
Hujan sudah reda, hanya menyisakan tetesan gerimis yang tidak terlalu banyak. Para karyawan akhirnya memutuskan untuk pulang, termasuk Amelia dan teman-temannya.
"Kamu pulang sama siapa?" tanya Sofi.
"Sama abang ojol seperti biasa," jawab Amelia.
"Oh, udah pesen?"
"Udah. Udah di depan kantor juga ojeknya."
"Ojek langganan aku juga udah dateng," sahut Sofi.
"Ojek kamu kayanya selalu on time yah, Sof?" seru Amelia.
"Iya, lah. Kalo nggak, aku pecat jadi pacar aku."
"Oh, jadi selama ini yang jemput kamu itu bukan tukang ojek, tapi pacar kamu? Ish, nggak bilang-bilang sih?" sahut Amelia dengan wajah terkejutnya
"Takut kamu gaet, secara kamu itu lebih cantik kemana-mana dibanding aku, Mel." Sofi terlihat tertawa setelah mengatakan hal itu.
"Ya ampun, ini anak belum apa-apa udah nuduh aja."
Sofi semakin tertawa keras selama perjalanan mereka menuju pelataran gedung.
"Kalo aku gaet pacar kamu, pacar aku mau dikemanain?" Amelia bicara spontan tanpa sadar.
"Eh, kamu udah punya pacar juga? Siapa? Kerja di mana?" Pertanyaan beruntung dari Sofi membuat Amelia menyesali perkataannya tadi.
"Nggak ada. Udah nggak perlu dibahas." Amelia berusaha menghentikan rasa penasaran Sofi.
"Ih, Amel!" pekik Sofi.
Kini giliran Amelia yang tertawa puas.
Ketika tiba di depan gedung kantor, nampak seorang pria dengan motor matik-nya, menghampiri Sofi dan Amelia.
Amelia tahu, orang itu adalah ojek langganan Sofi yang tak lain adalah pacarnya, yang selama ini ia sembunyikan.
"Hai, yuk balik!" ajak pria itu dengan mata menatap Sofi.
"Ayo! Oh iya, kenalin Di, ini Amelia teman satu bagian aku. Nah Amelia, ini Adi ojek langganan aku alias pacarku yang paling ganteng."
"Amelia!"
"Adi!" Pacar Sofi nampak tersipu malu ketika Sofi memujinya di depan orang lain. Sedangkan Amelia hanya tersenyum menanggapi lelucon yang Sofi ucapkan.
"Ya udah yah, Mel. Aku balik duluan. Eh, ojek kamu mana?" tanya Sofi sambil celingak celinguk.
Tak lama ada sebuah motor yang menghampiri mereka dari arah belakang. Dikendarai oleh seorang pria dengan ciri khasnya seragamnya.
"Mba Amelia?" tanya abang ojek menatap Amelia dan Sofi.
"Iya, saya!" seru Amelia sambil mengacungkan tangannya.
"Ah, iya. Saya Soni. Berangkat sekarang, Mba?" ucap Soni menatap Amelia.
"Iya!" jawab Amelia.
"Ini, Mba, helm-nya?" ucap Soni, si abang ojek memberikan helm untuk penumpang.
"Ya udah, Mel. Aku duluan yah?" seru Sofi bicara di atas motor Adi kekasihnya.
"Oh iya. Hati-hati!" seru Amelia.
"Iya, kamu juga. Bye!"
"Bye!" balas Amelia pada Sofi. "Udah yuk, Mas, jalan!"
"Iya, Mba. Ini alamatnya sesuai aplikasi?"
"Ok!"
***
Setelah lebih dari setengah jam, Amelia akhirnya sampai di rumah kontrakan.
Sisa-sisa jalanan basah masih nampak terlihat di sekitar rumah. Bahkan ada beberapa sudut genangan air di luar pagar rumahnya.
"Makasih yah, Mas!" ucap Amelia sembari menyodorkan lembaran uang untuk ongkos tarif ojek.
"Sama-sama, Mba. Kalo begitu saya permisi."
