
Hujan mulai turun mengguyur dan membasahi bumi. Pohon-pohon sepertinya sangat menikmati rejeki yang Tuhan berikan kepada mereka. Tentu saja makhluk hidup itu bersyukur, karena sudah beberapa bulan ini, hujan tidak pernah turun dan memberikan kesegaran.
Untung saja Amelia sudah sampai rumah dari setengah jam yang lalu. Sehingga ia tidak mengalami kehujanan di jalan.
Padahal tadi tidak ada tanda-tanda akan turun hujan. Gadis itu berkata pada dirinya sendiri.
Amelia baru selesai mandi. Saat ini ia sedang berkutat di dapur untuk menyiapkan hidangan makan malam.
Bukan sebuah hidangan yang sehat sepertinya. Karena saat ia melihat hujan turun dengan lebatnya, dan merasakan udara yang cukup dingin, tiba-tiba idenya muncul untuk membuat mie instan saja kumplit pake telor dan sayur sawi hijau plus potingan cabe rawit ditambah sedikit saos.
"Mama Mia lezatos." Berbicara sambil mengangkat sebuah mangkuk agak besar dan membawa ke meja makan mininya.
Satu porsi mie instan dan satu gelas teh lemon hangat, siap untuk disantap. Tanpa membuang banyak waktu, Amelia langsung menyantap hidangan yang menurutnya menggugah selera di kala suasana hujan.
Tak ketinggalan, kegiatan makan selalu dibarengi dengan menjelajah dunia maya, pun ia lakukan.
Sebelumnya ia periksa beberapa chat masuk di HP-nya. Terdapat banyak pesan dari Dirga-kekasihnya. Ada juga beberapa panggilan dari pria itu.
Kesemuanya tidak ada yang ia balas ataupun angkat. Rupanya, gadis itu masih merasakan cemburu di hatinya. Ia merasa sakit manakala sang kekasih membohonginya.
"Treeet ... Treeet ... Treeet ..."
"Anya's calling"
Ada apa Anya meneleponku. Amelia.
"Hallo, Nya."
[Hallo, Mel. Ada di mana nih posisi?]
"Aku ada di rumah."
[Oh, udah pulang kerja? Kirain aku masih ngantor, karena hujan.]
"Nggak kok. Pas tadi udah sampe rumah, baru deh turun hujan."
[Syukur deh kalo gitu.]
"Ada apa nih, Nya?"
[Oh itu, aku mau mastiin. Sabtu nanti kamu jadi kan hadir di acara pertunangan kakak aku? Boby sama Oka, aku undang juga kok.]
"Ya ampun. Udah mau hari sabtu aja yah. Aku lupa, Nya, sorry."
[Iya nggak apa-apa. Tapi kamu jadi datang kan yah, Mel.]
"Kalo aku nggak datang gimana?"
[Duh, Mel. Nggak asik banget deh. Kasian nanti si Boby sama Oka, nggak ada gandengan.]
"Hahaha, kan Oka ada gandengannya kamu, Nya."
[Ih, Amelia. Apa sih.]
Aku yakin sekali, saat ini Anya pasti sedang merasa malu, dan pipinya telah berubah menjadi merah seperti buah tomat.
[Pokoknya kamu harus datang, nggak boleh nggak.]
"Kok maksa gitu," ucapku terkekeh.
[Ya, Mel, yah. Ok?]
"Ya udah deh, nanti aku datang. Kamu kirim aja alamatnya, nanti aku ke sana sama Boby."
[Acaranya di rumah kok, Mel.]
"Tapi aku belum tahu rumah kamu, Nya."
[Oh, iya kah? Tapi kalo kamu datang sama Boby, dia udah tahu kok.]
"Begitu? Ok deh, nanti aku kontek Boby aja."
[Ok sip. Pokoknya aku tunggu yah, Say. Awas kalo nggak jadi datang.]
"Iya." Sambungan terputus, Anya yang memutuskannya.
Kenapa sekarang aku jadi dekat dengan Anya?
Padahal selama ini, Anya tak pernah kekurangan teman. Dan aku pun tidak pernah berusaha untuk mendekatinya. Amelia.
Gadis itu masih berpikir tentang Anya, ketika sebuah telepon dari nomor lain masuk ke ponselnya.
"Boby's calling..."
"Hallo, Bob!"
[Hai cewek, godain kita dong.]
[Amit-amit jabang bayi, jangan sampe deh. Itu omongan kayanya nggak pernah sekolah yah. Sekate-kate kamu, Mel.]
"Hahaha, lagian kamu juga sih, nelepon tapi omongannya nggak jelas."
