My Boyfriend Is A CEO

My Boyfriend Is A CEO
Karena Saya Menyukaimu, Amelia



Mobil melaju dalam kecepatan sedang, membelah jalan raya yang sedikit padat oleh lalu lalang kendaraan.


Waktu baru menunjukkan pukul sembilan malam. Maka tidak heran bila jalanan ibukota masih terlihat ramai, apalagi bagi sebagian orang yang baru pulang dari rutinitas lembur kerja.


Saat ini Amelia sudah duduk di bangku penumpang bagian belakang bersama Dirga. Juna asisten Dirga berada tepat di depannya, berdampingan dengan supir yang tetap fokus menyetir, melajukan kendaraan.


Amelia terlihat sedikit canggung duduk bersebelahan dengan pria yang pernah menolongnya dari sebuah kejadian akibat perbuatan tidak terpuji oleh salah satu temannya, Aron.


Demi menghindari situasi kaku yang terjadi di dalam mobil, Amelia sengaja bermain-main dengan ponselnya. Membuka-buka akun sosial medianya. Dan bahkan sesekali menatap jalanan ibukota yang mereka lalui.


Gadis itu merasa saat ini dadanya terus menerus bergemuruh tak bisa dikondisikan. Jarak antara dirinya dengan Dirga hanya sekian jengkal saja.


Sudut mata Amelia sempat mencuri pandang pria tampan di samping kanannya itu. Dan yang dia tangkap dari raut wajah Dirga hanya wajah diam tanpa suara namun penuh karisma.


Amelia sungguh tidak mengerti dengan apa yang dia rasakan saat ini. Sudah beberapa hari, sejak Ia tahu sebuah fakta mengenai sosok pria di sampingnya sekarang, hampir setiap hari ia selalu terbayang-bayang wajah Dirga. Terhitung sejak ia bertemu untuk pertama kalinya ketika tes interview di perusahaan yang ia lamar.


Tapi Amelia tidak mengetahui fakta lain yang sungguh bisa mengagetkannya.


Ya... Amelia tidak tahu bahwa PT EsKa, perusahaan yang besok akan ia datangi itu adalah perusahaan milik Dirga.


"Apa kamu sudah puas memandangku?" tiba-tiba Dirga bersuara, tepat saat ia menoleh, kedua mata dengan bulu mata lentik itu membulat, terkaget karena tingkah lakunya tertangkap basah.


"Ah.. Eh.. Maaf," Amelia segera memalingkan wajahnya ke arah luar kaca mobil. Menyembunyikan wajah yang sepertinya berubah memerah. Dia sungguh malu.


Ya ampun... Bikin malu aja nih mata. Gak pernah liat orang ganteng dikit. Amelia


Dirga tersenyum. Ia senang telah membuat gadis itu tersipu malu. Sungguh, wajah malu dari Amelia nampak menggemaskan bila dilihat dari sisi seorang Dirga, yang memang mulai ada hati pada gadis itu, sejak awal mula melihatnya.


"Kalau belum puas, kamu masih boleh terus memandangku, Amelia," sahutnya lagi.


Entah sudah seperti apa muka Amelia saat ini. Ia makin tidak berani melihat Dirga, dan masih bertahan dengan pandangan yang lurus ke jalan.


"Amelia?" seru Dirga, karena gadis itu masih tetap terdiam.


"Iya," jawabnya dan sedikit menoleh Dirga sepersekian detik. Habis itu balik lagi dengan pandangan yang sama.


"Apa kau mendengarku?" serunya lagi.


"Iya saya mendengar anda," kali ini sembari menoleh.


"Apakah lelaki tadi adalah kekasihmu?" tanya Dirga dengan ekspresi yang tidak terbaca.


"Lelaki mana yang anda maksud? Apakah Boby?"


Dirga hanya mengangguk.


"Mengapa Anda menanyakan hal itu?" Amelia bertanya balik.


"Karena saya ingin tahu." Singkat dan masih tanpa ekspresi.


"Boby adalah sahabat saya. Kami berteman sejak kecil."


Amelia tidak mengerti, untuk apa Dirga bertanya hal demikian.


"Apakah kamu dan dia saling menyukai?"


"Maksud anda apa?" tanya Amelia heran.


"Aku tidak ada maksud apa-apa, hanya ingin tahu saja."


Orang ini aneh banget, dari tadi jawabannya 'cuma ingin tahu' mulu. Amelia


"Boby sudah saya anggap seperti kakak saya sendiri. Tidak ada perasaan lain dari kami selain perasaan saling menyayangi dan melindungi layaknya seorang saudara. Itu saja."