"Iya!"
Setelah si abang ojek pergi, Amelia dengan segera melangkahkan kakinya ke dalam rumah. Namun belum sempat ia masuk ke dalam, terdengar suara klakson dari arah luar pagar.
Ketika gadis itu melirik ke arah sumber suara, betapa terkejutnya ia, karena di sana terlihat sosok pria yang selama ini tak ingin ia lihat keberadaannya.
"Aron?"
Pria itu keluar dari dalam mobilnya. Terlihat sekali gaya yang ditampilkan oleh pria itu, masih saja sama seperti dulu, terlihat angkuh. Beda sekali dengan gayanya saat ia bertemu dengan Amelia di area kampus ketika ia hendak meminta maaf terhadap gadis itu.
"Hai, Mel!" sapa Aron ketika telah sampai di depan tubuh Amelia.
"Aron? Mau ngapain kamu ke sini?" seru Amelia. Masih ada nada kesal di intonasi suaranya.
"Ya ampun, Mel. Kita ini 'kan teman, masa kamu jadi berubah kaya gini sih. Kamu kaya orang yang nggak kenal sama aku gitu."
"Dengar yah, Aron. Aku udah bilang sama kamu tempo hari, aku udah nggak mau lagi ketemu sama kamu. Dan anggap aja kita nggak pernah saling mengenal kalau kita ketemu di jalan atau di mana aja."
"Tapi 'kan, Mel. Apa iya kamu belum maafin satu kesalahan aku itu? Cuma satu loh, Mel. Dan aku juga udah minta maaf sama kamu."
"Satu kesalahan yang kamu buat itu adalah kesalahan yang sangat fatal, Aron. Bagaimana mungkin kamu masih bisa bersikap seenaknya begini, setelah apa yang sudah kamu perbuat waktu itu. Aku nggak bisa bayangin kalo tidak ada Boby atau yang lainnya yang menolong aku. Entah akan jadi apa masa depanku sekarang kalo kejadian tempo hari itu benar-benar terjadi." Terlihat gadis itu menahan emosi.
Nampak air mata sudah mulai menggenang di kedua matanya. Bukan air mata kesedihan yang ada di sana, namun air mata itu menandakan betapa ia sangat marah dan sakit hati atas kelakuan yang di perbuat oleh Aron, temannya sendiri.
"Mel!"
"Aron, sudah cukup. Aku sudah tidak mau bertemu dengan kamu lagi. Dan aku harap kamu jangan sekali-kali menemuiku lagi, baik di rumah atau di manapun juga."
Dengan gerakan cepat, gadis itu membuka pintu rumah dan segera masuk ke dalam. Tak dipedulikannya Aron yang terus berteriak-teriak memanggil namanya.
"Mel! Aku nggak akan pernah menyerah buat nemuin kamu lagi, sampai kamu benar-benar maafin aku." Aron berkata sembari tangan yang berusaha menggedor pintu agar mendapat respon dari Amelia yang ada di dalam.
Tak dipedulikannya ucapan Aron, Amelia lebih memilih mengunci pintu dan segera melangkahkan kakinya menuju kamar.
***
"Apa kamu bilang? Siapa dia?"
[Iya, Mas. Dari yang aku dengar lelaki itu bernama Aron, iya Aron.]
"Apa, Aron? Apa lagi yang lelaki itu ucapkan?" tanya Juna pada seseorang di seberang telepon, yang tak lain adalah Doni, pengawal yang selama ini masih ditugaskan oleh Juna mengawasi Amelia.
[Dia bilang akan terus berusaha menemui Mba Amelia, hingga mau memaafkan kesalahannya.]
"Kurang ajar! Kamu kawal terus Mba Amelia. Bahkan tugas kamu bertambah dengan ikut mengawasi lelaki itu. Saya rasa ucapannya bukanlah main-main."
[Baik, Mas. Laksanakan!]
"Ada apa, Juna?"
Belum sempat Juna menutup sambungan teleponnya, suara seseorang mengagetkan dirinya.
***