My Boyfriend Is A CEO

My Boyfriend Is A CEO
Kehangatan itu belum berakhir



"Kamu sudah lebih baik sekarang?" tanya Dirga kepada sang kekasih.


"Ya, terimakasih, Dirga."


"Syukurlah kalau begitu, sekarang waktunya kita bersiap!" seru Dirga sembari mengangkat tubuh Amelia yang nampak polos tertutup selimut.


"Bersiap? untuk apa?" tanya gadis itu kaget dengan tangan yang melingkar di leher kekasihnya.


"Apakah kamu sudah lupa?" Dirga bertanya heran, "bukankah tadi kamu janji akan membalas aksiku padamu? Bukankah kamu ingin membuat aku merasakan kenikmatan yang sudah kamu rasakan tadi?" bisiknya di telinga Amelia.


Seketika wajah gadis itu memerah. "T-tapi Dirga, a-aku t-hmmm ...!" Ucapan terbata Amelia, terpotong dengan sebuah aksi ciuman bibir yang Dirga daratkan pada kekasihnya.


Dirga melangkahkan kaki menuju kamar mandi dengan bibir keduanya yang saling berpagut mesra. Amelia yang mendapat serangan mendadak dari Dirga, hanya bisa pasrah dan terdiam.


Dalam bayangan Amelia, pembalasan yang Dirga harapkan dari dirinya, membuat ia terkena serangan panik, sehingga ia tak bereaksi ketika Dirga mencumbu bibirnya dengan sangat liar.


Ketika telah sampai di dalam kamar mandi, Dirga menurunkan kekasihnya tepat di bawah kran shower.


"Kamu sudah siap?" tanya Dirga dengan nafas yang masih tersengal. Pun yang dilakukan oleh Amelia, cumbuan yang dilakukan kekasihnya membuat ia hampir kehabisan nafas.


"S-siap untuk apa?" Amelia pura-pura tidak tahu.


"Memanjakanku!"


"E-eh, tapi bagaimana caranya, a-aku tidak tahu!"


"Tadi aku sudah memberitahumu," sahut Dirga sembari tersenyum menatap lekat wajah Amelia.


Sesungguhnya lelaki itu hanya sedang menggoda gadisnya saja. Ia senang melihat wajah kemerahan yang membuat ia gemas dan selalu ingin menerkamnya.


"A-apakah tidak ada cara yang lain?" tanya Amelia mencari solusi yang menurut ia lebih baik.


"Ada!" jawab Dirga tanpa ragu.


"A-apa?"


"Namun sejujurnya aku belum mau melakukannya saat ini."


"K-kenapa?"


"Karena aku tidak ingin menikmati malam pertama kita nanti, dalam keadaan pengantin wanitaku yang sudah tidak perawan."


"Maksudmu? Ah ...!" Seketika Amelia menutup mulutnya. Ia paham sekarang dengan apa yang Dirga maksudkan.


Dirga tersenyum saat melihat kekasihnya itu sedang merasakan malu. Merah merona wajah itu. Rasanya Dirga ingin langsung saja menerjangnya.


"Mengapa tidak ada cara yang lebih baik dan tidak menyulitkan?" gumam Amelia yang bisa didengar dengan jelas oleh Dirga.


"Semuanya tidak sulit, hanya saja kita belum bisa melakukannya saat sekarang," ucap Dirga.


"J-jadi?" tanya Amelia menatap kekasih tampannya itu.


"Jadi ...?" tanya Dirga balik.


"Jadi, apakah kamu tidak ingin merasakan yang aku rasakan tadi?"


"Tentu saja aku mau, tapi tidak sekarang. Sekarang, lebih baik aku membantumu membersihkan tubuhmu yang sudah, ehm ... bau!"


"Kamu tuh, yah, paling bisa ngeledek aku terus!" seru Amelia sambil mencubit pinggang Dirga.


"Aduh-duh! iya, iya, maaf. Ya sudah, kamu mandi dulu."


"Kamu keluar dulu bisa 'kan?"


"Keluar? memang apa yang mau kamu sembunyikan lagi dariku? semuanya sudah aku lihat, kecuali yang satu ini saja," ucapnya sambil menyentuh tubuh bagian bawah Amelia.


"Aku pasti akan mengunjunginya nanti." Dirga berbisik dan mengulum serta sesekali menggigit kecil telinga sang kekasih.


"Apakah kamu masih ingin merasakan kenikmatan seperti tadi lagi?"


Amelia tidak menjawab, ia terlampau malu untuk mengeluarkan suaranya.


