My Boyfriend Is A CEO

My Boyfriend Is A CEO
Aku Sudah Tak Tahan



"Sayang, yuk aku antar pulang! Ini sudah sangat malam," ajak Dirga di sela-sela obrolan hangat mereka.


"Oh iya. Tante sama Om, aku pamit pulang dulu yah. Juga Nancy."


"Baiklah, Nak Amelia. Besok hari minggu kamu libur bukan?" tanya Bu Ninta.


"Iya, Tante. Minggu pasti libur, benarkan Pak Dirga?" ucap Amelia dengan jahil bertanya pada kekasihnya itu.


"Iya, untuk urusan pekerjaan kamu memang libur. Tapi untuk urusan pribadi dengan aku, nggak ada libur," ucap Dirga spontan.


"Cieee ... so sweet ih, bikin iri aja deh kalian ini," sahut Nancy melihat tingkah kakaknya yang nampak mesra pada Amelia.


Amelia terlihat malu, wajahnya sudah nampak kemerahan.


"Ya sudah, urusan besok biar jadi urusan Dirga. Tapi Tante harap, Dirga akan membawa kamu lagi ke sini. Kita bisa bikin kue bareng. Sudah lama Tante nggak ada temen buat coba-coba buat kue baru."


"Ish, Ibu ini. Masa belum apa-apa, Ibu udah mau monopoli aja."


"Kamu ini, Mas. Belum apa-apa juga udah cemburuan gitu."


"Sudah-sudah, ibu sama anak kok kompak bener kalau urusan berantem." Pak Harsa menengahi.


"Mas, sudah sana anter Nak Amelia pulang. Kasihan sudah malam," lanjut Pak Harsa.


"Baik, Yah."


Dirga kemudian bangkit berdiri dan mengajak Amelia untuk pulang.


"Ayo!"


"Tante, Amelia pamit dulu yah. Makasih sudah diajak main ke sini."


"Iya, Nak. Hati-hati di jalan yah, Tante tunggu kamu main lagi ke sini."


"Siap, Tante."


Amelia mencium tangan Bu Ninta kemudian tanpa diduga, ibu Dirga lantas mencium kening gadis itu.


Dilanjut mencium tangan Pak Harsa.


"Om, Amelia pamit."


"Iya, Nak."


Melirik ke arah Nancy, yang telah berdiri menyambut uluran tangan Amelia.


"Aku pulang dulu yah, Nancy? kapan-kapan kita ngobrol lagi."


"Oh jelas dong, Mba. Nancy tunggu kakak ipar balik lagi ke sini."


Amelia menghampiri Dirga yang tanpa malu-malu mengulurkan tangannya menyambut Sang kekasih hati.


"Yah, Bu .... Dirga antar Amelia dulu yah."


"Iya. Kamu bawa supir, Mas?"


"Nggak, aku sendiri saja, Yah."


"Ya sudah, hati-hati, Mas."


"Ok, Yah."


Dirga masih enggan melepaskan genggaman tangannya. Keduanya meninggalkan ruangan itu, berjalan menuju garasi.


"Kamu mau sampai kapan pegang tanganku terus?" tanya Amelia ketika sudah sampai di dekat mobil.


"Kalau masih bisa dipegang, kenapa harus dilepas," jawab Dirga dengan senyumnya yang selalu menawan di mata Amelia.


"Ayo naik!" ucap Dirga sambil membuka pintu mobil depan bagian penumpang.


"Terimakasih," ucap Amelia.


"Kenapa tadi kamu tidak ganti baju dulu?" sahut Dirga yang melihat kekasihnya itu masuk dengan sedikit kesulitan.


"Ganti baju siapa?" jawab Amelia ketika Dirga sudah berada di balik setir.


"Kamu ini bertanya seolah tidak tahu kekasihmu ini siapa."


"Aku memang tidak tahu," jawabnya usil.


Dirga hanya tertawa saja mendengar candaan dari kekasihnya tersebut.


"Aku hanya tidak ingin merepotkan kamu, Dirga."


"Kamu selalu saja mengatakan itu."


Mobil sudah melaju meninggalkan area komplek perumahan. Kini mereka telah berada di jalan raya. Suasana jalan sudah terlihat sepi. Maklum saja waktu sudah menujukkan angka tengah malam.


"Aku sudah biasa, Dirga. Kamu sudah tahu, hampir lima tahun aku tinggal di sana. Sejauh ini tidak ada masalah yang terjadi."


"Ya, aku tahu. Tapi bolehkan jika aku mengkhawatirkan dirimu?" ucapnya dengan tangan kiri yang mengecup lembut jemari kanan Amelia.


"Ya, boleh. Tapi jangan terlalu berlebihan juga."


