak peduli dengan perempuan di depannya itu.


"Saya, Ninda. Amelia ada di dalam. Dia sedang berganti pakaian."


"Permisi, saya mau menemuinya!"


"Boleh, t-tapi ...!" Ninda belum selesai dengan kalimatnya, namun Dirga sudah melewati tubuhnya dan masuk ke dalam kamar. Ia kaget, ketika pintu di belakangnya itu tertutup dari dalam.


Ninda hendak memberitahu, jika Amelia masih belum memakai baju saat ia akan keluar kamar, karena gadis itu yang meminta untuk meninggalkannya berganti pakaian.


Ninda mengangkat bahunya dan pergi meninggalkan keduanya yang entah sedang apa saat ini.


Ketika menuju ruang depan, dilihatnya Boby sedang berbicara dengan sosok pria lain, yang tak lain adalah Juna.


"Kenalin Mas Juna, Ninda, pacar saya."


Juna dan Ninda saling berjabat tangan.


"Oh ya, Boby. Kalau Pak Dirga keluar dan mencari saya, tolong sampaikan pada beliau kalau saya pergi ke kantor polisi menemani Doni."


"Eh, baik, Mas. Nanti saya sampaikan."


Juna pamit dan pergi meninggalkan rumah Amelia. Entah apa yang saat ini ada di dalam pikiran Juna, namun Boby masih melihat wajah emosi menahan amarah di sana.


***


Sepertinya Amelia masih merasakan shock yang luar biasa. Terbukti, ia tidak menyadari ada percakapan yang terjadi antara Dirga dan juga Ninda tadi di depan kamar. Bahkan saat ini pun ia tidak menyadari kedatangan kekasihnya yang saat ini ada dibelakangnya dan sedang fokus menatap punggung terbuka miliknya yang hanya memakai pakaian dalam saja.


Ia baru sadar, ketika ada tangan yang melingkari perut dan juga juga dagu yang menempel di bahunya.


"Maafkan aku!" Suara Dirga membuat Amelia kaget dan tiba-tiba saja memaksa air matanya kembali tumpah. Ia terharu ketika kekasihnya datang dan berada di sisinya kini.


Dirga semakin mengeratkan pelukannya pada perut kekasihnya itu. Amelia semakin terisak. Entah mengapa Dirga pun larut dalam emosi yang kekasihnya itu rasakan. Namun bukan air mata yang Dirga keluarkan, tapi sebuah geraman yang menandakan betapa ia sangat ingin membunuh orang yang sudah membuat kekasihnya itu menangis dan hampir ternoda.


"Apa kamu mau aku melakukan sesuatu terhadap lelaki brengsek itu?" bisik Dirga tepat di telinga sebelah kanan Amelia.


"Tidak!" Amelia menggeleng.


"Lalu kamu mau aku melakukan apa agar kamu tidak bersedih dan tidak menagis lagi?" tanya Dirga kembali.


Lama keduanya terdiam. Hingga,


"Mau kah kamu mencumbuku?"


***