My Boyfriend Is A CEO

My Boyfriend Is A CEO
Perkenalan Cintya



"Tuut.. Tuut.."


Terdengar dering telepon di meja Rudi, manajer personalia.


"Sebentar yah, saya permisi dulu." Rudi menghentikan pembicaraannya dengan Amelia dan dua calon pegawai lainnya.


"Iya, hallo"


...


"Iya Bu Susi, ada apa?"


...


"Tapi, Bu...?"


...


"Oh, baiklah kalo begitu."


...


"Ehm... Baik, baik."


...


"Eh iya, sama-sama."


Rudi menutup sambungan teleponnya dengan Susi, si manajer keuangan.


"Baiklah, sampai di mana tadi?" Tanya Rudi pada ketiganya.


"SOP perusahaan, Pak."


"Oh iya.. Baik saya teruskan mengenai peraturan-peraturan yang harus kalian patuhi selama bergabung di PT GeHa."


***


"Selamat Pagi menjelang siang, Pak Dirga dan Mas Juna." Sapa Cintya, perwakilan dari PT Buana beserta satu orang stafnya.


"Selamat pagi menjelang siang juga, Ibu Cintya." Sapa Dirga balik.


"Tidak usah pakai ibu, Cintya saja. Sepertinya kita seumuran bahkan mungkin saya lebih muda." Ujarnya tersenyum.


Senyum dari seorang gadis berusia dua puluh lima tahun, yang penuh makna.


Diam-diam, Cintya mengagumi sosok pria tampan yang saat ini berdiri di depannya. Seorang CEO muda, dengan pesona dan karisma yang tak pernah luntur dengan siapapun ia berhadapan.


Sebelumnya, Cintya sudah mencari tahu profil dari calon partnernya itu. Dari sifat, keluarga, pendidikan hingga karirnya sebagai seorang pengusaha, semua ia cari mendetail.


Dan dari situlah, akhirnya mengubah pola pandang seorang wanita cantik calon pewaris PT Buana, terhadap sosok pengusaha yang selama ini ia ketahui.


"Sopan kah bila saya memanggil anda seperti itu?" Tanya Dirga.


"Tidak masalah, Pak Dirga. Karena saya yang meminta." Ujarnya lagi.


Masih dengan tegas namun ada nada manja yang terselip dari ucapannya.


"Ehm, bagaimana bila, Mba Cintya, sepertinya lebih enak di dengar. Lagipula kita tidak seakrab itu sehingga saya berlaku kurang ajar dengan hanya menyebutkan anda dengan nama saja." Tutur Dirga, dengan wajah yang sama tersenyum.


"Baiklah, jika menurut Pak Dirga itu lebih baik." Sahut Cintya pada akhirnya.


Aku pasti akan membuat kita akrab lebih dari sekedar rekan bisnis, Dirga. Tunggu saja. Cintya


"Baiklah, perkenalannya telah selesai dan mencapai kesepakatan. Jadi, apa bisa kita mulai?" Tanya Dirga.


"Oh iya, silakan duduk." Ucap Cintya.


Mereka melakukan meeting di sebuah ruangan VIP salah satu restoran Eropa yang berada di pusat kota.


"Jadi begini, Pak Dirga. Saya selaku perwakilan, juga sebagai putri dari pimpinan PT Buana, Bapak Dimas alias Papa saya sendiri, ingin meminta maaf karena beliau tidak bisa hadir untuk melaksanakan meeting dengan anda hari ini." Ujar Cintya mengawali pembicaraan.


"Papa dibawa ke rumah sakit, tiba-tiba saja semalam tubuhnya ngedrop. Menurut dokter penyakit lambung papa kambuh." Jawabnya.


"Oh begitu. Maaf sekali, Mba Cintya, saya tidak tahu."


"Tidak apa-apa, Pak Dirga. Memang belum banyak yang tahu, karena malam sekali papa dibawa ke RS nya."


"Semoga Pak Dimas lekas diberi kesembuhan dan bisa kembali pulang ke rumah. Sampaikan salam saya pada beliau bila anda menjenguknya." Kata Dirga tulus.


"Baik, Pak Dirga. Pasti akan saya sampaikan salam dari anda. Kebetulan setelah selesai meeting ini, saya akan pergi ke sana."


"Ehm.. Baiklah. Kalau begitu, kita mulai saja pembahasan kerjasama kita, Mba Cintya." Ujar Dirga tak mau bertele-tele.


