My Boyfriend Is A CEO

My Boyfriend Is A CEO
Santap Siang Dirga Yang Lezat



Keduanya saling menghirup nafas, bahkan Amelia terlihat lebih menderita dengan wajah yang memerah saat ini.


Secara reflek, jarinya menyentuh bibir yang baru saja di sentuh dengan sangat lembut oleh pria tampan, yang saat ini berstatus bos di perusahaan tempat ia bekerja.


Mereka belum mengubah posisi. Dirga seperti enggan melepaskan tubuh gadis itu dari genggamannya.


"Kenapa?" Tanya Amelia, sembari memberanikan matanya menatap Dirga.


"Kenapa apanya?" Tanya Dirga balik, masih setia mengusap lembut bibir gadis itu.


"Kenapa anda melakukan hal yang demikian terhadap saya, Dirga." Tanyanya menginginkan jawaban.


"Itu adalah sebuah hukuman karena kamu masih memanggil saya dengan sebutan itu." Jawab Dirga enteng saja.


"Mulai hari ini dan seterusnya. Bila kita hanya berdua saja, mau di manapun itu, di kantor sekalipun, aku ingin kamu memanggilku Dirga." Lanjutnya.


"Kamu mengerti, Amelia?" Tanya Dirga.


"Sa.. Saya mengerti." Ucapnya sambil mengangguk perlahan.


"Bagus." Seru Dirga tersenyum.


"Tapi tadi..." Amelia hendak mengatakan sesuatu, tapi terdengar ragu-ragu.


Dirga hanya menatap sambil memiringkan wajahnya, menunggu apa yang akan gadis itu katakan.


"Tadi adalah yang pertama kali bagi saya." Ujar Amelia malu dan langsung menunduk.


Dirga sontak tersenyum. Melihat wajah Amelia yang malu, semakin membuatnya gemas.


Itu yang kedua bagimu, Amelia. Dan juga kedua kalinya bagi aku sendiri. Dirga.


Dirga tidak ingin mengatakan itu. Ia sudah berjanji pada dirinya.


"Memang kenapa? Apa kamu akan memberiku sebuah hukuman juga karena telah berlaku kurang ajar padamu, Amelia?" Sahut Dirga.


"Eh... Hukuman?"


"Hem... Aku akan menerimanya jika kamu menghukumku sekarang. Bahkan jika kamu menghukumku agar aku menikahimu, aku akan dengan senang hati melakukannya." Ujar Dirga lagi dengan senyum yang terus mengembang.


"Ap.. Apa? Mana ada hukuman seperti itu."


"Ya, barangkali saja kamu tidak terima karena perbuatan aku tadi, sehingga kamu meminta pertanggung jawaban dariku." Tutur Dirga.


"Ah.. Euh.. Tidak seperti itu." Sahut Amelia.


"Jadi kamu menerimanya?"


"Ap..apa? Menerima apa?"


"Sentuhan lembut dariku tadi?"


"Tidak!" Jawabnya spontan.


"Benarkah? Tapi mengapa kamu tadi seperti menikmatinya juga, Amelia." Ujar Dirga.


"Itu...itu mana mungkin. Itu tidak akan terjadi lagi."


"Wah, sayang sekali padahal aku masih ingin terus melakukan itu padamu."


"Ah, Dirga. Kamu jangan bercanda, ini sudah tidak lucu." Ucap Amelia yang terdengar panik.


Ia seperti kalah telak bila berbicara dengan pria itu.


"Apanya yang lucu? Menurutku juga ini bukanlah sesuatu yang lucu. Dan satu lagi, aku tidak pernah bercanda untuk sesuatu hal yang aku sukai." Ucap Dirga lembut namun penuh penekanan.


Amelia tidak bisa berkata-kata lagi. Ia sudah pasrah untuk saat ini. Karena tubuh dan jiwanya sudah tidak sanggup mendengar dan juga mendapat serangan luar biasa dari Dirga di hari pertamanya bekerja.


"Apa kamu sudah makan?" Tanyanya, masih dengan tatapan yang memabukkan.


"Belum. Tadi aku akan pergi istirahat saat Bu Susi mengatakan bahwa anda memanggil saya untuk datang kemari."


Di atas meja itu telah tersedia beberapa hidangan, dari makanan ringan, berat dan juga dessert, makanan kesukaan Amelia. Tak ketinggalan beberapa jenis minuman juga tersedia.


"Maaf, Dirga. Sepertinya itu bukanlah ide yang bagus. Bagaimana jika teman-teman belum melihat saya kembali nanti, sedangkan waktu istirahat sebentar lagi habis. Dan juga Ibu Susi akan mengadakan meeting dadakan sehabis jam makan siang selesai." Tuturnya memberi alasan.


