My Boyfriend Is A CEO

My Boyfriend Is A CEO
Hari bahagia



Hari bahagia untuk Dirga dan Amelia akhirnya tiba. Perkenalan sekaligus lamaran yang dilakukan oleh keluarga Narendra untuk meminang Amelia menjadi anggota keluarga, telah diterima oleh keluarga Amelia dan berlangsung dengan lancar seminggu yang lalu.


Saat ini acara akad nikah yang akan diselenggarakan di sebuah mesjid raya yang dekat dengan kediaman Amelia, telah siap dengan segala kebutuhannya.


Acara akad nikah yang akan dilaksanakan di sebuah mesjid, adalah permintaan khusus dari Amelia dan keluarga. Bagi mereka, setidaknya ada momen yang merekam hari bersejarah bagi putri mereka di tanah kelahirannya, karena pesta resepsi akan dilangsungkan di sebuah ballroom hotel berbintang lima, mengingat tamu undangan dari pihak keluarga Narendra yang bukanlah dari kalangan orang biasa.


Untuk itu, kedua pihak keluarga sepakat, jika acara akad hanya akan dihadiri oleh dua keluarga besar saja, tanpa ada undangan dari pihak luar.


***


"Bunda tidak menyangka, jika hari ini akan tiba juga." Ibunda Amelia nampak berkaca-kaca melihat putrinya yang telah siap dengan dandanan khas pengantin.


"Bunda ... !" Keduanya saling berpelukan, nuansa sedih kembali tercipta setelah beberapa waktu lalu keduanya saling berbagi cerita antara ibu dan anak.


"Sudah, sudah. Nanti dandanannya jadi luntur nih," seru Anya menggoda. Saat itu ada tiga orang wanita dan seorang pria yang menemani calon mempelai pengantin wanita, menyelesaikan dandanannya sebelum acara akad dimulai.


Anya, Ninda, Bunda Amelia dan juga Arga --adik Amelia, tengah menatap takjub pada Amelia yang saat itu nampak cantik luar biasa dengan penampilannya yang terlihat lain dari biasanya. Mereka tengah berada di dalam sebuah ruangan kosong di dalam mesjid, yang disulap sementara menjadi ruang make up untuk pengantin.


Tok! Tok! Tok!


Suara ketukan dari pintu, mengagetkan semua orang yang ada di dalam. Arga mendekati pintu dan membukanya.


"Eh, Tante Ninta!" seru Arga. Rupanya calon mertua Amelia yang mengetuk pintu. Wanita cantik itu masuk dan menghampiri semua yang ada di sana.


"Bu Ninta!" seru Bunda Amelia. Menghampiri calon besannya dan menyalami khas wanita, cium pipi kanan kiri.


"Ibu!" sapa Amelia dan mencium tangan ibunya Dirga. Hal yang sama dilakukan oleh Anya dan Ninda.


"Tante sudah datang?" tanya Anya.


"Iya, Nya. Kita semua baru saja sampai," ucap Bu Ninta pada anak sahabatnya itu. "Orang tuamu hadir?"


"Tidak, Tante. Mereka akan hadir nanti malam di hotel," jawab Anya, dan mendapat anggukan dari Bu Ninta.


"Nak, kamu cantik sekali!" seru Bu Ninta kini pada sang calon menantu.


"Ibu, bisa saja." Amelia tersipu malu.


"Apakah kamu gugup?" tanyanya lagi.


"Sangat!" jawab Amelia yang mendapatkan senyuman dari semuanya.


"Bu!" seru Nancy yang tiba-tiba muncul. Berjalan memasuki ruangan. "Ya ampun, Mba Amel, kamu cantik banget. Ah, aku iri sekali melihat kebahagiaan kalian."


"Makasih, Nancy," ujar Amelia. "Kamu akan menyusul nanti." Jawaban Amelia membuat Nancy tersipu.


"Kamu ada apa ke sini?" tanya sang ibu pada anak gadisnya.


"Acara akad akan segera dimulai, Bu. Aku disuruh memanggil kalian untuk segera menuju tempat akad."


"Oh, baiklah, baiklah. Mari Mba, kita kesana," ucap Bu Ninta pada calon besan.


"Iya, Tante, kalian berdua duluan saja kesana. Biar Amelia kami yang temani." Anya menyuruh kedua wanita itu segera menuju tempat akad dimulai.


"Oh, ya sudah. Kami titip Amelia pada kalian." Bu Ninta dan Bunda Amelia berjalan keluar ruangan, diikuti oleh Arga dibelakangnya.


"Kamu sudah siap, Mel?" tanya Anya.


"Insya Allah, aku siap!" jawab Amelia.


Rombongan para gadis itu kemudian keluar ruangan menuju tempat acara berlangsung.


Saat tiba di area acara, banyak pasang mata, dari keluarga besar keduanya, memandangi calon mempelai wanita, yang nampak cantik dengan dandanannya saat itu. Sebuah kebaya modern berwarna putih, dengan panjang hingga ke lutut, dipadu dengan kain batik bermotif cantik berwarna coklat keemasan membuat gadis itu terlihat pangling.


