My Boyfriend Is A CEO

My Boyfriend Is A CEO
Bobby, Si Teman Curhat



Di dalam cafe Delta terlihat penuh oleh pengunjung. Orang-orang datang untuk nongkrong meski bukan hari libur.


Amelia menengok kanan kiri mencari keberadaan sahabatnya, Bobby.


"Apa temanmu itu sudah ada di sini?" tanya Dirga pada Amelia.


"Bobby sudah di sini sejak satu jam yang lalu. Aku yang terlambat datang karena ulahmu."


"Apa katamu?" seru Dirga.


"Apa?" Amelia balik bertanya.


"Apa sekarang kamu ingin membahas kegiatan erotis kita di ruanganku tadi?" bisik Dirga di telinga kekasihnya itu.


"Dirga, stop!" Amelia berusaha menutup mulut Dirga dengan jemarinya. Ia tak mau bila pria itu membicarakan adegan panas mereka saat ini.


Dirga tertawa melihat kekasihnya itu kesal karena ulahnya. Dia merasa terhibur dengan sifat dan sikap yang gadis itu miliki.


Juna yang masih setia mengikuti setiap aktifitas atasannya itu, ikut tersenyum melihat tingkah laku Dirga dan Amelia di depannya.


Juna merasa senang melihat perubahan yang ada pada diri Dirga. Selama ini, Dirga yang Juna kenal adalah pria yang ramah namun tidak banyak bicara. Tapi semenjak Dirga mengenal Amelia, hidup Dirga terasa berwarna. Yang Juna lihat akhir-akhir ini, Dirga lebih banyak tersenyum dan sedikit suka becanda.


"Amelia!" Terdengar teriakan dari seorang pria.


Amelia mencari darimana arah suara itu, saat kedua matanya menangkap sosok pria itu, ternyata sahabatnya Bobby yang memanggilnya.


Bobby terlihat terkejut saat melihat Amelia datang bersama Dirga dan juga Juna. Namun yang membuatnya lebih terkejut plus kaget ialah genggaman tangan yang dilakukan oleh keduanya.


"Hai, Bob! Sorry yah lama," sapa Amelia yang langsung mendudukan tubuhnya di salah satu kursi.


Tangan yang masih menempel itu, mau tidak mau membuat Dirga ikut tertarik untuk duduk.


"Haaaai, Mel...!" sapaan Bobby yang menggantung, membuat Juna tersenyum geli.


"Hallo Pak Dirga, Mas Juna. Kalian datang juga ke sini?" tanya Bobby dengan kekepoannya yang sudah berada di ubun-ubun kepala.


"Hallo Bobby. Maaf yah sudah membuat kamu menunggu. Tadi Amelia aku pinjam dulu sebentar. Ada kerjaan yang harus dia selesaikan," ujar Dirga berbohong.


Amelia mendelikkan matanya pada Dirga. Pikirnya, sungguh pintar sekali pria itu berbohong.


Pandai sekali ia mencari alasan. Kerjaan apa yang dia maksud? Amelia.


"Kerjaan apalagi, sayang. Tentu saja kegiatan olahraga tadi sore yang kita lakukan." Dirga berbisik di telinga Amelia.


Amelia terkejut, ternyata Dirga bisa membaca isi pikirannya.


"Oh iya, Bobby. Aku hanya mengantar Amelia kemari. Setelah ini aku akan langsung pulang, jadi kalian bersenang-senanglah. Sepertinya sudah lama kalian tidak mengobrol." Dirga memberitahukan maksud kedatangannya pada Bobby.


"Eh iya, Pak Dirga. Terimakasih sudah mengantar sahabat saya ke sini," ujar Bobby.


Dirga menatap gadis di sampingnya kini. Masih di genggamnya tangan kekasihnya itu yang sedari tadi tak pernah ia lepaskan.


"Ya sudah, aku pulang sekarang. Kamu kabari aku bila sudah selesai dengan Bobby. Supir akan menjemputmu kemari."


"Eh, tidak usah. Aku bisa pulang dengan Bobby."


"Jangan becanda, Amelia," sahut Dirga sedikit keras.


"Oh baiklah. Aku akan memberimu kabar." Amelia menyerah.


Percakapan yang terjadi antara Amelia dan Dirga, membuat Bobby tercengang di depan mereka. Hanya Juna yang sedari tadi sudah tak dapat menahan tawanya, demi melihat tampang Bobby yang terlihat konyol.


"Ok, Bobby. Aku titip Amelia padamu, karena sekarang aku harus segera pulang." Sambil mengatakan itu, Dirga pun bangkit berdiri.


Dirga yang berdiri di samping Amelia, tanpa malu-malu segera mendaratkan kecupan di kening kekasihnya itu.


"Baiklah, sayang. Aku pulang sekarang. Have fun."


"Eh iya. Kamu hati-hati yah."


"Hem."


Dirga akhirnya melepaskan genggamannya pada gadis itu. Ia berjalan meninggalkan cafe bersama Juna yang mengekorinya dari belakang.