[Namanya juga becanda, Mel. Membuka topik obrolan, biar seru.]
"Emang ada berita apa?"
[Eh, kamu diundang sama Anya kan, Mel? ke acara pertunangan kakaknya.]
"Iya, Anya udah kabarin aku satu minggu yang lalu. Kenapa gitu, Bob? Kamu diundang juga kan?"
[Iya, dia undang aku dan Oka. Kamu mau datang nggak, Mel?]
"Barusan Anya telepon aku juga. Dia agak maksa gitu deh, biar aku datang."
[Oh, gitu. Terus kamu mau datang?]
"Tadinya sih, aku males, Bob. Bukan aku banget deh hadir di acara kalangan atas, kamu kan tahu sendiri."
[Mulai sekarang kamu harus belajar datang ke acara-acara begitu. Pacar kamu itu, seorang CEO, pemimpin perusahaan besar. Jadi suatu saat kamu di undang ke acara kalangan mereka, kamu udah terbiasa dan nggak akan kaget lagi.]
"Nggak tahu deh, Bob."
[Kamu kenapa sih? Kaya lagi badmood gitu.]
"Nggak kenapa-kenapa, Bob."
[Kamu jangan bohong, Mel. Aku ini teman dekat kamu, aku udah hapal kamu kaya gimana.]
"Kamu memang temen aku banget deh," ujarnya dengan sedikit terkekeh.
[Jadi, kamu kenapa? Baru aja resmi pacaran sekarang berantem gitu?]
"Gimana yah mulainya, aku bingung."
[Ya udah, kamu cerita dari awal aja. Tenang aja, stok kuota pulsa aku masih banyak kok kalo cuma buat dengerin curhat kamu doang.]
"Kamu bisa aja," ucapku sambil tertawa.
Air dari gumpalan-gumpalan di atas langit, masih terus mengguyur dengan derasnya. Meski hujan di luar nampak lebat dan seolah tak ingin berhenti membasahi bumi, namun petir rupanya tak ingin hadir menemani turunnya hujan.
Kedua sahabat itu, masih setia membahas keresahan dan kegalauan yang menimpa sang gadis.
Amelia bercerita dari awal pertemuannya dengan Nancy, tanpa ada yang dikurangi ataupun ditambahi.
[Kamu udah konfirmasi ke Pak Dirga?] tanya Boby di seberang telepon.
"Belum. Males, Bob. Dia kirim pesan aja belum ada yang aku balas. Telepon dari dia aja nggak aku angkat."
[Kamu jangan gitu, Mel. Kamu itu nggak boleh menyimpulkan sesuatu, tanpa fakta dan data yang jelas. Jangan kamu ambil kesimpulan hanya karena feeling aja. Belum tentu feeling kamu itu bener. Jangan sampe kamu nanti menyesal di belakang, seandainya ada wanita lain di hati Dirga kalau kamu bersikap seperti ini.]
Amelia mencerna setiap kalimat-kalimat yang keluar dari Boby. Apa yang dikatakan Boby memang ada benarnya. Sejauh ini ia hanya menyimpulkan semua dengan pemikirannya sendiri.
"Terus aku harus gimana, Bob?"
[Menurut aku, kamu konfirmasi ke Pak Dirga, siapa Nancy sebenarnya. Jangan sampai kamu salah paham. Kalau ternyata Nancy itu bukan wanita lain atau pun mantannya, kamu minta maaf sama dia.]
"Minta maaf?"
[Ya iya lah, kamu itu udah bikin Pak Dirga khawatir tahu nggak?]
"Kamu tahu darimana?"
[Amelia, aku ini lelaki. Dia pasti khawatir dan ada kemungkinan juga dia itu emosi karena kamu diamkan seharian ini.]
"Iya sih, Bob. Waktu tadi dia ke kantin juga, raut mukanya keliatan banget kalo dia lagi menahan sesuatu."
[Nah kan, aku nggak mungkin salah lah.]
"Jadi aku harus minta maaf nih, Bob? Tapi kalo ternyata Nancy itu memang mantannya gimana? Aku boleh marah dong."
[Amelia, boleh aku tanya sesuatu sama kamu sebelumnya?]
"Apa?"
[Kamu bilang, selama ini hanya Pak Dirga saja yang menyatakan perasaannya sama kamu, tapi kamu sendiri belum pernah mengutarakan perasaan kamu sama dia kan?]
"Iya, bener, Bob."
[Amelia, sekarang ini kamu udah punya perasaan yang sama kan ke dia?]
Amelia terdiam, benarkah ia kini sudah jatuh cinta kepada Dirga?
***