
Tok... Tok... Tok..."
"Masuk!" suara perintah dari dalam.
Suasana di lorong lantai CEO sudah sepi, sekertaris Rena juga sudah meninggalkan mejanya.
Hari ini para karyawan pulang tepat waktu, tidak lembur seperti biasanya. Mungkin dikarenakan pekerjaan yang belum memasuki masa deadline seperti waktu-waktu di akhir bulan.
Amelia membuka pintu kayu besar yang nampak elegan menandakan status kepemilikan dari orang yang ada di dalamnya.
Langkah Amelia menjadi sedikit berat saat kaki itu baru menginjak di dalam ruangan milik Juna.
Sembari berjalan mengarah ruangan Dirga, ia terus berusaha mengumpulkan tekad yang awalnya kuat dan tiba-tiba menjadi kendur manakala mengingat godaan dari managernya, Bu Susi.
"Kencan?"
Kata itu masih terngiang saja di pikirannya, hingga tanpa sadar ada sebuah tangan yang terulur menarik tubuhnya ke dalam pelukan.
"Aaaaargh..." pekik gadis itu.
"Aku rindu kamu, Amelia," lirih suara seorang pria terdengar parau.
Wangi maskulin yang sangat Amelia kenal. Dan entah sejak kapan, gadis itu menyukainya. Wangi khas milik Dirga.
Amelia tanpa sadar terus menghirup aroma wangi tubuh pria itu, ia terbuai.
Hingga suara berikutnya membuatnya tersadar.
"Aku sangat merindukanmu."
"Aku hampir gila tidak bertemu denganmu sehari saja."
Amelia berusaha melonggarkan pelukan Dirga. Tapi usahanya sia-sia.
"Biarkan begini sebentar, aku rindu wangi tubuhmu, Amelia."
"Dirga...tolong jangan seperti ini. Saya bisa malu nanti bila ada orang yang masuk ke mari," bujuk Amelia.
"Seluruh karyawan sudah pulang. Lagipula tidak ada orang yang akan berani masuk ke ruanganku tanpa ijin," bisiknya.
"Ta...tapi..."
Amelia tidak tahu harus berkata apa lagi. Usahanya untuk lepas dari rangkulan Dirga sepertinya merupakan hal yang tidak mudah. Pria itu malah mengeratkan kedua tangannya di punggung Amelia.
"Maaf Dirga, ada perlu apa anda memanggil saya kemari?" Amelia mencoba mencairkan suasana yang hening.
Amelia tidak ingin kejadian kemarin terulang kembali. Ia sudah bertekad akan menjaga batasannya sebagai seorang bawahan.
"Aku ingin bertemu denganmu," jawab Dirga.
"Sekarang anda sudah bertemu dengan saya, apakah saya sudah bisa pergi?" tanya Amelia dengan nada selembut mungkin.
Dirga melonggarkan pelukannya. Kemudian dengan muka yang heran, ia bertanya.
"Kenapa kamu ingin cepat-cepat pergi?"
"Ah, ehm..saya sudah ada janji bertemu dengan sahabat saya," ungkapnya.
"Bobby, maksudmu?"
Amelia mengangguk.
"Ada apa?" tanya Dirga.
"Eh, maksudnya?" Amelia bertanya heran.
"Ada keperluan apa kamu bertemu dengan dia?" Ada nada sedikit cemburu dari suaranya.
"Maaf Dirga, saya tidak harus menjelaskan pada anda, alasan apa yang saya gunakan untuk bertemu dengan sahabat saya sendiri." Amelia mulai terbawa emosi demi mendengar pertanyaan dari Dirga barusan.
Kenapa dia selalu ingin tahu urusanku. Kenapa juga aku harus memberitahunya alasanku bertemu dengan Bobby. Amelia.
"Aku akan ikut denganmu."
"Hah! Apa?"
"Aku akan ikut denganmu bertemu dengan Bobby," jelas Dirga.
"Untuk apa?"
"Untuk menemani kekasihku tentu saja."
Deg.
Amelia terkejut. Ia tidak mengerti perkataan Dirga tadi.
"Apa maksud anda? Siapa yang anda bilang kekasih?" seru Amelia dengan wajah yang merona.
Tubuh dan otaknya ternyata tidak sinkron. Pikirannya tak terima jika Dirga seenaknya mengaku-aku sebagai kekasihnya.
Namun tubuhnya, mengatakan bahwa ia sangat menyukai kata-kata itu.
"Anda jangan sembarangan bicara, Dirga. Sejak kapan saya adalah kekasih anda? Saya ini hanya pegawai staf keuangan, bawahan anda," tanya Amelia yang seolah ingin mendapatkan penjelasan.
