
Saat Dirga dan Nancy turun, ternyata sudah ada Juna di sana. Seketika raut wajah Nancy sedikit berubah, ada binar bahagia di matanya, saat mata hitam milik Juna memandangnya.
Dirga yang menyadari perubahan sikap adiknya, langsung timbul ide untuk menjahili.
"Juna, ada yang kangen sama kamu nih," teriak Dirga dari arah tangga.
Nancy langsung membelalakkan matanya manakala sang kakak dengan isengnya membuat dia harus menahan malu karena tingkahnya yang disengaja.
"Mas Dirga! apaan sih?" Nancy terlihat kesal.
Juna dan orang-orang yang sudah ada di meja makan itu, saling menatap satu sama lain, karena tak mengerti apa yang dimaksud oleh Dirga.
"Selamat pagi, Pak Dirga." Juna bangun dari duduknya dan membungkukkan badan memberikan hormat.
Meski masih heran dengan kalimat yang diucapkan oleh atasannya, Juna tidak berani untuk menanyakan lebih lanjut.
"Pagi," Dirga menjawab salam pagi sang asisten.
"Selamat pagi, Ayah dan Ibuku yang cantik."
"Selamat pagi," jawab Pak Harsa.
"Pagi," balas Bu Ninta sedikit heran, "kamu ini kenapa, Mas? pagi-pagi udah ngegombal."
"Nggak ada apa-apa kok, ingin memulai hari dengan sedikit ceria aja."
"Lucu deh kamu ini, tumben-tumbenan banget," ucap Bu Ninta masih dengan ekspresi terkejutnya.
Belum pernah ia melihat anaknya seceria itu. Ada apakah gerangan?
"Nak Juna?"
"Eh iya, Bu."
"Ibu mau tanya, apakah perusahaan kalian baru saja mendapatkan sebuah proyek?"
"Hah!" Juna terkaget, ia tak paham maksud dari omongan Bu Ninta.
"Maksud Ibu apa yah? Maaf, saya belum mengerti."
"Ibu lihat, hari ini Mas Dirga sedikit berbeda, apakah dia baru saja mendapatkan proyek besar bernilai miliaran?" tanya Bu Ninta dengan wajah serius.
"Maaf ibu, hampir setiap hari ada saja yang menawarkan kontrak kerjasama dengan PT GeHa, tapi tidak semua penawaran itu kami ambil."
"Hahhaha..." Tiba-tiba Dirga tertawa mendengar kalimat yang Juna ucapkan.
Semua melihat ke arah si empunya suara. Tak terkecuali sang bunda sendiri.
"Juna, kamu nggak akan paham dengan pertanyaan dari ibu saya." Masih dengan sisa tawanya.
Juna heran, apa sebetulnya yang sedang dibahas oleh orang-orang ini.
"Ibuku sayang, nanti ada waktunya dimana Dirga menceritakan semuanya. Tapi bukan sekarang. Dan ibu nggak perlu repot tanya sana sini mengenai apa yang sedang Dirga alami saat ini."
Bu Ninta terdiam, begitupun dengan Pak Harsa dan juga Nancy.
Juna baru paham sekarang, obrolan apa yang sedang menjadi pembahasan keluarga ini.
"Ya sudah, kita makan. Ayah dan ibu sudah menunggu kalian dari tadi," ujar Pak Harsa.
Pagi ini, mereka melakukan sarapan tanpa banyak bicara. Hanya sesekali saja pertanyaan keluar dari mulut Pak Harsa yang selalu setia menanyakan mengenai perkembangan perusahaan.
Dan itu sangat disukai oleh Dirga. Ia merasa diperhatikan oleh sang ayah. Walaupun selama ini ayahnya tak pernah ikut campur dalam setiap tindakan atau langkah yang Dirga ambil dalam menjalankan perusahaan, tapi wejangan dan nasehat dari ayahnya sangat ia butuhkan.
***
"Mari kita berangkat, ini sudah sangat siang," ucap Dirga pada Juna.
"Baik, Pak. Pak Ujang juga sudah siap dengan mobilnya sedari tadi."
Mereka berjalan menuju garasi. Baru beberapa langkah kaki,
"Mas Dirga!" teriak Nancy.
Yang dipanggil berbalik.
"Ada apa? Mas sudah kesiangan nih."
"Nancy ikut."
"Hah? Mau ngapain?" Dirga heran dengan tingkah laku sang adik.
Memang bukan sesuatu yang aneh baginya, ketika Nancy atau keluarganya yang lain datang ke kantor. Karena dari semenjak ia diserahkan tampuk kepemimpinan oleh sang ayah, adiknya itu sering datang menemuinya.
Namun, sejak Nancy sibuk kuliah, ia sudah tidak pernah lagi datang menemui Dirga di sana. Makanya, ketika sekarang adiknya itu ingin ikut bersamanya, Dirga merasa heran dan aneh.
