
"Nanti pulang kerja, aku akan antar kamu." Ujar Dirga sesaat setelah mereka selesai makan siang.
"Eh, Dirga, kamu tidak perlu repot, aku bisa pulang sendiri." Jawab Amelia, menolak halus.
"Sudah kubilang kamu tidak bisa melarang apa yang ingin aku lakukan."
"Tapi Dirga, tolong anda peduli dan juga mengerti bagaimana posisi saya di perusahaan ini. Saya tidak ingin ada kesalahpahaman dari orang-orang tentang hubungan kita."
"Hubungan bagaimana yang kamu maksud?"
"Yaa, hubungan antara atasan dan bawahan."
"Kamu masih berpikir bahwa hubungan kita hanya sebatas itu, setelah apa yang telah kita la...hefttt." Belum selesai Dirga berkata, jemari Amelia dengan sigap menutup mulut pria itu.
Dirga tersenyum dengan apa yang gadis itu lakukan padanya.
Amelia terkejut. Reflek kemudian ia tarik kembali jemarinya, namun sayang kalah cepat, karena Dirga menahan tangan itu.
Dikecupnya jemari Amelia dengan lembut.
Amelia tersipu malu. Sekuat tenaga ia menarik tangannya, namun tetap tidak berhasil.
"Baiklah, untuk kali ini aku tidak akan memaksamu agar pulang bersamaku. Tapi lain kali, jangan kamu berani menolaknya, Amelia." Ucap Dirga, tepat di telinga gadis itu.
Kemudian dengan keadaan Amelia yang masih belum tersadar, bibir pria itu telah mendarat dengan sempurna di pipi mulus Amelia.
"Sekarang kamu bisa kembali ke tempat kamu bekerja." Ujar Dirga dengan senyumnya yang menawan.
"Ba...baik. Kalau begitu saya akan kembali ke ruangan saya. Terimakasih untuk makan siangnya." Ucap Amelia dengan sedikit menunduk.
Masih ada sisa-sisa perasaan malu dalam dirinya, manakala pria itu berkali-kali memberi serangan-serangan indah pada tubuhnya.
Dirga membukakan pintu agar Amelia bisa kembali ke ruangannya.
Amelia segera bergegas ke luar. Waktu istirahat telah habis sekitar setengah jam yang lalu. Ia sedang berpikir, bagaimana bila teman-temannya menanyakan perihal keterlambatannya di hari pertama ia bekerja. Terutama sekali, alasan apa yang akan ia berikan kepada Ibu Susi, manajernya.
Baru saja ia langkahkan kaki keluar dari ruangan Dirga, ada sosok pria berdiri di depannya.
"Eh, Mas Juna. Bikin kaget saja."
"Sudah selesai, Mba, pekerjaannya?" Tanya Juna.
Amelia mengernyitkan dahinya, ia tak mengerti dengan perkataan dari Juna.
"Pekerjaan?"
"Iya, tadi katanya Pak Dirga mau membahas masalah tugas staf keuangan dalam membuat laporan bulanan." Ujarnya, dengan sudut mata yang memberi tanda, bahwa ada Rena di belakangnya.
"Oh... Iya. Eh, iya pekerjaannya sudah selesai, Mas."
"Oh, syukurlah."
"Eh, Maaf Mas Juna, saya bisa permisi untuk kembali ke ruangan saya? Sepertinya saya sudah terlambat."
"Oh iya. Silakan, Mba Amelia." Ucap Juna dengan senyum yang tak pernah hilang dari wajahnya.
Amelia melangkahkan kakinya dengan cepat setengah berlari. Tak peduli dengan sepatu hak yang ia pakai. Pikirannya saat ini adalah segera kembali ke ruangannya dan meminta maaf kepada sang manajer atas keterlambatannya.
Saat memasuki ruangan, tak nampak satupun karyawan yang ada di sana.
Ibu Susi pasti sudah memulai rapatnya. Amelia.
"Tok... Tok... Tok..." Amelia mencoba mengetuk pintu ruangan manajer.
"Masuk" Balas suara di dalam.
Benar saja, seluruh staf karyawan keuangan saat ini sedang berkumpul di sudut ruangan dan fokus memperhatikan ibu manajer yang sedang berbicara.
"Bu Susi, maaf, saya..."
"Iya Amelia, saya tahu. Kamu silakan duduk. Meetingnya baru saja saya mulai kok." Ujarnya dengan wajah memasang senyuman ramah.
"Eh, terimakasih, Bu."
"Baik, saya akan lanjutkan lagi apa yang sebelumnya tadi saya sampaikan. Saya harap kalian betul-betul mendengar dan menyimak dengan baik."