"Kamu tidak tahu sejak kapan kita menjadi sepasang kekasih?" tanya Dirga balik.
"Iya, saya tidak tahu."
"Sejak kamu aku bawa ke hotel, di malam kamu berpesta kelulusan dengan teman-temanmu kala itu," ujar Dirga dengan PD nya.
Amelia tersipu malu, ia jadi mengingat malam kejadian saat ia tidak sadarkan diri, dan terbangun di dalam sebuah kamar hotel.
"Bagaimana anda bisa mengatakan bahwa sejak peristiwa itu kita menjadi sepasang kekasih?"
"Tentu saja aku bisa, kenapa aku tidak bisa."
"Dirga anda jangan mengada-ada. Lagipula orang bisa dikatakan sepasang kekasih itu, bila ada perasaan suka atau cinta yang diungkapkan."
"Ckck," decak Dirga.
"Amelia.. Amelia.. Apa kamu lupa, aku sering mengatakan di setiap kesempatan saat kita sedang berdua bahwa kamu adalah gadis yang aku sukai?"
"Kapan?" seru Amelia.
Dirga tersenyum. Ia tahu bahwa gadis di depannya itu sedang berpura-pura.
"Kamu sungguh lupa atau kamu sedang menderita amnesia?"
"Mungkin keduanya," potong Amelia.
Entah keberanian darimana, saat ini Ia seolah mendapatkan kembali kekuatannya agar tidak terlena pada pria tampan di depannya itu.
"Baiklah, mungkin aku memang perlu mengingatkan kamu kembali."
"Mengingatkan apa?"
"Mengingatkan sebuah momen dimana orang itu bisa dikatakan sebagai sepasang kekasih."
"Apa?"
Tangan kanan Dirga sudah mulai terangkat, setelah tadi ia melonggarkan pelukannya meski tidak sepenuhnya melepaskan.
Tangan itu sudah mulai bergerilya, awalnya Dirga membelai rambut panjang gadis itu.
"Apa kamu sungguh butuh ingatan itu?" tanya Dirga lagi memastikan.
"I.. I..iya," suara Amelia mulai terdengar panik. Ia tak menyangka bahwa pria itu menganggap serius ucapannya.
Tangan Dirga sudah menjelajah masuk ke area wajah. Amelia menahan nafas manakala tangan pria itu mengelus pipinya. Kedua matanya tak berkedip, fokus menatap wajah Dirga yang sangat dekat di hadapannya.
"Baiklah, aku akan mengingatkanmu," suara Dirga mulai terdengar serak.
Amelia menunggu dengan berdebar, apa kalimat-kalimat yang akan diucapkan Dirga.
"Apakah pipi yang selalu aku pegang dan aku kecup ini belum cukup membuatmu yakin bahwa aku menyukaimu?" tanya Dirga.
Amelia menggeleng.
"Hem..belum cukup meyakinkanmu rupanya?" Dirga seolah mengulur waktu.
Amelia sungguh panik, ia memejamkan matanya, saat tangan Dirga sudah meraba bibirnya. Dirga menikmati momen itu.
"Apa yang biasanya sepasang kekasih itu lakukan bila sedang berdua?"
"Ap.. Apa?" jawabnya terbata. Hilang sudah tekad keberaniannya yang tadi sempat muncul sesaat.
"Bibir kita yang sudah menyatu, saling mereguk kenikmatan satu sama lain, bahkan seolah berharap waktu berhenti saja saat kita melakukan kegiatan itu, apakah bagimu belum membuktikan bahwa kita bukan hanya sekedar atasan dan bawahan?"
Amelia diam tak bergeming. Ia malah semakin panik, manakala hembusan nafas Dirga mulai terasa di wajahnya.
"Apa lagi yang kamu butuh dan inginkan, agar kamu menjadi kekasihku? Hem.." Dirga bertanya pada Amelia dengan jarak yang sangat dekat.
"Sa.. Saya tidak tahu," jawab Amelia, berusaha membuka mata dan menatap Dirga.
"Kemana semangatmu tadi, Amelia? Bukankah kamu tadi mengatakan bahwa harus ada pengungkapan perasaan agar dua orang itu bisa dikatakan sepasang kekasih."
"Sekarang aku bertanya, ungkapan perasaan apa yang kamu inginkan dariku?"
"Ungkapan kata-kata atau ungkapan nyata seperti kemarin?" ujar Dirga dengan mata seolah menggoda.
"Eh.. Ehm.. Aku.." Amelia tanpa sadar telah mengubah panggilannya pada Dirga.
Dirga tersenyum.
"Kenapa anda tersenyum?"
"Tidak ada, aku hanya seolah mendapatkan lampu hijau darimu."
"Lampu hijau, ap..apa?"
***