"Pingin ikut aja, bosen di rumah. Lagi nggak ada kuliah juga hari ini. Udah tinggal persiapan mau KKN kan."
"Ya, tapi kamu mau ngapain juga di kantor. Nanti bosennya malah pindah di sana."
"Ya udah, terserah kamu aja."
Juna yang sama juga merasa heran seperti Dirga, lebih memilih diam dan tidak ikut berkomentar.
Dalam hatinya, ada rasa senang yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.
Aku akan melihat wajahnya seharian ini. Juna
Ketiganya segera bergegas mengejar waktu yang semakin siang.
***
"Hari ini jadwal Mas cukup padat. Terserah kamu mau ngapain di kantor. Kalau ada apa-apa bisa tanya Rena sekertaris Mas. Dia sekertaris baru, kamu belum tahu. Nanti kamu bisa kenalan."
Panjang lebar Dirga menjelaskan kepada adiknya, saat mobil berhenti di depan gedung.
"Iya, tenang aja. Mas Dirga nggak usah ngurusin Nancy. Aku bukan anak kecil lagi. Lagipula kan ada Mas Juna juga, bisa bantu-bantu aku nanti."
"Hei, kamu ini lupa. Juna itu asisten Mas, jadi kalau aku sibuk, ya Juna juga sibuk. Kamu gimana sih?"
"Oh iya, lupa. Sorry." Terkekeh Nancy mendengar omongannya sendiri.
"Pokoknya Mas Dirga nggak perlu khawatir. Fokus aja sama kerjaan Mas di kantor."
"Iya, terserah kamu kalau gitu."
Dirga keluar ketika pintu mobil dibuka dari luar oleh salah seorang satpam yang sedang bertugas.
Nancy ikut keluar dari pintu lainnya.
"Selamat pagi, Pak Dirga."
"Selamat pagi, Pak."
"Tumben agak siang sampai kantornya, Pak Dirga," tanya pak satpam berbasa-basi.
"Iya nih, Pak. Ada sedikit gangguan tadi."
"Oh gitu, Pak," senyum nampak terlihat dari wajah satpam bernama, Hendra.
"Nih, gangguannya," ucap Dirga ketika Nancy menghampirinya.
"Ish, apa sih."
"Eh, ada Mba Nancy. Selamat pagi, Mba. Udah lama nggak pernah berkunjung ke kantor."
"Selamat pagi juga, Pak Hendra. Iya nih, Nancy sibuk kuliah. Jadi nggak pernah sempat lagi deh ketemu sama Pak Hendra dan yang lainnya," ujar Nancy.
Pak Hendra tersenyum mendengar penuturan dari adik bosnya itu.
"Kamu masih mau di sini atau ikut ke atas?" tanya Dirga.
"Ya ke atas dong, Mas."
"Pak Hendra, permisi. Nancy ke atas dulu yah."
"Oh iya, Mba. Silakan."
Suasana kantor sudah mulai ramai. Para karyawan sudah mulai melakukan tugasnya masing-masing.
Dirga, Juna dan Nancy berjalan menuju lift untuk membawa mereka ke lantai atas, ke tempat ruangan Dirga.
Sepanjang jalan, para karyawan senior banyak yang menyapa Nancy, mereka senang menyapa adik bosnya itu. Karena selain cantik, Nancy juga memiliki sifat yang sama dengan keluarga Narendra yang lain, baik hati dan tidak sombong.
Pintu lift berhenti tepat di lantai tujuh, lantai khusus CEO. Di lantai ini hanya ada tiga ruangan.
Ruangan Dirga yang menyatu dengan ruangan kecil milik Juna. Satu lagi adalah ruangan yang digunakan untuk meeting jajaran direksi. Dan yang terakhir adalah ruangan yang didesain mirip dengan ruang santai khusus untuk menerima tamu-tamu penting.
Tapi ruangan terakhir jarang digunakan. Ruangan itu sering kosong. Juna sendiri tidak mengerti mengapa bosnya itu jarang menggunakan ruangan yang lebih mirip dengan ruang keluarga di rumah.
"Selamat pagi, Pak Dirga," sapa Rena, sang sekertaris.
"Selamat pagi."
"Oh iya, Rena. Kenalkan, ini adik saya, Nancy. Hari ini dia akan berada di sini menemani saya bekerja. Bila ada yang ia butuhkan, tolong kamu bantu."
"Baik, Pak Dirga."
"Selamat pagi, Mba Nancy. Perkenalkan saya Rena, sekertaris baru Pak Dirga."
"Hai, Rena. Saya Nancy. Senang berkenalan denganmu."
Keduanya saling berjabat tangan. Terlihat Juna yang terpesona dengan kecantikan salah satu wanita itu. Tentu saja, Nancy yang ia lihat.
***