My Boyfriend Is A CEO

My Boyfriend Is A CEO
Cerita Mang Sasta



"Mel, udah siap belum sih, lama bener dandannya," teriak Boby di teras rumah Amelia.


"Ini udah kok, Bob. Kamu berlebihan banget deh, belum juga setengah jam udah dibilang lama," sahut Amelia, yang ikut menggerutu dari dalam rumah.


"Emang butuh berapa lama lagi sih? setengah jam nggak cukup apa?" omel Boby.


"Perempuan kalau dandan kan emang lama, Bob."


"Lah, kan kamu biasanya juga nggak pernah dandan."


"Iya, biasanya aku emang nggak pernah dandan. Tapi berhubung hari ini acara orang kelas atas dan secara kebetulan juga, Dirga, kekasih aku diundang dan bakal datang, ya aku harus dandan biar terlihat cantik dong, Bob."


"Iya deh iya. Ya dah, yuk! kita berangkat."


"Iya, iya. Aku kunci pintu dulu."


"Eh, Mel, kenapa kamu nolak tawaran Pak Dirga buat jemput kita sih? kan lumayan, Mel, irit ongkos," kata Boby terkekeh.


"Nggak mau ah, ngerepotin. Nggak enak, Bob," sahut Amelia.


Belum juga keluar dari pagar rumah, terdengar suara klakson mobil dari arah depan rumah.


"Tiin ... tiin ... "


Terlihat sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam terparkir di depan pagar.


"Mel? Itu mobil siapa?" tanya Boby dengan wajah melongonya.


"Nggak tau, Bob. Eh tapi sebentar, kayanya aku kenal deh."


Keduanya menghampiri mobil yang tadi membunyikan klakson ke arah mereka.


Kaca mobil bagian depan penumpang turun perlahan. Nampak seorang pria paruh baya berada di belakang setir.


"Maaf, bapak mau cari siapa?" tanya Amelia menghampiri si Bapak.


"Apa betul ini rumah Non Amelia?"


"Iya betul, Pak. Saya Amelia. Ada perlu apa yah?"


"Oh, ini Non Amelia?" ucap si Bapak kemudian turun dari mobil.


"Selamat malam, Non Amelia. Perkenalkan, saya Mang Sasta, supir keluarga Narendra."


"Eh iya, Mang Sasta. Selamat malam. Mang Sasta ada keperluan apa ke mari?"


"Saya diperintahkan oleh Den Dirga untuk menjemput Non."


"Jemput saya? Tapi saya mau pergi, Pak. Saya ada keperluan."


"Iya, saya disuruh jemput Non Amelia ke tempat acara yang akan Non hadiri."


"Mel, pacar kamu emang luar biasa," bisik Boby di dekat telinga Amelia.


"Ih, apa sih, Bob."


"Maaf Mang Sasta, apa Pak Dirga sudah ada di sana?"


"Iya sudah, Non. Makanya ini saya di suruh jemput Non."


"Ya udah, Mel. Kita ikut Mang Sasta aja. Kasian udah jauh-jauh jemput kita. Lagian kalau nggak jalan sekarang nanti malah makin telat lagi."


"Ya udah, iya," sahut Amelia, "Mang Sasta, maaf yah kami jadi merepotkan."


"Oh, tidak, Non. Ini memang sudah jadi bagian tugas saya sebagai pegawai keluarga Narendra. Non Amelia tidak perlu merasa tidak enak."


"Iya, Mang. Kalau begitu, terimakasih sebelumnya yah."


"Sama-sama, Non."


"Ya udah, bisa kita berangkat sekarang, Mang Sasta?" tanya Boby.


"Oh iya, Den. Ayo! Silakan," ucap Mang Sasta sembari membuka pintu mobil bagian belakang khusus penumpang.


"Terimakasih, Mang," ucap Amelia.


Mang Sasta tidak membalas, beliau hanya menganggukkan kepalanya saja.


Setelah semuanya masuk, mobil pun melaju dengan segera membelah jalanan dimalam hari.


"Mang Sasta, nggak usah panggil saya 'Den', panggil Boby aja," ujar Boby.


"Iya, Mang. Sama saya juga. Jangan panggil Non, panggil Amelia aja."


Amelia dan Boby saling berpandangan kemudian tersenyum.


"Maaf, saya nggak bisa. Nggak pantas kayanya."


"Tapi kita yang nggak enak, Mang."


"Ehm ... ya udah gimana kalo Mba dan Mas aja?" saran Mang Sasta.


"Nah, itu lebih baik," seru Boby.


"Iya, Mas. Dengan Mas siapa? Maaf, saya lupa tanya," tanya Mang Sasta terkekeh.


"Saya Boby, Mang. Sahabatnya Amelia."


"Ngomong-ngomong, Mang Sasta udah lama kerja sama Pak Dirga?" tanya Boby.


"Oh, sudah, Mas. Saya sama istri, kerja dengan keluarga Narendra itu dari masih bujangan. Saya ketemu sama istri itu di sini Mas, Mba." Cerita Mang Sasta.


