My Boyfriend Is A CEO

My Boyfriend Is A CEO
Aku mengkhawatirkan kamu



"Ada apa, Juna?"


Juna berbalik menatap pria yang saat ini memandang tajam dirinya


"Maaf, Pak Dirga. Ada laporan dari Doni barusan."


"Doni? Ada apa? Apa Amelia baik-baik saja?" Dirga terlihat panik.


"Saya rasa sedikit ada masalah. Bukan masalah besar, namun harus diwaspadai, Pak."


"Apa itu? Kenapa kamu ngomong berbelit-belit begitu, Juna?"


"Ada seorang teman lelaki Mba Amelia saat kuliah dulu, yang katanya datang mengunjungi Mba Amelia ke rumahnya."


"Teman kuliah? Seorang lelaki? Boby?" tanya Dirga.


"Bukan, Pak," jawab Juna.


"Bukan?"


Juna mengangguk.


"Lantai siapa?" tanya Dirga penasaran.


"E-eh, Aron, Pak Dirga."


"Aron?" Dirga nampak berpikir sejenak, namun tak lama, ia menyadari sesuatu.


"Apa? Aron?"


Juna mengangguk. "Iya, Pak Dirga, Aron."


"Aron, lelaki yang waktu itu berbuat tidak baik pada Amelia?" tanya Dirga memastikan.


Juna kembali mengangguk, "iya, Pak."


Dirga terlihat emosi secara tiba-tiba. Ada kemarahan yang nampak di raut wajahnya.


"Apa yang dilakukan lelaki itu di sana?"


"Hanya datang berkunjung. Tapi Mba Amelia segera mengusirnya tak lama setelah ia berbicara. Hanya saja ... "


"Hanya saja apa, Juna?" tanya Dirga kembali menatap tajam Juna.


"Hanya saja, Doni bilang, kalau lelaki itu tidak akan menyerah dengan usahanya untuk terus menemui Mba Amelia, hingga Mba Amelia mau memaafkannya."


Dirga semakin emosi. Pikirannya kemana-mana. Sungguh ia tidak nyaman kini. Posisinya yang jauh dengan kekasihnya itu, membuat ia semakin frustasi.


"Jaga Amelia selama dua puluh empat jam, katakan itu pada Doni!" perintah Dirga.


"Baik, Pak!" Juna yang mengetahui kegalauan hati bos-nya itu, hanya mengikuti saja perintah yang diminta padanya.


Dengan mengetik beberapa kata di sebuah kolom chat dengan Doni, tugas perintah dari Dirga telah selesai ia laksanakan.


"Maaf, Pak Dirga. Pertemuan berikutnya akan dimulai kembali pukul tujuh nanti," ucap Juna melaporkan.


"Hem, kamu atur saja Juna."


"Baik, Pak."


Juna tahu, saat ini Dirga kehilangan fokusnya. Mau tidak mau, memang ia yang kini harus meng-handle tugas dari Dirga.


"Lebih baik bapak istirahat sekarang. Kalau bapak khawatir, mungkin bapak bisa menghubungi Mba Amelia sekarang." Juna memberikan saran kepada Dirga yang saat ini nampak seperti orang kebingungan.


Belum pernah Juna melihat bos-nya seperti ini. Ingin rasanya tidak melapor ada informasi apa saja yang diberikan oleh Doni, jika pada akhirnya seperti ini. Namun itu adalah sesuatu yang tidak mungkin, karena Juna tahu seberapa pedulinya Dirga kepada kekasihnya itu.


"Baiklah, saya pergi ke kamar dulu. Nanti kamu hubungi saya jika sudah akan dimulai pertemuannya."


"Siap, Pak Dirga," ucap Juna dengan membungkukkan badannya.


Dirga melangkahkan kakinya menuju kamar. Ditinggalkannya Juna yang masih berdiri di aula sebuah hotel mewah di kota B. Juna masih membereskan berkas materi untuk rapatnya dengan klien tadi.


Meski Dirga sedang merasakan kegalauan hati dan juga pikirannya yang berkecamuk akibat berita yang ia dapatkan mengenai kondisi kekasihnya kini, namun tetap saja, karisma yang ia miliki tidak lekang sedikitpun dari wajahnya.


Sepanjang jalan ia menuju kamarnya yang berada di lantai empat, banyak para wanita baik itu para karyawan hotel atau pun para tamu yang ada di hotel tempat ia menginap, menatapnya terpesona.


Kasak-kusuk pasti terdengar ketika ia melewati segerombolan para wanita yang sedang mengobrol.


