My Boyfriend Is A CEO

My Boyfriend Is A CEO
Akhir Riwayat Sisy



"Kamu sudah berubah Dirga. Kamu dulu tidak seperti ini. Kamu pria yang baik. Bukan pria yang bisa tidak peduli pada seorang wanita seperti ini."


"Aku tidak berubah, aku sudah begini dari dulu."


"Tidak. Sekarang kamu berbeda."


"Kalau kamu merasa aku berubah, mungkin karena kamulah aku berubah."


"Karena Aku?" jawabnya tidak terima.


"Ya. Karena perbuatanmu dulu telah membuat aku menjadi seperti ini. Menjadi pria yang tidak mau terlalu mudah terpesona oleh wanita hanya karena wajah cantiknya saja. Tidak mau terlalu bersikap baik pada wanita yang pada kenyataannya malah menusuk dari belakang," terdengar mulai ikut terbawa suasana.


"Lihat, kamu memang masih marah bukan?"


"Sekali lagi aku katakan, aku tidak marah padamu. Aku berkata demikian, karena kamu bertanya tentang perubahan sikapku saat ini. Dan aku hanya menjawab pertanyaan mu saja."


"Tapi Dirga...."


"Sudahlah Sisy jangan bersikap seperti ini. Kamu sudah menyadarinya bahwa aku bukan Dirga yang kamu kenal dulu. Jadi janganlah kamu terus-terusan bertindak agresif yang malah akan membuatku jadi makin menjauh dan membenci dirimu."


Tanpa berani membalas rentetan kalimat dari mantan kekasih nya itu, Sisy dengan air mata yang pada akhirnya tidak bisa Ia tahan, segera melangkahkan kakinya pergi meninggalkan ruangan itu.


Setelah kepergian Sisy, Dirga menghentikan kegiatannya memeriksa berkas pekerjaan nya. Ia senderkan tubuhnya ke kursi, ditengadahkan kepalanya ke atas sambil menarik rambutnya dari dua sisi.


Ia sudah cukup mencoba melupakan peristiwa itu. Dan kenyataannya Ia berhasil, meski butuh waktu berbulan-bulan lamanya.


Sisy Pramesti, adalah wanita yang pada awalnya dikenalkan oleh kedua orang tuanya. Wanita yang sejak pertama Ia lihat, sudah cukup menarik perhatiannya. Selain wajahnya yang cantik, sikap perhatiannya juga makin membuat Ia ingin mengenalnya lebih jauh. Nilai plus dari wanita itu karena Ia berasal dari keluarga baik-baik.


Tapi sayang, tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini.


Setelah dua bulan saling mengenal satu sama lain dan melakukan pertemuan-pertemuan yang intens, mereka akhirnya berkomitmen untuk mencoba menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih.


Selama dua tahun lamanya, memang tidak pernah terucap kata-kata cinta dari Dirga untuk Sisy. Tapi Dirga mencurahkan segenap jiwa dan perasaannya, dengan memberikan perhatian-perhatian dan juga kepedulian yang luar biasa terhadap wanita itu.


Hingga pada akhirnya peristiwa itu terjadi, dan Dirga saksikan secara langsung tanpa ada omongan atau laporan dari orang lain.


Dirga tahu kekurangannya. Namun semua Ia lakukan karena rasa sayang dan hormat nya kepada Sisy dan juga kepada kedua orang tua mereka. Sayangnya bukan itu yang ditangkap oleh Sisy.


Sisy sering menggunakan pakaian yang sedikit minim dan kurang bahan. Selain Ia memang senang memakainya karena Ia merasa menjadi terlihat cantik dan seksi, tujuan Ia memakai pakaian-pakaian itu juga tak lain adalah untuk memancing gairah kekasihnya itu. Tapi lelaki itu tak kunjung tergoda. Sampe Ia berpikir bahwa Dirga tidak mencintainya. Lelaki itu melakukan hubungan itu semua hanya karena rasa tidak enaknya terhadap orang tua mereka.


Dan akhirnya, yaaaa...seperti yang sudah di jelaskan di bab sebelumnya yah. Author


"Pak Dirga," suara Juna menyadarkan ia dari kenangan masa lalu nya.


"Iya."


Juna sudah menjadi asisten pribadi Dirga sejak lima tahun lalu. Jauh sebelum Dirga berkenalan dengan Sisy. Saat itu Dirga baru saja diserahkan jabatan sebagai seorang CEO di pundaknya. Juna adalah asisten pribadi pertamanya. Sebelumnya Ia adalah salah satu staf keuangan perusahaan, saat Bapak Harsa, ayahnya Dirga masih memimpin. Juna ditarik menjadi asisten pribadi, karena kedisiplinan dan performa kerjanya yang bagus. Selain itu juga, di karenakan bosnya itu tidak mau asisten pribadinya adalah seorang wanita.


Aneh. Disaat seorang pemimpin ingin asisten atau pendamping kerjanya adalah seorang wanita, itu semua tidak berlaku pada Dirga.


Alasannya mengapa, hanya Dirga yang tahu.


Jadi bukan hal yang aneh, jika Juna tahu peristiwa apa saja yang terjadi pada bosnya selama ini. Dan juga bagaimana sikap dan sifat nya yang kesininya cenderung menjadi pribadi yang pendiam tidak banyak bicara.


Namun beberapa waktu belakangan ini sikapnya sedikit demi sedikit mulai kembali seperti dulu. Mulai banyak tersenyum, ceria dan juga mulai banyak mengeluarkan kata-kata candaan yang semakin membuat hari-harinya lebih bersemangat dan bergairah.


Juna tahu semua itu dan Juna mengerti. Semua itu berawal semenjak Bosnya menolong seorang gadis di cafe. Amelia....


"Saya makan di kantor saja. Kamu pesankan saja makanan di kantin. Nggak perlu jauh-jauh pesan makanan di restoran."


"Baik Pak," sahut Juna.


Namun sebelum sebelum asistennya itu beranjak pergi,


"Juna, bagaimana tes interview gadis itu, apa Ia diterima?"


Juna paham siapa yang atasannya maksud.


"Menurut info yang saya dapatkan, hari senin ini baru ada pengumuman hasilnya, Pak."


"Oh begitu."


"Apa Bapak mau jika gadis itu diterima dan bekerja secepatnya?"


"Ah, biarkan saja. Saya tidak mau ada intervensi dalam penerimaan pegawai perusahaan, baik di pusat atau anak cabang. Itu semua sudah menjadi wewenang manajer personalia di sana."


"Baik Pak."


Benarkah..... Juna


"Beritahu saya secepatnya saat hasilnya keluar. Bila gadis itu tidak diterima di sana, kamu tarik saja dia agar bekerja di pusat."


Lihat lah Pak, anda bicara intervensi. Tapi anda malah membuat hal yang lebih dari sekedar ikut campur. Juna


"Kenapa kamu masih berdiri di situ, cepat pesankan saya makanan," seketika nada bicara nya berubah, tidak sehalus saat membicarakan gadis pujaannya.


"Baik Pak. Saya permisi."


***