***
"Yah, Ibu rasa Dirga dengan temannya Anya, Amelia, ada sesuatu deh?" Tanya Ninta, pada suaminya Harsa, di saat mereka tengah santai diruang keluarga.
"Hem..."
"Ibu perhatikan kemarin, waktu kita makan di restoran, mata Dirga nggak pernah tuh lepas dari wajahnya Amelia." Kata Ninta lagi.
"Hem..."
"Hem..."
"Ih, Ayah! Dari tadi jawabnya, hem..hem..terus." Protes Ninta.
"Lah, terus Ayah harus jawab apa dong, Bu?" Ujar Harsa sembari menutup berita online dari layar tablet nya.
"Yaa... Jawab apa kek, biar enak gitu ibu ceritanya." Sahut Ninta sembari memanyunkan bibir.
"Hehehe, iya maaf deh." Ucap Harsa.
"Ibu kenapa manyun-manyun gitu, Yah?" Suara Nancy terdengar dari arah ruang depan.
"Eh, Nancy. Baru pulang?" Tanya Harsa pada putri semata wayangnya.
"Iya, Yah. Itu Ibu kenapa?" Seru Nancy masih penasaran, sembari mencium tangan ayah dan ibunya.
"Gak tahu tuh, Ibumu." Sahut Harsa dengan senyum jahil di wajahnya.
"Ayah!" Seru Ninta pada suaminya.
"Hehehe. Iya, Bu."
"Itu loh, Nancy. Ibu lagi bahas seorang perempuan yang kayanya disukai sama Mas mu. Eh, Ayah responnya nggak enak banget." Gerutunya.
"Iya, maaf deh. Ayah kan lagi baca berita, Bu. Jadi kurang konsen sama apa yang lagi Ibu omongin." Bela Harsa pada dirinya sendiri.
"Sudah, sudah. Ini Ayah sama Ibu sudah tua kok masih kaya anak kecil aja." Sahut Nancy.
"Terus, jadi perempuan yang kaya gimana yang disuka sama Mas Dirga, Bu, Yah?"
"Jadi gini, kemarin kan kita makan siang di restoran bareng sama Mas Dirga, di sana kita ketemu sama Anya, anaknya sahabat Ibu dulu waktu kuliah. Sebenarnya itu pertemuan kita yang kedua, karena waktu kita mau pulang dari butik, Anya itu mau belanja juga di butik Ibu." Ninta mengawali cerita hebohnya.
"Terus?" Potong Nancy.
"Terus, si Anya itu ternyata datang berdua dengan teman perempuan, namanya Amelia."
"Kamu tahu, Nancy? Selama kita makan, dari awal kita ketemu di restoran untuk yang kedua kalinya, pandangan Mas Dirga mu itu, nggak lepas sama sekali dari sosok Amelia itu, sampe kita selesai makan."
"Kok Ibu merhatiin gitu?"
"Ya, gimana nggak merhatiin, orang terkadang saat kita ngobrol dan manggil nama Dirga, Mas mu itu diam aja, nggak respon. Tahu-tahu, matanya menatap lekat pada Amelia."
"Masa sih, Bu?"
"Iya, bener. Tanya Ayahmu kalau nggak percaya."
"Bener, Yah?" Tanya Nancy pada Harsa, ayahnya.
Harsa terlihat mengangguk.
"Yang Ayah dan Ibu perhatiin sih emang begitu. Tapi Mas mu waktu ditanya perihal itu, nggak respon tuh, diam saja nggak jawab."
"Oh... Gitu. Jadi belum pasti dong."
"Kalau Ibu sih yakin, seratus persen." Ucap Ninta yakin akan pendapatnya.
"Kalau memang Ibu yakin, menurut Ibu sendiri gimana kalau memang Mas Dirga ada sesuatu dengan perempuan itu?"
"Ibu sih setuju-setuju saja."
"Orangnya gimana, Bu? Cantik gak?"
"Cantik." Harsa yang menyahuti.
"Ayah ini, dari tadi diam saja. Giliran ditanya masalah cantik atau tidak, langsung duluan jawab."
"Naluri laki-laki, Bu." Nancy menggoda.
"Betul." Jawab Harsa.
"Pokoknya anaknya cantik, kelihatan anak baik sepertinya." Sahut Ibu.
"Yakin banget, Ibu."
"Gimana nggak yakin, orang perempuan diliatin begitu sama Mas mu, dia diam saja, selama kita ngobrol dia nggak banyak bicara, cuma menjawab kalau kita tanya."
"Oh iya satu lagi, dia baru diterima kerja di tempat Mas mu. Per hari ini katanya."
"Oh yah?! Wah, Nancy jadi penasaran nih. Kapan-kapan aku datang ke kantor ah." Sahut Nancy bersemangat.
"Mau ngapain kamu ke kantor?" Suara seorang pria tiba-tiba muncul
***