Amelia duduk di tempat yang sudah disediakan. Ia duduk bersama para wanita lainnya, yang memang sengaja tidak disatukan dengan calon mempelai pria sebelum keduanya dah menjadi pasangan suami istri.


Dirga yang awalnya merasakan kegugupan yang luar biasa, tiba-tiba bisa mengendalikan suasana hatinya dengan baik, ketika sang kekasih lewat di belakangnya.


Dirga yang belum pernah melihat Amelia berdandan, dibuat terpesona akan aura kecantikan yang timbul dari kekasihnya itu.


"Baiklah, karena kedua calon mempelai sudah hadir, wali nikah alias ayah dari mempelai wanita juga sudah berada di samping saya. Kemudian dua orang saksi dari masing-masing calon mempelai, terlihat sangat siap menyaksikan akad nikah yang akan diucapkan oleh sang mempelai pria, mari langsung saja kita mulai niat yang baik dan mulia ini tanpa harus membuang waktu lebih lama." Bapak penghulu berbicara, dan mempersilakan sang MC memulai acara.


Seorang MC pria yang bertugas saat itu, memulai rangkaian acara satu demi satu, hingga inti acara yang ditunggu oleh semua yang hadir pun tiba.


"Mas Dirga Narendra, betul yah namanya?" tanya penghulu memastikan.


"Betul, Pak!" jawab Dirga mantap.


"Masya Allah, jawabanya mantap. Tegas sekali. Rupanya Mas Dirga ini sudah sangat siap!" ucap penghulu yang sepertinya tengah menggoda. "Apa jangan-jangan udah enggak sabar pingin buru-buru aja nih?" pertanyaan dari bapak penghulu, membuat semua orang yang berada di dalam mesjid tertawa.


Dirga ikut tersenyum dengan guyonan yang diucapkan oleh sang penghulu. Sungguh Dirga bisa menguasai dirinya, ia telah bersikap santai dan sangat siap melakukan akad nikahnya.


Dirga yang menjabat tangan calon mertuanya, memandang lekat tanpa berkedip mengikuti arahan sang penghulu.


Pada akhirnya, cukup dengan satu kali pelafalan, Dirga berhasil memperistri Amelia, dan dinyatakan sah sebagai pasangan suami istri.


Amelia nampak menangis di samping bundanya dan juga Bu Ninta, yang sekarang telah sah menjadi mertuanya.


"Selamat, Sayang. Sekarang kamu sudah resmi menjadi seorang istri. Bukan Bunda dan Ayah lagi yang bertanggung jawab atas semua hal tentang dirimu, tapi Dirga --suamimu-- yang sekarang memiliki tanggung jawab penuh atas diri kamu. Bersikap baiklah dalam kehidupanmu yang baru. Jadilah seorang istri yang solehah." Ucapan selamat dan juga wejangan dari sang bunda, tentu saja membuat Amelia semakin menangis tersedu.


Ketika ia berpindah pelukan kepada mertuanya, hal yang sama juga dilakukan dan diucapkan oleh Bu Ninta pada sang menantu.


Ketika keduanya dipertemukan untuk memasangkan cincin yang merupakan mahar pernikahan dari Dirga untuk sang istri, tak terasa air mata kembali tumpah dari pelupuk mata Amelia ketika sang suami mencium keningnya setelah pemasangan cincin selesai.


Segala proses dari penandatangan berkas pernikahan atau buku nikah dan rangkaian acara akad dari sungkeman atau meminta maaf kepada masing-masing kedua orang tua juga selesai dilaksanakan, kini Dirga dan Amelia tengah berdiri untuk menerima ucapan selamat dari seluruh anggota keluarga yang turut bahagia atas pernikahan keduanya.


***


Malam hari, pesta resepsi digelar di sebuah ballroom hotel berbintang. Tamu yang diundang dengan jumlah mencapai angka seribu orang, membuat mempelai pengantin dan kedua orang tua cukup merasakan kelelahan. Meski lelah mereka semua nampak bahagia, terutama sekali dua insan yang kini telah sah menjadi suami istri --Dirga dan Amelia. Keduanya selalu memancarkan aura kebahagiaan di hadapan para tamu undangan.


Para tamu yang hadir malam hari, merupakan para kolega, sahabat dan juga rekan-rekan dari dua pihak keluarga. Tentu saja, undangan terbanyak berasal dari pihak keluarga Narendra. Bagaimana tidak, keluarga Narendra merupakan keluarga pengusaha yang cukup terkenal dan disegani oleh sesama pengusaha lainnya. Sehingga sangat sulit menyortir undangan jika tidak benar-benar jeli. Jumlah seribu itu termasuk dibatasi, jika tidak, mungkin undangan yang tidak tersortir itu bisa mencapai dua hingga tiga ribu undangan.


"Nak Dirga, selamat atas pernikahannya." Pak Dimas, pemilik PT. Buana, hadir bersama sang istri --Siska-- dan juga putri cantiknya --Cintya-- yang hadir bersama calon suaminya --Marcel.