"Wah, cinta lokasi nih ceritanya," kata Boby tersenyum.


"Ya, gitu deh, Mas."


"Mang Sasta sudah punya anak?" tanya Amelia.


"Alhamdulillah sudah, Mba. Anak saya tiga. Dua di kampung dan satu yang paling besar di sini ikut bantu-bantu saya sambil sekolah."


"Kelas berapa yang tinggal di sini?"


"Sudah kuliah, Mba. Sudah mau selesai."


"Wah, keren nih, Mang Sasta."


"Ah, biasa saja, Mas. Yang keren itu keluarga Narendra. Mereka semua orang-orang baik. Saya dan istri berhutang banyak sama mereka. Baik hutang finansial ataupun hutang budi."


Amelia dan Boby manggut-manggut mendengar cerita Mang Sasta.


"Maaf kalau saya lancang, apa Mba Amelia ini kekasihnya Den Dirga?"


"Eh, euh ... " Amelia tergagap.


"Iya, Mang," sahut Boby.


"Boby!"


"Oh, iya. Maaf yah, Mba. Kalau saya lancang."


"Nggak kok, Mang."


"Saya lihat kayanya Mba Amelia orang yang baik, beda dengan kekasihnya dulu, Mba Sisy."


"Kenapa gitu, Mang?" tanya Boby.


"Mba Sisy itu baiknya di depan keluarga Narendra aja. Kalau di belakang, dia itu sama kaya wanita kaya kebanyakan."


"Maksudnya, Mang?" tanya Amelia penasaran.


"Iya, Mba Sisy itu sama aja seperti para wanita kaya lainnya. Suka belanja, nongkrong di klub malam, apa itu namanya, Mba?"


"Dugem, maksudnya, Mang?" seru Boby.


"Nah iya, dugem, Mas. Mba Sisy itu suka dugem. Malah pernah saya mergokin Mba Sisy itu sampe mabuk-mabukan."


"Kok Mang Sasta tahu? Dapat info darimana?" tanya Amelia lagi.


"Saya pernah lihat sendiri, Mba."


"Kok bisa?"


"Saya kan dulu sering di suruh Pak Dirga untuk anter Mba Sisy pulang, kalau habis berkunjung ke rumah. Nah setiap pulang itu, Mba Sisy nggak pernah langsung pulang, pasti selalu minta di anter ke klub-klub malam."


"Oh gitu. Apa Dirga tahu?"


"Pak Dirga dan seluruh keluarga nggak ada yang tahu, Mba. Saya juga nggak pernah bilang, karena itu bukan urusan saya."


"Bener tuh, Mang," sahut Boby.


"Iya, Mas. Saya kan orang luar, bukan siapa-siapa mereka. Kami-kami ini cuma pegawai. Tapi yang kami salut dari keluarga Narendra, mereka itu menganggap kami ini sebagai bagian dari keluarga. Itu yang membuat kami betah dan sangat menyayangi keluarga itu."


Boby dan Amelia terdiam.


"Makanya, ketika Den Dirga putus dan patah hati karena Mba Sisy, kami merasa kesal, marah tapi senang dan juga bersyukur."


"Hahaha, Mang Sasta bisa aja," seru Amelia.


"Bener, Mba. Saking sayangnya kami pada keluarga Narendra, kami bisa merasakan rasa yang sama dengan apa yang mereka rasakan."


"Mereka itu keluarga baik. Pak Harsa, Bu Ninta, Non Nancy dan juga Den Dirga, adalah orang-orang baik. Makanya saya turut bahagia bila seluruh anggota keluarga bahagia."


"Seperti sekarang ini. Sejak beberapa waktu terakhir, saya perhatikan ada perubahan pada diri Den Dirga di kesehariannya. Beliau lebih ceria dan lebih banyak becanda. Kami merasa bahagia melihatnya."


"Sejak Den Dirga putus dengan Mba Sisy, beliau berubah jadi pendiam dan seperti menjaga jarak dengan perempuan. Tapi sekarang terlihat berbeda."


Amelia dan Boby sudah tidak membalas perkataan dari Mang Sasta, mereka memilih diam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Mobil masih berjalan di tengah jalan raya dengan kondisi lalu lintas sedikit padat. Suasana sabtu malam yang tidak pernah berubah. Ramai dan padat oleh orang-orang dan kendaraan.


Amelia memikirkan seluruh perkataan dari Mang Sasta. Dia merasa jadi merasa minder kini. Orang yang saat ini menjadi kekasihnya adalah seseorang yang disayangi banyak orang. Orang yang berada di lingkungan keluarga baik-baik.


Ia berpikir, apakah kini ia pantas menjadi kekasih Dirga, setelah sedikit banyak ia tahu mengenai latar belakangnya.


***


Hai para readers aku yang baik hati dan masih setia dengan cerita ini. Maaf yah atas keterlambatan update bab-nya.


Untuk hari ini, aku posting satu bab dulu yah. Hayati sedang lelah :(


Happy reading yah :)


***