"Di sini saya atasan mereka, dan tidak akan ada yang berani macam-macam dengan kamu, Amelia."


"Ini bukan masalah bagaimana sikap mereka nanti kepada saya. Tapi saya ingin anda juga menghargai atas disiplin waktu yang saya lakukan dalam bekerja saat ini." Ujar Amelia tidak mau kalah.


"Aku sangat menghargai waktumu, Amelia. Tapi anggap saja, saat ini kamu sedang melakukan sebuah pekerjaan dengan saya."


"Pekerjaan yang bagaimana antara seorang staf keuangan dan seorang CEO? Apakah makan siang bersama dikatakan sebuah pekerjaan juga?" Tanya Amelia terdengar sarkas.


"Ck... Tak salah aku menyukaimu. Kamu sangat pandai membuatku semakin jatuh ke dalam pelukanmu, Amelia." Ujar Dirga dengan wajah yang terlihat sedikit tertawa.


Amelia tersipu, ia malu dengan perkataan dari Dirga barusan.


"Baiklah, untuk kali ini saja kamu terpaksa melanggar disiplin kerjamu. Tapi tenang saja, itu tidak masuk dalam penilaian. Dan lain kali, aku tidak akan lagi mengganggu waktu jam kerjamu, Amelia." Lanjut Dirga.


"Lain kali? Maksud anda?"


"Tentu saja akan ada lain kali. Sudahlah hal itu tidak perlu dibahas sekarang. Lebih baik kita makan, karena makanannya sudah mulai dingin." Ucap Dirga.


"Bagaimana kita akan makan, kalau anda masih memeluk saya seperti ini." Sahut Amelia.


"Ah iya, aku sampai lupa diri bila sudah berada dekat denganmu seperti ini." Ujar Dirga. Lantas ia pun melepaskan pelukannya dari tubuh gadis itu.


Tubuh yang terlepas, lantas tidak membuat tangan Amelia ikut terlepas dari genggaman Dirga.


"Kamu duduk di sini." Ajak Dirga.


Ia duduk terlebih dahulu, kemudian menarik tangan gadis itu agar duduk di sampingnya.


"Dirga, aku mohon anda jangan lagi melakukan ini semua. Anda adalah atasan saya, sedangkan saya hanya seorang staf biasa. Saya tidak ingin ada penilaian buruk dari karyawan lain mengenai saya, yang hanya seorang karyawan baru di perusahaan ini." Ucapnya berusaha menatap Dirga.


"Kamu tidak bisa melarang apa yang ingin aku lakukan, Amelia. Terlebih jika itu menyangkut seorang gadis yang aku sukai."


Amelia kalah. Ia semakin tersipu. Berkali-kali pria di depannya itu menyatakan perasaan kepadanya tanpa malu-malu.


"Tapi kamu tenang saja, seperti janjiku tadi, aku tidak akan lagi mengganggu waktu jam kerjamu. Kecuali aku sudah tidak sanggup."


"Tidak sanggup?" Tanya Amelia tak mengerti.


"Aku tidak akan peduli lagi dengan jam kerjamu. Atau bahkan aku tidak akan peduli dengan perkataan orang lain terhadapku, bila aku sudah tidak sanggup lagi menahan rinduku padamu, Amelia."


"Dirga..."


Posisi duduk yang sangat dekat serta nuansa romantis yang masih terasa di antara mereka, membuat Dirga mendekatkan kembali wajahnya pada gadis itu.


Amelia yang seolah mengerti, tiba-tiba saja memejamkan kedua matanya.


Adegan romantis itu pun kembali terulang dan tak terelakkan. Kini Dirga mendapat sambutan dari lawannya, meskipun terasa amatir namun Dirga menikmatinya.


Kegiatan itu terus berlangsung tanpa ada yang ingin menghentikannya, terlebih Dirga yang merasa di atas angin.


Mereka tidak sadar bahwa waktu terus berlalu dan hidangan yang telah tersaji di atas meja, benar-benar akan terasa dingin saat mereka makan nanti.


Keduanya lupa diri, keduanya saling terbuai dengan pesona masing-masing.


Bagi Dirga, apa yang dilakukan oleh Amelia dalam membalas perbuatannya kini, membuat ia semakin optimis untuk mendapatkan gadis itu sebagai kekasihnya. Bukan tidak mungkin, ia akan jadikan Amelia sebagai seorang istri, permaisuri di istananya kelak.


***


Hai pembaca setia CEO Sang Pengemis Cinta, jangan lupa kalian tengok ke karya terbaru aku yah, judulnya,


The handsome GUY.


Aku tunggu like dan komennya juga..!