Setelah Dirga tak terlihat, Bobby langsung menatap marah pada sahabat di depannya itu.


"Ok. Aku akan cerita. Kamu nggak usah melotot kaya gitu juga kali, Bob."


***


"Apakah kamu sudah memberitahu Ibu Cintya perihal waktu yang saya berikan untuk pertemuan dengan Pak Dimas?"


"Sudah, Pak. Ibu Cintya juga sudah mengkonfirmasi bahwa beliau akan datang dengan Bapak Dimas, di jam yang sudah kita tentukan."


"Baiklah, kamu atur saja pertemuannya. Sepertinya tidak ada hal penting yang harus kita persiapkan untuk menyambut mereka."


"Baik, Pak."


"Oh iya, Pak Ujang. Nanti bapak kembali lagi ke cafe Delta tadi yah. Tolong Pak Ujang jemput Amelia, dan antar dia pulang ke rumahnya."


Dirga sedang merasakan hatinya yang berbunga-bunga. Dia tidak ingat kapan ia pernah merasakan suasana seperti ini.


Bila diingat-ingat, belum pernah ia merasakan sensasi indah yang tercipta antara dirinya dan Amelia, dengan wanita lain sebelumnya.


Ah, apakah ini yang namanya cinta sejati?


Mengapa aku merasa seperti terlahir kembali.


Aku seolah menjadi sosok lain sekarang.


Entah pelet apa yang gadis itu berikan kepadaku.


Ia telah membuatku terus menerus memikirkannya.


Dirga.


***


"Jadi kalian sekarang pacaran?" seru Bobby tak percaya.


Amelia mengangguk.


"Dan ternyata Dirga adalah pimpinan perusahaan di tempat kamu bekerja sekarang?"


"Hem." Kembali Amelia mengangguk.


"Wah, kamu memang gila, Mel. Aku nggak nyangka kalau peristiwa di hotel itu malah membuat benih-benih cinta timbul di antara kalian."


"Aku nggak yah, Bob. Dia aja kali tuh."


"Maksud kamu apa?"


"Awalnya aku nggak ada rasa sama sekali sama Dirga setelah peristiwa itu terjadi. Aku biasa aja tuh, Bob. Tapi Dirga terus-terusan telepon dan kirim pesan ke aku cuma untuk nanya kabar doang."


"Oh yah?"


"Iya. Waktu aku pulang ke rumah orang tuaku minggu lalu aja, dia pingin ketemuan sama aku. Tapi aku nggak bisa. Eh, dia malah nyangka kalau aku jalan dengan lelaki lain. Kan aneh."


"Lagian juga kalau aku jalan sama lelaki lain emang kenapa. Suka-suka aku lah. Toh aku kan wanita single."


"Dulu!" potong Bobby.


"Maksudnya, Bob?"


"Iya, kamu masih single, tapi dulu. Ya sekarang kan udah double."


"Hehehe, iya yah."


"Jadi sekarang kamu udah jatuh cinta juga nih sama Dirga?"


"Aku nggak tahu, Bob."


"Loh, kok nggak tahu. Kamu itu gimana sih, Mel."


"Iya aku nggak tahu, apakah perasaanku ini bisa dinamakan cinta."


"Memang apa yang kamu rasain?"


"Dirga itu baik banget, Bob. Perhatiannya selalu membuat aku lupa sekitar. Awalnya aku mengira kalau sikap baiknya itu memang karena sudah menjadi karakternya. Tapi lambat laun, seiring intensitas kami bertemu dan juga seringnya ia menelepon dan juga mengirim pesan, aku menilai kalau dia memang menyukaiku."


"Lalu kamu sendiri?"


"Diberikan perhatian terus menerus setiap hari dan juga perlakuan lembutnya, wanita mana yang bisa menolak pria seperti itu, Bob?"


"Apa kamu merasakan berdebar-debar bila berhadapan dengannya?"


"Bukan hanya berdebar. Tapi jantungku ikut berdetak tak karuan jika aku sudah berada dekat dengannya."


"Apalagi kalau ia sudah mulai menyentuhku, oh Tuhan...serasa jiwa ini terlepas dari raganya, Bob."


"Itu namanya kamu sudah jatuh cinta padanya juga, Mel."


"Ah, benarkah? Soalnya aku belum pernah ngerasain hal kaya gini dengan mantan-mantan aku sebelumnya, Bob," ucap gadis itu menerawang.


***


Hai para readers setia karya Ummu Amay, maafkan diriku ini yah, yang tidak memberitahu sebelumnya tentang pergantian judul juga cover novelnya.


Ada hal yang tidak bisa aku ungkapkan pada kalian semua mengenai alasanku di atas. Makanya aku sempat tidak nongol dua hari kemarin.


So, forgive me yah...!


Tetap ikuti terus kisah Dirga dan Amelia yang saat ini sudah resmi berpacaran.


Apakah akan semanis kata-kata Dirga pada Amelia selama ini. Atau malah sebaliknya?


Jadi, tetap ikuti yah...!