Tapi semua itu tidak ia pedulikan. Fokus dan konsentrasinya hanya pada satu titik, yaitu Amelia, sang pujaan hati.


Begitu sampai masuk kamar mewahnya, hanya melepas jas juga sepatunya, Dirga langsung menelepon Amelia, yang tiba-tiba saja ia rindukan dengan segenap hatinya.


[Hallo!]


"Hallo, Sayang. Bagaimana kabar kamu hari ini?"


[Aku baik. Ada apa?]


[Kamu ini, kita 'kan baru satu hari nggak ketemu, masa udah kangen aja.] Terdengar kekehan dari mulut gadis itu.


"Apa kamu nggak kangen sama aku?" tanya Dirga.


Hening keadaan setelah Dirga bicara. Tak ada respon yang terucap dari mulut Amelia.


"Sayang? Kamu masih di sana?"


[Ah, eh, iya! Aku masih di sini.]


"Kamu nggak kangen sama aku?"


[Kangen.]


"Itu aja?"


[Memang kamu maunya aku ngomong apa lagi?]


"Ya, tidak ada. Hanya saja aku berharap kamu mau menceritakan kegiatan kamu hari ini apa saja."


[Hari ini seperti biasa, tidak ada yang istimewa. Hanya mengerjakan beberapa tugas yang diberikan oleh Bu Susi. Selebihnya tidak ada lagi. Seperti yang aku bilang, kegiatanku hari ini, biasa aja.]


Dirga nampak termenung. Ia berpikir betapa kekasihnya itu berusaha menutupi masalah yang sempat terjadi. Dan sepertinya gadis itu tidak ingin membuatnya khawatir dengan kondisi ini. Dirga merasa bahwa kekasihnya itu tidak mau mengganggu pekerjaannya yang saat ini dianggapnya penting karena berurusan dengan perusahaan dan menyangkut orang banyak.


"Sungguh kamu baik-baik saja?" tanya Dirga memastikan.


[Ya, Dirga. Aku baik-baik saja. Hei! Ada dengan kamu? Apa kamu mengkhawatirkan aku?]


"Tentu saja! Aku saat ini aku jauh dari kamu, bagaiman mungkin aku tidak mengkhawatirkan kamu!"


[Hahaha, Dirga. Kamu jangan berlebihan. Fokuslah dengan pekerjaan kamu. Besok juga kamu pulang 'kan?]


"Rencananya lusa."


[Oh, lusa? Aku kira besok. Tidak apa-apa hanya tiga hari.] Terdengar nada lesu dari suara Amelia.


"Tapi kalau besok pekerjaanku selesai lebih cepat, aku akan langsung menemuimu terlebih dahulu."


[Hahaha, ya, ya, terserah kamu saja. Tapi aku minta kamu tidak perlu berlebihan mengkhawatirkan aku, Dirga. Jangan sampai pekerjaan kamu terganggu akibat rasa khawatirmu itu.]


"Ya, aku akan berusaha."


[Kamu sedang apa sekarang? Apa meetingnya sudah selesai hari ini?]


"Aku sedang istirahat di kamar. Meetingnya nanti akan dilanjut lagi malam."


[Oh!]


"Kamu tahu, hotel ini sangat bagus dengan pemandangannya yang luar biasa. Suatu saat aku akan mengajak kamu ke sini."


[Benarkah?]


"Iya, aku sudah berjanji saat aku menginjakkan kakiku di sini. Begitu aku melihat suasana di tempat ini, aku sudah memutuskan untuk menjadikan tempat ini sebagai salah satu destinasi honeymoon kita nanti."


[Apa? Kenapa tiba-tiba kamu membicarakan honeymoon?]


"Ingin saja. Karena nanti juga kamu memang akan menikah denganku dan menjadi istriku."


[Dirga, kamu selalu membuatku terkejut.]


"Kamu juga selalu menghindariku jika membahas masalah pernikahan."


[Ah, kamu selalu pandai berbicara.]


"Kenapa kamu seolah baru tahu?" ucap Dirga terkekeh.


[Ah sudahlah, aku mau mandi, sudah mau malam. Kamu juga pasti belum mandi 'kan?]


"Ya, tentu saja. 'Kan memang meetingnya baru selesai. Bagaimana kalau kita mandi bersama?"


[Dirga! Pikiran kamu itu selalu mesum. Aku tutup teleponnya sekarang.]


"Ok, ok. Ya sudah, kamu mandi sana. Aku juga mau mandi," goda Dirga dengan kekehan suaranya.


[Ya sudah, bye!]


"Bye, i love you!"


"I love you! Kenapa kamu tidak menjawab?"


[Love you too!]


***