"Apa rasa khawatirku ini kamu anggap sesuatu hal yang berlebihan?"


"Permintaan agar aku pindah dan tinggal di apartemen kamu, apa itu bukan hal yang berlebihan?"


"Itu bentuk rasa khawatirku padamu."


"Menurutku itu berlebihan. Kalau kekasihku bukan seorang kaya sepertimu, belum tentu ide itu akan melincur dari mulutnya."


"Sayangnya kekasihmu ini adalah seorang CEO yang bisa melakukan apapun untukmu."


"Wah, CEO kita sedang menampakkan kekuasaannya 'kah?" tanya Amelia dengan senyum jahilnya.


"Ya, untuk keselamatanmu aku tidak akan segan melakukan itu. Walaupun orang akan berkata aku menggunakan kekayaanku. Aku tidak peduli. Karena kenyataannya memang begitu."


Amelia terdiam mendengar ucapan dari Dirga. Ia merasa sangat beruntung menjadi kekasih dari seorang pria yang sungguh peduli dengan dirinya.


Keduanya terdiam hingga sampai di tujuan, yaitu rumah kontrakan Amelia.


"Sayang?"


"Hem?"


"Apakah aku tidak memiliki kesempatan untuk memperistrimu secepatnya?" tanyanya dengan wajah yang memandang dengan intens.


"Eh ... apa? Kenapa tiba-tiba kamu berkata seperti itu?"


"Tidak apa-apa. Aku hanya sudah tidak tahan saja," ucapnya dengan alis yang terangkat, berusaha menggoda gadis itu.


"Ya ampun, Dirga. Pikiranmu itu selalu saja ke arah sana," ucap Amelia malu.


"Hei, pikiran apa yang kamu maksud?"


"Tidak ada," jawabnya cepat.


"Ya sudah, aku mau turun," ucap Amelia seraya melepas safe belt dan hendak membuka pintu.


"Tunggu dulu," sahut Dirga menahan tangan gadis itu.


"Apa lagi?" seru Amelia sambil membalikkan tubuhnya secara cepat.


Tak disangkanya, bahwa wajah Dirga telah sangat dekat dengan dirinya. Tanpa sempat melawan, gadis itu telah masuk ke dalam perangkap Dirga.


Dirga yang tak mau melewatkan kesempatan emas di depan matanya, langsung saja menyambar tanpa ampun, membuat kekasihnya itu harus ekstra mengimbangi permainan yang telah dimulai.


Kaca mobil yang gelap, membuat Dirga leluasa memimpin permainan dengan sangat terampil, hanya sesekali ia melepas namun sedetik kemudian kembali melanjutkan.


Gadis cantik itu ikut terbuai menikmati aksi yang dilakukan oleh Dirga. Tak peduli lagi dengan tangan yang semakin liar menjamah tubuhnya itu.


"Sepertinya aku sungguh ingin segera bertemu dengan kedua orang tuamu, Sayang."


"Untuk apa?" ucap Amelia dengan sedikit terengah.


"Tentu saja untuk memintamu menjadi istriku."


"Sebegitu tidak tahannya 'kah dirimu?" sahut Amelia dengan jemari yang tergoda memainkan bibir Dirga.


"Hem," ucap Dirga yang menikmati permainan halus dari jemari Amelia di atas bibirnya.


"Maukah kamu bersabar? Kita belum ada sebulan menjalin hubungan ini. Bagaimana bisa kita memutuskan untuk menikah, jika kita belum menikmati masa pacaran kita dan mengenal lebih jauh pribadi masing-masing."


"Aku ingin menikmati masa pacaran kita setelah menikah."


"Begitukah? Apakah kamu sudah yakin sekali untuk menjadikan aku sebagai istrimu, Dirga?"


"Ya. Sangat yakin. Aku rasa kamulah yang tidak yakin dengan perasaanmu sendiri padaku."


"Tidak, bukan itu. Aku sudah yakin bahwa aku amat sangat mencintaimu. Namun aku hanya ingin memantapkan posisi aku saja di mata orang lain, agar aku tidak sakit hati nantinya."


"Jangan kamu pedulikan omongan orang lain, Sayang. Aku akan menjadi pembela di barisan paling depan jika sampai ada orang lain yang membicarakanmu."


"Terimakasih."


Dengan inisiatif yang Amelia miliki, ia tidak segan untuk memberikan kecupan pada kekasihnya itu. Ya, hanya kecupan, tidak lebih.


"Ayo masuk. Ini sudah malam sekali," ucap Dirga setelah mereka saling memadu kasih sebentar.


Bulan dan bintang di langit menjadi saksi saat mengintip kegiatan dua insan yang sedang bermesraan di dalam mobil tadi.


***