My Boyfriend Is A CEO

My Boyfriend Is A CEO
Bobby! Aku Ingin Cerita



"Di divisi mana Amelia akan ditempatkan?" Tanya Dirga tiba-tiba.


Masih dengan tatapan yang penuh konsentrasi dengan pekerjaannya.


Ya, Dirga sudah tahu bahwa gadis itu ditempatkan di PT GeHa. Ia sudah mengetahui satu hari sebelumnya. Amelia dan dua pelamar lainnya yang lolos, ditarik ke PT GeHa untuk mengisi kekosongan beberapa staf.


Tidak ada sama sekali campur tangan dari Dirga dalam penerimaan karyawan di perusahaannya. Namun, tatkala ia mengetahui bahwa Amelia di tempatkan di gedung yang sama dengan tempat ia bekerja selama ini, otomatis sekali membuat Dirga senang bukan main. Tanpa perlu intervensi dari kekuasaan yang ia miliki, dengan sendirinya takdir Tuhan menuntun gadis itu menjadi lebih dekat dengannya.


"Menurut informasi yang saya dapat dari manajer personalia, Pak Rudi, Mba Amelia di tempatkan di Divisi Humas, Pak. Karena posisi itu yang kekurangan staf sekarang."


"Humas? Kenapa tidak nyambung dengan jurusan kuliahnya?" Tanya Dirga heran.


"Saya kurang tahu, Pak. Saya baru dapat informasi penempatan dan alasannya saja. Tapi kalau masalah yang bapak maksudkan tadi malah membuat bapak terganggu, saya akan meminta Pak Rudi untuk mengatasinya." Tutur Juna.


"Ah, tidak perlu. Kamu periksa dulu berkas yang saya berikan tadi. Kalau ternyata memang terdapat kesalahan fatal dalam pembuatan laporan itu, kamu perintahkan Pak Rudi menukar posisi staf keuangan yang sering melakukan kesalahan dalam pembuatan laporan bulanan perusahaan dengan posisi Amelia." Ucapnya, sembari menoleh pada Juna.


"Baik, Pak." Jawab Juna.


***


"Treet... Treet... Treet..."


"Kenapa kamu tidak membalas pesan saya?"


Sebuah pesan masuk dari Dirga dan juga beberapa missed call yang tidak Amelia angkat karena mode silent yang gadis itu atur di pengaturan ponselnya.


Orang ini, bener-bener gak ada bosennya. Biarkan saja. Amelia.


Gadis itu baru selesai mandi, ketika terdengar getaran dari ponsel yang di taruhnya di atas meja rias.


Setelah tadi sampai rumah, Ia langsung tertidur. Tanpa sempat berganti pakaian terlebih dahulu. Saat terbangun ternyata jam di dindingnya sudah menunjukkan angka empat.


Baru saja Ia hendak taruh kembali ponsel di atas meja, getaran itu terasa kembali.


"Dirga's calling..."


Mau orang ini apa sih sebenarnya. Nggak ada bosen-bosennya ganggu anak gadis orang.


Amelia memutuskan untuk mengangkatnya.


"Iya, hallo." Sapa Amelia.


"Hallo, Amelia. Kenapa kamu tidak membalas pesan dan juga tidak angkat telepon dari saya?"


"Ah maaf, saya tidak tahu. Saya baru liat HP."


"Memang kamu kemana?"


"Sehabis pulang tadi, saya langsung tertidur."


"Apakah kamu sakit?"


"Ah, tidak. Saya baik-baik saja."


"Benarkah kamu tidak apa-apa? Karena terakhir kita bertemu tadi, kamu memang terlihat pucat."


"Maaf Dirga, anda tidak perlu mengkhawatirkan saya. Saya sungguh baik-baik saja." Ujar Amelia serius.


"Baiklah kalau begitu. Kamu lanjutkan istirahat, agar besok di hari pertama kamu kerja, tubuhmu dalam kondisi baik."


"Ya. Terimakasih untuk perhatian anda. Oh iya, dan terimakasih juga untuk traktiran makan siangnya tadi."


"Bukan masalah, Amelia. Aku sudah katakan kemarin, bahwa aku akan memberikan apa saja untuk seorang gadis yang aku sukai. Apa kamu lupa?"


"Yah, tentu saja aku masih ingat."


"Bagus. Ya sudah aku akan tutup teleponnya. Kamu bisa istirahat kembali." Ujar Dirga, kemudian menutup sambungan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Amelia.


