
Suasana ruangan divisi keuangan mulai menampakkan kehidupannya. Para staf sibuk dengan tugasnya masing-masing. Dari yang membuat laporan ataupun sekedar mengecek data-data keuangan.
"Mel, apa ada kendala dari tugas yang sedang kamu kerjakan?" tanya Mesi pada Amelia, mengintip dari meja kerjanya.
"Alhamdulillah nggak kok, Mes. Aku udah setengah jalan nih," jawab Amelia.
"Oh, syukur deh. Kalo ada hal yang kamu belum paham, tanya aku aja yah. Kalo aku lagi nggak sibuk, pasti aku usahain bantu kok." Mesi menawarkan bantuannya.
"Ok, tenang aja."
Waktu istirahat masih kurang beberapa jam lagi. Namun jari jemari milik Amelia, yang sedari pagi mulai menari di papan keyboard itu, mulai merasa pegal dan meminta untuk diistirahatkan.
"Ada yang mau nitip sesuatu? Aku mau ke pantry," seru Amelia pada teman-temannya.
"Kayanya aku butuh kopi nih. Kalo kamu nggak keberatan aku mau satu, Mel," sahut Sofi dari meja sebelahnya.
"Aku juga mau dong, Mel," seru Abi.
"Aku juga, Mel." Beberapa staf lainnya pun ikut meminta yang sama dengan pesanan Sofi.
Total lima orang staf akhirnya meminta untuk dibawakan kopi oleh Amelia.
Amelia berjalan melalui lorong dan memasuki lift untuk turun satu lantai menuju pantry.
"Selamat pagi menjelang siang," sapa Amelia pada salah satu pegawai office boy yang ada di dalam pantry.
Selain dirinya, ada sosok wanita cantik yang sedang menikmati waktu santainya dengan meminum teh panas di bangku di ruangan itu.
"Selamat pagi juga," balas pegawai office boy.
"Perkenalkan, saya Amelia staf baru di divisi keuangan," ucap gadis itu.
Sosok wanita cantik yang sedang duduk itu, sedikit terkejut dengan perkenalan yang dilakukan oleh Amelia.
"Oh iya, Mba Amelia atau Mba Amel nih saya manggilnya?" tanya sang OB.
"Amelia atau Amel, yang mana saja sama kok, Pak," ujar gadis itu tersenyum.
"Oh iya, Mba Amel aja kalo gitu. Perkenalkan saya Amar, para karyawan biasa memanggil saya Pak Amar," balas pegawai OB itu memperkenalkan dirinya.
"Ngomong-ngomong ada yang bisa saya bantu, Mba?"
"Oh iya, Pak Amar. Apa saya boleh minta tolong buatkan kopi?"
"Oh bisa, Mba. Mau saya buatkan berapa banyak?"
"Enam cangkir, Pak Amar, kalau tidak keberatan. Tadi teman-teman minta sekalian dibuatkan. Tapi satu cangkir buat saya, di sini saja."
"Oh iya, sebentar saya buatkan. Mba Amel bisa duduk dulu. Saya sama sekali tidak keberatan kok, Mba," ucap Pak Amar mempersilakan.
"Oh iya, Pak, terimakasih sebelumnya."
Amelia menarik salah satu bangku yang ada di sana. Bangku yang ia duduki, secara tidak langsung membuatnya berhadapan dengan sosok perempuan yang sudah ada di sana sedari ia datang.
"Hai!" sapa Amelia.
"Hai juga," balas perempuan itu.
"Aku Amelia," ucap gadis itu sembari menjulurkan tangannya.
"Hai, Amelia. Aku Nancy," balas sosok cantik itu, yang ternyata adalah adik Dirga, sembari membalas uluran tangan Amelia.
"Mba Nancy, salah satu karyawan di sini juga atau tamu di perusahaan ini?" tanya Amelia yang agak terheran dengan penampilan dari perempuan di depannya itu.
Pakaian yang Nancy kenakan memang tidak terlihat santai, tapi tidak bisa juga dibilang pakaian kantor.
"Mba Nancy itu..." sahut Pak Amar saat meletakkan cangkir berisi kopi di depan Amelia.
"Aku tamu di sini," potong Nancy, sebelum Pak Amar mengatakan yang sebenarnya pada Amelia.
Pak Amar yang merasa perkataannya dipotong oleh Nancy, merasa terheran. Ditambah kedipan sebelah mata yang dilayangkan gadis itu padanya membuat ia memiringkan kepala tanda tidak mengerti akan maksud dari Nancy. Sedangkan Amelia sendiri tidak menyadari hal itu.
Sejujurnya, Nancy ingin mengamati lebih jauh perempuan yang sedang bicara dengannya itu. Ia sudah curiga bahwa Amelia ini adalah perempuan yang disukai oleh kakaknya, Dirga.
"Mba Amelia ini, baru bekerja di sini?"