"Terimakasih, Pak Dimas. Terimakasih untuk kalian semua yang meluangkan waktunya dalam acara pernikahan kami berdua."


"Sama-sama, Pak Dirga. Jujur saja, saya tidak menyangka, jika Pak Dirga mendahului kami berdua," ucap Cintya tersenyum. Gadis itu terkejut ketika mendapatkan kartu undangan pernikahan Dirga di meja kerjanya, seminggu yang lalu.


"Kamu sungguh hebat, Nak. Bapak tidak sangka keduluan olehmu." Pak Dimas tertawa sembari menepuk-nepuk bahu Dirga.


"Pak Dimas bisa saja. Dua minggu bukan waktu yang lama, Pak. Bapak akan secepatnya memiliki menantu juga," ucap Dirga melirik ke arah Marcel dan Cintya. Kedua orang yang dipandangi oleh Dirga, hanya bisa tersenyum. Marcel yang merupakan mantan kekasih Cintya itu, yang dulu sempat diputuskan oleh Cintya karena rumor yang mengatakan bahwa Marcel telah menghamili wanita lain, kini kembali menjalin hubungan setelah rumor negatifnya dulu tidak terbukti.


"Istrimu sangat cantik, Nak!" ucap Bu Siska memuji kecantikan Amelia dengan tangannya yang menyentuh dagu gadis itu.


"Terimakasih, Bu. Anda terlalu memuji." Amelia tersipu malu mendapati dirinya dipuji oleh wanita yang cantik dan berkelas meski usianya yang sudah tidak muda itu.


Semua kolega berkesempatan memberikan ucapan selamat kepada sang pengantin, meski antrian sedikit mengular.


Saat tiba para karyawan PT GeHa mendapat giliran mengucapkan selamat, tiba-tiba suasana menjadi heboh, mereka sungguh tidak menyangka, betapa cepat proses keduanya hingga menikah, dari saat hubungan cinta antara Amelia dengan sang atasan diketahui publik.


"Kamu luar biasa!" ucap Bu Susi sang manajer tersenyum.


"Aku mesti belajar sama kamu, Mel!" giliran Sofi berbicara. "Hei, mau dikemanakan pacar kamu?" balas Amelia, yang mendapatkan kekehan dari temannya itu.


"Mel, sungguh aku tidak menyangka!" ucap Mirna yang datang bersama Dika.


"Amelia, kamu sangat pandai menutupi semuanya, kami tertipu olehmu," kelakar Mesi pada Amelia. Sebuah kejutan nampak terlihat ketika Mesi hadir bersama Wali, sahabat Dika.


Semua orang berkesempatan bertemu dan juga berpoto bersama pengantin. Tapi dari itu semua, kehebohan berikutnya yang terjadi adalah, ketika Boby dan Ninda, Anya dan Oka, tentu saja tak lupa Juna --sang asisten-- dan Nancy, dan juga Arga yang belum memiliki pasangan, berkesempatan berpoto bersama di atas panggung pengantin. Meski pun pagi hari saat akad mereka sudah banyak melakukan sesi poto dengan berbagai macam gaya dan rupa, namun tetap saja, ketika waktunya pesta resepsi, mereka tak mau ketinggalan.


"Ya ampun, apa kalian belum kehabisan gaya sampai tamu yang lain harus mengantri demi menunggu kalian selesai berpoto!" ucap Pak Harsa, pura-pura menghardik orang-orang terdekat sang pengantin.


Semua hanya tertawa mendapati sang pemilik hajat mengomeli mereka. Meski begitu, semua nampak bahagia dengan pernikahan teman dan juga sahabat mereka, Dirga dan Amelia.


Kedua pengantin yang tak henti terus mengumbar senyum, meski pun rasa lelah telah melanda keduanya, dikarenakan persiapan proses pernikahan yang terjadi sejak seminggu yang lalu, hingga malam hari itu, cukup menguras energi dan juga tenaga mereka semua yang terlibat di dalamnya.


Namun semua terbayarkan dengan kebahagiaan semua orang yang menyempatkan hadir untuk memberikan doa dan juga restu kepada Dirga dan Amelia.


Pertemuan yang unik dan tak disangka, mampu mempertemukan kedua insan manusia untuk mencapai kebahagiaan. Tidak ada yang tidak mungkin, jika sudah ada takdir Tuhan di dalamnya.


***************TAMAT******************


Selamat untuk Amelia dan Dirga.


***


Alhamdulillah, meski beberapa saat yang lalu aku sempat hiatus, namun pada akhirnya aku bisa menamatkan novelku ini.


Uhhhh ...... Terharu 🤧 karena cerita Dirga dan Amelia harus tamat, meski pun aku suka dengan tokoh ini.


Untuk reader setiaku, aku ucapkan terimakasih banyak atas waktu luangnya untuk membaca cerita recehku ini. Dan terimakasih juga karena setia menunggu setiap hari aku update cerita.


Sampai jumpa di ceritaku yang lainnya.


***


Apakah aku perlu menulis bab ekstra???


***