"Tapi mengapa aku melihat perasaan lain dari sahabatmu itu," cecarnya.


"Maaf Dirga, saya merasa tidak sepantasnya saya menjelaskan hal ini pada anda bukan?"


"Tidak Amelia, saya memang butuh penjelasan darimu."


Dirga hanya diam saja, dia tidak menjawab pertanyaan Amelia. Namun tatapannya masih tidak ingin terlepas dari kedua manik mata indah yang saat ini berkedip-kedip, lucu.


Gadis itu terlihat menghela nafas.


"Tidak mungkin Boby memiliki perasaan yang anda maksudkan."


"Kenapa tidak mungkin?" masih memandang Amelia.


Aduh nih orang bikin grogi aja. Gimana aku bisa tahan kalo dia memandangi aku terus. Amelia.


"Karena saya tahu wanita yang saat ini ada di hatinya," jawab Amelia pada akhirnya.


Dirga terlihat senang dan lega. Sepertinya pemikiran buruknya tidak terjadi.


Pria itu lantas merubah posisi duduknya. Pandangannya kini lurus ke depan jalan.


Hei! ada apa dengan wajahnya. Apa dia terlihat senang dengan jawabanku tadi. Amelia


"Lalu bagaimana dengan hasil tes wawancara kamu, apa sudah ada hasilnya?" Sedikit menoleh.


"Kenapa anda seperti peduli sekali dengan kehidupan saya? Apakah tidak ada hal lain yang lebih penting untuk anda perhatikan."


Bukan jawaban yang gadis itu berikan, namun kalimat yang terdengar sedikit sarkas keluar dari mulutnya.


"Memang," jawab Dirga singkat.


"Hah!" "Maksudnya?" kini malah Amelia yang bertanya.


"Iya. Kamu benar. Saya memang peduli padamu," ucap Dirga sambil menatap wajah Amelia dengan senyum hangatnya.


"Tapi kenapa?" Amelia masih belum mengerti dengan omongan pria di sampingnya itu.


Amelia nampak kaget tatkala Dirga mengubah posisinya menjadi menghadapnya dan malah mencondongkan wajahnya mendekati tubuh gadis itu.


Dan anehnya Amelia seolah terhipnotis dan tak bisa bergerak sedikit pun demi menghindari tatapan dan juga pergerakan dari Dirga.


Dan dengan sikap tenangnya, pria itu malah mendekatkan bibirnya ke arah telinga sebelah kiri Amelia.


"Karena saya menyukaimu, Amelia," ucap Dirga pelan, kemudian menatap wajah manis di sampingnya yang berjarak beberapa senti saja dengannya.


Blush...


Amelia sontak terkaget dengan ucapan Dirga barusan. Rona wajahnya seketika berubah. Ia tidak tahu harus bagaimana setelah mendengar kalimat yang Dirga lontarkan.


Ia tak kuasa bergerak. Bergerak sedikit saja, Amelia yakin hidungnya akan otomatis bersentuhan dengan pipi atau hidung Dirga.


Amelia menunggu beberapa saat. Selain menormalkan jantungnya yang langsung berdetak lebih kencang saat ini. Ia juga berharap pria itu menjauhkan wajahnya dari dirinya.


Dirga masih menatap Amelia dengan posisi yang sangat dekat. Wangi aroma lotion bayi tercium dari sekitar tubuh gadis itu. Dirga memejamkan kedua matanya demi menghirup aroma wangi yang membuatnya terbuai.


Seketika Dirga tersadar. Dan ia malah tersenyum karena melihat rona memerah di pipi gadis itu terpampang jelas di depannya. Karena kulitnya yang putih, maka wana merona itu akan jelas nampak. Dan itu malah membuat Dirga tidak berniat sama sekali untuk menjauhkan wajahnya.


Kamu sungguh menggemaskan Amelia. Aku sudah tidak bisa menahan diriku lagi. Dirga.


Ya Tuhan. Aku harus bagaimana ini? Apa aku harus mendorongnya saja. Apa dia tidak akan tersinggung nanti. Amelia.


Namun belum juga Amelia menemukan jawaban untuk kondisinya sekarang, tiba-tiba...


Cup...


Dirga mencium pipi kiri Amelia kemudian menjauhkan wajahnya dari tubuh gadis itu yang seketika menegang setelah mendapatkan serangan tiba-tiba darinya.


"Ap... Apa yang anda telah lakukan?" katanya terbata. Kaget dan juga malu bercampur jadi satu. Reflek Ia memegang sebelah pipinya.


***