"Eh iya, Mba."
"Oh, baru berapa lama?"
"Tiga hari dengan hari ini."
"Oh, baru banget yah?"
"Ya, gitu deh, Mba."
"Baru pertama kali kerja?"
"Aku baru lulus kuliah, tapi selama kuliah pernah kerja part time gitu."
"Oh..."
"Ehm, aku..tamunya..."
"Mba Nancy?"
Belum selesai Nancy menjawab pertanyaan Amelia, terdengar suara Juna dari arah pintu.
"Mas Juna?" seru Amelia.
"Eh, Mba Amelia," ucap Juna membalas sapaan gadis itu.
"Mas Juna ada apa panggil Nancy?"
"Eh itu, Mba. Tadi Pak Dirga menyuruh saya untuk bertanya pada Mba Nancy, katanya mau makan siang di mana?"
Amelia sedikit terkejut mendengar Juna menyebut nama Dirga kepada gadis di depannya itu. Ada rasa penasaran di dalam hatinya.
Siapa gadis ini? Apa hubungannya dengan Dirga?
Tapi mengapa wajahnya seperti tidak asing bagiku. Amelia.
"Apa Mas Dirga sudah selesai dengan pekerjaannya?"
"Sebetulnya belum, karena sebentar lagi masih ada tamu yang akan datang menemui Pak Dirga di ruangannya."
"Oh begitu."
"Iya Mba. Tapi Pak Dirga merasa khawatir dengan Mba, takut Mba Nancy bosan di sini sendirian."
"Eh, tidak apa-apa, Mas. Tolong sampaikan aja sama Mas Dirga, nggak usah terlalu mengkhawatirkan aku."
"Baik, Mba Nancy. Pesan Mba akan saya sampaikan."
"Makasih yah, Mas Juna."
"Jadi, perihal pesan Pak Dirga sama Mba Nancy tadi bagaimana?"
"Pesan yang mana?"
"Pesan dari Pak Dirga yang menanyakan, mau di mana Mba Nancy makan siang nanti?"
"Oh iya, aku lupa," ucapnya sembari tertawa.
Amelia masih menyimak pembicaraan antara Juna dan Nancy. Ia semakin penasaran dengan hubungan yang terjalin antara Dirga dan Nancy.
Betapa Dirga perhatian dan juga khawatir pada Nancy, yang tadi bilang bahwa ia adalah tamu di perusahaan ini.
Sedikit ada rasa sakit di dadanya, jika ternyata Nancy adalah mantan kekasih atau wanita lain Dirga.
Juna dan Nancy melihat perubahan mimik muka pada Amelia. Entah ide darimana, tiba-tiba saja mereka berdua seperti kompak ingin menjahili gadis itu.
"Mas Juna, tolong saja sampaikan aku mau makan siang dimana saja terserah sama Mas Dirga, yang penting tempatnya asik dan kalo bisa sedikit romantis."
Nancy sengaja ingin membuat Amelia cemburu. Dan sekarang, ia menikmati ekspresi itu dari raut muka Amelia. Begitupun dengan Juna yang sama-sama menikmati keseruan Nancy.
Perkataan Nancy memang berhasil membuat gadis itu terdiam. Amelia seperti hilang fokus setelah mendengar kalimat terakhir yang Nancy ucapkan.
"Mba Amel, ini kopinya sudah selesai. Saya langsung antar saja ke sana atau bagaimana?"
Amelia tersadar dari lamunannya saat Pak Amar memanggil namanya.
"Eh iya, Pak Amar. Kenapa?
"Ini kopinya sudah selesai, Mba. Mau diantar atau bagaimana?" Pak Amar mengulang pertanyaannya.
"Oh iya, kalau begitu saya minta tolong Pak Amar antarkan ke ruangan divisi keuangan yah, saya nanti menyusul."
"Baik kalau begitu."
Pak Amar segera meninggalkan ruangan pantry setelah sebelumnya berpamitan pada Nancy dan Juna.
"Baik, Mba Nancy. Sepertinya aku harus pamit dan kembali bekerja," pamit Amelia pada Nancy.
"Oh iya, Mba Amelia. Selamat bekerja kembali," ucap Nancy dengan senyum di wajahnya.
Amelia segera meninggalkan Nancy dan Juna yang masih berada di pantry. Entah mengapa, tiba-tiba saja suasana hatinya berubah menjadi galau.
Sedangkan di pantry, Nancy tertawa puas akan ulahnya menjahili wanita yang disukai kakaknya itu.
"Kamu jahil sekali, Nancy," ucap Juna.
"Eh, Mas Juna, maaf. Abis aku kesel banget sama Mas Dirga," sahutnya dengan tawanya yang masih terdengar.
"Darimana Mba Nancy tahu, kalau Mba Amelia adalah kekasih Pak Dirga?"
"Apa? Kekasih?" seru Nancy terkejut.
***