Ya... Saya masih ingat perkataan anda kemarin tuan tampan, selalu saja anda mengatakan akan memberi apa saja untuk gadis yang anda sukai. Tapi saya tidak sePD dan sesenang itu mengharapkan hadiah-hadiah dari anda, memang siapa saya? Lagipula apa yang anda lihat dari diri saya ini sih.


Dan tadi apa anda bilang, wajah saya terlihat pucat saat di restoran? Hei tuan, memangnya siapa tadi yang membuat saya menjadi orang yang tiba-tiba terlihat b****?


Anda selalu saja mengatakan hal-hal yang membuat hati ini berbunga-bunga. Apa anda sengaja ingin membuat saya mati perlahan, dengan sikap sok mesra anda pada saya. Anda tahu tuan, hal itu bisa membuat dada ini terus bergemuruh dan juga jantung ini seperti mau meledak tatkala anda berani-beraninya mencium pipi saya beberapa waktu lalu. Amelia.


Semua yang mengganjal dalam hati dan pikirannya itu belum ia ceritakan pada sahabatnya, Boby.


Selain karena Boby yang sudah mulai sibuk bekerja juga dikarenakan hatinya yang belum mantap untuk menceritakan hal itu.


"Heuh, memikirkan pria itu malah membuatku lapar sekarang." Gadis itu berkata pada dirinya sendiri.


"Siang tadi aku tidak bisa fokus melahap hidangan di meja, karena pria itu terus saja menatap diriku."


"Argh! Lama-lama aku bisa gila bila ikut memikirkan dia."


Amelia memilih keluar kamar dan berniat pergi ke dapur untuk mengolah bahan makanan untuk ia jadikan santapan sore hari.


Ya, santapan yang akan menemani kesendiriannya di dalam rumah kontrakan tipe kamar dua.


***


Kenapa gadis itu tidak membalas pesan dariku. Dan juga telepon ku tidak ada yang dia angkat satupun. Dirga


Juna yang masih setia menemani Dirga di ruang kerja, nampak terheran melihat atasannya itu seperti orang yang kesal, bahkan sedikit frustasi.


"Juna apa ada info dari Doni mengenai Amelia? Apa gadis itu keluar rumah setelah tadi pulang dari restoran?" Tanya Dirga.


"Maaf, Pak Dirga, sejauh ini tidak ada kabar lagi dari Doni mengenai pengawasannya terhadap Mba Amelia." Jawab Juna.


"Ah..." Dirga terdengar sedikit mendesahkan suaranya.


"Apa perlu saya telepon Doni, Pak?"


Dirga hanya diam tidak menjawab, tapi Juna tahu bahwa itu adalah sebuah tanda persetujuan.


"Hallo?" Juna langsung menghubungi Doni.


....


"Begitu?"


....


"Tidak, kamu teruskan saja pengawasannya."


"Maaf Pak Dirga, menurut Doni, Mba Amelia tidak berangkat lagi. Pulang dari restoran hingga sekarang, tidak ada tanda-tanda Mba Amelia keluar rumah." Lapor Juna pada Dirga.


"Heum, begitu?"


"Eh...Apa ada yang bisa saya bantu, Pak?" Inisiatif Juna.


"Ah, tidak ada." Ucap Dirga cepat.


"Bagaimana berkas yang kamu periksa?" Tanya Dirga menanyakan pekerjaan asistennya, mengalihkan perhatian dari pikiran tentang gadis itu.


"Benar menurut bapak, laporan ini terlihat berantakan. Hasil akhir dari laba rugi, juga pemasukan dan pendapatan terlihat tidak balance." Ujar Juna, menjelaskan hasil kerjanya.


"Siapa yang bertugas membuat laporan ini. Mengapa sudah dua bulan, laporan dari divisi keuangan terlihat tidak profesional."


"Bulan lalu, saya masih bisa mentolerir karena saya anggap karyawan itu manusia biasa juga yang bisa berbuat kesalahan."


"Tapi bila sudah dua kali melakukan kesalahan, dan kesalahan itu adalah kesalahan yang sama, saya tidak bisa diam saja seperti ini."


"Apa staf keuangan itu tidak mengecek lagi hasil kerjanya sebelum diserahkan?"


Juna hanya diam saja, dia tidak akan menjawab bila belum waktunya untuk bersuara dan mengeluarkan pendapat.


"Apa yang harus saya lakukan, Pak?"


"Besok panggil manajer keuangan untuk menghadap saya."


"Baik, Pak. Besok saya akan meminta Ibu Susi untuk datang menghadap."


Dirga terlihat cukup kesal kali ini. Selain karena pekerjaan dari anak buahnya yang tidak becus, faktor lain yang membuatnya tiba-tiba jadi uring-uringan adalah karena gadis bernama Amelia.