"Kuartikan itu adalah, iya!" Tanpa basa-basi, Dirga langsung melepaskan selimut yang menutupi tubuh Amelia. Ia kembali memainkan aksi liarnya terhadap gadis itu. Ia benar-benar serius melakukan permainan, yang awalnya hanya untuk menghapus jejak-jejak dari cumbuan menjijikan Aron.


Aksi yang katanya bersih-bersih itu cukup memakan waktu, hingga untuk kedua kalinya gadis itu mencapai puncak kenikmatannya.


"Dirga, sudah cukup!" kata Amelia terengah dengan bibir Dirga yang masih asik mencumbu bukitnya. Gadis itu tidak bisa membayangkan, jika harus merasakan hal itu untuk ketiga kalinya hanya dalam satu waktu. Padahal saat ini saja ia sudah tidak mampu menopang tubuhnya berdiri, jika bukan Dirga yang menahannya.


Dirga mendongak dan tersenyum. Dengan sigap ia menyalakan kran shower yang berada tepat di atas kepala mereka. Seketika air shower membasahi tubuh keduanya.


"Bajumu basah!" seru Amelia, yang sudah tidak lagi merasakan malu berdiri dengan tubuh polos di depan kekasihnya itu. Pikirnya saat ini, itu semua percuma.


"Tidak apa-apa, nanti Juna akan membawakan pakaian ganti untukku." Tak mungkin Dirga membuka seluruh pakaiannya di depan gadisnya. Ia tidak mau jika Amelia menyadari bahwa ia tengah menahan dengan sekuat tenaga, anggota tubuhnya yang sedari awal sudah bereaksi semenjak ia mencumbu kekasihnya itu.


***


"Sudah selesai?" tanya Amelia, saat Dirga masuk ke dalam kamarnya dengan handuk miliknya yang melilit di pinggang Dirga.


"Hem, ya!" sahut Dirga. Keduanya memang tidak selesai dalam waktu yang bersamaan. Tentu saja Amelia selesai lebih dulu dibanding Dirga yang harus mendinginkan anggota tubuhnya yang kepanasan dan tidak kunjung tertidur. Semuanya lambat terjadi karena Amelia masih berada di dekatnya. Dan tentu saja pesona gadis itu selalu menarik perhatian dan membangkitkan nafsunya.


"Apakah Juna belum datang juga?"


"Iya, sepertinya belum."


Dirga berjalan menghampiri Amelia yang terduduk di kursi depan cermin besar, tengah mengeringkan rambut panjangnya yang basah. Dipeluknya gadis itu dari belakang dan menarik wajah itu agar menghadapnya.


"Kamu sudah bisa melupakan apa yang sudah terjadi?"


"Belum sepenuhnya," lirih Amelia.


"Kamu tenang saja, aku pasti akan membuatmu melupakan peristiwa buruk tadi dan menggantinya dengan kenangan yang indah."


"Terimakasih, Dirga."


Dirga mencium bibir Amelia lembut. Hanya sebentar, dan malah meninggalkan Amelia yang terpejam dengan bibir sedikit terbuka. Gadis itu tidak menyangka jika Dirga melakukannya hanya sekejap saja.


"Kamu berharap aku melakukannya dalam tempo yang lama?" goda Dirga dengan tangannya yang mengusap lembut bibir kekasihnya yang masih terbuka.


"Ka-mmm!" Tak diberikannya kesempatan bagi Amelia untuk memprotes keusilannya. Namun pada akhirnya sang gadis mengikuti juga irama yang ia ciptakan dan menikmati aksi bibir dan lidah miliknya.


Tok! Tok! Tok!


Amelia melepaskan pagutan yang Dirga lakukan dengan sedikit kesusahan.


"Ada yang datang!"


"Aku tahu, memang kenapa? Bukankah kita sedang menikmati waktu berdua kita sekarang?" Dirga kembali menggoda dengan menempelkan bibir keduanya. Ia tahan rahang pipi Amelia agar tetap dalam posisinya.


"Dirga, itu pasti Mas Juna. Kasihan jika ia harus menunggu lama. Lagipula kamu belum memakai baju, kalau tidak nanti kamu kedinginanan." Amelia kembali berhasil melepaskan pagutan yang Dirga lakukan.


"Kan ada kamu yang menghangatkan!"


"Dirga!" pekik Amelia dengan diakhiri senyuman.


"Baiklah. Aku akan menemuinya. Kamu tunggu di sini, karena masih ada hal yang harus kita bicarakan."


Amelia menjawab dengan menganggukkan kepalanya.


***