Ada hal yang membuat Dirga ingin segera menuntaskan pertemuan hari ini. Ia ingin segera kembali ke kantor. Dirga sudah tidak bisa menahan diri lagi untuk secepatnya menemui sang pujaan hati, yang mana hari ini adalah hari pertama Amelia bekerja di perusahaan miliknya.


***


"Mba Dara akan di tempatkan di Divisi Humas."


"Untuk Mba Amelia dan Mba Sofi, kalian berdua akan di tempatkan di Divisi keuangan, menggantikan dua orang staf yang di pindah ke Divisi Humas."


"Setelah kalian menandatangi kontrak kerja yang sudah disiapkan, kalian akan di antar oleh staf saya ke divisi kalian masing-masing."


"Jadi bagaimana, apa kalian sudah siap bergabung dengan perusahaan kami dan turut berkontribusi dalam bekerja serta meningkatkan kualitas perusahaan dengan kinerja yang terbaik yang bisa kalian lakukan?" Tanya Rudi, mengakhiri penjelasannya kepada tiga wanita yang saat ini memperlihatkan wajah-wajah optimis.


"Kami siap, Pak." Jawab mereka kompak. Lalu saling pandang dan tersenyum.


"Bagus. Mudah-mudahan sikap optimis kalian sekarang tetap terus berlanjut seterusnya yah?"


"Baik, Pak." Jawab Amelia. Dua yang lainnya mengangguk menyetujui.


"Baik. Ini dokumen kontrak kerja kalian, silakan dibaca dengan teliti terlebih dahulu. Bila ada yang kurang mengerti bisa kalian tanyakan, tapi bila sudah paham, kalian bisa langsung tanda tangani di tempat yang sudah tersedia."


Ketiganya mengambil masing-masing satu dokumen sesuai nama yang tercantum di dalamnya.


Tanpa berlama-lama membaca, karena pada dasarnya kontrak kerja itu kebanyakan isinya standar dan sama seperti kontrak kerja lainnya, Amelia dan kedua teman barunya, membubuhkan tanda tangan di draf dokumen tersebut.


"Baiklah, bila sudah selesai, masing-masing memegang satu salinan yang juga sudah ditanda tangani. Sekarang staf saya akan mengantarkan kalian bertiga ke tempat kalian memulai bekerja hari ini."


Mereka semua keluar ruangan, setelah sebelumnya, Rudi memanggil dua orang stafnya untuk mengantar Amelia dkk, ke divisi masing-masing.


"Nah, ini adalah ruangan divisi keuangan. Saya akan mengantar kalian untuk menemui Ibu Susi, manajer keuangan di sini." Ujar staf personalia yang ditugaskan Rudi mengantar Amelia ke ruangannya.


"Oh iya, lupa belum kenalan. Nama saya Dika. Kamu?" Katanya menunjuk Amelia.


"Saya Amelia, Mas." Jawab Amelia.


"Saya Sofi."


"Ok. Ayo!" Ajak Dika melewati sekat-sekat kubikel para karyawan yang sedang bekerja.


Namun saat mereka masuk ke ruangan itu, mata-mata yang tadinya fokus mengamati layar komputer, tiba-tiba mulai melirik dan juga melongokkan kepala.


"Eh Mas Dika, ada apa nih datang berkunjung ke tempat Mesi kerja? Kangen sama Mesi yah?" Ucap salah satu karyawan bernama Mesi, menggoda Dika.


"Huuuuhhh..." Sorak suara seluruh karyawan staf keuangan.


"Hai Mesi, apa kabar? Iya nih, aku datang berkunjung tapi maaf bukan karena kangen sama kamu. Aku lagi kangen sama Bu Susi tuh." Ujar Dika sambil terkekeh.


"Jiaaaahhh.." Sorakan kembali terjadi.


"Ih Mas Dika, jahat. Bikin Mesi patah hati deh." Seru Mesi dengan bibir manyun nya.


Melihat adegan Dika dan Mesi, sontak membuat isi ruangan itu menjadi gaduh. Semua tidak bisa menahan tawanya, juga termasuk Amelia dan Sofi.


Bukan rahasia lagi bagi karyawan PT GeHa, bahwa Mesi sang primadona divisi keuangan, ada rasa ketertarikan pada Dika, sejak pria itu bergabung di perusahaan ini.


"Siapa yang kangen sama saya?" Sebuah suara mengagetkan semua yang ada di dalam ruangan.


Otomatis semua mata menoleh ke asal suara, suara manajer keuangan mereka, Susi.